Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi interpersonal antara anak dan orang tua dalam keluarga broken home serta dampak dari komunikasi tersebut terhadap kondisi psikologis dan sosial anak. Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya angka perceraian di Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan Tengah, yang berdampak pada kehidupan anak-anak dalam keluarga tidak utuh. Penelitian dilakukan di Kelurahan Ampah Kota, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam terhadap lima anak dan lima pasangan orang tua broken home, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi yang terjadi umumnya bersifat satu arah, minim interaksi emosional, dan dipenuhi hambatan seperti kesibukan orang tua tunggal, keterbatasan waktu, hingga keterputusan komunikasi total. Anak-anak cenderung mengalami perasaan kesepian, kehilangan kepercayaan diri, stres, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Perspektif orang tua mengungkapkan bahwa meskipun terdapat keinginan untuk menjalin hubungan yang baik dengan anak, keterbatasan emosional dan beban pasca perceraian menjadi tantangan utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi interpersonal yang sehat dalam keluarga broken home sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan emosional anak. Disarankan agar orang tua membangun komunikasi dua arah yang terbuka, empatik, dan penuh perhatian demi kesejahteraan anak.