Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

30 hasil
Subjek: pendidikan Hindu
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENDIDIKAN HINDU NON-FORMAL DALAM PENGUATAN KOHESI SOSIAL PADA MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI DESA PANGKAN KECAMATAN PAKU KABUPATEN BARITO TIMUR

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai bentuk pelaksanaan, hambatan yang dihadapi, serta implikasi dari pendidikan Hindu non-formal dalam memperkuat kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Pangkan, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan Teori Solidaritas Sosial Emile Durkheim, Teori Transformative Learning Jack Mezirow, dan Teori Interaksi Simbolik Herbert Blumer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai pendidikan non-formal dan kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, bentuk pelaksanaan pendidikan Hindu non-formal di Desa Pangkan diintegrasikan secara nyata melalui aktivitas ritual keagamaan dan tradisi adat. Pendidikan keagamaan berpusat pada Persembahyangan Basarah (rutin Jumat malam dan Basarah rumah tangga bergiliran pada hari Senin) serta upacara perkawinan adat Hindu Kaharingan (Unta Kurus Naik Malam). Pendidikan nilai melalui tradisi diinternalisasikan secara kokoh melalui semangat gotong royong Pangandrau Welum. Proses ini didukung oleh peran vital tokoh adat dan tokoh agama sebagai teladan hidup dalam pola interaksi sosial yang dinamis, meniru, mendengarkan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam musyawarah adat. Kedua, hambatan pelaksanaan diklasifikasikan menjadi tiga aspek. Hambatan struktural berupa terbatasnya sarana pembelajaran, minimnya pendidik kompeten sebagai dampak dari tidak terjadinya transmisi nilai lintas generasi, dan banyaknya generasi tua yang telah wafat. Hambatan kultural dipicu oleh modernisasi, arus digitalisasi, dan migrasi pemuda. Hambatan partisipatif ditandai dengan menguatnya individualisme, minimnya dialog antargenerasi, serta pernikahan campuran beda agama yang memicu konversi spiritual. Ketiga, implikasi dari pendidikan non-formal ini terbukti sangat positif. Implikasi terhadap kohesi sosial berupa terbentuknya solidaritas mekanik dan kesadaran kolektif umat. Implikasi terhadap pelestarian identitas kolektif menjaga keberadaan umat Hindu Kaharingan sebagai minoritas, sementara implikasi sosial-kulturalnya mewujud pada terjaganya integrasi sosial dan keberlanjutan kearifan lokal di Desa Pangkan. ABSTRACT This study aims to provide an in-depth analysis of the implementation, challenges, and implications of non-formal Hindu education in strengthening social cohesion among the Hindu Kaharingan community in Pangkan Village, Paku District, East Barito Regency. This study used a descriptive qualitative approach based on Émile Durkheim’s Social Solidarity Theory, Jack Mezirow’s Transformative Learning Theory, and Herbert Blumer’s Symbolic Interactionism Theory. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing to obtain an in-depth understanding of non-formal education and social cohesion among the Hindu Kaharingan community. The results showed three main findings. First, the implementation of non-formal Hindu education in Pangkan Village was integrated into religious rituals and customary traditions. Religious education was primarily carried out through Basarah worship, conducted regularly on Friday evenings, rotating household Basarah worship on Mondays, and the Hindu Kaharingan traditional marriage ceremony known as Unta Kurus Naik Malam. Values education through tradition was firmly internalized by means of mutual cooperation known as Pangandrau Welum. This process was supported by the vital roles of customary and religious leaders as living role models within dynamic patterns of social interaction, including imitation, listening, and active community participation in customary deliberations. Second, the challenges in implementing non-formal Hindu education were classified into three aspects. Structural challenges included limited learning facilities, a shortage of competent educators due to disrupted intergenerational transmission of values, and the passing of many elderly community members. Cultural challenges were driven by modernization, digitalization, and youth migration. Participatory challenges were characterized by increasing individualism, limited intergenerational dialogue, and interfaith mixed marriages that may lead to religious conversion. Third, the implications of non-formal education were highly positive. Its implications for social cohesion were reflected in the development of mechanical solidarity and collective consciousness among the community members. Its implications for the preservation of collective identity helped maintain the existence of the Hindu Kaharingan community as a religious minority, while its sociocultural implications were reflected in the preservation of social integration and the sustainability of local wisdom in Pangkan Village.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA UPACARA ENTAS-ENTAS UMAT HINDU JAWA DI PURA GIRI ANTARA LOKA (PERSPEKTIF PENDIDIKAN HINDU)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Upacara Entas-Entas merupakan salah satu rangkaian Pitra Yadnya dalam tradisi Hindu Jawa yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta penyempurnaan roh orang yang telah meninggal dunia agar mencapai alam yang lebih baik dan bersatu dengan Ida sang hyang widhi wasa. Selain memiliki fungsi religius, upacara ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang berperan dalam pewarisan ajaran dan tradisi Hindu Jawa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan Upacara Entas-Entas umat Hindu Jawa di Pura Giri Antara Loka, Desa Manunggal Jaya, serta menganalisis makna yang terkandung di dalamnya dalam perspektif Pendidikan Hindu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling yang terdiri atas Romo, pemangku, Ketua PHDI, dan serati banten. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Upacara Entas-Entas terdiri atas tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan inti, dan penutup. Tahap persiapan meliputi rapat panitia, gotong royong, persiapan sarana upacara, serta pembersihan diri. Tahap inti berisi rangkaian ritual yang dipimpin oleh Romo dan pemangku, sedangkan tahap penutup ditandai dengan persembahyangan bersama dan penutupan upacara. Upacara ini mengandung makna religius sebagai wujud bhakti kepada Ida sang hyang widhi wasa dan penghormatan kepada leluhur, makna etika dan moral berupa penanaman disiplin, tanggung jawab, ketulusan, dan rasa hormat, serta makna sosial melalui gotong royong, kebersamaan, solidaritas, dan kerukunan. Dengan demikian, Upacara Entas-Entas tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai media Pendidikan Hindu yang efektif dalam mewariskan nilai-nilai religius, etika, moral, dan sosial kepada generasi muda sehingga tradisi Hindu Jawa tetap lestari.

