Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

93 hasil
Subjek: Upacara
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

SANKSI PELANGGARAN PALI UPACARA MA’AUH LAMAN PADA MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI DESA SAMBI KECAMATAN ARUT UTARA KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT (PERSPEKTIF HUKUM HINDU)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

SURIYA, 2019: Sanksi Pelanggaran Pali Upacara Ma’auh Laman Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Di Desa Sambi Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat (Perspektif Hukum Hindu) Skripsi. Fakultas Dharma Sastra Prodi Hukum Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (I) Budhi Widodo, SH,.MH. Pembimbing (II) Agung Adi, S.Ag.,M.Si. Upacara merupakan salah satu rangkaian kegiatan ritual keagamaan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Ranying Hatalla Langit serta manifestas-Nya. Agama Hindu adalah salah satu agama yang ada di Indonesia, mempunyai hak dan kewajiban sama dengan agama yang lainnya, dalam pelaksanaan upacara agam Hindu Kaharingan di Desa Sambi tidak lepas dari pali (pantangan) yang merupakan salah satu bentuk tradisi dari jaman nenek moyang terdahulu yang harus ditaati dan dipatuhi oleh masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Sambi. Pali dilaksanakan selama 3 (tiga) hari tujuan melaksnakan pali demi menjaga keseimbangan alam ataupun menjaga hubungan antara manusia dengan leluhur. Apabila ada yang melanngar pali maka akan dikenakan Sanksi dengantujuan diberikan sanksi supaya ada efek jera dan tidak mengulangnya lagi. Perspektif Hukum agama Hindu, terdapat dalam smerti dan srti. Sehingga penelitian ingin meneliti Sanksi Pelanggar Pali Upacara Ma’auh Laman Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Di Desa Sambi Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat. Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini ada dua permasalahan antara lain, 1). Apa saja Pali dalam Upacara Ma’auh Laman pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Sambi Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat? 2). Sanksi Apa saja yang di jatuhkan kepada pelanggar Pali upacara Ma’auh Laman pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Sambi Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat?. Teori yang digunakan untik menganalisis rumuasan masalah adalah, 1) Teori Tindakan Sosial, 2) Teori Resepsi dari Van Den Berg. Subjek penelitian ini adalah Tukang Tawur, Majelis Kelompok, Maelis Resort dan tokoh masyarakat Hindu Kaharingan, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi, metode wawancara dan metode dokumntasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriftif kualitatif dengan langkah-langkah reduksi penyajian data dan penarikan kesimpulan atau berifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Pali dalam upacara Ma’auh Laman yakni tradisi secara turun temurun sesuai dengan panaturan serta memiliki jenis-jenis pali yang terdapat dalam upacara Ma’auh Laman, (2) Saksi diberikan kepada pelaku pelanggar pali dikenakan denda yaitu mengganti biaya upacara, berupa uang dan barang seperti mangkok, piring, parang, uang turus perjanjian dan kain satu lembar. Dari analisis data tersebut maka dapat disimpulkan pali adalah suatu larangan yang tidak bisa dilanggar, karena pali adalah suatu tradisi secara turun temurun. Kata Kunci: Sanksi, Upacara Ma’auh Laman, Hukum Hindu

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EKSISTENSI SENI KRIYA KATUPAT INDU SANGOMANG PADA UPACARA KEAGAMAAN HINDU KAHARINGAN DI DESA GUHUNG KECAMATAN MANUHING KABUPATEN GUNUNG MAS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kehadiran Seni kriya Katupat Indu Sangomang pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan memiliki makna, fungsi dan tujuan tersendiri. Dalam praktiknya Penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi penurunan eksistensi seni kriya Katupat Indu Sangomang akibat minimnya minat serta pemahaman generasi muda Hindu Kaharingan di Desa Guhung terhadap bentuk, makna, dan keterampilan pembuatannya. Berikut rumusan masalah dalam penelitian: 1). Bagaimana Eksistensi Seni Kriya Katupat Indu Sangomang pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan di Desa Guhung Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas? 2). Bagaimana bentuk seni kriya Katupat Indu Sangomang yang digunakan pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan di Desa Guhung Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas? Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis eksistensi dan bentuk seni kriya Katupat Indu Sangomang pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan di Desa Guhung, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi partisipan, wawancara terstruktur bersama tokoh agama (Basir/Pisor), pengurus majelis, guru, dan masyarakat, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1).Eksistensi Katupat Indu Sangomang tetap dipertahankan bentuk aslinya tanpa mengalami perubahan/inovasi sebagai sarana sakral (upakara) pada upacara Pakanan Sahur dan Balaku Untung. Kriya ini mengandung simbol keharmonisan (Tri Hita Karana), nilai spiritual, serta solidaritas sosial melalui semangat gotong royong. 2). Seni kriya Katupat Indu Sangomang terus eksis sebagai identitas budaya dan sarana keagamaan, namun memerlukan penguatan edukasi formal maupun nonformal bagi generasi muda guna menjaga keberlangsungannya dari ancaman perkembangan zaman. Kata Kunci: Katupat Indu Sangomang, Eksistensi Seni Kriya, Hindu Kaharingan, Upacara Keagamaan, Desa Guhung.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

