BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Hindu melalui penerapan strategi pembelajaran yang tepat di SMP Negeri 6 Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa sebagian besar siswa masih menunjukkan rasa kurang percaya diri, seperti enggan bertanya, ragu menjawab pertanyaan, pasif dalam diskusi, serta takut tampil di depan kelas. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi dan ketercapaian tujuan pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas SMP Negeri 6 Dusun Selatan tahun ajaran 2025/2026 berjumlah 31 orang. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, angket, wawancara, tes, dan dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.
Strategi pembelajaran yang diterapkan meliputi pemberian motivasi, penguatan positif, penggunaan metode diskusi kelompok, tanya jawab, presentasi bertahap, serta pemberian kesempatan siswa untuk tampil di depan kelas. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada rasa percaya diri siswa. Pada pra-tindakan, sebagian besar siswa berada pada kategori rendah. Setelah penerapan strategi pada siklus I, rasa percaya diri siswa mulai meningkat meskipun belum optimal. Pada siklus II, peningkatan terlihat lebih jelas, ditandai dengan keberanian siswa bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, serta tampil memimpin kegiatan pembelajaran. Persentase siswa dengan kategori percaya diri tinggi mencapai lebih dari 80%.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran aktif, partisipatif, dan humanistik mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu. Penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih inovatif, kondusif, dan berpusat pada peserta didik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Aldi Wira Prayoga. 2025, Penyelesaian Kasus Penembakan Warga Dalam Konflik Perkebunan Sawit Melalui Sidang Adat Dayak ( Studi Kasus Di Desa Bangkal Kabupaten Seruyan Provinsi Kalimantan Tengah). Skripsi Strata Satu, Prodi Hukum Adat Fakultas Dharma Sastra Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Sri Kayun.SH.,M,Si, dan Pembimbing II Edelweisia Cristiana.SH.,MH. Pada dasarnya penyelesaian kasus penembakan warga dalam konflik perkebunan sawit melalui mekanisme Sidang Adat Dayak adalah upaya untuk menciptakan rasa keadilan bagi pelaku dan korban. Masalah yang di teliti dalam skripsi ini adalah mencakup dua hal yaitu : (1). Bagaimana mekanisme kasus penembakan warga dalam konflik perkebunan sawit? (2). Bagaimana kedudukan hukum keputusan sidang adat dayak dalam sistem hukum nasional? Adapun jenis penelitian ini adalah termasuk penelitian hukum empiris dengan pendekatan deskrtif kualitatif dengan mengambil lokasi penelitian di desa bangkal kecamatan Seruyan raya kabupaten Seruyan. teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah de living law dan teori plualisme hukum Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, studi perpustakaan, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian dan analisis data dapat di simpulkan bahwa : 1 mekanisme penyelesaian kasus penembakan warga melalui sidang adat Dayak di lakukan melalui melalui tahapan pelaporan, pemanggilan para pihak, musyawarah adat, pemeriksaan saksi, penetapan sanksi adat, serta pelaksanaan putusan adat yang menitikberatkan pada pemulihan korban dan perdamaian Adat. Sanksi adat yang dijatuhkan umumnya berupa denda pembayaran uang adat, kewajiban ritual adat, saksi palas tampung tawar serta pernyataan maaf secara terbuka. 2 kedudukan hukum keputusan sidang adat Dayak dalam sistem hukum nasional di akui secara kontisuonal kedudukan hukum keputusan Sidang Adat Dayak dalam sistem hukum nasional diakui secara konstitusional sepanjang tidak bertentangan dengan hukum nasional, sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta diperkuat melalui peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah. Keputusan adat memiliki kekuatan hukum sosial dan administratif yang mengikat secara moral dan komunitas, serta berfungsi sebagai mekanisme penyelesaian konflik berbasis kearifan lokal. Dengan demikian penyelesaian sidang adat Dayak dan sistem hukum nasional berjalan secara beriringan dan saling melengkapi dalam rangka prualisme hukum di indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK CUT JORDI SETIAWAN, 2025. Proses Penyelesaian Kasus Perkelahian Melalui Hukum Adat Dayak Ngaju ( Studi Kasus di Desa Rantau Asem Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan). Skripsi, Prodi Hukum Adat, Fakultas Dharma Sastra Institut Agama Hindu Negeri (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I Stepenson, S.Ag.,M.H Pembimbing II I Kadek Kartika Yase, M.H Masyarakat suku Dayak di Desa Rantau Asem Kecamatan Katingan Tengah umumnya masih menggunakan hukum adat sebagai sarana untuk menyelesaikan berbagai persoalan adat yang muncul di lingkungan mereka. Salah satu kasus yang melanggar norma adat adalah kasus perkelahian. Kasus perkelahian merupakan suatu bentuk konflik yang dapat terjadi antara individu atau kelompok dalam masyarakat. Di Desa Rantau Asem Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan telah terjadi konflik antar individu yang disebabkan oleh pengaruh minuman keras. Dalam hal ini, kasus perkelahian yang pernah terjadi di Desa Rantau Asem diselesaikan melalui hukum adat Dayak Ngaju. Permasalahan yang diteliti dalam penulisan ini adalah (1) Bagaimana proses penerapan sanksi adat terhadap kasus perkelahian di Desa Rantau Asem? (2) Apa dampak dari penerapan sanksi adat terhadap pelaku dan korban? (3) Bagaimana efektivitas penerapan sanksi adat terhadap kasus perkelahian? Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan aspek hukum empiris guna untuk memahami hukum yang hidup dalam masyarakat. Adapun metode atau teknik dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Teori yang digunakan sebagai dasar analisis dalam penelitian ini menggunakan teori penyelesaian sengketa, teori restorative justice dan teori efektivitas hukum. Teknik penentuan informan pada penelitian ini yaitu menggunakan teknik Purposive Sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data induktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah proses penerapan sanksi adat dan dampak dari penyelesaian kasus perkelahian melalui hukum adat Dayak Ngaju di Desa Rantau Asem Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan. Dalam penjatuhan sanksi dan penyelesaian sengketa tersebut di selesaikan secara hukum adat dengan proses musyawarah mufakat. Kemudian pihak yang dinyatakan bersalah dibebankan biaya pengobatan terhadap korban dan di beri sanksi adat yaitu membayar denda adat berupa uang, sesuai keputusan dari hasil musyawarah oleh kedua belah pihak. Kata Kunci: Perkelahian, Hukum Adat, Dayak Ngaju
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Hindu melalui penerapan strategi pembelajaran yang tepat di SMP Negeri 6 Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa sebagian besar siswa masih menunjukkan rasa kurang percaya diri, seperti enggan bertanya, ragu menjawab pertanyaan, pasif dalam diskusi, serta takut tampil di depan kelas. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi dan ketercapaian tujuan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas SMP Negeri 6 Dusun Selatan tahun ajaran 2025/2026 berjumlah 31 orang. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, angket, wawancara, tes, dan dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Strategi pembelajaran yang diterapkan meliputi pemberian motivasi, penguatan positif, penggunaan metode diskusi kelompok, tanya jawab, presentasi bertahap, serta pemberian kesempatan siswa untuk tampil di depan kelas. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada rasa percaya diri siswa. Pada pra-tindakan, sebagian besar siswa berada pada kategori rendah. Setelah penerapan strategi pada siklus I, rasa percaya diri siswa mulai meningkat meskipun belum optimal. Pada siklus II, peningkatan terlihat lebih jelas, ditandai dengan keberanian siswa bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, serta tampil memimpin kegiatan pembelajaran. Persentase siswa dengan kategori percaya diri tinggi mencapai lebih dari 80%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran aktif, partisipatif, dan humanistik mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu. Penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih inovatif, kondusif, dan berpusat pada peserta didik.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tentang Penerapan kurikulum merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya. Proses implementasi Kurikulum Merdeka dalam pendidikan agama Hindu membawa perubahan pada metode, strategi serta penggunaan media pembelajaran. Guru di tuntut lebih kreatif dalam menyusun kegiatan belajar yang kontekstual, sedangkan siswa diajak untuk lebih aktif, kritis, dan reflektif dalam memahamahi materi agama. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:1) Bagaimana penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya? 2) Apa kendala dalam penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya? 3) Bagaimana startegi menghadapi kendala Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya? Dianalisis menggunakan teori Behaviorisme dan Kongnitivisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. teknik analisis data yang digunakan ialah kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis yaitu: pertama, penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu:1) perencanaan pembelajaran, 2) metode dan model pembelajaran, 3) pelaksanaan projek penguatan P5, 4) penggunaan media dan teknologi, 5) penilaian dan refleksi pembelajaran; Kedua, kendala dalam penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu meliputi: 1) kompetensi guru yang belum merata, 2) keterbatasan waktu pembelajaran, 3) kendala sosial dan lingkungan sekolah; Ketiga, startegi menghadapi kendala Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu yaitu: 1) strategi pedadogis, 2) strategi struktural dan kelembagaan, 3) strategi kultur dan sosial.