16 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

NILAI -NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM PELAKSANAAN RITUAL NYADIRI DI DESA JALEMU RAYA KECAMATAN RUNGAN BARAT KABUPATEN GUNUNG MAS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Eko.2025. Nilai- Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Pelaksaan Ritual Nyadiri Di Desa Jalemu Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas. Skripsi Program Studi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharm Acarya Institut Agama Hindu Negeri tampung Penyang ( IAHN-TP) Palangka Raya Pembimbing (I) Dr. Pranata,S.Pd.,M.Si Pembimbing (II) Serlis Rusandi ,S.Pd.,M.Pd Penelitian ini mengkaji eksistensi nilai-nilai pendidikan agama Hindu dalam Ritual Nyadiri pada suku Dayak Ngaju Hindu Kaharingan di Desa Jalemu Raya, Kabupaten Gunung Mas. Ritual Nyadiri merupakan upacara pengobatan tradisional untuk merestorasi kesehatan individu (layau hambaruan) yang diyakini jatuh sakit akibat perjumpaan spiritual dengan roh orang mati dalam mimpi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif serta landasan teori Fungsional Struktural dan Teori Nilai, penelitian ini membedah mekanisme pelaksanaan ritual dan kandungan nilai pendidikan agama Hindu di dalamnya. Hasil penelitian mengungkapkan: Proses Pelaksanaan: Ritual dilakukan melalui tahapan sistematis yang meliputi penyiapan sarana prasarana, penyediaan beras tawur. adapun tahapan pertama yaitu (narinjet behas tawur), tahap kedua (nyaluh patung sadiri) yakni menyemburkan sirih pinang ke patung Sadiri sebagai simbol pengganti diri. Puncak ritual atau tahapan terakhir ditandai dengan pengantaran sesajen beserta tambak dan pembukaan bungkusan hambaruan oleh pemimpin upacara (Basir) di dalam mangkuk kecil (tambak); jika ditemukan tanda baik, beras hariten akan diletakkan di kepala pasien sebagai simbol kembalinya jiwa yang sehat. Nilai-Nilai Pendidikan Hindu: Nilai Tattwa (Ketuhanan): Tercermin pada penggunaan mantra oleh Basir sebagai bentuk komunikasi dan permohonan doa kepada Ranying Hatalla Langit (Tuhan) serta penghormatan kepada Sahur Parapah (roh leluhur) sebagai manifestasi-Nya. Nilai Etika: Teperliat pada kepatuhan peserta ritual terhadap aturan-aturan adat dan tata cara pelaksanaan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Nilai Upacara: Menitik beratkan pada aspek keyakinan bahwa ritual merupakan media penghubung manusia dengan kekuatan spiritual untuk memohon perlindungan dari segala musibah dan penyakit.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Hindu dalam Pelaksanaan Yadnya Sesa Umat Hindu Bali di Desa Lunuk Ramba Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Risa Widya, 2025 Nilai Pendidikan Hindu Dalam Pelaksananaan Yadnya Sesa Umat Hindu Bali di Desa Lunuk Ramba Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Pembimbing I Mitro S.Pd., M.Si Pembimbing II Nyoman Sumarni, S.Ag, M.Si Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan Hindu yang terkandung dalam pelaksanaan Yadnya Sesa oleh masyarakat Hindu etnis Bali di Desa Lunuk Ramba, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas. Yadnya Sesa merupakan salah satu bentuk dalam ajaran Hindu yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Praktik keagamaan ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang mencerminkan ajaran filsafat Hindu, seperti nilai religius, etika, tanggung jawab sosial, serta keselarasan dengan alam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan tokoh agama Hindu setempat, serta dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Yadnya Sesa tidak hanya sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sarana edukasi religius yang diwariskan antar generasi. Nilai-nilai pendidikan Hindu yang muncul mencakup nilai religius (ketulusan dan keikhlasan dalam berbakti kepada Tuhan), nilai etika (penghormatan kepada leluhur dan alam), serta nilai sosial budaya (melestarikan tradisi dan membentuk sikap gotong royong). Dengan demikian, Yadnya Sesa berperan penting dalam membentuk karakter dan spiritualitas umat Hindu, serta memperkuat identitas budaya umat hindu.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Peran Guru Pasraman Panggirik Lingu dalam Menanamkan Nilai Pendidikan Budi Pekerti pada Siswa Hindu di Kelurahan Jakatan Raya Kabupaten Gunung Mas

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Yumbi, 2025: Peran Guru Pasraman Panggirik Lingu Dalam Menanamkan Nilai Pendidikan Budhi Pekerti Pada Siswa Hindu Di Kelurahan Jakatan Raya Kabupaten Gunung Mas. Fakultas Dharma Acarya Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Dr. Suryanto, S.Pd., M.Pd, Pembimbing II Nyoman Sumarni, S.Ag.,M.Si Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya peran guru dalam pembentukan karakter siswa melalui pendidikan agama dan nilai budhi pekerti di Pasraman Panggirik Lingu. Sebagai lembaga pendidikan non formal Hindu, pasraman tidak hanya berfungsi untuk mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga sebagai wadah penanaman nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, cinta kasih, disiplin, serta penguatan identitas budaya dan spiritualitas siswa. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala, seperti keterbatasan sarana pembelajaran, kurangnya pelatihan guru dalam metode pengajaran nilai, dan pengaruh globalisasi yang memengaruhi pola pikir dan perilaku siswa. Tujuan untuk mengetahui bagaimana peran guru Pasraman Panggirik Lingu dalam membimbing, mendidik, serta menanamkan nilai budhi pekerti kepada siswa Hindu, sekaligus mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru pasraman berperan ganda, yaitu sebagai pengajar, pembimbing, motivator, sekaligus teladan yang menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa melalui pendekatan keteladanan, pembiasaan, serta kegiatan keagamaan dan budaya. Kendala utama yang ditemukan meliputi perbedaan latar belakang keluarga siswa, kurangnya perhatian orang tua, serta keterbatasan fasilitas belajar. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa peran guru pasraman sangat vital dalam pembentukan perilaku dan karakter siswa Hindu. Namun, untuk meningkatkan efektivitas pendidikan budhi pekerti, diperlukan dukungan dari orang tua, masyarakat, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan adanya sinergi tersebut, pasraman dapat semakin berfungsi optimal dalam melahirkan generasi muda Hindu yang berkarakter, beretika, dan berintegritas.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Tari Riam Panjang dalam Ritual Perkawinan Umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Seruyan Perspektif Pendidikan Hindu

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji peran Tari Riam Panjang, dalam upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Batu Ampar, Desa Derawa dan Desa Durian Kait. Pada Tari Riam Panjang, saat ditampilkan pada perkawiana umat Hindu Kaharingan terdapat nilai-nilai pendidikan Hindu, masih banyak yang belum mengetahuinya. Karena setiap nilai yang terkandung pada tarian tersebut memiliki tujuan penting yang ditujukan untuk masyarakat luas, khususnya bagi generasi muda. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini: 1) mengetahui dan merefleksikan nilai-nilai ajaran Hindu dalam konteks Pendidikan agama Hindu di Kecamatan Batu Ampar kabupaten Seruyan. 2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pewarisan nilai-nilai Pendidikan Hindu melalui tari Riam Panjang kepada generasi muda di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Seruyan. Teori yang digunakan untuk menganalisis masalah yang diteliti yaitu Teori Fenomenologi dan teori Pendidikan Hindu. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriftif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, data dianalisis dengan pengdekatan deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis data penelitian menunjukan bahwa, 1) Tari Riam Panjang merefleksikan nilai-nilai ajaran Hindu dalam konteks Pendidikan agama Hindu sangat efektif sehingga mengajarakan dan merefleksikan nilai-nilai tattwa (filsafat Hindu), susila (etika), dan acara (ritual). Sehingga menjadi bagian dari pendidikan karakter Hindu yang melibatkan generasi muda dalam proses belajar sambil melestarikan tradisi, menanamkan disiplin, sikap hormat, serta meningkatkan rasa spiritualitas melalui seni yang sakral. 2) Proses pewarisan nilai-nilai Pendidikan Hindu melalui Tari Riam Panjang kepada generasi muda, dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan berdampak jangka panjang bagi pembentukan karakter dan spiritualitas generasi muda. Serta menjadi media efektif dalam pewarisan nilai-nilai pendidikan Hindu, dengan praktik budaya lokal Tari Riam Panjang.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Hindu dalam Upacara Bontang Siwah Mamali pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Bentot Kabupaten Barito Timur

