BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini mengkaji tentang Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama dengan perspektif pendidikan agama Hindu. Pendidikan non formal yang diberikan oleh Balian dirancang untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, bahwa calon Balian dapat menerima dan memahami Balian di lihat dari permasalahan proses, eksistensi dan implikasi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama. Penelitian ini menunjukkan tanggung jawab terhadap calon Balian, sehingga pengetahuan dan keterampilan Balian diberikan kepada generasi muda. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:1) Bagaimanakah proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 2) Bagaimanakah eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 3) Bagaimanakah implikasi Balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? di analisis menggunakan teori fenomenalogi, eksistensialisme, dan behaviorisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan analisis didapatkan hasil yaitu: pertama, proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama:1) Mencari Guru, 2) Barahayak, 3) Batumbang; Kedua, eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama meliputi: 1) Perkembangan Balian Dayak Dusun, 2) Keberadaan Balian Dayak Dusun, 3) Peran sosial, 4) Pengaruh dan hubungan Balian, 5) Transformasi dan adaptasi Balian dayak dusun di era modern, Ketiga, Implikasi balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama yaitu: 1) Implikasi Spiritual, 2) Implikasi Kesehatan, 3) Implikasi budaya, 4) Implikasi sosial, 5) Implikasi Pendidikan, 6) Implikasi ekonomi.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Natalia Fransiska, 2025. Pelestarian Seni Kriya Sapuyung Pada Masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan, Skripsi Prodi Pendidikan Seni Dan Keagamaan Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Hendri, S.Ag., M.Si Pembimbing II Roy Wentas, M.Pd Seni kriya merupakan cabang seni rupa yang menitik beratkan pada keterampilan tangan dalam menciptakan karya bernilai fungsi dan estetika. Karya ini mengangkat sapuyung sebagai objek utama, yaitu penutup kepala tradisional yang memiliki nilai budaya, estetika, dan ekonomi yang mendalam. Tujuan dari karya ini adalah untuk melestarikan warisan budaya lokal sekaligus memperkenalkan nilai-nilai filosofis di balik sapuyung kepada masyarakat luas dalam bentuk visual yang lebih kontekstual. Seni kriya sapuyung merupakan seni anyaman khas Kalimantan Tengah yang dapat digunakan pada kehidupan seharihari. Namun pengrajin seni kriya sapuyung hanya beberapa orang saja yang bisa menganyam sehingga perlu adanya pelestarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Bagaimana bentuk seni kriya Sapuyung pada masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan? 2. Bagaimana pelestarian seni kriya Sapuyung pada masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan? 3. Apa saja nilai seni kriya Sapuyung pada masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan. Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah menggunakan tiga teori yaitu teori bentuk, teori pelestarian budaya, dan teori nilai. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan penentuan informan yaitu Teknik purposive sampling. Sementara itu, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, selanjutnya Teknik analisis data yang digunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Berdasarkan dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: 1.Seni kriya sapuyung merupakan seni kerajinan tangan yang memilki bentuk bulat dan dapat digunakan pada kehidupan sehari-hari seperti berladang. 2. Pelestarian seni kriya sapuyung para Pengrajin seni kriya sapuyung berusaha meningkatkan minat masyarakat pada seni kriya sapuyung yaitu dengan suatu usaha yang diajarkan kepada generasi berikutnya. 3. Nilai seni kriya sapuyung pemahaman tentang nilai-nilai ini dapat membantu kita untuk lebih menghargai dan memahami karya seni kriya, baik dari segi estetika, fungsi, sosial, ekonomi maupun makna budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Kata kunci : Pelestarian, Seni Kriya, Sapuyung
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Natalia Fransiska, 2025. Pelestarian Seni Kriya Sapuyung Pada Masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan, Skripsi Prodi Pendidikan Seni Dan Keagamaan Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Hendri, S.Ag., M.Si Pembimbing II Roy Wentas, M.Pd Seni kriya merupakan cabang seni rupa yang menitik beratkan pada keterampilan tangan dalam menciptakan karya bernilai fungsi dan estetika. Karya ini mengangkat sapuyung sebagai objek utama, yaitu penutup kepala tradisional yang memiliki nilai budaya, estetika, dan ekonomi yang mendalam. Tujuan dari karya ini adalah untuk melestarikan warisan budaya lokal sekaligus memperkenalkan nilai-nilai filosofis di balik sapuyung kepada masyarakat luas dalam bentuk visual yang lebih kontekstual. Seni kriya sapuyung merupakan seni anyaman khas Kalimantan Tengah yang dapat digunakan pada kehidupan seharihari. Namun pengrajin seni kriya sapuyung hanya beberapa orang saja yang bisa menganyam sehingga perlu adanya pelestarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Bagaimana bentuk seni kriya Sapuyung pada masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan? 2. Bagaimana pelestarian seni kriya Sapuyung pada masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan? 3. Apa saja nilai seni kriya Sapuyung pada masyarakat Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan. Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah menggunakan tiga teori yaitu teori bentuk, teori pelestarian budaya, dan teori nilai. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan penentuan informan yaitu Teknik purposive sampling. Sementara itu, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, selanjutnya Teknik analisis data yang digunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Berdasarkan dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa: 1.Seni kriya sapuyung merupakan seni kerajinan tangan yang memilki bentuk bulat dan dapat digunakan pada kehidupan sehari-hari seperti berladang. 2. Pelestarian seni kriya sapuyung para Pengrajin seni kriya sapuyung berusaha meningkatkan minat masyarakat pada seni kriya sapuyung yaitu dengan suatu usaha yang diajarkan kepada generasi berikutnya. 3. Nilai seni kriya sapuyung pemahaman tentang nilai-nilai ini dapat membantu kita untuk lebih menghargai dan memahami karya seni kriya, baik dari segi estetika, fungsi, sosial, ekonomi maupun makna budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Kata kunci : Pelestarian, Seni Kriya, Sapuyung
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini mengkaji tentang Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama dengan perspektif pendidikan agama Hindu. Pendidikan non formal yang diberikan oleh Balian dirancang untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, bahwa calon Balian dapat menerima dan memahami Balian di lihat dari permasalahan proses, eksistensi dan implikasi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama. Penelitian ini menunjukkan tanggung jawab terhadap calon Balian, sehingga pengetahuan dan keterampilan Balian diberikan kepada generasi muda. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:1) Bagaimanakah proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 2) Bagaimanakah eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 3) Bagaimanakah implikasi Balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? di analisis menggunakan teori fenomenalogi, eksistensialisme, dan behaviorisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan analisis didapatkan hasil yaitu: pertama, proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama:1) Mencari Guru, 2) Barahayak, 3) Batumbang; Kedua, eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama meliputi: 1) Perkembangan Balian Dayak Dusun, 2) Keberadaan Balian Dayak Dusun, 3) Peran sosial, 4) Pengaruh dan hubungan Balian, 5) Transformasi dan adaptasi Balian dayak dusun di era modern, Ketiga, Implikasi balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama yaitu: 1) Implikasi Spiritual, 2) Implikasi Kesehatan, 3) Implikasi budaya, 4) Implikasi sosial, 5) Implikasi Pendidikan, 6) Implikasi ekonomi.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Fitri Natalia. 2024. Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya Skripsi Prodi Pendidikan Seni dan Keagamaan Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I. Lamri, S.Pd., M.Pd.H. Pembimbing II. Niwayan Sukraini, S.Pd., M.Pd. Langkah Empat Sabungkar termasuk salah satu gerakan dasar pada kelas pertama dalam mempelajari pencak silat Kuntau Bangkui dan merupakan gerakan dasar dalam mambunga serta dasar semi pukulan bawah, langkah ini juga sering dikombinasikan dengan gerakan lainnya pada saat mambuka lawang sakepeng. Dalam mempelajari Langkah Empat Sabungkar masih ada anggota Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom yang terkendala dalam memahami mengenai ragam gerak yang menyebabkan anggota tersebut terlambat lulus (batamat). Pemahaman anggota terhadap fungsi Langkah Empat Sabungkar masih kurang, baik itu dalam konteks seni bela diri maupun seni pertunjukan mambuka lawang sakepeng. Langkah Empat Sabungkar memiliki ciri khas pada beberapa gerakan tertentu, maka dari itu masih ada anggota yang terkendala dalam mempelajari gerakan ini. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: 1). Bagaimana ragam gerak Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya, 2). Apa saja fungsi Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya, 3). Apa kendala dalam mempelajari Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya. Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori Kinesiologi, teori Etnokoreologi, teori Fungsionalisme dan teori Kendala. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Teknik penentuan informan purposive sumpling. Teknik analisis data yang digunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1). Ragam gerak Langkah Empat Sabungkar terdiri dari kuda-kuda, jurus, tangkisan, nyabungkar dan hadang. 2). Fungsi Langkah Empat Sabungkar dalam seni bela diri pencak silat untuk membuka sebuah kuncian ketika posisi pemain pencak silat berada di bawah dan memberikan pelajaran bagaimana cara untuk menyerang dan beratahan di posisi bawah serta fungsi langkah empat sabungkar dalam seni pertunjukan lawang sakepeng sebagai media hiburan. 3). Kendala dalam mempelajari Langkah Empat Sabungkar yaitu kendala dalam proses latihan, lambatnya daya tangkap anggota terhadap gerakan Langkah Empat Sabungkar dan tingkat kesulitan gerak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fitri Natalia. 2024. Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya Skripsi Prodi Pendidikan Seni dan Keagamaan Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I. Lamri, S.Pd., M.Pd.H. Pembimbing II. Niwayan Sukraini, S.Pd., M.Pd. Langkah Empat Sabungkar termasuk salah satu gerakan dasar pada kelas pertama dalam mempelajari pencak silat Kuntau Bangkui dan merupakan gerakan dasar dalam mambunga serta dasar semi pukulan bawah, langkah ini juga sering dikombinasikan dengan gerakan lainnya pada saat mambuka lawang sakepeng. Dalam mempelajari Langkah Empat Sabungkar masih ada anggota Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom yang terkendala dalam memahami mengenai ragam gerak yang menyebabkan anggota tersebut terlambat lulus (batamat). Pemahaman anggota terhadap fungsi Langkah Empat Sabungkar masih kurang, baik itu dalam konteks seni bela diri maupun seni pertunjukan mambuka lawang sakepeng. Langkah Empat Sabungkar memiliki ciri khas pada beberapa gerakan tertentu, maka dari itu masih ada anggota yang terkendala dalam mempelajari gerakan ini. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: 1). Bagaimana ragam gerak Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya, 2). Apa saja fungsi Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya, 3). Apa kendala dalam mempelajari Langkah Empat Sabungkar pada Perguruan Pencak Silat Nyalong Pambelom di Kota Palangka Raya. Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori Kinesiologi, teori Etnokoreologi, teori Fungsionalisme dan teori Kendala. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Teknik penentuan informan purposive sumpling. Teknik analisis data yang digunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1). Ragam gerak Langkah Empat Sabungkar terdiri dari kuda-kuda, jurus, tangkisan, nyabungkar dan hadang. 2). Fungsi Langkah Empat Sabungkar dalam seni bela diri pencak silat untuk membuka sebuah kuncian ketika posisi pemain pencak silat berada di bawah dan memberikan pelajaran bagaimana cara untuk menyerang dan beratahan di posisi bawah serta fungsi langkah empat sabungkar dalam seni pertunjukan lawang sakepeng sebagai media hiburan. 3). Kendala dalam mempelajari Langkah Empat Sabungkar yaitu kendala dalam proses latihan, lambatnya daya tangkap anggota terhadap gerakan Langkah Empat Sabungkar dan tingkat kesulitan gerak.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Proses komunikasi di dunia digital, tidak berlangsung di ruang hampa, karena itu penting untuk membenahi tata kelola dari pola komunikasi digital. Komunikasi digital adalah realitas dan bentuk baru dari kehidupan manusia modern. Format tersebut, membentuk kompleksitas serta budaya yang menyertainya. Perencanaan komunikasi digital menjadi sebuah hal vital di masa kini. Bila tidak mampu dikelola, kegagalan komunikasi digital bisa jadi berdampak fatal bagi eksistensi sebuah citra. Buku ini menawarkan perspektif yang lengkap dalam mengelola strategi komunikasi digital. Pada akhirnya, buku yang dirangkum dari beberapa penulis yang dijadikan sebuah kolaborasi ini menawarkan kedalaman pembahasan dari aspek teoritik hingga tingkat praktis, disertai berbagai detail operasional dalam mengelola hingga mengukur keberhasilan manajemen komunikasi digital. Semoga dengan kehadiran buku ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan wawasan akan pengetahuan tentang manajemen komunikasi digital terkini.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK NATALIA, 2023: Makna Upacara Manajah Antang Umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Habupaten Katingan, Prodi Kepanditaan, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya, Pemimbing 1: Handoko, S.Ag, M.Si Pemimbing 2: Nurlensi, S.Ag., M.Si. Agama Hindu Kaharingan sangat erat kaitannya dengan upacara, meskipun upacara Hindu Kaharingan sangat bervariasi karena masing-masing daerah aliran sungai (DAS) selalu berbeda-beda pelaksanaan upacara agamanya. Salah satu bentuk ketaatan umat Hindu Kaharingan yang ada di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan adalah melakukan Upacara Manajah Antang. pada penelitian ini yaitu bagaimana bentuk upacara manajah antang umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Oleh sebab itu peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Makna Upacara Manajah Antang tersebut, ada pun yang ingin di teliti yaitu mengenai Makna Upacara Manajah Antang namun umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. bagaimanakah fungsi upacara manajah antang umat hindu kaharingan di desa rangan kawit kecematan katingan hulu kabupaten katingan dan bagaimanakah makna dari upacara manajah antang umat hindu kaharingan di desa rangan kawit kecematan katingan hulu kabupaten katingan yang dijadikan sebagai upacara pemanggilan roh-roh gaib bagi umat Hindu Kaharingan. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menggali lebih dalam bagaimanakah bentuk, fungsi dan makna yang terkandung dari upacara manajah antang. Dengan demikian penulis tertarik untuk menulis Skripsi dengan judul: Makna Upacara Manajah Antang Umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan.sedangkan yang menjadi permasalahan dalam penulisan Skripsi ini adalah : (1). Bagaimana bentuk upacara manjah antang umat hindu kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. (2).Bagaima fungsi upacara manajah antang di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan (3). Bagaimana makna upacara manajah antang di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Untuk membedah masalah dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan beberapa teori:(1).Teori Religi(2).Teori Fungsionalisme (3).Teori Interaksionalisme Simbolik. Penelitian tentang makna upacara manajah antang menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan lokasi penelitian di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan teknik: (1). Observasi,(2). Wawacara (3). Kepustakaan dan (4). Dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini adalah Basir/Pisor,tokoh umat Hindu Kaharingan dan masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah: (1). Bentuk upacara Manajah Antang : Sarana dan prasarana upacara manajah antang (2). Fungsi yang ingin di capai yaitu: Fungsi religius makna upacara manajah antang Fungsi sosial makna upacara manajah antang fungsi religius makna upacara manajah antang (3). Makna apa yang terkandung dalam upacara manajah antang yaitu: Makna religius, makna sosial. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, simpulkan bahwa makna upacara manajah antang pada umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan pada nantinya merupakan suatu pada umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Kata Kunci : Makna, Upacara Manajah Antang
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Hotel merupakan salah satu bisnis yang bergerak pada sektor jasa khususnya akomodasi. Segmen pasar yang dituju adalah para tamu yang datang dengan tujuan untuk beristirahat, urusan bisnis, pariwisata, dan refresing. Berdasarkan hal tersebut manajemen pelayanan seharusnya melayani tamu dengan baik bersikap ramah, santun, dan sopan. Berdasarkan hal tersebut, maka yang diteliti adalah: (1) Bagaimana Upaya Manajemen Pelayanan Konsumen di Swiss-belhotel Danum Kota Palangka Raya, (2) Apa Kendala Manajemen Pelayanan Konsumen di Swiss-belhotel Danum Palangka Raya, (3) Bagaimana Dampak Penerapan Manajemen Pelayanan Konsumen di Swiss-belhotel Kota Palangka Raya. Teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah Teori Organisasi Hanry Fayol, Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah; Observasi, Wawancara, Studi Kepustakaan, dan Dokumentasi, teknik analisis data menggunakan Purposive Sampling. Hasil penelitian ini adalah, upaya manajemen pelayanan konsumen yaitu menerapkan: perencanaan, pengorganisasin, pengontrolan dan evaluasi sudah cukup baik. Namun perlu ditingkatkan lagi pelatihan karyawan sehingga menghasilakn karyawan yang profesional, kendala manajemen pelayanan konsumen yaitu:(1) promosi yang dilakukan Swiss-belhotel Danum sudah cukup baik namun masih kurang maksimal. dan (2) fasilitas yang dimiliki pihak hotel sudah cukup baik, namun perlu ditingkatkan dalam penanganan fasilitas yang kurang berfungsi. Sedangkan Dampak penerapan manajemen pelayanan konsumen pelanggan merasa cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Swiss-belhotel. Namun masih perlu ditingkatkan lagi pelayanan dan fasilitas sehingga konsumen dapat menikmati dan merasa puas.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
Fra Wahyu Natalia (2023) Strategi Pengembangan Atraksi Objek Wisata Bumi Perkemahan Panglima Batur di Desa Trahean Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara Pembimbing I, Dr. I Wayan Salendra,S.Ag., M.Si Pembimbing II, I Wayan Sutarwam,S.Pd., M.Pd.H Bumi Perkemahan Panglima Batur merupakan salah satu objek wisata unggulan yang ada di Barito Utara. Objek wisata ini memiliki berbagai fasilitas yang penunjang sehingga memungkinkan wisatawan dapat menikmati wisata dengan baik. Meskipun demikian objek wisata ini masih belum memiliki banyak atraksi wisata yang ditawarkan, sejauh ini yang ditawarkan hanya atraksi alamnya saja sedangkan atraksi buatan masih sangat terbatas. Berdasarkan latar belakang diatas maka, permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor penghambat dan faktor pendorong pengembangan objek wisata Bumi Perkemahan Panglima Batur dan strategi pengembangan atraksi wisata yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Barito Utara. Teori yang digunakan adalah teori daya tarik wisata dan pengembangan pariwisata. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah pengelola objek wisata Bumi Perkemahan Panglima Batur baik pemerintah maupun masyarakat. Teknik analisis yang digunakan adalah: 1) pengumpulan data 2) reduksi data 3) penyajian data 4) verifikasi (penarikan kesimpulan). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat faktor penghambat yang terjadi dalam pengembangan objek wisata adalah: 1) terbatasnya dana, 2) kurangnya sumber daya manusia, 3) kurangnya kesadaran masyarakat, 4) kurangnya kerjasama dengan pihak swasta, dan 5) keterbatasan fasilitas. Selanjutnya terdapat juga faktor pendorong adalah, 1) potensi alam 2) suasana objek wisata yang nyaman, 3) kondisi wisata yang aman, 4) akses yang mudah, dan 5) kemajuan teknologi informasi. Adapun strategi pengembangan atraksi wisata yang dilakukan adalah, 1) menambah berbagai fasilitas, 2) sarana prasarana wisata, 3) meningkatkan promosi wisata, 4) melakukan kerjasama dengan dinas lain serta masyarakat, 5) membuat rencana lanjutan pada hasil pengembangan yang ada, 6) memaksimalkan potensi alam, 7) mengamati apa yang menjadi keinginan masyarakat atau wisatawan. Dengan adanya strategi pengembangan ini akan meningkatkan jumlah pengunjung sehingga pendapatan daerah pun dapat meningkat dan tercapainya target yang telah ditetapkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hotel merupakan salah satu bisnis yang bergerak pada sektor jasa khususnya akomodasi. Segmen pasar yang dituju adalah para tamu yang datang dengan tujuan untuk beristirahat, urusan bisnis, pariwisata, dan refresing. Berdasarkan hal tersebut manajemen pelayanan seharusnya melayani tamu dengan baik bersikap ramah, santun, dan sopan. Berdasarkan hal tersebut, maka yang diteliti adalah: (1) Bagaimana Upaya Manajemen Pelayanan Konsumen di Swiss-belhotel Danum Kota Palangka Raya, (2) Apa Kendala Manajemen Pelayanan Konsumen di Swiss-belhotel Danum Palangka Raya, (3) Bagaimana Dampak Penerapan Manajemen Pelayanan Konsumen di Swiss-belhotel Kota Palangka Raya. Teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah Teori Organisasi Hanry Fayol, Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah; Observasi, Wawancara, Studi Kepustakaan, dan Dokumentasi, teknik analisis data menggunakan Purposive Sampling. Hasil penelitian ini adalah, upaya manajemen pelayanan konsumen yaitu menerapkan: perencanaan, pengorganisasin, pengontrolan dan evaluasi sudah cukup baik. Namun perlu ditingkatkan lagi pelatihan karyawan sehingga menghasilakn karyawan yang profesional, kendala manajemen pelayanan konsumen yaitu:(1) promosi yang dilakukan Swiss-belhotel Danum sudah cukup baik namun masih kurang maksimal. dan (2) fasilitas yang dimiliki pihak hotel sudah cukup baik, namun perlu ditingkatkan dalam penanganan fasilitas yang kurang berfungsi. Sedangkan Dampak penerapan manajemen pelayanan konsumen pelanggan merasa cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Swiss-belhotel. Namun masih perlu ditingkatkan lagi pelayanan dan fasilitas sehingga konsumen dapat menikmati dan merasa puas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Fra Wahyu Natalia (2023) Strategi Pengembangan Atraksi Objek Wisata Bumi Perkemahan Panglima Batur di Desa Trahean Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara Pembimbing I, Dr. I Wayan Salendra,S.Ag., M.Si Pembimbing II, I Wayan Sutarwam,S.Pd., M.Pd.H Bumi Perkemahan Panglima Batur merupakan salah satu objek wisata unggulan yang ada di Barito Utara. Objek wisata ini memiliki berbagai fasilitas yang penunjang sehingga memungkinkan wisatawan dapat menikmati wisata dengan baik. Meskipun demikian objek wisata ini masih belum memiliki banyak atraksi wisata yang ditawarkan, sejauh ini yang ditawarkan hanya atraksi alamnya saja sedangkan atraksi buatan masih sangat terbatas. Berdasarkan latar belakang diatas maka, permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor penghambat dan faktor pendorong pengembangan objek wisata Bumi Perkemahan Panglima Batur dan strategi pengembangan atraksi wisata yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Barito Utara. Teori yang digunakan adalah teori daya tarik wisata dan pengembangan pariwisata. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah pengelola objek wisata Bumi Perkemahan Panglima Batur baik pemerintah maupun masyarakat. Teknik analisis yang digunakan adalah: 1) pengumpulan data 2) reduksi data 3) penyajian data 4) verifikasi (penarikan kesimpulan). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat faktor penghambat yang terjadi dalam pengembangan objek wisata adalah: 1) terbatasnya dana, 2) kurangnya sumber daya manusia, 3) kurangnya kesadaran masyarakat, 4) kurangnya kerjasama dengan pihak swasta, dan 5) keterbatasan fasilitas. Selanjutnya terdapat juga faktor pendorong adalah, 1) potensi alam 2) suasana objek wisata yang nyaman, 3) kondisi wisata yang aman, 4) akses yang mudah, dan 5) kemajuan teknologi informasi. Adapun strategi pengembangan atraksi wisata yang dilakukan adalah, 1) menambah berbagai fasilitas, 2) sarana prasarana wisata, 3) meningkatkan promosi wisata, 4) melakukan kerjasama dengan dinas lain serta masyarakat, 5) membuat rencana lanjutan pada hasil pengembangan yang ada, 6) memaksimalkan potensi alam, 7) mengamati apa yang menjadi keinginan masyarakat atau wisatawan. Dengan adanya strategi pengembangan ini akan meningkatkan jumlah pengunjung sehingga pendapatan daerah pun dapat meningkat dan tercapainya target yang telah ditetapkan.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Natalia,2022. Pengelolan Wisata Edukasi Museum Balanga Di Kota Palangka Raya.Pembimbing I:Wentin, S.Ag., M.Pd.H, dan pembimbing II: Bapak Dr.Anak Agung Gede Wiranata, S.Ag.,M.Ag Museum Balanga memiliki sifat pendidikan budaya dari Suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah,diantaranya adalah seperti melakukan pengadaan dan juga konservasi benda benda budaya untuk dipamerkan ke masyarakat luas yang dalam hal ini fungsi museum balanga sebagai wisata edukasi yang memberikan pendidikan kepada masyarakat luas. Sisi positif yang disajikan museum untuk publik atau dari kunjungan ke museum tidak dapat dihindari bahwa masih ada sebagian atau sekelompok masyarakat yang memiliki cara pandang (paradigma) kurang baik tentang museum. Suatu kesan yang menganggap museum tidak lebih dari gudang atau tempat benda-benda kuno untuk tujuan dipamerkan ke masyarakat dan tanpa nilai, oleh karena itu pengelolaan museum perlu memberikan pemahaman mengenai arti, manfaat dar: tujuan pendirian atau pengelolaan museum. Dilihat dari pembahasaan di atas maka rumus masalah dalam penelitian ini adalah : (1)Bagaimanakah Pengelolaan wisata edukasi di museum Balanga Kota Palangka Raya (2) Apakah yang menjadi Implikasi dari pengelolaan wisata edukasi di museum Balanga Kota Palangka Raya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Teori Konstruktivisme dan (2) teori pengaruh. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, hal ini dikarenakan penulis ingin mendeskripsikan data lapangan mengenai permasalahan penelitian,teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan purposive sampeling dengan pertimbangan tertentu. Penelitian ini menggunkan teknik analisis data yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil kesimpulan dalam penelitian ini yaitu Pengelolan wisata edukasi di Museum Balanga masih kurang tertata dengan baik, di Museum Balanga sendiri tidak memiliki sop ( standar operating procedure) yang telah di perbarui dalam pelayan terhadap wisatawan. Kendala pelaksanaan perawatan dan pembersihan benda- benda koleksi Museum Balanga adalah kurangnya stap yang bekerja, terutarna pekerja laki - laki dan tidak adanya ahli di bidang arkeologi untuk pengklasifikasian benda- benda koleksi. Dampak wisata edukasi Museum Balanga terhadap wisatawan terutama pelajar ataupun mahasiswa sangat positif yang memberikan pembelajaran edukasi tentang kebudayan suku dayak, mengenal ritual Agama Hindu Kaharingan dari upacara kelahiran, perkawinan sampai kematian dan pengenal tentang tokoh suku dayak yaitu bapak Tjilik Riwut.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Yetri Natalia, 2022. Strategi Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Pembelajaran Blended Learning Di SMA Negeri 1 Tasik Payawan Kabupaten Katingan, Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Dr. I Gede Dharman Gunawan, S.H., M.Pd.H, Pembimbing II : Nyoman Sumarni, S.Ag., M.Si Model pembelajaran Blended Learning di era pengetahuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat belajar siswa. Dalam proses belajar mengajar menuntut adanya antusias dan minat siswa. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Untuk mengetahui, memahami, menganalisis dan mendeskripsikan strategi guru pendidikan agama Hindu dalam pembelajaran Blended Learning Di SMAN- 1 Tasik Payawan Kabupaten Katingan. 2)Untuk mengetahui, memahami, menganalisis dan mendeskripsikan faktor-faktor yang Mempengaruhi guru pendidikan agama Hindu dalam pembelajaran Blended Learning Di SMAN-1 Tasik Payawan Kabupaten Katingan. Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yaitu : teori belajar behavioristik dan teori konektivisme. Data yang telah dikumpul dianalisi dengan pendekatan kualitatif. Teknik informan yang digunakan yaitu Porposive Sampling. Teknik Analisis Data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun informan dalam penelitian ini terdiri siswa, guru agama Hindu,kepala sekolah,dan guru kurikulum. Hasil penelitian digunakan untuk menunjukan bahwa: 1) Pembelajaran blended learning di SMAN 1 Tasik Payawan tetap mengikuti tiga tahapan pembelajaran secara konvensional, yaitu tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, tahap evaluasi pembelajaran dan tahap pengawasan yang dilakukan sekolah. 2) Kendala yang dialami oleh pihak sekolah, guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran blended learning yaitu harus membagi jadwal daring maupun luring sehingga tidak bentrok dengan jadwal yang lain
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Yetri Natalia, 2022. Strategi Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Pembelajaran Blended Learning Di SMA Negeri 1 Tasik Payawan Kabupaten Katingan, Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Dr. I Gede Dharman Gunawan, S.H., M.Pd.H, Pembimbing II : Nyoman Sumarni, S.Ag., M.Si Model pembelajaran Blended Learning di era pengetahuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat belajar siswa. Dalam proses belajar mengajar menuntut adanya antusias dan minat siswa. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Untuk mengetahui, memahami, menganalisis dan mendeskripsikan strategi guru pendidikan agama Hindu dalam pembelajaran Blended Learning Di SMAN- 1 Tasik Payawan Kabupaten Katingan. 2)Untuk mengetahui, memahami, menganalisis dan mendeskripsikan faktor-faktor yang Mempengaruhi guru pendidikan agama Hindu dalam pembelajaran Blended Learning Di SMAN-1 Tasik Payawan Kabupaten Katingan. Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yaitu : teori belajar behavioristik dan teori konektivisme. Data yang telah dikumpul dianalisi dengan pendekatan kualitatif. Teknik informan yang digunakan yaitu Porposive Sampling. Teknik Analisis Data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun informan dalam penelitian ini terdiri siswa, guru agama Hindu,kepala sekolah,dan guru kurikulum. Hasil penelitian digunakan untuk menunjukan bahwa: 1) Pembelajaran blended learning di SMAN 1 Tasik Payawan tetap mengikuti tiga tahapan pembelajaran secara konvensional, yaitu tahap perencanaan pembelajaran, tahap pelaksanaan pembelajaran, tahap evaluasi pembelajaran dan tahap pengawasan yang dilakukan sekolah. 2) Kendala yang dialami oleh pihak sekolah, guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran blended learning yaitu harus membagi jadwal daring maupun luring sehingga tidak bentrok dengan jadwal yang lain
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata budaya tangga batu ini adalah untuk keikut sertaan masyarakat dalam membantu pengelola dan membersihkan objek wisata yang ada, apabila wisatawan melakukan bahajat ditempat wisata budaya tangga batu masyarakat di kawasan tersebut membantu dalam menyiapkan sarana dan prasana yang dibutuhkan. keterlibatan masyarkat dalam pelestarian objek wisata budaya tangga batu ini untuk ikut serta dalam mengelola maupun mendorong terjadinya proses penguatan kapasitas masyarakat lokal dan meningkatkan pemberdayaan bagi masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan pariwisata secara bersama. Berdasarkan dari latar belakang diatas rumusan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimanakah peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata tangga batu di Desa Tangga Batu Kecamatan Seruyan Tengah Kabupaten Seruyan (2) Apakah kendala yang dihadapi oleh peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata tangga batu di Desa Tangga Batu, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan (3) Bagaimanakah dampak peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata tangga batu di Desa Tangga Batu, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Teori peran (2) Teori pembangunan pariwisata (3) Teori pengembangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif karena dalam penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif dan cenderung menggukan analisis. teknik pengumupulan data dengan menggunakan Purposive Sampling. Kesimpulan dari penelitian adalah objek wisata tangga batu ini perluadanya campur tangan dari pemerintah agar objek wisata bisa berkembang dan dapat berpengaruh kepada perekonomian masyarakat setempat, adanya peran masyakarkat dalam pelestarian objek wisata tangga batu ini akan membuat objek wisata budaya tangga batu tidak hilang kebudayaan lokal maupun kerusakan pada objek wisata tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK NATALIA, 2023: Makna Upacara Manajah Antang Umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Habupaten Katingan, Prodi Kepanditaan, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya, Pemimbing 1: Handoko, S.Ag, M.Si Pemimbing 2: Nurlensi, S.Ag., M.Si. Agama Hindu Kaharingan sangat erat kaitannya dengan upacara, meskipun upacara Hindu Kaharingan sangat bervariasi karena masing-masing daerah aliran sungai (DAS) selalu berbeda-beda pelaksanaan upacara agamanya. Salah satu bentuk ketaatan umat Hindu Kaharingan yang ada di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan adalah melakukan Upacara Manajah Antang. pada penelitian ini yaitu bagaimana bentuk upacara manajah antang umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Oleh sebab itu peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Makna Upacara Manajah Antang tersebut, ada pun yang ingin di teliti yaitu mengenai Makna Upacara Manajah Antang namun umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. bagaimanakah fungsi upacara manajah antang umat hindu kaharingan di desa rangan kawit kecematan katingan hulu kabupaten katingan dan bagaimanakah makna dari upacara manajah antang umat hindu kaharingan di desa rangan kawit kecematan katingan hulu kabupaten katingan yang dijadikan sebagai upacara pemanggilan roh-roh gaib bagi umat Hindu Kaharingan. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menggali lebih dalam bagaimanakah bentuk, fungsi dan makna yang terkandung dari upacara manajah antang. Dengan demikian penulis tertarik untuk menulis Skripsi dengan judul: Makna Upacara Manajah Antang Umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan.sedangkan yang menjadi permasalahan dalam penulisan Skripsi ini adalah : (1). Bagaimana bentuk upacara manjah antang umat hindu kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. (2).Bagaima fungsi upacara manajah antang di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan (3). Bagaimana makna upacara manajah antang di Desa Rangan Kawit Kecematan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Untuk membedah masalah dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan beberapa teori:(1).Teori Religi(2).Teori Fungsionalisme (3).Teori Interaksionalisme Simbolik. Penelitian tentang makna upacara manajah antang menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan lokasi penelitian di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan teknik: (1). Observasi,(2). Wawacara (3). Kepustakaan dan (4). Dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini adalah Basir/Pisor,tokoh umat Hindu Kaharingan dan masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah: (1). Bentuk upacara Manajah Antang : Sarana dan prasarana upacara manajah antang (2). Fungsi yang ingin di capai yaitu: Fungsi religius makna upacara manajah antang Fungsi sosial makna upacara manajah antang fungsi religius makna upacara manajah antang (3). Makna apa yang terkandung dalam upacara manajah antang yaitu: Makna religius, makna sosial. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, simpulkan bahwa makna upacara manajah antang pada umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan pada nantinya merupakan suatu pada umat Hindu Kaharingan di Desa Rangan Kawit Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan. Kata Kunci : Makna, Upacara Manajah Antang
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Natalia,2022. Pengelolan Wisata Edukasi Museum Balanga Di Kota Palangka Raya.Pembimbing I:Wentin, S.Ag., M.Pd.H, dan pembimbing II: Bapak Dr.Anak Agung Gede Wiranata, S.Ag.,M.Ag Museum Balanga memiliki sifat pendidikan budaya dari Suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah,diantaranya adalah seperti melakukan pengadaan dan juga konservasi benda benda budaya untuk dipamerkan ke masyarakat luas yang dalam hal ini fungsi museum balanga sebagai wisata edukasi yang memberikan pendidikan kepada masyarakat luas. Sisi positif yang disajikan museum untuk publik atau dari kunjungan ke museum tidak dapat dihindari bahwa masih ada sebagian atau sekelompok masyarakat yang memiliki cara pandang (paradigma) kurang baik tentang museum. Suatu kesan yang menganggap museum tidak lebih dari gudang atau tempat benda-benda kuno untuk tujuan dipamerkan ke masyarakat dan tanpa nilai, oleh karena itu pengelolaan museum perlu memberikan pemahaman mengenai arti, manfaat dar: tujuan pendirian atau pengelolaan museum. Dilihat dari pembahasaan di atas maka rumus masalah dalam penelitian ini adalah : (1)Bagaimanakah Pengelolaan wisata edukasi di museum Balanga Kota Palangka Raya (2) Apakah yang menjadi Implikasi dari pengelolaan wisata edukasi di museum Balanga Kota Palangka Raya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Teori Konstruktivisme dan (2) teori pengaruh. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, hal ini dikarenakan penulis ingin mendeskripsikan data lapangan mengenai permasalahan penelitian,teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan purposive sampeling dengan pertimbangan tertentu. Penelitian ini menggunkan teknik analisis data yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil kesimpulan dalam penelitian ini yaitu Pengelolan wisata edukasi di Museum Balanga masih kurang tertata dengan baik, di Museum Balanga sendiri tidak memiliki sop ( standar operating procedure) yang telah di perbarui dalam pelayan terhadap wisatawan. Kendala pelaksanaan perawatan dan pembersihan benda- benda koleksi Museum Balanga adalah kurangnya stap yang bekerja, terutarna pekerja laki - laki dan tidak adanya ahli di bidang arkeologi untuk pengklasifikasian benda- benda koleksi. Dampak wisata edukasi Museum Balanga terhadap wisatawan terutama pelajar ataupun mahasiswa sangat positif yang memberikan pembelajaran edukasi tentang kebudayan suku dayak, mengenal ritual Agama Hindu Kaharingan dari upacara kelahiran, perkawinan sampai kematian dan pengenal tentang tokoh suku dayak yaitu bapak Tjilik Riwut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata budaya tangga batu ini adalah untuk keikut sertaan masyarakat dalam membantu pengelola dan membersihkan objek wisata yang ada, apabila wisatawan melakukan bahajat ditempat wisata budaya tangga batu masyarakat di kawasan tersebut membantu dalam menyiapkan sarana dan prasana yang dibutuhkan. keterlibatan masyarkat dalam pelestarian objek wisata budaya tangga batu ini untuk ikut serta dalam mengelola maupun mendorong terjadinya proses penguatan kapasitas masyarakat lokal dan meningkatkan pemberdayaan bagi masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan pariwisata secara bersama. Berdasarkan dari latar belakang diatas rumusan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimanakah peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata tangga batu di Desa Tangga Batu Kecamatan Seruyan Tengah Kabupaten Seruyan (2) Apakah kendala yang dihadapi oleh peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata tangga batu di Desa Tangga Batu, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan (3) Bagaimanakah dampak peran masyarakat dalam pelestarian objek wisata tangga batu di Desa Tangga Batu, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Teori peran (2) Teori pembangunan pariwisata (3) Teori pengembangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif karena dalam penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif dan cenderung menggukan analisis. teknik pengumupulan data dengan menggunakan Purposive Sampling. Kesimpulan dari penelitian adalah objek wisata tangga batu ini perluadanya campur tangan dari pemerintah agar objek wisata bisa berkembang dan dapat berpengaruh kepada perekonomian masyarakat setempat, adanya peran masyakarkat dalam pelestarian objek wisata tangga batu ini akan membuat objek wisata budaya tangga batu tidak hilang kebudayaan lokal maupun kerusakan pada objek wisata tersebut.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Buku ini diharapkan dapat hadir memberi kontribusi positif dalam ilmu pengetahuan khususnya terkait dengan Pendidikan Profesi Keguruan dan Teknologi Pendidikan. Sistematika buku book chapter Pendidikan Profesi Keguruan dan Teknologi Pendidikan ini mengacu pada pendekatan konsep teoritis dan contoh penerapan. Oleh karena itu diharapkan book chapter ini dapat menjawab tantangan dan persoalan dalam sistem pengajaran di perguruan tinggi dan sejenis lainnya.