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kondisi siswa yang ideal pada Kurikulum Merdeka Belajar adalah siswa yang aktif dalam pembelajaran, dimana pembelajaran terpusat pada siswa dan tidak lagi pada guru. Namun hasil observasi menunjukan siswa belum sepenuhnya dapat mengikuti perubahan kurikulum Merdeka Belajar, hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap bosan dan sikap pasif dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada kemampuan mereka untuk memahami materi secara menyeluruh. Solusinya adalah pendekatan pembelajaran yang inovatif dan interaktif melalui media pembelajaran Canva. Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana penggunaan media Canva dapat meningkatkan motivasi, kreativitas, dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Agama Hindu di SMPN 8 Palangka Raya. Teori hierarki kebutuhan Maslow dan teori konstruktivisme yang menjadi landasan penelitian ini. Metode yang digunakan adalah pre-experimental group dengan model one-group pre-test and post-test design yang digunakan untuk mengukur motivasi, kreativitas dan hasil belajar siswa kelas VIII di SMPN 8 Palangka Raya. Instrumen tes berbentuk kuesioner yang diukur menggunakan skala Likert untuk mengukur motivasi dan kreativitas siswa sedangkan tes dalam bentuk soal untuk mengukur hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini sebagai berikut : 1) Motivasi belajar siswa Hindu kelas VIII di SMPN 8 Palangka Raya bernilai 73,7 % yang termasuk dalam kategori motivasi tingkat tinggi. 2) Tingkat kreativitas siswa mencapai 76%, yang masuk dalam kategori tingkat kreativitas yang tinggi. 3) N-Gain Score siswa rata-rata nilai yang diraih yaitu 0,65 dimana termasuk dalam N-Gain kategori sedang, dengan 5 orang siswa yang termasuk dalam kategori N-Gain tinggi (55.5%), sedangkan 4 orang dalam N-Gain kategori sedang (44.4%). Kesimpulan terdapat pengaruh penggunaan media pembelajaran Canva terhadap kreativitas, motivasi, dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMPN 8 Palangka Raya.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Kepemimpinan keagamaan tradisional dalam masyarakat adat memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan nilai spiritual, budaya, dan sosial. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran Pisor dalam upacara Nahunan masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji fungsi, nilai-nilai, dan implikasi kepemimpinan Pisor dalam perspektif Manajemen Pendidikan Agama Hindu, serta memahami bagaimana praktik kepemimpinan ini mendukung pelestarian budaya dan pendidikan keagamaan lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, dengan melibatkan para Pisor, tokoh masyarakat, masyarakat Hindu Kaharingan dan generasi muda sebagai informan kunci. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, serta ditinjau melalui perspektif manajemen pendidikan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Pisor menjalankan fungsi manajerial yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan pembinaan spiritualitas secara partisipatif. Nilai-nilai kepemimpinan yang dikembangkan meliputi kepemimpinan spiritual transendental, keteladanan etis, transmisi nilai-nilai budaya, kesadaran ekologis, serta penguatan identitas komunitas. Implikasi dari kepemimpinan ini tidak hanya memperkuat regenerasi nilai-nilai keagamaan, tetapi juga membentuk model pendidikan agama Hindu yang kontekstual, adaptif, dan transformatif berbasis nilai lokal Kaharingan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini mengkaji tentang Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama dengan perspektif pendidikan agama Hindu. Pendidikan non formal yang diberikan oleh Balian dirancang untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, bahwa calon Balian dapat menerima dan memahami Balian di lihat dari permasalahan proses, eksistensi dan implikasi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama. Penelitian ini menunjukkan tanggung jawab terhadap calon Balian, sehingga pengetahuan dan keterampilan Balian diberikan kepada generasi muda. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:1) Bagaimanakah proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 2) Bagaimanakah eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 3) Bagaimanakah implikasi Balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? di analisis menggunakan teori fenomenalogi, eksistensialisme, dan behaviorisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan analisis didapatkan hasil yaitu: pertama, proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama:1) Mencari Guru, 2) Barahayak, 3) Batumbang; Kedua, eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama meliputi: 1) Perkembangan Balian Dayak Dusun, 2) Keberadaan Balian Dayak Dusun, 3) Peran sosial, 4) Pengaruh dan hubungan Balian, 5) Transformasi dan adaptasi Balian dayak dusun di era modern, Ketiga, Implikasi balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama yaitu: 1) Implikasi Spiritual, 2) Implikasi Kesehatan, 3) Implikasi budaya, 4) Implikasi sosial, 5) Implikasi Pendidikan, 6) Implikasi ekonomi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan Implementasi Kurikulum Merdeka Terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMPN 8 Palangka Raya. Dimana kebijakan pendidikan Nasional memberikan keleluasaan bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, penguatan karakter, serta fleksibilitas dalam pengelolaan pembelajaran. Pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, implementasi Kurikulum Merdeka bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, dan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai luhur agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Kualitatif Deskriptif. Dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data penelitian ini berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti, mengenai implementasi Kurikulum Merdeka terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMPN 8 Palangka Raya. terdapat tiga langkah dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut: (1) Tahap persiapan dan perencanaan pembelajaran, yang mencakup: (a) Mengikuti pelatihan untuk menerapkan Kurikulum Merdeka, (b) Merencanakan dan melaksanakan asesmen diagnostik, (c) Menyusun dan membuat materi ajar, (d) Menentukan topik pembelajaran, (e) Memilih metode dan strategi dalam pembelajaran, (f) Mengidentifikasi sumber, alat, dan media yang digunakan untuk pembelajaran, (2) Tahap pelaksanaan pembelajaran, dimana penerapan Kurikulum Merdeka dalam Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti telah dilaksanakan dengan baik oleh guru sesuai dengan karakteristik dari Kurikulum Merdeka, mulai dari pembukaan, inti, hingga penutupan, (3) Tahap evaluasi pembelajaran, yaitu guru melakukan dua jenis asesmen, yaitu asesmen formatif dan asesmen sumatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, di SMP Negeri 8 Palangka Raya berjalan cukup lancar dan baik. Guru berhasil merancang atau membuat materi ajar yang kontekstual, dan mendorong siswa untuk lebih aktif, serta mengintergrasikan nilai-nilai agama Hindu dan karakter mulia dalam proses belajar. Namun, masih ada beberapa hambatan atau kendala seperti keterbatasan sumber bahan ajar, adaptasi guru terhadap perangkat ajar baru, serta perbedaan kemampuan siswa dalam menerima pembelajaran berbasis. Meski begitu, ada beberapa upaya perbaikan yang dilakukan seperti pelatihan guru, kerja sama guru dengan teman sejawat, dan pihak sekolah, serta pemanfaatan penggunaan media digital. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka memberikan dampak positif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, terutama dalam membentuk karakter siswa, kemandiri siswa, dan moral siswa khususnya yang beragama Hindu. Serta diharapkan juga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan bahan ajar yang inovatif dan kreatif, harapannya juga mendapatkan dukungan yang terus menerus dari sekolah dan pemerintah agar Kurikulum Merdeka dapat berjalan optimal. Kata kunci: Implementasi, Kurikulum Merdeka, Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Wendy, 2025. Habukung Dalam Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan Di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Perspektif Pendidikan Agama Hindu. Tesis Strata Dua (S-2) Prodi Magister Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Dr. I Nyoman Sidi Astawa S.Ag., M.A, Pembimbing II : Dr. I Wayan Suasta, S.Ag., M.Pd.H. Penelitian ini mengkaji tentang Habukung dalam Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Parit, Kecamatan Cempaga Hulu dengan fokus Perspektif Pendidikan Agama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, nilai-nilai pendidikan agama Hindu, dan implikasi keberadaan Habukung sebagai media pembelajaran nonformal dalam upacara kematian umat Hindu Kaharingan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari tokoh masyarakat, basir (rohaniawan), seniman Habukung, serta guru agama Hindu. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Habukung merupakan bentuk ekspresi religius dan budaya yang memiliki makna teologis, simbolis, serta nilai edukatif. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dalam upacara kematian, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial. Habukung memuat nilai-nilai pendidikan agama Hindu seperti Ketuhanan, moral, kerohanian, susila dan tatwa yang diajarkan melalui simbolisme dan praktik langsung di masyarakat. Dalam konteks pendidikan, Habukung menjadi media pendidikan karakter yang efektif dan sebagai ruang pembelajaran lintas generasi. Secara teoritis, hasil penelitian ini memperkuat pendekatan konstruktivisme Vygotsky, interaksionisme simbolik, dan pendidikan holistik Bhattacharya. Habukung terbukti berperan sebagai sarana pendidikan nonformal berbasis budaya lokal yang dapat mendukung penguatan identitas keagamaan dan kebudayaan umat Hindu Kaharingan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penerapan pendekatan Restorative Justice (RJ) di Kepolisian Sektor Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjadi salah satu alternatif penyelesaian tindak pidana. Pendekatan ini merujuk pada Surat Edaran Kapolri Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif. RJ menitik beratkan pada penyelesaian perkara secara damai melalui mediasi dengan melibatkan pelaku, korban, Kepolisian dan masyarakat, serta bertujuan memulihkan hubungan sosial yang terganggu akibat tindak pidana. Selain itu, pendekatan ini mengakomodasi nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan pendekatan RJ, mengidentifikasi hambatan internal dan eksternal, serta menggambarkan strategi atau solusi yang diterapkan oleh Polsek Cempaka untuk mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan kualitatif. Informan ditentukan secara purposive, yang terdiri dari penyidik kepolisian, tokoh masyarakat dan alim ulama serta akademisi. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, klasifikasi, penyajian data (display), interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses RJ di Polsek Cempaka meliputi identifikasi kasus, mediasi, kesepakatan damai, dan pemantauan kesepakatan. Hambatan internal yang dihadapi meliputi kurangnya SDM terlatih, lemahnya pemahaman, SOP yang belum maksimal, dan minimnya koordinasi. Hambatan eksternal berupa resistensi masyarakat, rendahnya kepercayaan terhadap mekanisme RJ, serta belum optimalnya dukungan Lembaga Peradilan. Untuk mengatasi hal tersebut, Polsek Cempaka melakukan pelatihan internal, penyusunan SOP, sosialisasi ke masyarakat, pelibatan mediator independen, serta pembentukan tim khusus RJ. RJ terbukti mampu mendukung penyelesaian perkara yang cepat, efisien, dan berakar pada nilai-nilai sosial budaya masyarakat.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Peredaran satwa banyak terjadi di Provinsi Bali menjadi akses keluar masuknya peredaran satwa di Provinsi Bali dan pada akhir-akhir masyarakat memperoleh satwa- satwa yang dilindungi melalui cara ilegal, yakni jual beli pasar gelap. Permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah efektivitas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam penegakan hukum perlindungan satwa Penyu di Provinsi Bali? (2) Bagaimanakah hambatan-hambatan penegakan hukum perlindungan satwa Penyu di Provinsi Bali? (3) Bagaimanakah upaya penegakan hukum perlindungan satwa penyu di Provinsi Bali?. Metode yang digunakan dalam rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian yaitu (1) Efektivitas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam Penegakan Hukum Perlindungan Satwa Penyu di Provinsi Bali dari segi faktor hukum sendiri dan faktor penegak hukum sudah efektif, faktor sarana dan fasilitas, masyarakat dan kebudayaan masih belum efektif. (2) Hambatan dalam penegakan perlindungan satwa Penyu di Provinsi Bali, hambatan struktur masih belum efektif sebab masih kurangnya sumber daya manusia, hambatan faktor subtansi hukum masih lemahnya hukuman penjara dan denda yang ditetapkan, hambatan budaya hukum penggunaan penyu sebagai sarana upacara keagamaan, dan kurang sadarnya masyarakat sebagian masih mengkonsumsi daging Penyu, peraturan hukum bahwa peraturan hukum dan hukum agama saling bebenturan dan hambatan budaya hukum para hakim, putusan para hakim sering kali belum memuaskan masyarakat sebab hukuman yang diberikan tergolong sangat rendah. (3) Upaya yang dilakukan dalam penegakan perlindungan satwa Penyu yaitu upaya preventif himbauan dan poster disosial media. Upaya persuasif edukasi kepada masyarakat dan anak-anak usia dini dan sekolah. Upaya reprensif tindakan pidana yang diberikan kepada pelanggar hukum. Upaya kooperatif kerja sama antara lembaga. Upaya rehabilitatif Penyu yang disita dicek kondisi kesehatanya dan dilepaskan kembali ke alam.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Silis Sech, 2025 : Potensi Ekowisata Danau Malawen Sebagai Daya Tarik Wisata Di Kabupaten Barito Selatan Obyek Wisata Danau Malawen, sebuah permata alam yang ada di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menyimpan potensi yang luar biasa untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Atas dasar anggapan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian pada dua aspek permasalahan, yaitu 1) Bagaimana Potensi Ekowisata Danau Malawen sebagai daya tarik Wisata di Kabupaten Barito Selatan?., 2) Apa saja kendala dan solusi yang upayakan pada Potensi Ekowisata Danau Malawen sebagai daya tarik Wisata di Kabupaten Barito Selatan? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sedangkan landasan analisis, digunakan Teori Kendala, dan Teori Strategi. Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Berdasarkan telaah dan metode analisis tersebut dapat diasumsikan sebagai berikut. Pertama, Potensi wisata agar dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat terbaik bagi Masyarakat tidak terlepas dari peran pemerintah daerah. Pemerintah berusaha mewujudkan tata kelola wisata yang bertanggung jawab, ramah lingkungan, dan berbasis kearifan lokal melalui berbagai kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Sangat diperlukan adanya dukungan dan kerjasama dari pihak pengelola dalam mengembangkan kawasan wisata agar lebih baik lagi dan dapat dikenal luas lagi keberadaanya, perlunya anggaran yang mencukupi untuk pembangunan fasilitas yang memadai, seperti sarana dan prasarana yang ada, guna memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan yang berkunjung dilokasi tersebut. Kedua, Kendala yang dialami dalam pengelolaan Ekowisata Danau Malawen sebagai daya tarik Wisata di Kabupaten Barito Selatan yaitu; (1) terbatasnya anggaran, masukan ide dari pihak pengelola terkait metode pengembangan, minimnya kualitas sumber daya manusia dari pihak pengelola, dan terhambatnya tahapan pengelolaan karena kondisi iklim; (2) kurangnya perhatian dan kepedulian pihak pengelola dalam menjalin kerja sama terhadap pemerintah, dan kurangnya promosi pariwisata.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Indonesia memiliki ciri khas mempunyai sikap toleransi yang tinggi. Salah satu suku yang memiliki sikap toleransi tinggi adalah Suku Dayak Ngaju. Baiknya pendidikan moderasi beragama yang diterapkan dalam kehidupan keluarga Dayak Ngaju, membuat minimnya konflik agama terjadi dalam keluarga. Keluarga Dayak Ngaju dari jaman nenek moyang terbiasa hidup bersama dengan banyak anggota keluarga dalam Huma Betang, yang membuat mereka terbiasa untuk menerima dan memahami perbedaan, seperti perbedaan agama,. Sehingga terciptanya kehidupan keagamaan yang rukun, harmonis, damai, serta menekankan pada keseimbangan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Penelitian dengan judul “Pendidikan Moderasi Beragama Dalam Keluarga Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya” memiliki rumusan masalah (1) Bagaimana penerapan pendidikan moderasi beragama dalam keluarga Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya? (2) Bagaimana peranan pendidikan moderasi beragama dalam keluarga Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya? (3) Bagaimana implikasi pendidikan moderasi beragama dalam keluarga Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan penelitian menggunakan aliran fenomenologi. Alasan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif adalah untuk memberikan gambaran pendidikan moderasi dalam keluarga Dayak Ngaju di Kota Palangka Raya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data akan dianalisa dengan metode deskriptif kualitatif. Teori dalam penelitian ini adalah teori sosialisasi primer, teori fungsionalisme struktural, dan teori Pendidikan multikultural. Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa Pendidikan moderasi beragama yang diterapkan oleh keluarga Dayak Ngaju mengajarkan konteks ajaran agama yang moderat, menghindari sikap ekstremisme, intoleran, dan menumbuhkan empati, kegiatan diskusi informal dan dialog terbuka, menjalankan konsep keseimbangan, menanamkan nilai komitmen kebangsaan, menumbuhkan rasa toleransi, persaudaraan, kedamaian, menghargai keberagaman dan perbedaan, kesatuan keluarga, kerukunan keluarga, kedamaian keluarga, kesejahteraan keluarga, dan kebahagiaan keluarga.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi interpersonal antara anak dan orang tua dalam keluarga broken home serta dampak dari komunikasi tersebut terhadap kondisi psikologis dan sosial anak. Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya angka perceraian di Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan Tengah, yang berdampak pada kehidupan anak-anak dalam keluarga tidak utuh. Penelitian dilakukan di Kelurahan Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam terhadap lima anak dan lima pasangan orang tua broken home, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi yang terjadi umumnya bersifat satu arah, minim interaksi emosional, dan dipenuhi hambatan seperti kesibukan orang tua tunggal, keterbatasan waktu, hingga keterputusan komunikasi total. Anak-anak cenderung mengalami perasaan kesepian, kehilangan kepercayaan diri, stres, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Perspektif orang tua mengungkapkan bahwa meskipun terdapat keinginan untuk menjalin hubungan yang baik dengan anak, keterbatasan emosional dan beban pasca perceraian menjadi tantangan utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi interpersonal yang sehat dalam keluarga broken home sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan emosional anak. Disarankan agar orang tua membangun komunikasi dua arah yang terbuka, empatik, dan penuh perhatian demi kesejahteraan anak.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Agustin : Nganjan Sapundu Dalam Ritual Nyorat Umat Hindu Kaharingan di Desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan (Perspektif Filsafat Hindu). Pembimbing I, Prof Tiwi Etika, S.Ag.,M.Ag.,Ph.D, Pembimbing II, I Gede Arya Juni Arta, S.Fil.H.,M.Ag Nganjan sapundu memiliki makna simbolik yang magis sekaligus spiritualis baik melalui gerak maupun suara yang ditampilkan dalam rangka pelaksanaan upacara nyorat yang dilakukan di Desa Batu Tukan kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah, Pertama bagaimana bentuk dan proses pelaksanaan nganjan sapundu dalam upacara nyorat di Desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan, kedua apa makna simbolik gerak dan suara dalam pelaksanaan nganjan sapundu dalam upacara nyorat di Desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan, ketiga bagaimanakah filosofi nganjan sapundu dalam upacara nyorat di Desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk pengumpulkan data adalah: metode observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini yaitu pisor, ketua MKAHK desa Batu Tukan dan masyarakat Hindu Kaharingan Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa: pertama, nganjan merupakan sebuah tarian sakral dalam upacara nyorat yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada roh leluhur yang telah meninggal dunia dan akan dihantarkan ke lewu tatau (alam baka). Kedua makna simbolik dalam pelaksanaan nganjan pada upacara nyorat umat Hindu Kaharingan mencerminkan bahwa nganjan bukan sekadar bentuk penghormatan kepada roh leluhur, tetapi juga sebagai media komunikasi spiritual antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan. Ketiga mengungkapkan Filsafat pantangan (Pali) dalam pelaksanaan nganjan pada upacara nyorat dalam tradisi Hindu Kaharingan memiliki peranan penting sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, roh, serta nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun. Selanjutnya filsafat perlengkapan yang dikenakan dalam pelaksanaan nganjan memiliki nilai estetika yang tidak hanya menekankan pada aspek keindahan, tetapi juga makna simbolik yang mendalam. Kata Kunci: Nganjan sapundu, Upacara nyorat, Hindu Kaharingan, Filosofi Hindu
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Konsep Eksistensi Umat Hindu Kaharingan Dalam Melaksanakan Acara Basarah di Wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan Prespektif Pendidikan Agama Hindu menunjukan bahwa adanya kecenderungan belum mampu untuk mengelola beberapa rangkaian proses secara menyeluruh, efektif dan oftimal. Atas anggapan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian pada tiga asfek permasalahan yaitu yang pertama (1) bagaimanakah Eksistensi Umat Hindu Kaharingan dalam melaksanakan Acara Basarah Perspektif Pendidikan Agama Hindu, (2) bagaimana peran pendidikan formal, nonformal dan informal Umat Hindu di wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan, (3) apakah solusi yang di lakukan lembaga Agama agar Umat Hindu tetap eksis terhadap ajaran Agama di wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan? Teori yang di gunakan untuk mengkaji dan mendeskripsikan rumusan masalah penelitian tersebut ialah teori belajar humanistik, teori belajar sibernetik dan teori konstrukvisme. Adapun metode penelitian yang di gunakan ialah metode penelitian kualitatif. Data di peroleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumen. Selanjutnya data yang di peroleh di reduksi, di sajikan, dan di ambil suatu kesimpualannya. Penelitian ini juga, di lakukan dengan metode penelitian kualitatif. Dari hasil penelitian ini, (1) eksistensi Umat Hindu Kaharingan dalam melaksanakan acara Basarah sangat antusias dan aktif dalam melaksanakan persembahyangan basarah di wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katigan. (2) peran pendidikan formal, nonformal dan informal dalam hal pendidikan, anak-anak seperti SD, SMP dan SMA sangat paham tentang peran sebagai Umat Hindu yang terpelajar dan terpendidik baik dari segi pendidikan ataupun attitude di luar lingkungan sekolah. (3) solusi yang di lakukan oleh lembaga Agama Hindu adalah untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat Hindu itu sendiri, meningkatkan kualitas SDM, memberikan arahan terhadap Umat Hindu agar melakukan ibadah secara rutin walaupun pengurus agama berhalangan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui efektivitas penerapan metode mind mapping dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMKN-1 Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan. (2) Untuk mengetahui efektivitas penerapan metode mind mapping dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMKN-1 Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan. (3) Untuk mengetahui efektivitas seberapa besar penerapan metode mind mapping dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMKN-1 Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen yang dilaksanakan pada bulan Juni – Agustus 2024. Responden penelitian sebanyak 24 siswa kelas XI di SMKN-1 Sanaman Mantikei. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui Pre-test, Eksperimen, Post-Test, observasi, dan dokumentasi yang disusun berdasarkan pendekatan teori humanistik. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dengan kriteria tidak efektif, kurang efektif, cukup efektif dan efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek motivasi belajar, persentase pre-test sebesar 59,33% meningkat menjadi 80,04% pada post-test. Pada aspek kreativitas belajar, nilai pre-test sebesar 60,41% meningkat menjadi 80,05%. Sedangkan pada aspek hasil belajar, rata-rata nilai siswa meningkat dari 69,31 pada saat pre-test menjadi 87,22 pada post-test. Nilai awal tersebut berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sekolah, yaitu sebesar 70, namun setelah penerapan metode mind mapping, hasil belajar siswa berhasil melampaui standar tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode mind mapping efektif untuk mengkatkan motivasi, kreativitas dan hasil belajar Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada siswa di SMKN-1 Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini mengkaji peran Tari Riam Panjang, dalam upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Batu Ampar, Desa Derawa dan Desa Durian Kait. Pada Tari Riam Panjang, saat ditampilkan pada perkawiana umat Hindu Kaharingan terdapat nilai-nilai pendidikan Hindu, masih banyak yang belum mengetahuinya. Karena setiap nilai yang terkandung pada tarian tersebut memiliki tujuan penting yang ditujukan untuk masyarakat luas, khususnya bagi generasi muda. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini: 1) mengetahui dan merefleksikan nilai-nilai ajaran Hindu dalam konteks Pendidikan agama Hindu di Kecamatan Batu Ampar kabupaten Seruyan. 2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pewarisan nilai-nilai Pendidikan Hindu melalui tari Riam Panjang kepada generasi muda di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Seruyan. Teori yang digunakan untuk menganalisis masalah yang diteliti yaitu Teori Fenomenologi dan teori Pendidikan Hindu. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriftif, teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, data dianalisis dengan pengdekatan deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis data penelitian menunjukan bahwa, 1) Tari Riam Panjang merefleksikan nilai-nilai ajaran Hindu dalam konteks Pendidikan agama Hindu sangat efektif sehingga mengajarakan dan merefleksikan nilai-nilai tattwa (filsafat Hindu), susila (etika), dan acara (ritual). Sehingga menjadi bagian dari pendidikan karakter Hindu yang melibatkan generasi muda dalam proses belajar sambil melestarikan tradisi, menanamkan disiplin, sikap hormat, serta meningkatkan rasa spiritualitas melalui seni yang sakral. 2) Proses pewarisan nilai-nilai Pendidikan Hindu melalui Tari Riam Panjang kepada generasi muda, dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan berdampak jangka panjang bagi pembentukan karakter dan spiritualitas generasi muda. Serta menjadi media efektif dalam pewarisan nilai-nilai pendidikan Hindu, dengan praktik budaya lokal Tari Riam Panjang.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Ni Wayan Revina, 2025: Peran Media Sosial dalam Meningkatkan Promosi Wisata Pulau Kaja Kota Palangka Raya, Prodi Pramuwisata Budaya dan Keagamaan, Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangkaraya, Pembimbing I Dr. Tardi Edung.,S.Ag.,M.Ag dan Pembimbing II Handoko S.Ag.,M.Si. Pariwisata berbasis ekowisata menjadi salah satu tren yang terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap konsep wisata berkelanjutan. Pulau Kaja di Kota Palangka Raya merupakan destinasi ekowisata yang memiliki daya tarik khas berupa konservasi orangutan dan keindahan alam tropis yang masih alami. Meskipun memiliki potensi besar, promosi Pulau Kaja masih menghadapi kendala dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Media sosial hadir sebagai instrumen penting dalam mendukung promosi pariwisata karena memiliki jangkauan luas, biaya rendah, serta kemampuan menciptakan interaksi langsung antara pengelola dengan wisatawan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini memiliki dua rumusan masalah, yaitu: (1) bagaimana peran media sosial dalam mempromosikan Wisata Pulau Kaja di Kota Palangka Raya, dan (2) apa saja hambatan yang dihadapi dalam pemanfaatan media sosial untuk promosi Wisata Pulau Kaja. Penelitian ini dianalisis menggunakan Teori Komunikasi Pemasaran Pariwisata (I Nyoman Sudiarta, 2010) yang menjelaskan pentingnya strategi komunikasi terpadu dalam membentuk citra persepsi, ikatan emosional destinasi, serta Teori Difusi Inovasi (Everett M. Rogers, 1983) yang menyoroti proses penyebaran inovasi digital melalui jejaring sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Subjek penelitian terdiri atas pengelola wisata, pengunjung, serta pengikut akun media sosial Pulau Kaja. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam meningkatkan visibilitas, membangun citra positif, dan memperluas jangkauan promosi Wisata Pulau Kaja. Platform seperti Instagram efektif dalam menampilkan konten visual yang menarik, testimoni wisatawan, serta interaksi digital yang mendorong minat berkunjung. Namun demikian, ditemukan sejumlah hambatan seperti keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya literasi digital, minimnya kolaborasi lintas pihak, serta kurangnya strategi konten yang konsisten dan bilingual, sehingga potensi media sosial belum dimanfaatkan secara optimal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa media sosial memiliki kontribusi besar dalam promosi Wisata Pulau Kaja, tetapi efektivitasnya masih perlu ditingkatkan melalui penguatan strategi konten, peningkatan kapasitas SDM, dan kolaborasi multi-pihak untuk mendukung keberlanjutan ekowisata berbasis digital. Kata Kunci: Media Sosial, Promosi, Pariwisata, Pulau Kaja, Ekowisata