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ARIANO, 2025. Nilai Pendidikan Hindu Dalam Upacara Bontang Siwah Mamali Pada Umat Hindu Kaharingan Di Desa Bentot Kabupaten Barito Timur. Pembimbing I Lamri, S.Pd.,M.Pd.H dan Pembimbing II Heri Kusuma Tarupay, S.S.,M.Hum Skripsi ini mengkaji tentang nilai pendidikan Hindu dalam upacara Bontang Siwah Mamali pada umat Hindu Kaharingan di Desa Bentot Kabupaten Barito Timur. Upacara Bontang Siwah Mamali merupakan upacara kematian tingkat akhir dan yang tertinggi dan bagian dari pitra yadnya, dalam pelaksanaanya bukan termasuk upacara duka tetapi sudah berbentuk upacara sukacita, keunikan pada upacara Bontang Siwah Mamali terdapat pada pelaksanaan, di dalamnya melibatkan sorak-sorai kegembiraan serta tari-tarian. Adapun rumusan masalah yang dilakukan yaitu: Bagaimana pelaksanaan upacara Bontang Siwah Mamali pada umat Hindu Kaharingan? Bagaimana makna filosofis upacara Bontang Siwah Mamali pada umat Hindu Kaharingan? Bagaimana nilai-nilai pendidikan Hindu upacara Bontang Siwah Mamali pada umat Hindu Kaharingan? Penelitian ini bertujuan untuk memahami, mengkaji dan mendekskripsikan pelaksanaan, makna filosofis dan nilai-nilai pendidikan Hindu dalam upacara Bontang Siwah Mamali. Penelitian ini menggunakan teori fungsional struktural, teori fenomenologi dan teori nilai. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Dengan lokasi penelitian di Desa Bentot. Jenis dan sumber data yang digunakan: Sumber data primer dan data sekunder. Teknik penentuan informan yaitu: Teknik purposive. Teknik pengumpulan data yang digunakan: Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian kualitatif. Teknik analisis data yaitu: Pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa upacara Bontang Siwah Mamali di Desa Bentot Kabupaten Barito Timur, yaitu dalam pelaksanaannya memiliki beberapa tahap: Persiapan, pelaksanaan, tahap akhir. Kemudian memiliki makna filosofis berfungsi sebagai proses pembersihan dan penyucian diri, baik secara spiritual maupun moral. Hal ini menjadi simbol untuk mengantarkan roh mencapai kebahagiaan sejati dan kedamaian abadi menyatu dengan Tuhan (Moksa). Selain mempunyai makna filosofis dalam upacara Bontang Siwah Mamali juga mempunyai nilai-nilai Pendidikan Hindu yaitu: Tattwa keyakinan terhadap Tuhan sebagai sumber dari Atman serta menghantarkan roh leluhur ke alam berikutnya atau menyatu dengan Tuhan. Susila dilihat dari rasa bhakti dan rasa hormat untuk membayar hutang kepada leluhur dan Upacara dilihat dari prasarana dalam pelaksanaan terdapat tari-tarian. Nilai pendidikan sosial dapat dilihat dari kebersamaan dan gotong royong saling membantu dari tahap persiapan upacara Bontang Siwah Mamali sampai selesai. Kata Kunci: Nilai Pendidikan Hindu, Bontang Siwah Mamali