MAKNA UPACARA ENTAS-ENTAS UMAT HINDU JAWA DI PURA GIRI ANTARA LOKA (PERSPEKTIF PENDIDIKAN HINDU)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Upacara Entas-Entas merupakan salah satu rangkaian Pitra Yadnya dalam tradisi Hindu Jawa yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta penyempurnaan roh orang yang telah meninggal dunia agar mencapai alam yang lebih baik dan bersatu dengan Ida sang hyang widhi wasa. Selain memiliki fungsi religius, upacara ini juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang berperan dalam pewarisan ajaran dan tradisi Hindu Jawa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan Upacara Entas-Entas umat Hindu Jawa di Pura Giri Antara Loka, Desa Manunggal Jaya, serta menganalisis makna yang terkandung di dalamnya dalam perspektif Pendidikan Hindu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling yang terdiri atas Romo, pemangku, Ketua PHDI, dan serati banten. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Upacara Entas-Entas terdiri atas tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan inti, dan penutup. Tahap persiapan meliputi rapat panitia, gotong royong, persiapan sarana upacara, serta pembersihan diri. Tahap inti berisi rangkaian ritual yang dipimpin oleh Romo dan pemangku, sedangkan tahap penutup ditandai dengan persembahyangan bersama dan penutupan upacara. Upacara ini mengandung makna religius sebagai wujud bhakti kepada Ida sang hyang widhi wasa dan penghormatan kepada leluhur, makna etika dan moral berupa penanaman disiplin, tanggung jawab, ketulusan, dan rasa hormat, serta makna sosial melalui gotong royong, kebersamaan, solidaritas, dan kerukunan. Dengan demikian, Upacara Entas-Entas tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai media Pendidikan Hindu yang efektif dalam mewariskan nilai-nilai religius, etika, moral, dan sosial kepada generasi muda sehingga tradisi Hindu Jawa tetap lestari.

21 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Eksistensi Kepemimpinan Pisor dalam Penerapan Upacara Nahunan di Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Katingan (Perspektif Manajemen Pendidikan Agama Hindu)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepemimpinan keagamaan tradisional dalam masyarakat adat memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan nilai spiritual, budaya, dan sosial. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran Pisor dalam upacara Nahunan masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji fungsi, nilai-nilai, dan implikasi kepemimpinan Pisor dalam perspektif Manajemen Pendidikan Agama Hindu, serta memahami bagaimana praktik kepemimpinan ini mendukung pelestarian budaya dan pendidikan keagamaan lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, dengan melibatkan para Pisor, tokoh masyarakat, masyarakat Hindu Kaharingan dan generasi muda sebagai informan kunci. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, serta ditinjau melalui perspektif manajemen pendidikan agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Pisor menjalankan fungsi manajerial yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan pembinaan spiritualitas secara partisipatif. Nilai-nilai kepemimpinan yang dikembangkan meliputi kepemimpinan spiritual transendental, keteladanan etis, transmisi nilai-nilai budaya, kesadaran ekologis, serta penguatan identitas komunitas. Implikasi dari kepemimpinan ini tidak hanya memperkuat regenerasi nilai-nilai keagamaan, tetapi juga membentuk model pendidikan agama Hindu yang kontekstual, adaptif, dan transformatif berbasis nilai lokal Kaharingan.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Filosofi Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Yuli, 2025 : Filosofi Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Desa Parit, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kota Waringin Timur. Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei tetap eksis dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur. Atas dasar anggapan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian pada dua aspek permasalahan, yaitu (1) Apa saja fungsi filosofi pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur?., Bagaimanakah makna Filosofis pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur ?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sedangkan landasan analisis, digunakan Teori Religi, Teori Fungsionalisme Struktural, dan Teori Interaksionisme Simbolik. Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Berdasarkan telaah dan metode analisis tersebut dapat diasumsikan sebagai berikut. Pertama, Filosofis Pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei yaitu Tiga hari setelah proses penguburan jenazah, upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei adalah ritual kematian khas orang Hindu Kaharingan. Tujuan utama dari upacara ini adalah untuk mengirimkan arwah orang yang meninggal (Liau Haring Kaharingan) ke Bukit Nalian Lanting, tempat penantian sebelum upacara Tiwah, dan sekaligus membersihkan keluarga yang telah meninggal dari gangguan magis, penyakit, dan sial yang terkait dengan kematian. Prosesi dimulai dengan menyiapkan perlengkapan upacara secara keseluruhan. Perlengkapan ini mencakup simbol-simbol suci, alat musik tradisional, sesajen, dan berbagai perlengkapan ritual lainnya. Setelah Basir dijemput dan disucikan, ritual Balian dimulai. Dalam ritual ini, Sangiang (roh suci) dipanggil oleh Basir serta merasuki Basir, dan nanti akan bertanggung jawab untuk mengatur perjalanan dan proses pensucian arwah. Kedua, Makna Filosofis Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei yaitu dalam kehidupan religius masyarakat Hindu Kaharingan, terutama di kalangan Dayak Ngaju, upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei adalah praktik spiritual yang penuh dengan makna filosofis. Upacara ini lebih dari sekadar ekspresi keagamaan; itu mencerminkan perspektif dunia (worldview) yang rumit dan mendalam tentang kehidupan, keseimbangan, kesedihan, dan hubungan antara manusia dan alam semesta.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Upacara Ipaket sebagai Media Pembelajaran Spiritual dan Pendidikan Agama dalam Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Hayaping Kecamatan Awang Kabupaten Barito Timur

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK TEMA. 2025. Upacara Ipaket sebagai Media Pembelajaran Spiritual dan Pendidikan Agama dalam Masyarakat Hindu Kaharingan Di Desa Hayaping Kecamatan Awang Kebupaten Barito Timur (Perspektif Pendidikan Hindu). Skripsi Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu IAHN-TP Palangka Raya. Pembimbing Drs. Derson, S.Ag., M.Ag, Pembimbing II Nyoman Sumarni, S.Ag.M.,Si Skripsi ini mengkaji ritual Ipaket umat Hindu Kaharingan di Desa Bentot Kecamatan Patangkep Tutui Kabupaten Barito Timur. Fenomena yang terjadi dalam ritual Ipaket selama ini adalah kurangnya pemahaman umat terhadap proses, makna, serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ritual Ipaket, sehingga ritual tersebut dilaksanakan sebagai ceremonial tanpa mengetahui bagaimana proses, makna dan nilai-nilai pendidikan yang ada dalam ritual Ipaket. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengkaji rumusan masalah sebagai berikut: 1.Bagaimana Peranan Upacara Ipaket Sebagai media pembelajaran Seperitual Pada Masyarakat Hindu di Desa Hayaping Kecamatan Awang Kebupaten Barito Timur? 2.Apa saja media pembelajaran Spritual yang terkandung di Upacara Ipaket dan Pendidikan Agama Hindu,Dalam Upacara Ipaket. Pada masyarakat Hindu di Desa Hayaping Kecamatan Awang, Kebupaten Barito Timur? Tujuan umum dari penelitian ini untuk menemukan pengetahuan yang terperinci dalam ritual Ipaket yang dilaksanakan di Desa Bentot. Hasil penelitian ini dikaji dengan teori Fungsional dan struktural, teori religi, teori simbol, dan teori pendidikan. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Jenis sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara Purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, studi dokumen, dan studi pustaka. Teknik analisis data dengan reduksi data, penafsiran data, dan penyimpulan. Hasil yang dikaji dengan teori fungsional dan struktural maka diperoleh bahwa ritual Ipaket dalam pelaksanaannya sistem yang terstruktur dan mempunyai fungsi setiap sarana prasarana yang dibuat. Makna yang terkandung dalam ritual Ipaket dikaji dengan teori religi dan teori simbol maka diperoleh makna religius, makna penyucian, dan makna sosial. Sedangkan nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada ritual Ipaket di analisis dengan teori pendidikan diperoleh nilai tattwa (kebenaran mutlak), nilai susila (etika), dan nilai upakara (upacara). Proses, makna dan nilai-nilai pendidikan yang terdapat ritual Ipaket saling berkaitan erat dalam menjaga keseimbangan alam dengan kehidupan manusia agar meningkatkan kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan, serta meningkatkan sradha bhakti guna terciptanya kehidupan yang harmonis antara manusia dengan sang pencipta, dengan sesama manusia, maupun manusia dengan alam. Kata kunci: Upacara Ipaket Sebagai Media Pembelajaran Spiritual Pendidikan Agama Hindu

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Agama Hindu pada Pambak dalam Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan di Desa Tewang Rangas Kabupaten Katingan

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Wiranda, 2025. Nilai Pendidikan Agama Hindu Pada Pambak Dalam Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tewang Rangas Kabupaten Katingan Skripsi Prodi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Bapak Dr. Derson, S. Ag., M.Si Pembimbing II Ibu Nyoman Sumarni, S.Ag., M.Si Kalimantan merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia yang dikenal memiliki beragam budaya dan tradisi. Tradisi yang dimiliki salah satunya ada pada umat Hindu Kaharingan yaitu Pambak Pambak merupakan tempat untuk menyimpan peti mayat atau tulang umat Hindu Kaharingan yang sudah melalui proses Tiwah yang dipercai dapat mengantarkan roh leluhur menuju Lewu Tatau, dalam proses pembuatan Pambak harus melalui upacara-upacara atau ritual-ritual terlebih dahulu, pada ukiran-ukiran pambak juga memiliki nilai pendidikan agama Hindu. Rumusan masalah yang diangkat yaitu 1). Bagaimana Proses Pembuatan Pambak dalam Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan di Desa Tewang Rangas Kabupaten Katingan? 2). Apa Saja Nilai Pendidikan Agama Hindu yang ada pada Pambak dalam Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan di Desa Tewang Rangas Kabupaten Katingan? Adapun tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembatan Pambak dan nilai pendidikan agama Hindu pada Pambak dalam upacara Tiwah umat hindu Kaharingan di desa Tewang Rangas Kabupaten Katingan. Teori menggunakan dua teori yaitu penciptaan karya seni rupadan teori nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Teknik penentuan informan yang digunakan yaitu teknik purposive sampling, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian, data dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa 1). Proses dalam pembuatan Pambak harus melalui upacara-upacara atau ritual-ritual terlebih dahulu, karena pambak merupakan tempat untuk menyimpang peti mayat atau tulang umat hindu kaharingan yang sudah melalui proses upacara Tiwah 2).Terdapat Nilai Pendidikan agama hindu pada pambak dalam upacara tiwah yaitu nilai Tattwa, Susila Dan Upacara,termasuk pada ukiran pambak juga memiliki makna-makna tertentu.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Filosofi Ancak pada Upacara Potoka Anak bagi Umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ancak merupakan salah satu upakara pada upacara potoka anak di desa kalasin penelitian ini membahas filosofi ancak pada upacara potoka anak dengan rumusan masalah 1.bagaimanakah pelaksanaan upacara potoka anak.2. bagaimanakah fungsi ancak pada upacara potoka anak.3. apakah makna yang terkandung dalam filosofi ancak pada upacara potoka anak. Penelitian ini menggunakan teori semiotika dan teori religi dan menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan teknik analisis data

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Upacara Bayar Hajat Wadian Dadas di Desa Sumber Garunggung Kabupaten Barito Timur (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini mengkaji tentang Upacara Bayar Hajat Wadian Dadas di Desa Sumber Garunggung Kabupaten Barito Timur. Upacara Bayar Hajat Wadian Dadas merupakan suatu upacara yang ditunjukkan kepada para leluhur, upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Mulung Kuyang (Roh suci) sebagai manisfestasi Ranying Hatalla Langit/Tuhan Yang Maha Esa yang telah membantu mewujudkan keinginan dan permintaan yang dikehendaki. Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah yang diangkat oleh peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana Proses Pelaksanan Upacara Bayar Hajat Wadian Dadas di Desa Sumber Garunggung Kabupaten Barito Timur ? 2. Bagaimana Fungsi Upacara Bayar Hajat Wadian Dadas di Desa Sumber Garunggung Kabupaten Barito Timur ? 3. Apakah Persfektif Pendidikan Agama Hindu terhadap Upacara Bayar Hajat Wadian Dadas di Desa Sumber Garunggung Kabupaten Barito Timur ?. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami proses pelaksanaan upacara Bayar Hajat Wadian Dadas, fungsi dan nilai-nilai terkandung pada upacara Bayar Hajat Wadian Dadas serta menambah wawasan bagi Umat Hindu Kaharingan di Desa Sumber Garunggung. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Teori Religi, Teori Fungsional Struktural dan Teori Pendidikan Agama Hindu. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Kualitatif, teknik penentuan informan yang digunakan yakni Purposive Sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan: observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis dari penelitian yang dilakukan tentang upacara Bayar Hajat Wadian Dadas dapat disimpulkan bahwa: (1) Tata cara pelaksanaan pada upacara Bayar Hajat Wadian Dadas memiliki beberapa tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. (2) Fungsi dari upacara Bayar Hajat Wadian Dadas sebagai berikut : 1. Menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan dan leluhur, 2. Menjaga hubungan harmonis dengan sosial sesama manusia. (3) Perspektif pendidikan agama hindu yang terdapat dalam upacara yakni: 1. Perspektif Pendidikan Tattwa Agama Hindu, 2. Perspektif Pendidikan Susila/Etika Agama Hindu, 3. Perspektif Pendidikan Upacara Agama Hindu

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Habukung dalam Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Wendy, 2025. Habukung Dalam Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan Di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Perspektif Pendidikan Agama Hindu. Tesis Strata Dua (S-2) Prodi Magister Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Dr. I Nyoman Sidi Astawa S.Ag., M.A, Pembimbing II : Dr. I Wayan Suasta, S.Ag., M.Pd.H. Penelitian ini mengkaji tentang Habukung dalam Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Parit, Kecamatan Cempaga Hulu dengan fokus Perspektif Pendidikan Agama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, nilai-nilai pendidikan agama Hindu, dan implikasi keberadaan Habukung sebagai media pembelajaran nonformal dalam upacara kematian umat Hindu Kaharingan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari tokoh masyarakat, basir (rohaniawan), seniman Habukung, serta guru agama Hindu. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Habukung merupakan bentuk ekspresi religius dan budaya yang memiliki makna teologis, simbolis, serta nilai edukatif. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dalam upacara kematian, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial. Habukung memuat nilai-nilai pendidikan agama Hindu seperti Ketuhanan, moral, kerohanian, susila dan tatwa yang diajarkan melalui simbolisme dan praktik langsung di masyarakat. Dalam konteks pendidikan, Habukung menjadi media pendidikan karakter yang efektif dan sebagai ruang pembelajaran lintas generasi. Secara teoritis, hasil penelitian ini memperkuat pendekatan konstruktivisme Vygotsky, interaksionisme simbolik, dan pendidikan holistik Bhattacharya. Habukung terbukti berperan sebagai sarana pendidikan nonformal berbasis budaya lokal yang dapat mendukung penguatan identitas keagamaan dan kebudayaan umat Hindu Kaharingan.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penerapan Singer terhadap Pelanggaran Hinting Pali dalam Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Rungan Hulu Kabupaten Gunung Mas

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ongki. 2025. Penerapan Singer Terhadap Pelanggaran Hinting Pali Dalam Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan Di Kecamatan Rungan Hulu Kabupaten Gunung Mas. Skripsi Program Studi Hukum Agama Hindu FakultasDharma Sastra Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya Pembimbing I Stepenson, S.Ag,.MH Pembimbing II I Kadek Kartika Yase, SH.AH,MH Skripsi ini mengkaji tentang Penerapan Singer Terhadap Pelanggaran Hinting Pali Dalam Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan Di Kecamatan Rungan Hulu Kabupaten Gunung Mas merupakan ritual yang wajib dilaksanakan, dan taati dipahami oleh masyarakat terkhususnya masyarakat seorang yang melanggar Hinting Pali Tiwah dalam ritual tersebut. Berdasarkan latar belakang, maka penelitian ini mengkaji 1). Penerapan Singer Terhadap Pelanggaran Hinting Pali Upacara Tiwah umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Rungan Hulu Kabupaten Gunung Mas?.2). Dampak pelanggaran Hinting Pali Pada saat Upacara Tiwah Umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Rungan Hulu Kabupaten Gunung Mas?. Teori yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis rumusan masalah yaitu: Teori Kausalitas (sebab akibat) dan Teori Kepastian Hukum. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data menggunakan metode deskripkrif kualitatif berupa wawancara dengan informan yang benar-benar mengetahui tentang permasalahan yang diteliti. Hasil Penelitian menunjukan bahwa penerapan Singer pelanggaran Hinting Pali yang digunakan melalui Hukum adat Hindu Kaharingan sesuai dengan proses yang dilakukan melalui mantir Adat dan seluruh anggota Tiwah yang akan tetapkan kepada yang melanggar Hinting Pali tersebut. Dikenakan sanksi singer adat dan denda berupa barang adat, uang, hewan kurban seperti babi dan ayam.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Bentuk, Fungsi, dan Makna Upacara Manenung di Desa Tumbang Baringei Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Yoga, 2025: Bentuk, Fungsi, Dan Makna Upacara Manenung Di Desa Tumbang Baringei Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas, Prodi Kepanditaan, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangkaraya, Pembimbing 1: Nurlensi, S.Ag., M.Si Pembimbing 2: I Wayan Sindia Griya Danika, S. Kom., M.T Agama Hindu Kaharingan sangat erat kaitannya dengan upacara, meskipun upacara Hindu Kaharingan sangat bervariasi karena masing-masing daerah aliran sungai (DAS) selalu berbeda-beda pelaksanaan upacara. Salah satunya Upacara Manenung. Dari segi Bentuk, Fungsi, Dan Makna, upacara Manenung sebagai upacara pemanggilan roh-roh gaib bagi masyarakat di Desa Tumbang Baringei Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. judul: Bentuk, Fungsi, Dan Makna Upacara Manenung, rumasalah dalam penelitian ini : (1). Bagaimanakah bentuk pelaksanaan upacara Manenung (2). Apa fungsi upacara Manenung (3). Apa makna upacara Manenung. Ada beberapa teori yang digunakan:(1). Teori Fungsionalisme struktural (2). Teori komunikasi Ritual (3).Teori Interaksionalisme Simbolik. Metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan lokasi penelitian teknik: (1). Observasi,(2). Wawancara (3). Kepustakaan dan (4). Dokumentasi. Subyek Basir/Pisor,tokoh umat Hindu. Hasil dari penelitian ini adalah: (1). Bentuk upacara Manenung, Persiapan Sarana dan prasarana upacara Manenung, Tempat dan waktu pelaksanaan, Proses pelaksanaan upacara Manenung yaitu: Batawur, Basir menceritakan asal mula alat yang digunakan dalam upacara Manenung baik itu Baliung, Mandau, Tengang, Sipet, Dan Pisi, dan Manenung. (2). Fungsi yang ingin di capai yaitu: Fungsi religius makna upacara Manenung, Fungsi sosial makna upacara Manenung, (3). Makna apa yang terkandung dalam upacara Manenung yaitu: Makna religius, Makna sosial. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, simpulkan bahwa upacara Manenung di Desa Tumbang Baringei Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas, bahwa upacara Manenung tidak hanya berperan sebagai sarana pencarian petunjuk, tetapi sebagai bentuk pelestarian identitas budaya dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian upacara ini memiliki relevansi penting dalam menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia spiritual dalam kehidupan masyarakat di Desa Tumbang Baringei Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pelaksanaan Upacara Tiwah di Desa Samba Danum Kecamatan Katingan Tengah (Perspektif Manajemen Pendidikan Agama Hindu)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji tentang pelaksanaan upacara tiwah di Desa Samba Danum Kecamatan Katingan Tengah dalam perspektif Manajemen Pendidikan Agama Hindu. Berdasarkan fenomena lapangan bahwa pelaksanaan upacara tiwah pada masyarakat Hindu Kaharingan belum dikelola secara manajemen, sarana prasarana dan proses pelaksanaannya belum tertata dengan rapi serta nilai-nilainya kurang dipahami dengan baik sehingga perlu adanya manajemen yang baik. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan pada fokus kajian tiga aspek permasalahan, yaitu (1) Bagaimana tata pelaksanaan upacara tiwah; (2) Apakah nilai-nilai manajemen pendidikan agama Hindu dalam pelaksanaan upacara tiwah; (3) Apakah implikasi pelaksanaan upacara tiwah dalam perspektif manajemen pendidikan agama Hindu. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Jenis data, data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data digunakan teknik observasi partisipan, wawancara semi-struktur serta studi dokumen. Informan ditentukan secara purposive. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama, serta instrumen pendukung pedoman wawancara, kamera, tape recorder, alat tulis. Data dilakukan verifikasi dan dianalisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dideskripisikan berikut ini. Pertama, tata pelaksanaan upacara tiwah dilakukan dengan empat proses yaitu perencanaan upacara tiwah, Pengorganisasian, Pelaksanaan/penggerakan, pengawasan. Kedua, nilai-nilai manajemen pendidikan agama Hindu ada tujuh diantaranya lebih bertanggung jawab, lebih beretika, lebih estetika, lebih disiplin, lebih efektif dan efisien, lebih teratur dan lebih material. Ketiga, implikasi pelaksanaan upacara tiwah ada dua yaitu implikasi positif dan implikasi negatif. Dari analisis dalam pembahasan dapat disimpulkan bahwa upacara tiwah di Desa Samba Danum yang dilakukan dengan manajemen pelaksanaan yang tertata dan sesuai dengan nilai-nilai manajemen yang baik serta implikasinya bertujuan menjadi masyarakat umat Hindu Kaharingan sejahtera, harmonis dan bahagia.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Hindu terhadap Keberadaan Sangkaraya dalam Upacara Tiwah di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

RIANDI.2024. Nilai Pendidikan Hindu Terhadap Keberadaan Sangkaraya Dalam Upacara Tiwah Di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. Tesis Strata Dua (S-2) Prodi Magister Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Prof. Tiwi Etika, S.Ag.,M.Ag.,Ph.D. Pembimbing II : Dr. I Gede Dharman Gunawan, SH.,M.Pd.H. Penelitian ini mengkaji nilai pendidikan Hindu terhadap keberadaan sangkaraya dalam upacara tiwah di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunun Mas. Keberadaan sangkaraya dalam upacara tiwah bahwa penomena yang pernah terjadi dalam upacara tiwah khususnya di Desa Tumbang Malahoi. Sangkaraya yang seharusnya dihormati dan dijaga kesuciannya, dan dijunjung tinggi nilai hanya dianggap prasarana biasa yang hanya sebagai pusat upacara saja oleh orang yang kurang memahami tanpa mengetahui makna, nilai-nilai yang terkandung, serta etika yang harus dijaga. Pada saat upacara berlangsung terkhususnya saat sangkaraya sudah didirikan dan dimulai dengan upacara manganjan ada sebagian orang yang memberikan pertanyaan karena kurangnya pemahaman terhadap sangkaraya dalam upacara tiwah. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengkaji rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah prosesi mendirikan Sangkaraya dalam Upacara Tiwah Agama Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi?, 2) Bagaimanakah fungsi dan makna Sangkaraya dalam Upacara Tiwah Agama Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi?, 3) Nilai pendidikan Agama Hindu apakah yang terdapat pada keberadaan Sangkaraya dalam Upacara Tiwah Agama Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi?. Penelitian ini dikaji dengan teori simbol, teori fungsional struktural, dan teori nilai, metode penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Jenis dan sumber data yaitu sumber data primer dan data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik Penyajian Hasil Analisis Data, dengan teknik penyajian informal dan teknik penyajian formal. Berdasarkan hasil penelitian, Proses mendirikan sangkaraya dalam upacara tiwah di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan terdapat beberapa tahapan yang perlu diperhatikan serta dipersiapkan terlebih dahulu. Adapun tahapan-tahapan dalam proses pendirian sangkaraya pada upacara tiwah sebagai berikut: 1) proses pembentukan panitia. 2) Proses perencanaan baramu/pencarian sarana/bahan untuk mendirikan balai nyahu dan sangkaraya. 3) proses muluh gandang atau mendirikan sangkaraya dalam upacara tiwah. Fungsi dan makna untuk fungsi sangkaraya terbagi menjadi 3 (tiga) fungsi yaitu Fungsi Religi, Fungsi Etika, dan Fungsi Sosial, serta mempunyai makna yang mendalam yaitu kebersamaan (kekuatan) dan gotong royong. Nilai Pendidikan tekandung dalam keberadaan sangkaraya terbagi menjadi empat bagian yaitu: nilai pendidikan tattwa, nilai pendidikan etika, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan estetika. Kata Kunci: Nilai Pendidikan Hindu, Sangkaraya upacara tiwah.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan Hindu dalam Upacara Mopas Lowu pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Jumriadi. 2024, Nilai Pendidikan Hindu Dalam Upacara Mopas Lowu Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam KabupatenMurung Raya skripsi program studi Hindu Pendidikan Agama hindu fakultas dharma acarya institute agama Hindu NegriTamping Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pemimbing I : Dr. Derson, S.Ag., M.Ag., Pemimbing II : Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag., M.Ag. Penelitian dalam Skriipsi ini mengkaji tentang Nilai Pendidikan Hindu dalam Upacara Mopas Lowu pada: masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya. Upacara Mopas Lowu Di Desa Tumbang Naan masih dilaksanakan sesuai dengan ajaran yang diwariskan oleh nenek moyang dahulu, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tata cara upacara mopas lowu fungsi serta maknanya bagi kehidupan masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Naan Kalimantan Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sedangkan teknik analisis data menggunakan pengumpulan data (data collection), reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Mopas lowu adalah salah satu implementasi ajaran Hindu kaharingan dalam mewujudkan rasa hormat, dan terima kasih kepada Tuhan (Ranying Hatalla Langit) karena telah menjaga alam dan kampung dari marabahaya. Mopas lowu dilakukan karena adanya suatu peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan pembunuhan, ancaman keselamatan, atau kejadian di timpa musibah penyakit yang menimpa seluruh penduduk atau kota. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan alam dan lingkungan hidup (petak danum) beserta segala isinya dari berbagai bahaya dan celaka agar diberikan keberuntungan, keselamatan, umur yang panjang, rejeki yang melimpah serta ketentraman lahir batin kepada seluruh penduduk kampung atau kota

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Eksistensi Serati dalam Mengajarkan Keterampilan Membuat Sarana Upakara pada Pemuda Hindu di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

KADEK CANDRA ADINATA, 2024: Eksistensi Serati Dalam Mengajarkan Keterampilan Membuat Sarana Upakara Pada Pemuda Hindu Di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang, Skripsi Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I, Dr. Ni Wayan Gateri, S.Ag.,M.Ag Pembimbing II, Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag.,M.Ag Skripsi ini mengkaji tentang eksistensi serati dalam mengajarkan membuat sarana upakara pada pemuda Hindu, sebab pemuda-pemudi kurangnya memahami membuat sarana upacara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran serati dalam mengajarkan keterampilan membuat sarana upacara pada pemuda hindu di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Tujuan yang terdapat yaitu: 1). Mengetahui peran serati dalam mengajarkan keterampilan membuatsarana upacara pada pemuda-pemudi Hindu di Desa Batu Nindan? 2). Mengetahui bagaimana kendala serati dalam mengajarkan keterampilan membuat sarana upacara pada pemuda-pemudi Hindu di Desa Batu Nindan kecamatan Basarang kabupaten Kapuas? 3). Mengetahui upaya serati dalam mengajarkan keterampilan membuat sarana upacara pada pemuda-pemudi Hindu di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Penelitian ini mengunakan metode penelitian deskriftif kualitatif, informan dalam penelitian ini yaitu berjunlah 6 (enam) informan. Teknik pengumpulan data yaitu tehnik observsi, wawancara dan dokumentasi. Waktu penelitian di lakukan selama 1 (satu) bulan yaitu dari tanggal 15 Agustus – 15 September 2024. Adapun yang menjadi tempat penelitian ini adalah Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Berdasarkan pembahasan dan analisis dengan menggunakan teori menunjukan bahwa Serati berperan mengarahkan pemuda-pemudi Hindu, dan sekaligus berperan aktif dalam mengajarkan pembuatan sarana upacara. Kendala pembuatan sarana upacara yaitu kurangnya minat pemuda-pemudi Hindu dalam mengikuti pelatihan pembuatan sarana upacara, serta kesulitan dalam mendapatkan daun kelapa yang digunakan dalam pembuatan sarana upacara. Upaya-upaya Serati dalam mengatasi kendala membuat sarana upacara yaitu dengan cara memberikan motivasi dan pencerahan pada pemuda-pemudi Hindu, dalam mengikuti pelatihan membuat sarana upacara. Selain itu juga Serati berinisiatif dengan mengunakan daun kelapa sawit untuk pelatihan membuat sarana upacara, karena susahnya mendapatkan daun kelapa di Desa Batu Nindan.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Ritual Ngayau Danum menurut Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Perspektif Hukum Hindu)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

WARDIROY, 2024 : Ritual Ngayau Danum Menurut Tradisi Suku Dayak Di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Perspektif Hukum Hindu). Fakultas Dharma Sastra, Program Studi Hukum Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (1).Dra Ni Made Ratini, M.S.i. Pembimbing (II). Dr. Riwun, S.Ag., M.Si. Ritual Ngayau Danum adalah salah satu bentuk upacara Bhuta Yajna yang dilaksanakan oleh Umat Hindu Kaharingan jika ada yang meninggal dunia (mati) karena tenggelam di air (matei buseng). Ritual ini bertujuan untuk membalas dan mengakhiri musibah kematian yang disebabkan oleh kekuatan roh gaib yang sifatnya jahat yang ada di dalam air (Ganan Danum). Masalah yang diteliti (1) Bagaimana Proses Pelaksanaan Ritual Ngayau Danum Pada Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Perspektif Hukum Hindu)? (2) Apa Akibat Apabila Tidak Dilakukan Ritual Ngayau Danum Pada Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan? Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori religi dari E. Durkheim dan Koentjaraninggrat dan teori simbol dari Coulson dan Titib serta teori sebab akibat (kausalitas) dari Aristoteles dan Immanuel Kant. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ritual Ngayau Danum dilaksanakan selama dua hari satu malam, upacara MaNgayau Danum dilaksanakan pada tengah malam dimana ketujuh laki laki yang terpilih atau yang sudah ditenung yang melaksanakan atau MaNgayau Danum dengan cara menombak Kelapa sebagai simbol dari roh jahat di air yang menyebakan seseorang hingga meninggal yang dipandu oleh Pisor Leket Suman yang ada disana. Dasar Hukum pelaksanaan Ritual Ngayau Danum Pada Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Perspektif Hukum Hindu) adalah Kitab Suci Panaturan pasal 32 tentang "Ranying Hatalla Janjaruman Akan Panakan Raja Bunu Auh Jalan Ewen Buli Haluli Manalih Iye". Adapun akibat dari tidak melaksanakan ritual Ngayau Danum ini yaitu keluarga duka atau masyarakat akan selalu dihantui dengan rasa takut atau was-was saat akan bepergian ke hutan, air, dan sebagainya. Karena jika ritual Ngayau Danum tidak dilaksanakan takutnya roh jahat (ganan danum) akan mengulangi perbuatannya lagi dengan membunuh keluarga atau keturunan yang meninggal ataupun masyarakat yang ada di Desa Tumbang Marak maka dari itu ritual Ngayau Danum harus dilaksanakan supaya memutuskan sial pada masyarakat dan keluarga atau keturunan yang meninggal. Dampak yang terjadi tidak hanya kepada keluarga yang meninggal saja tetapi juga kepada masyarakat yang berada di Desa tempat kejadian.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Upacara Muja Sumbang pada Umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

MALIA, 2024. Upacara Muja Sumbang pada Umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara Pembimbing I Mitro, S.Pd., M.Si Pembimbing II Megawati, S.Pi., M.Pd.H Upacara Muja Sumbang adalah upacara perkawinan salah yang terjadi karena perilaku menyimpang pasangan. Upacara ini harus dilaksanakan oleh pasangan sebagai pensucikan dan menghilangkan pengaruh Layong Liha Alut Apoi dari pasangan yang berdampak pada pasangan dan alam semesta. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang di angkat peneliti yaitu : 1. Bagaimana proses upacara Muja Sumbang pada umat Hindu Kaharingan di Desa Papar Pujung Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara, 2. Apa makna Upacara Muja Sumbang pada umat Hindu Kaharingan di Desa Papar Pujung Pendidikan Agama Hindu terhadap Upacara Muja Sumbang pada umat Hindu Kaharingan di Desa Papar Pujung Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisis, memahami dan menjelaskan proses, makna dan perspektif pendidikan agama hindu yang terkandung dalam upacara Muja Sumbang. Teori yang digunakan dalam penilitian terdiri atas dua yaitu Teori Fenomenologi dan Teori Pendidikan Agama Hindu. Metode penelitian ini menggunakan penelitian jenis kualitatif, dengan lokasi penelitian di Desa Papar Pujung, jenis dan sumber data yang digunakan: data primer dan data sekunder, teknik penentuan informan yang digunakan yaitu teknik Purposive Sampling, adapun teknik penentuan data yang digunakan: observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian, teknik analisis data terdiri dari reduksi data, klasifikasi data, penyajian data, verifikasi serta penarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang upacara Muja Sumbang pada umat Hindu di Desa Papar Pujung memiliki beberapa tahap yakni : 1. Tahap awal, 2. Tahap Persiapan, 3. Tahap inti, 4. Tahap akhir, yang mengandung makna yang harus dipahami dari Belai Sumbang, Belai Padi, Pesiding Piak Sumbang Manyipet Tetung Galeng Bulan Langai,Bedian Sumbang selain itu perspektif pendidikan agama Hindu terdapat pada Muja Sumbang yakni seperti : Perspektif pendidikan Tattwa dengan mengimplementasikan ajaran Tri Hita Karana Perspektif pendidikan Etika mengimplementasikan ajaran Tri Kaya Parisudha dan Perspektif pendidikan upacara Hindu.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Implikasi Upacara Aruh Baduduk pada Masyarakat Hindu di Desa Labuhan Kabupaten Hulu Sungai Tengah

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

MIKO TRIANSYAH, 2024 Implikasi Upacara Aruh Baduduk Pada Masyarakat Hindu Di Desa Labuhan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Skripsi Jurusan Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Mitro,S.Pd.,M.Si. Pembimbing II Megawati,S.Pi.,M.Pd.H. Upacara Aruh Baduduk merupakan upcara yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Labuhan. Upacara ini bertujuan untuk menghormati dan berterima kasih kepada Nining Bahatara/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para leluhur/Iringan Gaduhan yang diyakini telah memberikan kesejahteraan, kesuburan tanah dan keberhasilan panen yang berlimpah, Sebagian masyarakat Hindu ada yang tidak melaksanakan upacara Aruh Baduduk setelah panen dan meninggalkan upacara Aruh Baduduk ini, sehingga masyarakat Hindu ini yang tidak melaksanakan dan meninggalkan upacara Aruh Baduduk ini mendapatkan teguran dari leluhur/Iringan Gaduhan. Bedasarkan latar belakang tersebut, maka Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana Prosesi Upacara Aruh Baduduk 2) Bagaimana Implikasi Upacara Aruh Baduduk, bertujuan untuk: mengetahui Prosesi Upacara Aruh Baduduk dan mengetahui Implikasi Upacara Aruh Baduduk. Teori yang digunakan untuk menganalisis kedua rumusan masalah ini adalah Teori Fenomenalogi untuk rumusan masalah satu yaitu Bagaimana Prosesi Upacara Aruh Baduduk dan Teori Struktural Fungsional untuk rumusan masalah dua yaitu Bagaimana Implikasi Upacara Aruh Baduduk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan dengan jenis penelitian kualitatif. Lokasi Penelitian di Desa Labuhan Kecamatan Batang Alai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dengan sumber data primer dan sumber data sekunder, teknik penentuan informan,teknik pengumpulan data,teknik observasi, teknik wawancara, teknik dokumnetasi, instrumen penelitian,teknik analisis data. Berdasarkan analisis data penelitian ini dapat diketahui bahwa upacara Aruh Baduduk terdiri dari beberapa rangakaian prosesi diantaranya sejarah timbulnya upacara Aruh Baduduk, tahap persiapan, tahap pelaksanaan,waktu dan tempat pelaksanaan, sarana-sarana yang digunakan, upacara Basarah, upacara Barabun, upacara Badarah Hidup, upacara Bamamang dan makna-makna dalam upacara aruh baduduk dan implikasi upacara Aruh Baduduk yang dimana upacara ini berdampak pada masyarkat apabila melaksanakannya dan tidak melaksanakan upacara Aruh Baduduk ini.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Nilai Pendidikan dalam Upacara Perkawinan Menurut Agama Hindu Kaharingan di Desa Sepang Kota Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK AJI SAPUTRA, 2024. Nilai-Nilai Pendidikan Hindu Dalam Upacara Perkawinan Menurut Agama Hindu Kaharingan di Desa Sepang Kota Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Skripsi Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHNTP) Palangka Raya Pembimbing I Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag., M.A dan Pembimbing II Hendri, S.Ag., M.Si Penelitian dalam skripsi ini mengkaji tentang Nilai-nilai Pendidikan Hindu dalam Upacara Perkawinan pada masyarakat Agama Hindu Kaharingan di Desa Sepang Kota Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Upacara perkawinan di Desa Sepang Kota masih dilaksanakan sesuai dengan ajaran yang diwariskan oleh nenek moyang dahulu. Dewasa ini upacara perkawinan di Desa Sepang Kota sudah jarang sekali, dikarenakan Umat nya hanya tinggal sedikit hal ini bisa menyebabkan ketidaktahuan generasi muda akan tata cara pelaksanaan upacara perkawinan tersebut yang mengandung makna dan nilai-nilai pendidikan, tradisi yang merupakan warisan leluhur perlu dilestarikan dan dikembangkan. Berdasarkan latar belakang, maka dalam penelitian ini mengkaji: (1) Bagaimana pelaksanaan upacara perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di Desa Sepang kota Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas ? (2) Nilai-nilai pendidikan Hindu apa saja yang terkandung dalam upacara perkawinan menurut agama Hindu Kaharingan di Desa Sepang Kota Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas ? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif jenis penelitian lapangan (field research). Subjek dalam penelitian ini adalah informannya Mantir, tokoh masyarakat. Majelis Kelompok dan Masyarakat Hindu Kaharingan Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail