BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Anisya 2026.
Peran Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Pada Siswa Di SDN Tajah Antang Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas.Skripsi Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya.
Pembimbing I: Mitro, S.Pd., M.Si Pembimbing II: Nyoman Sumarni, S.Ag., M.Si
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya perilaku siswa yang menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai karakter belum sepenuhnya optimal, seperti kurangnya kedisiplinan, tanggung jawab, sikap saling menghargai, dan sopan santun. Guru Pendidikan Agama Hindu memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Agama Hindu dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta menganalisis upaya guru dalam mengatasi kendala penanaman nilai-nilai karakter pada siswa di SDN Tajah Antang Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri atas guru Pendidikan Agama Hindu, kepala sekolah, dan siswa. Analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Peran guru Pendidikan Agama Hindu dalam menanamkan nilai-nilai karakter dilakukan melalui peran sebagai pendidik, pembimbing, pengajar, teladan, dan motivator. Nilai-nilai karakter yang ditanamkan meliputi religius, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian, dan saling menghormati. Penanaman nilai dilakukan melalui pemberian arahan dan nasihat, keteladanan, pembiasaan, teguran, motivasi, serta pemberian apresiasi terhadap perilaku positif siswa. Dalam perspektif behavioristik, tindakan guru tersebut dapat dipahami sebagai stimulus yang diarahkan untuk membentuk respons perilaku positif siswa melalui penguatan dan pembiasaan yang dilakukan secara berulang; (2) Kendala dalam penanaman nilai-nilai karakter meliputi keterbatasan waktu pembelajaran, belum konsistennya perilaku siswa, pengaruh lingkungan keluarga dan pergaulan, perkembangan teknologi, serta keterbatasan sarana dan dukungan dalam pelaksanaan penanaman karakter; (3) Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala tersebut meliputi pemberian arahan dan nasihat, pembiasaan perilaku positif, pemberian keteladanan, motivasi, teguran, serta pengawasan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di sekolah.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Bili Oktarian. 2026, Implikasi Hukum Perkawinan di Bawah Umur di Desa
Tumbang Mahop Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan (Perspektif
Hukum Hindu). Skripsi Strata Satu, Prodi Hukum Agama Hindu Fakultas
Dharma Sastra Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka
Raya. Pembimbing I Mariatie, S.Ag.,M,Si. dan Pembimbing II Budiarto
Santoso, S,H.AH.,M,H.
Perkawinan merupakan ikatan suci yang bertujuan membentuk keluarga yang
harmonis, bahagia, dan kekal berdasarkan ajaran agama serta ketentuan hukum
yang berlaku. Dalam perkembangan masyarakat, masih ditemukan praktik
perkawinan di bawah umur yang dilakukan sebelum calon mempelai mencapai
batas usia minimum sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2019, yaitu batas usia 19 tahun bagi pria dan wanita. Fenomena tersebut
ditemukan di Desa Tumbang Mahop, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten
Katingan yang dipengaruhi oleh berbagai pergaulan remaja. Dalam perspektif
hukum Hindu, perkawinan tidak hanya dipandang sebagai hubungan lahiriah antara
laki-laki dan perempuan, tetapi juga sebagai kewajiban dharma yang harus
dilaksanakan dengan kesiapan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) implikasi hukum terhadap
perkawinan di bawah umur di Desa Tumbang Mahop, Kecamatan Katingan Hulu,
Kabupaten Katingan, dan (2) proses penyelesaian terhadap perkawinan di bawah
umur di Desa Tumbang Mahop, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan pendekatan
kualitatif. Sumber data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi
terhadap Mantir Adat, Ketua Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan (MKAHK),
Kepala Desa, Tokoh Masyarakat dan Sanksi, pasangan yang melakukan
perkawinan di bawah umur, serta masyarakat setempat. Analisis data dilakukan
secara deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan implikasi hukum terhadap perkawinan di bawah
umur di Desa Tumbang Mahop, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan
adalah bahwa perkawinan yang dilakukan oleh pasangan yang belum mencapai
batas usia yang ditentukan oleh Undang-Undang Perkawinan tidak memenuhi
syarat hukum perkawinan secara penuh, sehingga berpotensi menimbulkan
permasalahan terkait legalitas perkawinan dan perlindungan hukum bagi para
pihak. Dari perspektif hukum Hindu, perkawinan di bawah umur dipandang sebagai
perbuatan yang belum sesuai dengan prinsip kedewasaan dan tanggung jawab
dalam membentuk keluarga, sehingga penyelesaiannya memerlukan keterlibatan
keluarga, tokoh adat, dan tokoh agama melalui pembinaan serta pemenuhan
kewajibannya. Adapun proses penyelesaian perkawinan di bawah umur dilakukan
melalui musyawarah keluarga, pembinaan oleh mantir adat dan tokoh agama Hindu
Kaharingan, serta menempuh prosedur hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Sinergi antara hukum negara, dan nilai-nilai hukum Hindu menjadi upaya penting
dalam memberikan perlindungan serta mencegah terjadinya perkawinan di bawah
umur di masyarakat.