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Transformasi Adi Widya Pasraman Menjadi Adi Widyalaya dan Implikasinya terhadap Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan di Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji transformasi Adi Widya Pasraman menjadi Adi Widyalaya serta implikasinya terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya. Transformasi ini didorong oleh terbitnya Peraturan Menteri Agama Nomor 2 tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Widyalaya. Terbitnya Peraturan Menteri Agama ini bertujuan untuk mengubah status pasraman formal menjadi satuan pendidikan Widyalaya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis dan mendeskripsikan proses transformasi Adi Widya Pasraman menjadi Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya, (2) mendeskripsikan implikasi transformasi Widya Pasraman menjadi Adi Widyalaya terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk memahami, menganalisis, dan mendeskripsikan transformasi Adi Widya Pasraman menjadi Adi Widyalaya serta implikasinya terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya. Data penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Lokasi penelitian dilakukan di Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya. Informan dalam penelitian ini terdiri dari koordinator pendidikan, kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dibantu dengan menggunakan pedoman observasi, dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif menurut Miles & Huberman (2014). Hasil penelitian ini mendeskripsikan bahwa proses transformasi Adi Widya Pasraman menjadi Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya harus melengkapi persyaratan, mulai dari persyaratan administratif, teknis, dan kelayakan pendirian. Dengan melengkapi persyaratan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah melakukan verifikasi terhadap berkas tersebut dan selanjutnya diserahkan kepada Direktur Jenderal Bimas Hindu RI. Implikasi transformasi Widya Pasraman menjadi Adi Widyalaya terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya memberikan dampak yang positif terhadap delapan standar nasional pendidikan.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Eksistensi Sansana Kayau dalam Pendidikan Agama Hindu Kaharingan di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji eksistensi Sansana Kayau di Desa Tewang Rangkang Kabupaten Katingan. Sansana kayau memiliki merupakan kesenian lisan yang bernuansa religi Hindu Kaharingan, yang masih tetap eksis sampai saat ini di Desa Tewang Rangkang. Sansana kayau dilantunkan pada ritual kematian dan ritual tiwah umat Hindu Kaharingan. yang menceritakan dan mendoakan perjalanan liau haring Kaharingan, selama hidup sampai meninggal. Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dikan rumusan masalah: (1) Untuk memahami eksistensi Sansana Kayau di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sanggalang Garing Kabupaten Katingan? (2) Untuk memahami Nilai-nilai Pendidikan Hindu Kaharingan dalam Sansana Kayau Di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sanggalang Garing, Kabupaten Katingan? (3) Untuk Memahami Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Sansana Kayau Di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing, Kabupaten Katingan? Tujuan penelitian mengkaji dan mendeskripsikan latar belakang, memperkaya ilmu pengetahuan Hindu tentang Sansana Kayau di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan memahami dan menganalisis eksistensi Sansana Kayau di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Informan dipilih secara porposive sampling. Peneliti bertidak sebagai instrumen utama dengan alat bantu. Data diverifikasi, dianalisis dengan teori eksistensialisme, teori nilai, teori kontruksi sosial, penarikan kesimpulan yang disajikan hasil analisis data dalam narasi Bahasa Indonesia, informal dan formal. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi Sansana Kayau di Desa Tewang Rangkang masih terjaga. Hal tesebut dilihat dari pelaksanaan Sansana Kayau di ritual kematian dan ritual tiwah. Nilai-nilai pendidikan Hindu pada Sansana Kayau yaitu nilai religius, tattwa, etika, estetika dan budaya. Internalisasi nilai pendidikan Hindu pada Sansana Kayau di Desa Tewang Rangkang, terlihat dari adanya penyisipan makna nilai-nilai moral yang disampaikan oleh Pangansana melalui lantunan Sansana Kayau untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga dilakukan untuk mendidik generasi penerus melestarikan kesenian Sansana Kayau agar memiliki jiwa dan karakter religius.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Hindu dalam Ritual Sangiang Halunuk pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Jutuh Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji nilai pendidikan Hindu dalam ritual sangiang halunuk pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Jutuh Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. Ritual sangiang halunuk hanya dilaksanakan pada orang yang memiliki jamban sangiang saja. Berdasarkan uraian tersebut, maka rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana proses pelaksanaan ritual sangiang halunuk pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Jutuh Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas ?, (2) Apakah nilai-nilai pendidikan Hindu yang terkandung dalam pelaksanaan ritual sangiang halunuk pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Jutuh Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas ?, (3) Bagaimana implikasi nilai-nilai pendidikan Hindu yang ada dalam ritual sangiang halunuk pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Jutuh Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas ? Metode penelitian ini adalah deskriptif, pendekatan kualitatif, didukung dengan teori fungsional struktural, nilai, implikasi. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi. Dan data direduksi agar dapat ditarik sebuah kesimpulan. Berdasarkkan hasil penelitian, ritual sangiang halunuk merupakan ritual mengukuhkan seseorang yang memiliki jamban sangiang supaya menjadi lasang sangiang, setelah dilaksanakan ritual tersebut orang yang memiliki jamban sangiang bisa dirasuki oleh sangiang roh leluhur. Supaya dapat melaksanakan ritual manyangiang dan bermanfaat bagi masyarakat. Apabila tidak dilaksanakan ritual sangiang halunuk maka selalu diganggu oleh makhluk halus yang menyebabkan sakit (stres,gila) bahkan sampai meninggal dunia. Pelaksanaan ritual sangiang halunuk memiliki tahapan sebagai berikut: (1) Tahap persiapan, (2) Tahap pokok/inti (3) Tahap Akhir (hari ketiga). Nilai pendidikan Hindu dalam ritual sangiang halunuk digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu nilai parawidya (tattwa,upacara) dan nilai aparawidya (etika, estetika). Implikasi nilai pendidikan Hindu dalam ritual sangiang halunuk antara lain : (1) Terjaganya keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta hubungan dengan alam. (2) Taat terhadap pelaksanaan ritual sebagai bentuk ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (3) Tumbuhnya kesadaran beretika. (4) Membangkitkan inspirasi, membuat bahagia, serta memperkaya kehidupan manusia.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Hindu terhadap Keberadaan Sangkaraya dalam Upacara Tiwah di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

RIANDI.2024. Nilai Pendidikan Hindu Terhadap Keberadaan Sangkaraya Dalam Upacara Tiwah Di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. Tesis Strata Dua (S-2) Prodi Magister Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Prof. Tiwi Etika, S.Ag.,M.Ag.,Ph.D. Pembimbing II : Dr. I Gede Dharman Gunawan, SH.,M.Pd.H. Penelitian ini mengkaji nilai pendidikan Hindu terhadap keberadaan sangkaraya dalam upacara tiwah di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunun Mas. Keberadaan sangkaraya dalam upacara tiwah bahwa penomena yang pernah terjadi dalam upacara tiwah khususnya di Desa Tumbang Malahoi. Sangkaraya yang seharusnya dihormati dan dijaga kesuciannya, dan dijunjung tinggi nilai hanya dianggap prasarana biasa yang hanya sebagai pusat upacara saja oleh orang yang kurang memahami tanpa mengetahui makna, nilai-nilai yang terkandung, serta etika yang harus dijaga. Pada saat upacara berlangsung terkhususnya saat sangkaraya sudah didirikan dan dimulai dengan upacara manganjan ada sebagian orang yang memberikan pertanyaan karena kurangnya pemahaman terhadap sangkaraya dalam upacara tiwah. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengkaji rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah prosesi mendirikan Sangkaraya dalam Upacara Tiwah Agama Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi?, 2) Bagaimanakah fungsi dan makna Sangkaraya dalam Upacara Tiwah Agama Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi?, 3) Nilai pendidikan Agama Hindu apakah yang terdapat pada keberadaan Sangkaraya dalam Upacara Tiwah Agama Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi?. Penelitian ini dikaji dengan teori simbol, teori fungsional struktural, dan teori nilai, metode penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Jenis dan sumber data yaitu sumber data primer dan data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik Penyajian Hasil Analisis Data, dengan teknik penyajian informal dan teknik penyajian formal. Berdasarkan hasil penelitian, Proses mendirikan sangkaraya dalam upacara tiwah di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan terdapat beberapa tahapan yang perlu diperhatikan serta dipersiapkan terlebih dahulu. Adapun tahapan-tahapan dalam proses pendirian sangkaraya pada upacara tiwah sebagai berikut: 1) proses pembentukan panitia. 2) Proses perencanaan baramu/pencarian sarana/bahan untuk mendirikan balai nyahu dan sangkaraya. 3) proses muluh gandang atau mendirikan sangkaraya dalam upacara tiwah. Fungsi dan makna untuk fungsi sangkaraya terbagi menjadi 3 (tiga) fungsi yaitu Fungsi Religi, Fungsi Etika, dan Fungsi Sosial, serta mempunyai makna yang mendalam yaitu kebersamaan (kekuatan) dan gotong royong. Nilai Pendidikan tekandung dalam keberadaan sangkaraya terbagi menjadi empat bagian yaitu: nilai pendidikan tattwa, nilai pendidikan etika, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan estetika. Kata Kunci: Nilai Pendidikan Hindu, Sangkaraya upacara tiwah.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Sakral Pementasan Dramatari Calonarang di Desa Adat Mundeh Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan dalam Persepektif Pendidikan Agama Hindu

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Griyahananadi, 2024. Nilai Sakral Pementasan Dramatari Calonarang di Desa Adat Mundeh Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan dalam Persepektif Pendidikan Agama Hindu. Tesis Strata Dua (S-2) Prodi Megister Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pemebimbing I : Dr. Mujiyono, S.Ag., M.Ag. Pembimbing II : Dr. Ni Nyoman Rahmawati, S.Ag., M. Si. sepirit yang sakral. Namun, dewasa ini pementasan dramatari Calonarang hanya profanisme. Ada tiga permaslahan dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimana Pementasan Dramatari Calonarang di Desa Adat Mundeh; (2) Bagaimanan Nilai Sakral Pementasan Dramatari Calonarang dalam persepektif pendidikan agama Hindu; (3) Bagaimanan Implikasi Pementasan Dramatari Calonarang. Teori yang digunakan adalah teori Dramaturgi, Religi, dan Fenomenologi. Metode yang digunakan adalah kualitatif data dikumpulkan melalui obserpasi, wawancara, studi Pustaka, dandokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pementasan dramatari Calonarang di Desa Mundeh dilaksanakan 1 tahun sekali setelah 11 hari odalan di Pura Penyarikan. Pementasan mulai sandikala sampai tengah malam. Pementasan dramatari Calonarang di laksanakan di jaba pura penyarikan. Pementasan dilakukan sebagai media penyempurnaan pelaksanaan yajna yang berimplikasi terhadap keharmonisan umat dan masyarakat. tata cara pementasan terkait dengan Pemakaian Kostum, Gambelan, dan Pementasan. (2) Nilai sacral pementasan dramatari calonarang meliputi: Kesucian Penari (jurusunggi) Calonarang, Kesucian Tempat Pementasan, Adegan-Adegan Sakral,, Upacara Akhir Pementasan. (3) Implikasi pementasan tari calonarang di Desa Mundeh adalah Penyempurnaan Yadjna, Keharmonisan Bhuana Agung dan Bhuana Alit, Terpeliharanya teradisi dan Kebudayaan, Menarik wisatawan, Berkembangnya perekonomian masyarakat. (6) Meningkatkan pemahaman terhadap pementasan dramatari Calonarang

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Strategi Guru Agama Hindu Mengatasi Keterbatasan Sumber pendidikan Hindu di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awal Kabupaten Barito Selatan

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dona Mutiara Kasih, 2023. Strategi Guru Agama Hindu Mengatasi Keterbatasan Sumber Pendidikan Hindu Di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai Kabupaten Barito Selatan. Tesis Strata Dua (S-2) Prodi Magister Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Dr. Mujiyono, S.Ag.,M.Ag. Pembimbing II : Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag.,M.A. Tesis ini mengkaji tentang strategi guru agama Hindu dalam mengatasi keterbatasan sumber pendidikan Hindu di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai. Fenomena yang terjadi terbatasnya buku-buku ajaran agama Hindu, jurnal, gambar-gambar dan simbol-simbol agama Hindu, sulitnya jaringan internet, yang menyebabkan pembelajaran agama Hindu kurang atau tidak maksimal, sehingga perlu adanya sebuah strategi dan tentunya ada kendala serta imlpikasi. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka penelitian ini mengkaji tentang 1) Bagaimana strategi guru agama Hindu mengatasi keterbatasan sumber pendidikan Hindu di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai.? 2) Bagaimana kendala guru agama Hindu dalam mengatasi keterbatasan sumber pendidikan Hindu di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai.? 3) Bagaimana implikasi strategi yang diterapkan oleh guru agama Hindu dalam mengatasi keterbatasan sumber pendidikan Hindu di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai?. Penelitian ini memiliki tujuan mengkaji dan mendeskripsikan strategi guru dalam mengatasi keterbatasan sumber pendidikan Hindu, bermanfaat untuk memperluas ilmu pengetahuan dan wawasan bagi guru tentang pendidikan agama Hindu dan meningkatkan hasil serta minat belajar siswa. Rumusan masalah di atas dikaji dengan teori tindakan sosial, teori humanisme, dan teori behavioristik. Tesis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan emik, peneliti menjadi instrumen utama penelitian dan teknik informan yakni purposive yaitu kepala sekolah, guru agama Hindu dan siswa agama Hindu. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi partisipasif, wawancara semi terstruktur, dan studi dokumen, setelah data dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, selanjutnya penyajian hasil analisis data. Hasil analisis yang dikaji dengan teori menjelaskan strategi yang diterapkan guru di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai yakni mengikuti pelatihan, kerja kelompok, mengakses materi dari internet, meningkatkan kreativitas guru, buku paket sebagai sumber belajar dan pemanfaatan lingkungan belajar, dalam menerapkan strategi tentu ada sebuah kendala yakni sulitnya akses jalan ke tempat pelatihan, kurangnya minat siswa mengikuti kerja kelompok, minimnya fasilitas internet, minimnya sarana dan prasarana, terbatasnya ketersediaan buku paket, dan belum dimanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dari sebuah strategi dan kendala tentu ada sebuah implikasi yang ditimbulkan guru maupun siswa di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai, dari ketiga rumusan masalah ditemukan bahwa di SMPN Kecamatan Gunung Bintang Awai penggunaan sumber pendidikan masih belum maksimal karena ketersediaan sumber pendidikan di sekolah-sekolah tersebut masih belum mencukupi, guru kurang kreatif dan inovatif dalam mengatasi keterbatasan sumber belajar seperti melakukan penelitian dan membuat buku pembelajaran atau modul.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Manajemen Pelayanan Publik dalam Penerimaan Mahasiswa Baru di Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Perguruan tinggi merupakan tahap akhir opsional pada pendidikan formal. Setiap Perguruan tinggi merupakan tahap akhir opsional pada pendidikan formal. Setiap tahunnya banyak peserta didik yang melanjutkan studinya di berbagai perguruan tinggi yang diminatinya. Oleh sebab itu, perguruan tinggi berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik untuk menarik perhatian para calon mahasiwa. Penelitian ini mengulas tentang Manajemen Pelayanan Publik dalam Penerimaan Mahasiswa Baru di Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen pelayanan publik, kendala, dan relevansi nilai-nilai Pendidikan Hindu yang ada pada kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru. Peneliti menggunakan Teori The New Public Service, Teori Kendala dan Teori Pendidikan Hindu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan metode pengumpulan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan: Tidak adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) membuat sistem yang mengatur tugas dan fungsi tidak terlaksana secara optimal. Penulis menemukan komponen ini di : (1) pelayanan yang diberikan oleh pelaksana pelayanan, (2) implementasi kebijakan pelaksana pelayanan publik, (3) akuntabilitas pelaksana pelayanan. Kemudian, Peneliti menemukan 3 kendala yang menyebabkan tidak manajemen pelayanan publik terutama dalam kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru antara lain: (1) kendala tidak adanya Standar Operasional Prosedur, terkhususnya untuk kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (2) kendala sumber daya manusia berkaitan dengan jumlah pelaksana pelayanan publik yang terbatas dan tidak adanya lulusan yang membidangi pelayanan publik (3) kendala sarana dan prasarana tidak adanya bagan alur dan denah registrasi, kemudian pada sistem teknolgi informasi ada beberapa bagian pada promosi Penerimaan Mahasiswa Baru. Selanjutnya, Relevansi nilai-nilai pendidikan Hindu, pada penellitian ini penulis menemukan 3 nilai yakni: (1) Nilai-Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama yang berkaitan dengan Tattwa dan Karma Phala, (2) Nilai Sikap berkaitan dengan Tri Kaya Parisudha, (3) Nilai Sosial berkaitan dengan Tri Hita Karana. Kata kunci: The New Public Service, Kendala, Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan Hindu ABSTRAK Perguruan tinggi merupakan tahap akhir opsional pada pendidikan formal. Setiap Perguruan tinggi merupakan tahap akhir opsional pada pendidikan formal. Setiap tahunnya banyak peserta didik yang melanjutkan studinya di berbagai perguruan tinggi yang diminatinya. Oleh sebab itu, perguruan tinggi berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik untuk menarik perhatian para calon mahasiwa. Penelitian ini mengulas tentang Manajemen Pelayanan Publik dalam Penerimaan Mahasiswa Baru di Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen pelayanan publik, kendala, dan relevansi nilai-nilai Pendidikan Hindu yang ada pada kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru. Peneliti menggunakan Teori The New Public Service, Teori Kendala dan Teori Pendidikan Hindu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan metode pengumpulan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan: Tidak adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) membuat sistem yang mengatur tugas dan fungsi tidak terlaksana secara optimal. Penulis menemukan komponen ini di : (1) pelayanan yang diberikan oleh pelaksana pelayanan, (2) implementasi kebijakan pelaksana pelayanan publik, (3) akuntabilitas pelaksana pelayanan. Kemudian, Peneliti menemukan 3 kendala yang menyebabkan tidak manajemen pelayanan publik terutama dalam kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru antara lain: (1) kendala tidak adanya Standar Operasional Prosedur, terkhususnya untuk kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (2) kendala sumber daya manusia berkaitan dengan jumlah pelaksana pelayanan publik yang terbatas dan tidak adanya lulusan yang membidangi pelayanan publik (3) kendala sarana dan prasarana tidak adanya bagan alur dan denah registrasi, kemudian pada sistem teknolgi informasi ada beberapa bagian pada promosi Penerimaan Mahasiswa Baru. Selanjutnya, Relevansi nilai-nilai pendidikan Hindu, pada penellitian ini penulis menemukan 3 nilai yakni: (1) Nilai-Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama yang berkaitan dengan Tattwa dan Karma Phala, (2) Nilai Sikap berkaitan dengan Tri Kaya Parisudha, (3) Nilai Sosial berkaitan dengan Tri Hita Karana.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Hindu Dalam Ritual Manyaki Ehet Dayak Ngaju Di Kota Palangka Raya

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji nilai pendidikan Hindu dalam ritual manyaki ehet Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya. Keberadaan ritual manyaki ehet dalam kepercayaan Hindu Kaharingan yang sarat dengan nilai pendidikan Hindu sangat perlu untuk dikaji. Fenomena yang terjadi kurangnya pemahaman generasi muda Hindu Kaharingan mengenai ritual manyaki ehet masih kurang, baik menyangkut proses pelaksanaan ritual, pembuatan sesajen sarana prasarana ritual, nilai pendidikan Hindu, serta implikasi nilai pendidikan Hindu yang ada dalam ritual manyaki ehet Dayak Nagju di Kota Palangka Raya, ritual manyaki ehet hanya dilaksanakan satu kali pada kehamilan pertama saja. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengkaji rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah proses pelaksanaan dalam ritual manyaki ehet Dayak Ngaju Di Kota Palangka Raya?, 2) Apakah nilai pendidikan Hindu yang terkandung dalam ritual manyaki ehet Dayak Ngaju Di Kota Palangka Raya ?, 3) Bagaimanakah implikasi nilai pendidikan Hindu dalam ritual manyaki ehet Dayak Ngaju Di Kota Palangka Raya?. Penelitian dikaji dengan teori fungsional struktural, teori nilai, Metode penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Jenis sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik Penyajian Hasil Analisis Data, dengan Teknik penyajian informal dan teknik penyajian formal. Berdasarkan hasil penelitian, meliputi ritual manyaki ehet merupakan ritual tujuh bulan dalam kepercayaan agama Hindu Kaharingan, dengan adanya ritual manyaki ehet mengungkapkan rasa syukur kepada Ranying Hatalla Langit/Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah diberikan selama proses mengandung sampai melahirkan selalu diberikan kelancaran dan kemudahan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa proses pelaksanaan ritual manyaki ehet yang dikaji meliputi : (1) Tahap Persiapan, (2) Tahapan Pokok Pelaksanaan. Beberapa nilai pendidikan Hindu yang terkandung dalam ritual manyaki ehet yaitu : (1) Nilai Pendidikan Tattwa, (2) Nilai Pendidikan etika (susila), dan (3) Nilai Pendidikan Estetika. Implikasi nilai pendidikan dalam ritual manyaki ehet yaitu : (1) Terjaganya Keseimbangan Dan Keharmonisan Alam Semesta, (2) Taat Terhadap Pelaksanaan Ritual Sebagai Bentuk Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (3) Tercipta Hubungan Harmonis Dengan Sesama yang diwujudkan dalam perilaku Belum Bahadat, dan (4) Tumbuhnya Kesadaran Beretika Kata Kunci: nilai pendidikan Hindu, ritual manyaki ehet.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Ritual Pakanan Sahur Lewu pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Jalemu Raya Kecamatan Rungan Barat kabupaten Gunung Mas