Kata Kunci: Implikasi Hukum, Perkawinan di Bawah Umur, Hukum Hindu.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya keterbatasan tenaga pengajar
pada Pasraman Penyang Hatampung di Desa Tampang Tumbang Anjir, Kabupaten
Gunung Mas. Keterbatasan tenaga pengajar dapat memengaruhi pelaksanaan
kegiatan pembelajaran dan keberlangsungan pendidikan keagamaan Hindu di
pasraman. Dalam kondisi tersebut, Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan
memiliki peran penting dalam melakukan berbagai upaya untuk menghadapi
keterbatasan tenaga pengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor
penyebab keterbatasan tenaga pengajar serta mendeskripsikan upaya Majelis
Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam mengatasi keterbatasan tenaga
pengajar pada Pasraman Penyang Hatampung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan tenaga pengajar pada
Pasraman Penyang Hatampung berkaitan dengan keterbatasan jumlah tenaga
pengajar, keterbatasan waktu karena tenaga pengajar memiliki aktivitas lain,
terbatasnya calon pengajar, serta belum optimalnya pembinaan dan keberlanjutan
tenaga pengajar. Kondisi tersebut berdampak pada pengelolaan kegiatan
pembelajaran dan kebutuhan pembagian tugas tenaga pengajar. Dalam mengatasi
permasalahan tersebut, Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan melakukan
beberapa upaya, yaitu koordinasi dengan pengurus dan tenaga pengajar pasraman,
pemberdayaan masyarakat dan tokoh agama, serta kaderisasi dan pembinaan calon
pengajar. Pelaksanaan upaya tersebut didukung oleh semangat tenaga pengajar,
dukungan pengurus pasraman, partisipasi masyarakat dan tokoh agama, antusiasme
peserta didik, serta kerja sama antarunsur yang terlibat dalam penyelenggaraan
pasraman. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan
waktu tenaga pengajar, terbatasnya calon pengajar, kesibukan masyarakat, dan
belum optimalnya pembinaan secara berkelanjutan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa upaya Majelis
Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam mengatasi keterbatasan tenaga
pengajar dilakukan melalui pengelolaan dan optimalisasi sumber daya yang tersedia
serta penguatan kerja sama dengan berbagai pihak. Kaderisasi dan pembinaan calon
pengajar menjadi bagian penting untuk menjamin keberlanjutan tenaga pengajar
pada masa mendatang. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penyelesaian
keterbatasan tenaga pengajar membutuhkan upaya yang berkelanjutan melalui
koordinasi, pemberdayaan sumber daya manusia, dan pembinaan calon pengajar.
Kata kunci: Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan, keterbatasan tenaga
pengajar, pasraman, upaya, pendidikan keagamaan Hindu.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesulitan belajar yang
dialami siswa tunagrahita ringan, upaya guru dalam mengatasi kesulitan belajar,
serta faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran di SDN 2
Menteng. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah dan guru kelas yang
dipilih berdasarkan pertimbangan keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran
siswa tunagrahita ringan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan
dokumentasi, kemudian dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa tunagrahita ringan mengalami (1)
bentuk kesulitan belajar dalam memahami materi pembelajaran, membaca,
menulis, berhitung, serta memusatkan perhatian. (2) Upaya guru dalam mengatasi
kesulitan belajar, dilakukan melalui penyesuaian metode pembelajaran,
penggunaan media dan alat bantu pembelajaran, pemberian penjelasan secara
bertahap dan berulang, pendampingan secara langsung, serta pemberian motivasi
dan penguatan positif. (3) Faktor pendukung dan penghambat bagi guru dalam
mengatasi kesulitan belajar. Fator pendukung meliputi kerja sama antara guru,
orang tua, dan sekolah, dukungan kepala sekolah, serta ketersediaan media dan
fasilitas pembelajaran. Faktor penghambat meliputi keterbatasan kemampuan siswa
dalam memahami materi dan keterbatasan waktu guru dalam memberikan
pendampingan individual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa upaya guru
dilakukan melalui penyesuaian pembelajaran sesuai kebutuhan siswa serta
dukungan dari lingkungan sekolah dan keluarga.
Kata kunci: kesulitan belajar, tunagrahita ringan, upaya guru, pendidikan inklusif,
dukungan sosial
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kalvin, 2026 : Strategi Komunikasi Guru Agama Hindu Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Hindu SDN – 1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan. Pembimbing I Kunti Ayu Vedanti, S.Fil.H.,M.Ag, Pembimbing II I Komang Widyana, S.Pd.H.,M.Pd.
Pembelajaran Agama Hindu membutuhkan strategi komunikasi guru yang sesuai dengan kondisi siswa untuk meningkatkan motivasi belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana strategi komunikasi Guru Agama Hindu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Hindu di SDN-1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan? (2) Apa saja hambatan dan upaya Guru Agama Hindu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Hindu di SDN-1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan?.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan yaitu (1) Teori Tindakan Komunikatif Jürgen Habermas dan (2) Teori Behavioristik. Informan penelitian terdiri dari Guru Agama Hindu, siswa Hindu kelas IV–VI, serta orang tua atau wali siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) strategi komunikasi guru dilakukan melalui komunikasi interpersonal, verbal, dan dialogis dengan penggunaan bahasa sederhana, pertanyaan, penjelasan ulang materi, pendekatan pribadi, perhatian, motivasi, pujian, dan penghargaan; (2) hambatan yang dihadapi meliputi kurangnya fokus dan keaktifan siswa, kesulitan memahami materi, kurangnya keberanian menjawab pertanyaan, serta keterbatasan media pembelajaran; (3) upaya yang dilakukan guru meliputi pendekatan personal, pemberian perhatian, penjelasan ulang, pertanyaan, motivasi, pujian, dan penghargaan. Strategi komunikasi tersebut mendukung keterlibatan dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Agama Hindu.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Public speaking merupakan kompetensi esensial yang harus dimiliki oleh mahasiswa, tidak hanya dalam konteks akademik tetapi juga dalam kehidupan sosial, Namun kemampuan public speaking Mahasiswa Fakultas Dharma Duta Dan Brahma Widya IAHN Palangka Raya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengendalian diri dan keterampilan komunikasi terhadap kemampuan public speaking mahasiswa. Penelitian ini menggunkaan pendekatan deskriptif eksploratif dengan jenis penelitian kuantitatif. Analisa data dilakukan dengan deskripsis data hasil penelitian, uji kualitas instrumen, uji pra-syarat analisis, dan analisis regresi linear berganda menggunakan program SPSS 24.0
Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari pengendalian diri (sig. 0,001 < 0,05) dan keterampilan komunikasi (sig. 0,013 < 0,05) secara parsial terhadap kemampuan public speaking mahasiswa Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya angkatan 2025. Secara simultan, kedua variabel juga memberikan pengaruh yang signifikan (sig. 0,000 < 0,05) dengan nilai koefisien determinasi (R^2) sebesar 0,342. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian diri dan keterampilan komunikasi berkontribusi sebesar 34,2% terhadap kemampuan public speaking, sementara 65,8% dijelaskan oleh variabel lain. Temuan ini menegaskan bahwa perlunya pengembangan pengendalian diri dan keterampilan komunikasi mahasiswa untuk menunjang kemampuan public speaking. peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengeksplorasi variabel lain yang menyumbang 65,8% pengaruh di luar penelitian ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Public speaking merupakan kompetensi esensial yang harus dimiliki oleh mahasiswa, tidak hanya dalam konteks akademik tetapi juga dalam kehidupan sosial, Namun kemampuan public speaking Mahasiswa Fakultas Dharma Duta Dan Brahma Widya IAHN Palangka Raya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengendalian diri dan keterampilan komunikasi terhadap kemampuan public speaking mahasiswa. Penelitian ini menggunkaan pendekatan deskriptif eksploratif dengan jenis penelitian kuantitatif. Analisa data dilakukan dengan deskripsis data hasil penelitian, uji kualitas instrumen, uji pra-syarat analisis, dan analisis regresi linear berganda menggunakan program SPSS 24.0
Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari pengendalian diri (sig. 0,001 < 0,05) dan keterampilan komunikasi (sig. 0,013 < 0,05) secara parsial terhadap kemampuan public speaking mahasiswa Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya angkatan 2025. Secara simultan, kedua variabel juga memberikan pengaruh yang signifikan (sig. 0,000 < 0,05) dengan nilai koefisien determinasi (R^2) sebesar 0,342. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian diri dan keterampilan komunikasi berkontribusi sebesar 34,2% terhadap kemampuan public speaking, sementara 65,8% dijelaskan oleh variabel lain. Temuan ini menegaskan bahwa perlunya pengembangan pengendalian diri dan keterampilan komunikasi mahasiswa untuk menunjang kemampuan public speaking. peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengeksplorasi variabel lain yang menyumbang 65,8% pengaruh di luar penelitian ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
This research was motivated by students’ attention distractions during the learning process, which can hinder their engagement and understanding of the material presented. Attention distractions can be observed when students talk to their peers, play during lessons, fail to pay attention to the teacher’s explanations, and engage in other activities unrelated to the learning process. Therefore, appropriate teacher strategies are needed to restore and maintain students’ attention throughout the learning process. This study aims to describe the strategies employed by the fourth-grade classroom teacher in addressing students’ attention distractions at State Elementary School (SDN) 6 Palangka and to identify the forms and factors influencing the occurrence of students’ attention distractions. This research employed a qualitative approach with a descriptive research design. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The research subjects consisted of the principal, the fourth-grade classroom teacher, and fourthgrade students. Data analysis was conducted through the stages of data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the classroom teacher employed several strategies to address students’ attention distractions, including the use of varied learning methods and the management of the classroom environment. The teacher used various learning methods, such as lectures to explain concepts, followed by discussions to increase interaction among students. The teacher also managed the classroom environment and seating arrangements to support students’ attention during the learning process. The implementation of these strategies was adjusted to the students’ conditions and characteristics. The forms of students’ attention distractions included a lack of attention to the teacher’s explanations, students disturbing their peers during the learning process, and students having difficulty maintaining focus on learning activities. Two factors influenced students’ attention distractions, namely internal factors originating from within the students and external factors arising from the students’ learning environment. Future researchers are expected to develop further studies by examining more diverse teacher strategies for addressing students’ attention distractions and involving broader subjects and learning contexts. In addition, future research may investigate the effectiveness of these strategies in improving students’ focus and engagement during the learning process. Keywords: Teacher Strategies, Attention Distractions, Fourth-Grade Students, Learning.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kalvin, 2026 : Strategi Komunikasi Guru Agama Hindu Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Hindu SDN – 1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan. Pembimbing I Kunti Ayu Vedanti, S.Fil.H.,M.Ag, Pembimbing II I Komang Widyana, S.Pd.H.,M.Pd. Pembelajaran Agama Hindu membutuhkan strategi komunikasi guru yang sesuai dengan kondisi siswa untuk meningkatkan motivasi belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana strategi komunikasi Guru Agama Hindu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Hindu di SDN-1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan? (2) Apa saja hambatan dan upaya Guru Agama Hindu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Hindu di SDN-1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan yaitu (1) Teori Tindakan Komunikatif Jürgen Habermas dan (2) Teori Behavioristik. Informan penelitian terdiri dari Guru Agama Hindu, siswa Hindu kelas IV–VI, serta orang tua atau wali siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) strategi komunikasi guru dilakukan melalui komunikasi interpersonal, verbal, dan dialogis dengan penggunaan bahasa sederhana, pertanyaan, penjelasan ulang materi, pendekatan pribadi, perhatian, motivasi, pujian, dan penghargaan; (2) hambatan yang dihadapi meliputi kurangnya fokus dan keaktifan siswa, kesulitan memahami materi, kurangnya keberanian menjawab pertanyaan, serta keterbatasan media pembelajaran; (3) upaya yang dilakukan guru meliputi pendekatan personal, pemberian perhatian, penjelasan ulang, pertanyaan, motivasi, pujian, dan penghargaan. Strategi komunikasi tersebut mendukung keterlibatan dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Agama Hindu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kalvin, 2026 : Strategi Komunikasi Guru Agama Hindu Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Hindu SDN – 1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan. Pembimbing I Kunti Ayu Vedanti, S.Fil.H.,M.Ag, Pembimbing II I Komang Widyana, S.Pd.H.,M.Pd.
Pembelajaran Agama Hindu membutuhkan strategi komunikasi guru yang sesuai dengan kondisi siswa untuk meningkatkan motivasi belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana strategi komunikasi Guru Agama Hindu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Hindu di SDN-1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan? (2) Apa saja hambatan dan upaya Guru Agama Hindu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa Hindu di SDN-1 Marandang Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan?.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan yaitu (1) Teori Tindakan Komunikatif Jürgen Habermas dan (2) Teori Behavioristik. Informan penelitian terdiri dari Guru Agama Hindu, siswa Hindu kelas IV–VI, serta orang tua atau wali siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) strategi komunikasi guru dilakukan melalui komunikasi interpersonal, verbal, dan dialogis dengan penggunaan bahasa sederhana, pertanyaan, penjelasan ulang materi, pendekatan pribadi, perhatian, motivasi, pujian, dan penghargaan; (2) hambatan yang dihadapi meliputi kurangnya fokus dan keaktifan siswa, kesulitan memahami materi, kurangnya keberanian menjawab pertanyaan, serta keterbatasan media pembelajaran; (3) upaya yang dilakukan guru meliputi pendekatan personal, pemberian perhatian, penjelasan ulang, pertanyaan, motivasi, pujian, dan penghargaan. Strategi komunikasi tersebut mendukung keterlibatan dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran Agama Hindu.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Arin Fin. 2025, Peran Mantir Adat dalam Penanganan Pra Perkawinan Beda
Agama Di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing,
Kabupaten Katingan. Skripsi Srata Satu, Prodi Hukum Adat Fakultas Dharma
Sastra Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya.
Pembimbing I Dr.Riwun.S.Ag.,M,Si, dan Pembimbing II Alfred
Yetno,SH.,MH.
Perkawinan beda agama merupakan salah satu fenomena sosial yang sering
menimbulkan berbagai persoalan hukum, sosial, budaya, dan keagamaan dalam
masyarakat. Di tengah masyarakat adat Dayak di Desa Tewang Rangkang Kecamatan
Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan, keberadaan Mantir Adat memiliki peran
penting dalam menjaga ketertiban sosial serta menyelesaikan berbagai persoalan yang
berkaitan dengan adat istiadat, termasuk dalam penanganan pra perkawinan beda agama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Mantir Adat dalam penanganan pra
perkawinan beda agama serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan
peran tersebut di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing
Kabupaten Katingan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan pendekatan
kualitatif. Sumber data diperoleh melalui wawancara dengan Mantir Adat, tokoh agama,
pasangan yang melakukan pra perkawinan beda agama, dan masyarakat setempat. Data
juga diperoleh melalui observasi lapangan dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan
secara deskriptif kualitatif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan 1) Peran dan kewenangan Mantir Adat dalam
menangani pra-perkawinan beda agama sangat penting sebagai mediator, fasilitator,
penasihat, dan penegak hukum adat. Mantir Adat berwenang memberikan pertimbangan
adat, memediasi kedua belah pihak dan keluarga, serta memastikan bahwa proses
penyelesaian dilakukan sesuai dengan norma adat yang berlaku guna menjaga ketertiban
dan keharmonisan masyarakat. 2) Mekanisme penyelesaian pra-perkawinan beda agama
melalui lembaga adat dilakukan secara bertahap, dimulai dari pengaduan atau konsultasi
keluarga kepada Mantir Adat, musyawarah antara para pihak, pemberian nasihat dan
pertimbangan adat, pencapaian kesepakatan bersama, hingga penetapan keputusan adat
yang diterima oleh kedua keluarga. Seluruh proses mengedepankan prinsip musyawarah,
mufakat, dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat serta keyakinan masing-masing pihak.
3) Implikasi sosial, hukum, dan keagamaan dari penanganan pra-perkawinan beda agama
oleh Mantir Adat menunjukkan dampak yang positif bagi masyarakat. secara sosial, proses
tersebut mampu menjaga kerukunan, toleransi, dan hubungan kekeluargaan. Secara hukum,
penyelesaian adat memberikan kepastian dan legitimasi sosial terhadap keputusan yang
diambil masyarakat. Secara keagamaan, proses ini mendorong penghormatan terhadap
keyakinan masing-masing pihak serta meminimalkan potensi konflik yang dapat muncul
akibat perbedaan agama dalam perkawinan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Mantir Adat berperan penting
dalam penanganan pra perkawinan beda agama melalui pendekatan musyawarah, mediasi,
dan pembinaan adat guna menciptakan kesepahaman antara para pihak yang akan
melangsungkan perkawinan. Peran tersebut tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme
penyelesaian persoalan adat, tetapi juga sebagai sarana menjaga kerukunan, toleransi, dan
keharmonisan sosial dalam masyarakat adat Dayak di Desa Tewang Rangkang Kecamatan
Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan.
Kata Kunci: Mantir Adat, Pra Perkawinan, Perkawinan Beda Agama.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Rusmiatie, 2026, Pergulatan Ideologi Keberagamaan pada Pelaksanaan Ritual
Ngapatung oleh Masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku Kecamatan
Marikit Kabupaten Katingan. Skripsi. Program Studi Hukum Agama Hindu,
Fakultas Dharma Sastra, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang
(IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (I) Dra. Ni Made Ratini, M.Si. Pembimbing (II) Gelar Sumbogo Peni, S.Ag., M.Si.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dipertahankannya ritual
Ngapatung sebagai ritual keagamaan Hindu Kaharingan yang diwariskan secara
turun-temurun oleh masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku, Kecamatan Marikit, Kabupaten Katingan. Dalam perkembangannya, perpindahan keyakinan sebagian
masyarakat menimbulkan dinamika dalam pelaksanaan ritual Ngupatung. Sebagian
masyarakat yang telah mengalami perpindahan keyakinan tetap melaksanakan
ritual Ngapatung sebagai praktik yang diwarisi dari tradisi keagamaan sebelumnya.
Kondisi tersebut menimbulkan pergulatan ideologi keberagamaan berupa
ketegangan antara ajaran keagamaan yang dianut setelah perpindahan keyakinan
dengan praktik ritual yang masih dipertahankan. Di satu sisi, ritual Ngapatung tetap
dipandang sebagai warisan tradisi dan pengalaman keberagamaan sebelumnya,
sedangkan di sisi lain, berdasarkan pemahaman terhadap ajaran keagamaan yang
kini dianut, praktik tersebut dipandang tidak sejalan dengan keyakinan keagamaan
yang dianut saat ini.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah bentuk
pelaksanaan ritual Ngapatung oleh masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku,
Kecamatan Marikit, Kabupaten Katingan? (2) Bagaimanakah bentuk pergulatan
ideologi keberagamaan pada pelaksanaan ritual Ngapatung? dan (3) Faktor apa saja
yang memengaruhi pergulatan ideologi keberagamaan pada pelaksanaan ritual
Ngapatung? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelaksanaan
ritual Ngapatung, menganalisis bentuk pergulatan ideologi keberagamaan yang
terjadi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.
Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam
penelitian ini terdiri atas tokoh agama, pelaku ritual, dan masyarakat Desa Tumbang
Paku yang mengetahui dan terlibat dalam pelaksanaan ritual Ngapatung. Analisis
data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Ngapatung merupakan ritual tolak
bala dan penyembuhan tradisional yang dilaksanakan untuk membuang sial,
menetralisir pengaruh buruk, memulihkan hambaruan, serta melakukan
pembersihan jasmani dan rohani setelah pulang dari tempat pemakaman orang yang
meninggal. Pergulatan ideologi keberagamaan tampak pada sebagian masyarakat
yang telah mengalami perpindahan keyakinan tetapi masih mempertahankan dan
melaksanakan ritual Ngapatung yang berasal dari tradisi keagamaan sebelumnya.
Pergulatan tersebut tercermin dalam ketegangan antara ajaran keagamaan yang kini
dianut dengan praktik ritual yang tetap dijalankan sebagai bagian dari warisan
tradisi dan pengalaman keberagamaan sebelumnya.
Kata Kunci: Pergulatan Ideologi, Keberagamaan, Ritual Ngapatung, Hindu
Kaharingan, Masyarakat Dayak.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Lidya Sinta Bela, (2026) Komunikasi Mahasiswa Meningkatkan Kemampuan
Literasi Digital Menangkal Berita Hoaks Pada Media Sosial di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya.
Pembimbing I Dr. Tardi Edung, S.Ag.,M.Ag
Pembimbing II Evie, S.Pd., M.Pd
Secara umum penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana komunikasi mahasiswa berperan dalam meningkatkan kemampuan literasi digital guna menangkal penyebaran berita hoaks pada media sosial seperti tiktok di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. Adapun rumusan masalah dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana proses komunikasi mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan literasi digital untuk menangkal berita hoaks pada media sosial seperti tiktok khususnya di lingkungan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, 2) Apa saja strategi yang dilakukan mahasiswa dalam meningkatkan literasi digital untuk mencegah penyebaran hoaks di media sosial seperti tiktok khususnya di lingkungan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya dengan informan sebanyak 8 (delapan) mahasiswa dan 2 (dua) dosen yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan, sedangkan teknik analisis data meliputi pengumpulan data, verifikasi, reduksi data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan literasi digital untuk menangkal berita hoaks di TikTok berlangsung secara aktif, dinamis, dan timbal balik melalui verifikasi, evaluasi, penyaringan informasi, serta pemberian umpan balik. Strategi tersebut didukung oleh pembelajaran, diskusi, seminar, pelatihan literasi digital, dan dukungan dosen serta fakultas. Kemampuan literasi digital mahasiswa telah berkembang, tetapi belum sepenuhnya merata sehingga masih diperlukan penguatan secara berkelanjutan.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Tomi. 2026. Upaya Guru Kelas dalam Mengatasi Kesulitan Interaksi Sosial pada Siswa Kelas V di SDN 3 Palangka. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Dharma Acarya, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Skripsi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya (IAHN-TP) Dosen Pembimbing I: Dr. Derson, S.Ag.,M.Ag dan Dosen Pembimbing II: Hendri, S.Ag.,M.Si
Kesulitan interaksi sosial pada siswa kelas V dapat terlihat dari rendahnya kepercayaan diri dalam berkomunikasi, kepasifan dalam kegiatan kelompok, serta kesulitan dalam menjalin kerja sama dengan teman maupun guru. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran guru kelas dalam memberikan pendampingan dan menerapkan upaya yang tepat untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan interaksi sosial secara positif di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesulitan interaksi sosial yang dialami siswa kelas V, menganalisis faktor penyebab kesulitan interaksi sosial, serta mendeskripsikan upaya guru kelas dalam mengatasi kesulitan interaksi sosial pada siswa kelas V di SDN 3 Palangka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. sumber data di peroleh melalui informan dalam penelitian ini terdiri atas siswa kelas V, guru kelas V, guru PJOK, dan kepala sekolah sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui proses pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan interaksi sosial siswa terlihat dari kurangnya rasa percaya diri, siswa cenderung pendiam, kurang aktif dalam berkomunikasi, sulit bekerja sama, serta masih terdapat siswa yang memilih menyendiri dalam kegiatan tertentu. Faktor yang memengaruhi kesulitan interaksi sosial meliputi perbedaan karakter siswa, kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri, lingkungan pertemanan, kondisi keluarga, serta kondisi kelas dan keterbatasan waktu guru dalam memberikan perhatian secara individual. Upaya guru dalam mengatasi kesulitan tersebut dilakukan melalui komunikasi yang terbuka, pendekatan secara individual, pemberian motivasi dan apresiasi, kegiatan kerja kelompok, pemberian kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, serta penciptaan suasana pembelajaran yang nyaman dan kondusif. Upaya tersebut memberikan dampak positif terhadap keberanian siswa dalam berkomunikasi, bekerja sama, menyampaikan pendapat, dan membangun hubungan sosial dengan guru maupun teman sebaya. Dengan demikian, peran guru sangat penting dalam membantu siswa mengembangkan kemampuan interaksi sosial di lingkungan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Arin Fin. 2025, Peran Mantir Adat dalam Penanganan Pra Perkawinan Beda Agama Di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing, Kabupaten Katingan. Skripsi Srata Satu, Prodi Hukum Adat Fakultas Dharma Sastra Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Dr.Riwun.S.Ag.,M,Si, dan Pembimbing II Alfred Yetno,SH.,MH. Perkawinan beda agama merupakan salah satu fenomena sosial yang sering menimbulkan berbagai persoalan hukum, sosial, budaya, dan keagamaan dalam masyarakat. Di tengah masyarakat adat Dayak di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan, keberadaan Mantir Adat memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban sosial serta menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan adat istiadat, termasuk dalam penanganan pra perkawinan beda agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Mantir Adat dalam penanganan pra perkawinan beda agama serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan peran tersebut di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Sumber data diperoleh melalui wawancara dengan Mantir Adat, tokoh agama, pasangan yang melakukan pra perkawinan beda agama, dan masyarakat setempat. Data juga diperoleh melalui observasi lapangan dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan 1) Peran dan kewenangan Mantir Adat dalam menangani pra-perkawinan beda agama sangat penting sebagai mediator, fasilitator, penasihat, dan penegak hukum adat. Mantir Adat berwenang memberikan pertimbangan adat, memediasi kedua belah pihak dan keluarga, serta memastikan bahwa proses penyelesaian dilakukan sesuai dengan norma adat yang berlaku guna menjaga ketertiban dan keharmonisan masyarakat. 2) Mekanisme penyelesaian pra-perkawinan beda agama melalui lembaga adat dilakukan secara bertahap, dimulai dari pengaduan atau konsultasi keluarga kepada Mantir Adat, musyawarah antara para pihak, pemberian nasihat dan pertimbangan adat, pencapaian kesepakatan bersama, hingga penetapan keputusan adat yang diterima oleh kedua keluarga. Seluruh proses mengedepankan prinsip musyawarah, mufakat, dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat serta keyakinan masing-masing pihak. 3) Implikasi sosial, hukum, dan keagamaan dari penanganan pra-perkawinan beda agama oleh Mantir Adat menunjukkan dampak yang positif bagi masyarakat. secara sosial, proses tersebut mampu menjaga kerukunan, toleransi, dan hubungan kekeluargaan. Secara hukum, penyelesaian adat memberikan kepastian dan legitimasi sosial terhadap keputusan yang diambil masyarakat. Secara keagamaan, proses ini mendorong penghormatan terhadap keyakinan masing-masing pihak serta meminimalkan potensi konflik yang dapat muncul akibat perbedaan agama dalam perkawinan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Mantir Adat berperan penting dalam penanganan pra perkawinan beda agama melalui pendekatan musyawarah, mediasi, dan pembinaan adat guna menciptakan kesepahaman antara para pihak yang akan melangsungkan perkawinan. Peran tersebut tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme penyelesaian persoalan adat, tetapi juga sebagai sarana menjaga kerukunan, toleransi, dan keharmonisan sosial dalam masyarakat adat Dayak di Desa Tewang Rangkang Kecamatan Tewang Sangalang Garing Kabupaten Katingan. Kata Kunci: Mantir Adat, Pra Perkawinan, Perkawinan Beda Agama.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Komunikasi pemasaran merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan agar memberikan informasi, membujuk, tentang produk yang ditawarkan dari sebuah perusahaan, untuk membangun citra merek positif. Dalam konteks Coffee Shop komunikasi pemasaran dapat dijadikan sebagai strategi dalam membangun keterlibatan konsumen. terdapat dua rumusan masalah (1) bagimana strategi komunikasi pemasaran online dan offline yang digunakan Coffee Shop Titik Balik Kopi untuk membangun engagement, (2) bagimana kendala yang dihadapii Coffee Shop Titik Balik Kopi dalam meningkatkan engagement.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran yang digunakan Coffee Shop Titik Balik Kopi dalam membangun keterlibatan konsumen. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, observasi dan kepustakaan. Menggunakan teori bauran pemasaran 7P dan engagement theory. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Coffee Shop Titik Balik Kopi menerapkan prinsip bauran pemasaran 7P sebagai strategi pemasaran dalam membangun keterlibatan. Selanjutnya pada pelakasanaannya terdapat kendala engagement theory pada elemen konten dan algoritma platfrom, Titik Balik Kopi masih terkendala pada keterbatasan menentukan ide konten, menjaga konsistensi publikasi, persaingan konten dimedia sosial serta masih kesulitan memahami karakteristik dan preferensi audiens.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Lidya Sinta Bela, (2026) Komunikasi Mahasiswa Meningkatkan Kemampuan
Literasi Digital Menangkal Berita Hoaks Pada Media Sosial di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya.
Pembimbing I Dr. Tardi Edung, S.Ag.,M.Ag
Pembimbing II Evie, S.Pd., M.Pd
Secara umum penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana komunikasi mahasiswa berperan dalam meningkatkan kemampuan literasi digital guna menangkal penyebaran berita hoaks pada media sosial seperti tiktok di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. Adapun rumusan masalah dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana proses komunikasi mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan literasi digital untuk menangkal berita hoaks pada media sosial seperti tiktok khususnya di lingkungan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, 2) Apa saja strategi yang dilakukan mahasiswa dalam meningkatkan literasi digital untuk mencegah penyebaran hoaks di media sosial seperti tiktok khususnya di lingkungan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya dengan informan sebanyak 8 (delapan) mahasiswa dan 2 (dua) dosen yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan, sedangkan teknik analisis data meliputi pengumpulan data, verifikasi, reduksi data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan literasi digital untuk menangkal berita hoaks di TikTok berlangsung secara aktif, dinamis, dan timbal balik melalui verifikasi, evaluasi, penyaringan informasi, serta pemberian umpan balik. Strategi tersebut didukung oleh pembelajaran, diskusi, seminar, pelatihan literasi digital, dan dukungan dosen serta fakultas. Kemampuan literasi digital mahasiswa telah berkembang, tetapi belum sepenuhnya merata sehingga masih diperlukan penguatan secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Komunikasi pemasaran merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan agar memberikan informasi, membujuk, tentang produk yang ditawarkan dari sebuah perusahaan, untuk membangun citra merek positif. Dalam konteks Coffee Shop komunikasi pemasaran dapat dijadikan sebagai strategi dalam membangun keterlibatan konsumen. terdapat dua rumusan masalah (1) bagimana strategi komunikasi pemasaran online dan offline yang digunakan Coffee Shop Titik Balik Kopi untuk membangun engagement, (2) bagimana kendala yang dihadapii Coffee Shop Titik Balik Kopi dalam meningkatkan engagement. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran yang digunakan Coffee Shop Titik Balik Kopi dalam membangun keterlibatan konsumen. penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, observasi dan kepustakaan. Menggunakan teori bauran pemasaran 7P dan engagement theory. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Coffee Shop Titik Balik Kopi menerapkan prinsip bauran pemasaran 7P sebagai strategi pemasaran dalam membangun keterlibatan. Selanjutnya pada pelakasanaannya terdapat kendala engagement theory pada elemen konten dan algoritma platfrom, Titik Balik Kopi masih terkendala pada keterbatasan menentukan ide konten, menjaga konsistensi publikasi, persaingan konten dimedia sosial serta masih kesulitan memahami karakteristik dan preferensi audiens.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Anisya 2026. Peran Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Pada Siswa Di SDN Tajah Antang Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas.Skripsi Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I: Mitro, S.Pd., M.Si Pembimbing II: Nyoman Sumarni, S.Ag., M.Si Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya perilaku siswa yang menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai karakter belum sepenuhnya optimal, seperti kurangnya kedisiplinan, tanggung jawab, sikap saling menghargai, dan sopan santun. Guru Pendidikan Agama Hindu memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Agama Hindu dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada siswa, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta menganalisis upaya guru dalam mengatasi kendala penanaman nilai-nilai karakter pada siswa di SDN Tajah Antang Raya Kecamatan Rungan Barat Kabupaten Gunung Mas. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri atas guru Pendidikan Agama Hindu, kepala sekolah, dan siswa. Analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Peran guru Pendidikan Agama Hindu dalam menanamkan nilai-nilai karakter dilakukan melalui peran sebagai pendidik, pembimbing, pengajar, teladan, dan motivator. Nilai-nilai karakter yang ditanamkan meliputi religius, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian, dan saling menghormati. Penanaman nilai dilakukan melalui pemberian arahan dan nasihat, keteladanan, pembiasaan, teguran, motivasi, serta pemberian apresiasi terhadap perilaku positif siswa. Dalam perspektif behavioristik, tindakan guru tersebut dapat dipahami sebagai stimulus yang diarahkan untuk membentuk respons perilaku positif siswa melalui penguatan dan pembiasaan yang dilakukan secara berulang; (2) Kendala dalam penanaman nilai-nilai karakter meliputi keterbatasan waktu pembelajaran, belum konsistennya perilaku siswa, pengaruh lingkungan keluarga dan pergaulan, perkembangan teknologi, serta keterbatasan sarana dan dukungan dalam pelaksanaan penanaman karakter; (3) Upaya yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala tersebut meliputi pemberian arahan dan nasihat, pembiasaan perilaku positif, pemberian keteladanan, motivasi, teguran, serta pengawasan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di sekolah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya keterbatasan tenaga pengajar pada Pasraman Penyang Hatampung di Desa Tampang Tumbang Anjir, Kabupaten Gunung Mas. Keterbatasan tenaga pengajar dapat memengaruhi pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan keberlangsungan pendidikan keagamaan Hindu di pasraman. Dalam kondisi tersebut, Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan memiliki peran penting dalam melakukan berbagai upaya untuk menghadapi keterbatasan tenaga pengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor penyebab keterbatasan tenaga pengajar serta mendeskripsikan upaya Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam mengatasi keterbatasan tenaga pengajar pada Pasraman Penyang Hatampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan tenaga pengajar pada Pasraman Penyang Hatampung berkaitan dengan keterbatasan jumlah tenaga pengajar, keterbatasan waktu karena tenaga pengajar memiliki aktivitas lain, terbatasnya calon pengajar, serta belum optimalnya pembinaan dan keberlanjutan tenaga pengajar. Kondisi tersebut berdampak pada pengelolaan kegiatan pembelajaran dan kebutuhan pembagian tugas tenaga pengajar. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan melakukan beberapa upaya, yaitu koordinasi dengan pengurus dan tenaga pengajar pasraman, pemberdayaan masyarakat dan tokoh agama, serta kaderisasi dan pembinaan calon pengajar. Pelaksanaan upaya tersebut didukung oleh semangat tenaga pengajar, dukungan pengurus pasraman, partisipasi masyarakat dan tokoh agama, antusiasme peserta didik, serta kerja sama antarunsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pasraman. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan waktu tenaga pengajar, terbatasnya calon pengajar, kesibukan masyarakat, dan belum optimalnya pembinaan secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa upaya Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam mengatasi keterbatasan tenaga pengajar dilakukan melalui pengelolaan dan optimalisasi sumber daya yang tersedia serta penguatan kerja sama dengan berbagai pihak. Kaderisasi dan pembinaan calon pengajar menjadi bagian penting untuk menjamin keberlanjutan tenaga pengajar pada masa mendatang. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penyelesaian keterbatasan tenaga pengajar membutuhkan upaya yang berkelanjutan melalui koordinasi, pemberdayaan sumber daya manusia, dan pembinaan calon pengajar. Kata kunci: Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan, keterbatasan tenaga pengajar, pasraman, upaya, pendidikan keagamaan Hindu.