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Endang . 2023. Nilai-nilai Pendidikan Hindu Dalam Ritual Pakanan Sahur Lewu Pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Jelemu Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas. Skripsi Program Studi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya Pembimbing I Dr.Derson,S.Ag.,M.Ag Pembimbing II Hendri,S.Ag.,M.Si Penelitian dalam skripsi ini mengkaji tentang Nilai-nilai Pendidikan Hindu dalam ritual Pakanan Sahur Lewu pada masyarakat hindu Kaharingan di Desa Jelemu Raya Kecamatan Rungan Barat kabupaten Gunung Mas. Ritual pakanan sahur lewu merupakan rirual bagian dari pitra yajnya yang pelaksanaanya masih belum banyak dipahami secara mendalam tentang nilai pendidikan oleh sebagian masyarakat Hindu Kaharingan sendiri, karena ritual pakanan sahur lewu disamping memiliki nilai pendidikan, juga mengandung makna nilai religius yang sangat diyakini yang dapat menjaga serta memberi kesehatan dan keselamatan. Berdasarkan latar belakang,maka dalam penelitian ini mengkaji: (1) Bagaimana proses ritual pakanan sahur lewu pada masyarakat hindu Kaharingan di Desa Jelemu Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas ?. (2) Aka kajian Nilai-nilai pendidikan Hindu yang terdapat dalam ritual pakanan sahur lewu pada masayarakat Hindu Kaharingan di Desa Jelemu Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas ? Teori yang digunakan untuk menganalisis terhadap rumusan masalah, yaitu mengunakan 2 (dua) teori. Teori fungsional struktural, dan Teori nilai. Sedangkan tekhnik yang digunakan dalam pengumpulan data, yakni observasi, wawancara, dokumentasi, kemudian data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif berupa wawancara dengan para informan yang benar-benar mengetahui tentang permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian yang dikaji Ritual pakanan sahur lewu yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Jelemu Raya dilakukan sesuai dengan proses atau hapan-tahapan yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Adapun proses tahapan; 1) Tahap musyawarah,menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan, meminjam (mencari) Basir. 2) Tahap pokok; narinjet marawei sahur (memanggil roh leluhur), maganjan (menari mengelilingi rumah patahu atau keramat). 3) Tahap akhir; membuka atau memeriksa behas hambaruan (melihat ciri atau tanda roh yang terdapat pada beras), Persembahan sesajen di rumah patahu, dan pali (pantangan). Sedangkan Nilai pendidikan; 1) Nilai pendidikan tattwa atau Ketuhanan terletak pada proses hingga berakhir pelaksanaan ritual pakanan sahur lewu, sebab mantra-mantra yang diucapkan oleh Basir melalui beras tawur merupakan penyampaian permohonan doa kepada Ranying Hatala Langit, Tuhan Yang Maha Esa serta manifestasi-Nya. 2) Nilai pendidikan etika merupakan adanya aturan-aturan tertentu yang harus ditaati dan dipatuhi sesuai dengan aturan yang sudah dibrlakukan secara turun-temurun. 3) Nilai ritual dilihat dari dari beberapa aspek, baik nilai tattwa maupun nilai etik. Nilai tattwa yang terdapat pada ritual pakanan sahur lewu yaitu adanya suatu keyakinan masyarakat Hindu Kaharingan bahwa sahur parapah dipercayaii sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa (Ranying Hatalla Langit) yang dapat membantu manusia dari berbagai musibah sehingga kehidupan manusia menjadi harmonis.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai-Nilai Pendidikan Hindu dalam Yajña Sesa di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji tentang nilai-nilai pendidikan Hindu dalam Yajña Sesa di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Yajña Sesa merupakan sarana dalam persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa berupa makanan yang telah dimasak yang memiliki nilai pendidikan Hindu yang perlu dikaji. Fenomena yang terjadi kurangnya pemahaman dalam diri beberapa orang terhadap bentuk pelaksanaan, fungsi serta nilai-nilai yang terkandung dalam Yajña Sesa. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengkaji rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah pelaksanaan Yajña Sesa di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas?, 2) Apakah yang terkandung dalam fungsi Yajña Sesa di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas? 3) Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan Hindu dalam Yajña Sesa di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas?. Penelitian dikaji dengan teori simbol, teori fungsional struktural dan teori nilai. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Jenis sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara Purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan studi dokumen. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa pelaksanaan Yajña Sesa yang dikaji menggunakan teori simbol menghasilkan kesimpulan yaitu: waktu pelaksanaan Yajña Sesa, tempat pelaksanaan Yajña Sesa, sarana dalam pelaksanaan Yajña Sesa, cara membuat Yajña Sesa, doa/mantra dalam pelaksanaan Yajña Sesa, hambatan dalam pelaksanaan Yajña Sesa dan dampak jika tidak melaksanakan Yajña Sesa. Fungsi Yajña Sesa yang dikaji menggunakan teori fungsional struktural menghasilkan kesimpulan yaitu: fungsi religius, fungsi tradisi, fungsi pendidikan, fungsi sosial, fungsi etika, fungsi estetika dan fungsi ekonomi. Nilai-nilai pendidikan Hindu dalam Yajña Sesa yang dikaji menggunakan teori nilai menghasilkan kesimpulan yaitu: nilai pendidikan, nilai pendidikan ekonomi, nilai pendidikan estetika, nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan etika (susila), nilai pendidikan tattwa (kebenaran), nilai pendidikan upacara dan nilai pendidikan religius.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERAN LAGU KEAGAMAAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU DI PASRAMAN KOTA PALANGKA RAYA

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji tentang peran lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu di Pasraman Kota Palangka Raya. Lagu keagamaan tidak hanya sebuah lagu biasa yang dinyanyikan di Pasraman, tetapi lagu keagamaan adalah sebuah lagu dengan lirik yang memuat ajaran tentang pendidikan agama Hindu. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, terdapat perbedaan antara harapan dan kenyataan yang menghasilkan suatu gap, selain itu berdasarkan hasil pencarian literature kepustakaan yang serupa, masih banyak bahkan belum ada yang mengkaji terkait peran lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu. Penelitian ini terfokus pada peran lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu di Pasraman Kota Palangka Raya dengan rumusan masalah: 1) Nilai-nilai pendidikan agama Hindu apa saja yang terkandung dalam lagu keagamaan di Pasraman Kota Palangka Raya? 2) Bagaimana peran dan fungsi lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu di Pasraman Kota Palangka Raya? Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah kondensasi data, penyajian data, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan hasil yakni: Pertama, nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam lagu keagamaan di Pasraman Kota Palangka Raya dibagi menjadi dua, yaitu nilai pendidikan agama Hindu Paravidya dengan nilai-nilainya sebagai berikut: 1) Ranying Hatalla menciptakan manusia, 2) Percaya adanya manifestasi Tuhan, 3) Berserah diri kepada Tuhan, 4) Memuja Tuhan, dan 5) Percaya kemahakuasaan Sang Hyang Widhi. Nilai pendidikan agama Hindu Aparavidya dengan nilai-nilainya yakni: 1) Nilai pendidikan susila, 2) Nilai pendidikan keagamaan Hindu, dan 3) Nilai pendidikan estetika. Kedua, peran lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu sebagai berikut: 1) Pemotivasi peningkatan keimanan, 2) Pengembang pendidikan karakter, dan 3) Pedoman interaksi sosial. Fungsi lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu yakni: 1) Meningkatkan keimanan, 2) Mengembangkan pendidikan karakter, dan 3) Meningkatkan hidup bersosialisasi.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

NILAI-NILAI PENDIDIKAN HINDU DALAM UPACARA NYAKI MATEI PADA UMAT HINDU KAHARINGAN DI DESA BANGKAL KECAMATAN SERUYAN RAYA KABUPATEN SERUYAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Umat Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah memiliki upacara kematian yang di bagi menjadi dua fase yaitu upacara penguburan dan upacara Tiwah yang sesuai dengan Desa, Kala, dan Patra artinya sesuai waktu, tempat, dan keadaan daerah setempat berbeda-beda dalam pelaksanaan ritualnya. Demikian juga halnya bahwa dalam upacara kematian khususnya upacara penguburan memiliki keunikan, dan perbedaan salah satu diantaranya adalah upacara khususnya Nyaki Matei. Upacara penguburan jenazah ini belum ada yang mengangkat bagaimana nilai-nilai Pendidikan Hindu dalam upacara Nyaki Matei sehingga sangat menarik untuk diteliti pada umat Hindu Kaharingan di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten Seruyan. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti mengidentifikasi masalah dengan dua rumusan masalah yaitu: (1) Bagaimana Pelaksanaan Upacara Nyaki Matei pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten Seruyan ? (2) Apa Nilai-Nilai Pendidikan dalam Upacara Nyaki Matei pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten Seruyan ? Penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori religi menurut Koentjaraningrat dengan tiga pendekatan yaitu (1) teori religi yang dalam pendekatan berorientasi kepada keyakinan, (2) teori religi yang dalam pendekatan berorientasi kepada sikap terhadap alam gaib atau hal-hal yang bersifat gaib, dan (3) teori religi yang dalam pendekatan berorientasi kepada upacara religi yang mana teori religi ini didukung oleh teori fungsional structural yang dikembangkan oleh Talcott Parson dan teori Nilai menurut Natonegoro yang didukung dengan Teori Pendidikan Hindu menurut N.C. Bhattacharyya. Hasil penelitian upacara Nyaki Matei yaitu terdapat beberapa tahapan persiapan yaitu: (1) Tahapan Persiapan dalam tahapan persiapan terdapat rumbuk hajep keluarga dan mencari sarana dan prasarana, (2) Tahap Pelaksanaan upacara Nyaki Matei dari awal pelaksanaan sampai selesai, (3) Tahap Akhir terdapat makan bersama umat Hindu Kaharingan, melaksanakan pantang pali atau pantangan selesai melaksanakan upacara nyaki matei, dan pemberian duit pekoas sama halnya dengan duit dingah hambaruan bisa berupa benda atau uang, selain pelaksanaan upacara Nyaki Matei terdapat nilai-nilai Pendidikan Hindu dalam upacara Nyaki Matei pada Umat Hindu Kaharingan di Desa yaitu: (1) Nilai pendidikan tattwa dilihat dari pelaksanaan upacara Nyaki Matei di tujukan kepada liau/almarhum/leluhur sebagai bentuk penghormatan, rasa terimakasihn dan menghargai liau disaat-saat terakhir, (2) Nilai pendidikan susila dilihat dari hasil dari aturan dalam pelaksanaan upacara Nyaki Matei dan pantangan yang harus di lakukan saat selesai pelaksanaan upacara Nyaki Matei, (3) Nilai pendidikan upacara dilihat dari penerapan ajaran keagamaan yang untuk menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan tuhan, leluhur dan sesamanya, (4) Nilai Pendidikan Sosial dapat dilihat dari kebersamaan dan gontong royong saling membantu dari awal pelaksanaan upacara Nyaki Matei sampai selesai, (5) Nilai Pendidikan Seni dapat kita rasakan dan kita lihat dari seni suara dari lantunan/mengucapkan mantra yang dilakukan oleh pisor, seni ukiran dan anyaman.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EKSISTENSI SITUS BUKIT BATU DALAM PENDIDIKAN HINDU PADA MASYARAKAT HINDU DI KABUPATEN KATINGAN

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tesis ini mengkaji eksistensi situs Bukit Batu dalam pendidikan Hindu pada masyarakat Hindu di Kabupaten Katingan. Situs Bukit Batu memiliki keunikan yang luar biasa, karena setiap struktur terbentuk dari struktur batu lain yang mempunyai nama dan fungsi serta mitologi sendiri. Keunikan tampak dapat diperhatikan sejak awal masuk wilayah bebatuan situs Bukit Batu yang ada talaga suci dan diakhiri dengan batu besar tinggi yakni batu Tingkes. Masyarakat memahami situs Bukit Batu sebagai objek wisata untuk sekedar berekreasi, namun mempunyai eksistensi, fungsi, dan nilai-nilai yang berasal dari mitos dan struktur keberadaan Situs Bukit Batu. Berdasarkan latar belakang tersebut tesis ini mengkaji rumusan masalah : (1) Bagaimanakah eksistensi Situs Bukit Batu dalam pendidikan Hindu pada masyarakat Hindu di Kabupaten Katingan? (2) Apakah fungsi eksistensi Situs Bukit Batu dalam pendidikan Hindu pada masyarakat Hindu di Kabupaten Katingan? (3) Apakah nilai-nilai pendidikan Hindu pada Situs Bukit Batu bagi masyarakat Hindu di Kabupaten Katingan?. Tujuan penelitian ini mengkaji dan memperkaya ilmu pengetahuan Hindu dari mitologi rakyat dan eksistensi Situs Bukit Batu di Kabupaten Katingan. Analisis masalah menggunakan teori eksistensiliasme, teori fungsional struktural, dan teori nilai. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan analisis deskriptif kualitatif, dengan pendekatan emik. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni metode observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi, dari data primer dan kualitatif. Teknik analisis data kualitatif yang dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan yang disajian hasil analisis data dalam narasi Bahasa Indonesia, informal dan formal. Hasil penelitian yang dianalisis dengan teori yang digunakan, menunjukkan bahwa eksistensi situs Bukit Batu dalam pendidikan Hindu pada masyarakat Hindu di Kabupaten Katingan tampak dari adanya mitologi situs Bukit Batu, yajna (persembahan suci), pelestarian budaya, dan pariwisata di situs Bukit Batu. Fungsi eksistensi situs Bukit Batu dalam pendidikan Hindu memiliki fungsi pendidikan tri hita karana, fungsi pendidikan yajna, fungsi pelestarian ekologi, fungsi religius, fungsi sosial, dan fungsi ekonomi. Nilai-nilai pendidikan Hindu pada situs Bukit Batu yaitu nilai pendidikan tatwa (filosofi), nilai pendidikan susila (etika), nilai pendidikan upacara, dan nilai pendidikan gotong royong. Eksistensi situs Bukit Batu dalam pendidikan Hindu menjadi sebuah wahana yang mempunyai makna dan nilai pendidikan Hindu yang luhur. Saat mengunjungi dan turut melakukan aktivitas religi di situs Bukit Batu, secara alami akan mentransformasi nilai-nilai pendidikan Hindu sehingga akan meningkatkan sradha dan bhakti umat Hindu. Berdasarkan analisis ditemukan bahwa Situs Bukit Batu di Kabupaten Katingan mempunyai eksistensi tinggi dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan Pendidikan umat Hindu, yang akan mendewasakan masyarakat, kesejahteraan, dan keharmonisan.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail