ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EKA SUSILAWATI, 2026. Filosofi Batu Patahu Pada Umat Hindu Kaharingan Di Desa Masaha Kecamatan Mandau Talawang Kabupaten Kapuas. Skripsi Sastra Satu Program Studi Filsafat Agama Hindu, Fakultas Dharma Duta Dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I : Prof Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil dan Pembimbing II: I Gede Arya Juni Arta, S.Fil.H., M.Ag. Batu patahu merupakan simbol sakral yang dipercaya memiliki hubungan dengan roh leluhur sehingga memiliki makna penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat. Penelitian ini membahas: (1) mitologi batu patahu di Desa Masaha Kecamatan Mandau Talawang Kabupaten Kapuas, (2) fungsi batu patahu pada umat Hindu Kaharingan, dan (3) makna filosofi yang terkandung dalam batu patahu. Penelitian ini bertujuan mengetahui mitologi, fungsi, dan makna filosofi batu patahu pada umat Hindu Kaharingan di Desa Masaha. Penelitian menggunakan teori fenomenologi, fungsionalisme, dan simbol dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan informan tokoh agama Hindu Kaharingan, basir, dan masyarakat Desa Masaha.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) mitologi batu patahu berawal dari ditemukannya tiga batu yang diyakini memiliki kekuatan spiritual dan berkaitan dengan roh leluhur, serta disakralkan melalui pembangunan pasah patahu; (2) batu patahu berfungsi sebagai sarana ritual, penghormatan kepada leluhur, pemersatu masyarakat, pedoman etika, warisan budaya, serta mendukung moderasi beragama; dan (3) filosofi batu patahu mengandung nilai pendidikan, susila, tattwa, etika, penghormatan kepada leluhur, keseimbangan hubungan manusia dengan alam, serta keyakinan kepada Ranying Hatalla Langit sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, batu patahu tidak hanya dipahami sebagai benda fisik, tetapi juga sebagai simbol budaya dan spiritual yang mewariskan nilai-nilai kehidupan secara turun-temurun.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Yuli, 2025 : Filosofi Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Desa Parit, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kota Waringin Timur. Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei tetap eksis dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur. Atas dasar anggapan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian pada dua aspek permasalahan, yaitu (1) Apa saja fungsi filosofi pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur?., Bagaimanakah makna Filosofis pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur ?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sedangkan landasan analisis, digunakan Teori Religi, Teori Fungsionalisme Struktural, dan Teori Interaksionisme Simbolik. Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Berdasarkan telaah dan metode analisis tersebut dapat diasumsikan sebagai berikut. Pertama, Filosofis Pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei yaitu Tiga hari setelah proses penguburan jenazah, upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei adalah ritual kematian khas orang Hindu Kaharingan. Tujuan utama dari upacara ini adalah untuk mengirimkan arwah orang yang meninggal (Liau Haring Kaharingan) ke Bukit Nalian Lanting, tempat penantian sebelum upacara Tiwah, dan sekaligus membersihkan keluarga yang telah meninggal dari gangguan magis, penyakit, dan sial yang terkait dengan kematian. Prosesi dimulai dengan menyiapkan perlengkapan upacara secara keseluruhan. Perlengkapan ini mencakup simbol-simbol suci, alat musik tradisional, sesajen, dan berbagai perlengkapan ritual lainnya. Setelah Basir dijemput dan disucikan, ritual Balian dimulai. Dalam ritual ini, Sangiang (roh suci) dipanggil oleh Basir serta merasuki Basir, dan nanti akan bertanggung jawab untuk mengatur perjalanan dan proses pensucian arwah. Kedua, Makna Filosofis Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei yaitu dalam kehidupan religius masyarakat Hindu Kaharingan, terutama di kalangan Dayak Ngaju, upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei adalah praktik spiritual yang penuh dengan makna filosofis. Upacara ini lebih dari sekadar ekspresi keagamaan; itu mencerminkan perspektif dunia (worldview) yang rumit dan mendalam tentang kehidupan, keseimbangan, kesedihan, dan hubungan antara manusia dan alam semesta.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ancak merupakan salah satu upakara pada upacara potoka anak di desa kalasin penelitian ini membahas filosofi ancak pada upacara potoka anak dengan rumusan masalah 1.bagaimanakah pelaksanaan upacara potoka anak.2. bagaimanakah fungsi ancak pada upacara potoka anak.3. apakah makna yang terkandung dalam filosofi ancak pada upacara potoka anak. Penelitian ini menggunakan teori semiotika dan teori religi dan menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan teknik analisis data
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Filosofi Lilis Lamiang Dalam Upacara Bayar Hajat Agama Hindu Kaharingan Di Desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK HardiYanto 2024: FilosofiTorasPada UpacaraKematianUmat Hindu Kaharingan Di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya, Pembimbing I Dr. Anak Agung Gede Wiranata, S. Ag., M.Ag dan Pembimbing II,I WayanSindiaGriya Danika, S.Kom., M.T Masyarakat Hindu Kaharingan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya dalamkesehariannyatidakterlepasdariupacarakeagamaan. DalampembahasaninipenelitimelakukanpenelitiantentangToraspadaupacarakematian yang merupakanupakarayang tidakdapatdihilangkandarikegiatankeagamaanumat Hindu Kaharingan di DesaKalasin. FungsiTorasadalahberbentukpatung yang sakral dan dipercayaisebagaisimbololeh umatHindu KaharingankarenaTorasmerupakanmewakilisosok orang yang sudahmeninggal dan mengantarkanjiwa orang matike-surga/Lewu Liau. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuimakna dan fungsiTorasdalamupacara, berdasarkanfenomenadapatmenjadipembelajaran dan pengetahuanbagikaummudadalammelestarikantradisisecaraturuntemurundidaerahmasing-masingsehinggatidakdihilangkan. Penelitianinimenggunakanteorireligi, teorifungsionalismestruktural dan teoriinteraksionalismesimbolik. Penelitianinimenggunakanmetodekualitatif. Penelitianinidilaksanakan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya. Sumberdatanyayaitu primer dan sekunder, sedangkanteknikpengumpulandatanyameliputiobservasi, wawancara, dokumen dan studipustaka. Adapunhasilpenelitianinimenunjukanbahwa 1) proses pembuatanTorassebagaisaranaupacarakematianmelaluitahappersiapan dan bentukToras. 2). FungsiToraspada upacarakematianmelulaifungsisosialadalah proses interaksidenganlingkungansosial yang dimulaisejaklahir dan berakhirsetelahmeninggal. Fungsi religi adalahsistemkeprcayaan/keyakinankepadaTuhan, halmagis, 3). MaknafilosofiToraspada upacarakematianmelaluibeberapayaitu, maknaToraskepercayaanumatHindu KaharinganbahwaTorasmerupakan salah satubentukpenghormatanterakhir dan cintakasihkepada orang yang sudahmeninggal, sebagaibentuk bhakti kepadaleluhurataukepada orang yang sudahmeninggal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Susi Arianti, 2024: FilosofiSiroDalamUpacaraNgelutupUmat Hindu Kaharingan Di DesaKalasinKecamatanUutMurungKlabupatenMurung Raya, Pembimbing I Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si.,D.Phil Dan Pembimbing II Kunti Ayu Vedanti, S.Fil.H.,M.Ag Masyarakat Hindu Kaharingan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Rayadalamkesehariannyatidakterlepasdariupacarakeagamaan. DalampembahasaninipenelitimelakukanpenelitiantentangSirodalamupacaraNgelutupyang merupakanupakarayang tidakdapatdihilangkandarikegiatankeagamaanumat Hindu Kaharingan di DesaKalasin. Siro berfungsisebagai mediamemohonkeselamatanumurpanjangkepadaTuhan/RanyingHatallamelaluiMangkuAmatSangendanNyaiJajaNyangiangberupabajakahbernamaTongang.Siro/Tongan adalahkepercayaanmasyarakatDesaKalasinsebagaiupakarakeagamaan, yang mendasarihaltersebutSiroterbuatdariuratMangkuAmatSangendanNyaiJajaNyangiangyang sudahmenyatupada tanah, sehinggamasyarakatDesaKalasinpercayabahwasudahmenjadibagiandarikehidupanmanusia.Penelitianinibertujuanuntukmengetahuimakna dan fungsiSirodalamupacara, berdasarkanfenomenadiatasdapatmenjadipembelajaran dan pengetahuanbagikaummudadalammelestarikantradisisecaraturuntemurundidaerahmasing-masingsehinggatidakdihilangkan. Penelitianinimenggunakanteorireligi, teorifungsionalismestruktural dan teoriinteraksionalismesimbolik. Penelitianinimenggunakanmetodekualitatif. Penelitianinidilaksanakan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya. Sumberdatanyayaitu primer dan sekunder, sedangkanteknikpengumpulandatanyameliputiobservasi, wawancara, dokumen dan studipustaka. Adapunhasilpenelitianinimenunjukanbahwa 1) bentukfilosofiSiro dalamupacaraNgelutupumat Hindu Kaharingan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya yaitu: bentukSirodalamupacaraterbuatdarikulitkayubajakahTongang. dalambentukfilosofiSiro dalamupacaraNgelutupdimanamenentukanhari, tempat, pemimpin, sarana dan doa, demikian juga denganfilosofibentukSirodalamupcaramasyarakatDesaKalasinpercayabahwaSiroinisebagaiupakara dan sudahadasejaknenekmoyang dan diwajibkandalamupacara. 2) fungsiSiro dalamupacaraNgelutupumat Hindu Kaharingan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya yaitu: fungsireligiadalahkeyakinanumat Hindu Kaharingan pada Sirosebagaiupakara, fungsisosialadalahinteraksiantaramanusiadenganmanusia, dan fungsi Pendidikan, fungsiekonomi, fungsitradisi.3) nilaifilosofiSiro dalamupacaraNgelutupumat Hindu Kaharingan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya yaitu:nilaifilsafatketuhananadalahkeyakinantentangTuhan/RanyingHatalla yang diyakiniumat Hindu Kaharingan, dan beberapanilaisepertinilaikejujuran, nilaipersembahan, nilaikeharmonisan, nilaikeseimbangan, nilaikepatuhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Derpi,2023. Filosofi Andong Dalam Upacara Perkawinan Agama Hindu Kaharingan Di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Skripsi. Program Studi Filsafat Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I, Dr. I Wayan Salendra S.Ag., M.Si .Pembimbing II, I Gede Arya Juni Arta, S.Fil.H.,M.Ag Untuk mengetahui lebih dalam tentang mitologiandong dan makna andong di dalam upacara perkawinan agama Hindu Kaharingan Dayak Ngaju dalam mengetahui makna atau filosofiandong dalam upacara perkawinan agama Hindu Kaharingan di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung mas Berdasarkan latar belakang di atas, maka pada penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yang dikaji; (1) Bagaimana mitologiandong dalam upacara perkawinan agama Hindu Kaharingan di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas (2) Bagaimana fungsi andong dalam upacara perkawinan agama Hindu Kaharingan di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas (3) Bagaimana makna filosofiandong dalam upacara perkawinan agama Hindu Kaharingan Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakanadalah; observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Teori-teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah; (1) Teori Simbol (2) Teori Fungsionalisme Sruktural dan (3) Teori Semiotika.Subjek penelitian iniadalah tokoh keagamaan Hindu,rohaniawandan umat Hindu Kaharingan Kecamatan SepangKabupaten Gunung Mas.Hasil Analisa yang dapat kita peroleh dari upacara andong dalam upacara perkawinan agama Hindu Kaharingan yaitu dimana masyrakat Hindu masih kuat melaksanakan upacara tersebut dan sudah menjadi budaya masyrakat di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pernando, “Filosofi Pantugur Dalam Upacara Wara Di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan”. Skripsi. Program Studi Filsafat Agama Hindu”. Dosen Pembimbing (1) Tiwi Etika, S.Ag.,M.Ag.,Ph.D, Pembimbing (2) Ni Nyoman Tantri, S.Pd.,M.Pd. Pantugur merupakan sebuah ukiran tangan yang menyerupai manusia maupun hewan dan terbuat dari bahan kayu ulin dan akan didirikan disamping atau didepan halaman rumah orang yang melaksanakan upacara wara. Keberadaan pantugur yang menjadi pokok dalam upacara wara yang memiliki fungsi dan makna filosofi yang perlu untuk dikaji. Fenomena yang terjadi kurangnya pemahaman dari beberapa orang terhadap makna filosofi yang terkandung pada pantugur dalam upacara wara Hindu Kaharingan sehingga pantugur digunakan pada puncak pelasanaan upacara tersebut. Pada penelitian ini terdapat tiga perumusan masalah dalam skripsi ini adalah; (1) Bagaimana proses pembuatan pantugur dalam upacara wara di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan? (2) Bagaimana fungsi pantugur dalam upacara wara di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan? (3) Bagaimana makna filosofi pantugur dala ,m upacara wara di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan? Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah; observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Teori-teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah; (1) Teori religi (2) Teori fungsional struktural dan (3) Teori interaksi simbolik. Subjek penelitian ini adalah tokoh keagamaan Hindu dan rohaniawan. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa komponen yang dapat dikaji dan penyajian hasil meliputi pantugur merupakan perwujudan jasmani dari leluhur yang diupacarakan dan wajib untuk dihargai keberadaanya sebagai bentuk cinta kasih dari keluarga yang melaksana. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa proses pembuatan pantugur yang dikaji menggunakan teori religi menghasilakn kesimpulan meliputi : (1) pencarian bahan pantugur (2) bentuk pantugur(3) pelakasanaan ritual saki pilah (4) tahap pemasangan pantugur. Fungsi yang terkandung dalam pantugur yang didukung dengan teori funsional struktural menghasilkan kesimpulan : (1) fungsi religius (2) fungsi sosial (3) fungsi budaya (4) fungsi adat. Makna filosofi yang terkandung pada pantugur yang dikaji menggunakan teori interaksi simbolik menghasilkan kesimpulan yang meliputi : (1) makna religius (2) makna budaya (3) makna simbolik (4) makna kehidupan. Kata Kunci: filosofi, pantugur, upacara wara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
MAYA, 2023, Filosofi Mempelai Duduk Di Atas Gong Dalam Perkawinan Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Bukit Batu Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur (Perspektif Hukum Hindu) Skripsi. Fakultas Dharma Sastra. Prodi Hukum Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri “Tampung Penyang” (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (I). Mariatie, S.Ag.,M.Si. Pembimbing (II). Dede Suryanto, MH. Perkawinan menurut ajaran agama Hindu Kaharingan yaitu keinginan dalam menjalankan kehidupan, mereka mampu untuk menjalani kehidupannya guna membangun rumah tangganya dalam sebuah rumah yang besar menjadi rumah tangga yang bahagia dan sejahtera. Masalah yang diteliti : (1). Bagaimana filosofis mempelai duduk di atas gong dalam perkawinan masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Bukit Batu Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur (Persepektif Hukum Hindu) ? (2) Apakah akibat bila mempelai tidak duduk di atas gong dalam perkawinan masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Bukit Batu Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur (Persepektif Hukum Hindu)? Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah tersebut adalah Teori Simbol dan Teori Sebab Akibat (kausalitas). Subjek penelitian ini adalah Umat Hindu Kaharingan, Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan, Tokoh Umat Hindu Kaharingan, Mantir Adat Desa Bukit Batu, dan Pisor. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Data dianalisis dengan metode kualitatif dengan Langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan kesimpulan dan verifikasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Filosofi mempelai duduk di atas gong dalam perkawinan masyarakat Hindu Kaharingan Di Desa Bukit Batu Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur adalah sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan berumah tangga dan sebagai tempat bersandar dalam memelihara ikatan perkawinan agar tidak terpisahkan sampai maut memisahkan, karena dalam konsep ajaran perkawinan Nyai Endas Bulau Lisan Tingang adalah Nyamah Hentang Tulang Ije Sandung Mantang artinya ikatan perkawinan bagi masyarakat Hindu Kaharingan tak dapat dipisahkan sampai dunia akhirat tetap satu tempat/rumah/sandung. (2) apabila kedua mempelai tidak duduk di atas gong yaitu akan berdampak pada kehidupan kedua mempelai dalam berumah tangga yaitu kurang harmonis, kurang membawa berkah terhadap kehidupan mereka berdua akan tetapi juga tidak terlalu fatal akibatnya karena menyesuaikan sistem perkawinannya menurut masyarakat desa setempat sistem perkawinan ada dua hal yang dilakukan yaitu perkawinan Kicak Kacang dan Ritual Perkawinan yang selengkapnya menggunakan hewan kurban babi/sapi. Perbedaan tatacara perkawinan biasanya ada tingkatan yang pertama kalau dilaksanakannya menggunakan hewan kurban yaitu babi wajib dilaksanakan duduk di atas gong, sedangkan kalau hanya menggunakan ayam hanya duduk di tikar putih tidak memegang kayu Sawang Untung dikatakan perkawinan Kicak Kacang. Kata Kunci : Filosofi, Mempelai Duduk Di Atas Gong, Perspektif Hukum Hindu
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelek Rujin Pangawin adalah tata cara atau persyaratan yang harus dipenuhi pada saat pelaksanaan upacara perkawinan, baik sebelum pelaksanaannya maupun disaat upacara perkawinan itu dilaksanakan serta awal mulanya kehidupan berumah tangga termasuk di dalamnya ada Jalan Adat yang harus dibayar oleh seorang laki-laki terhadap perempuan dan keluargannya. Pelek Rujin Pangawin dilaksakan agar kehidupan kedua mempelai mudah rejeki, panjang umur, bahagia dan sejahtera. Berdasarkan latar belakang di atas, maka pada penelitian ini terdapat tiga perumusan masalah dalam skripsi ini adalah; (1) Bagaimanakah Mitologi Pelek Rujin Pangawin pada upacara perkawinan umat agama Hindu Kaharingan di Kelurahan Tehang Kecamatan Manuhing Raya Kabupaten Gunung Mas. (2) Bagaimanakah proses pelaksanaan Pelek Rujin Pangawin pada upacara perkawinan umat agama Hindu Kaharingan di Kelurahan Tehang Kecamatan Manuhing Raya Kabupaten Gunung Mas. (3) Bagaimanakah makna Filosofi Pelek Rujin Pangawin pada upacara perkawinan umat agama Hindu Kaharingan di Kelurahan Tehang Kecamatan Manuhing Raya Kabupaten Gunung Mas. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah; observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Teori-teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah Teori Religi dan Teori Simbol. Subjek penelitian ini adalah Tokoh keagamaan Hindu dan Umat Hindu Kaharingan Kelurahan Tehang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan prosesi perkawinan memiliki makna simbolik, dimana simbol-simbol tersebut mempunyai makna dan fungsi masing yang saling berkaitan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Ngaju. Simbol-simbol tersebut selalu mempunyai peranan dan sebagai petunjuk bagi para penganutnya
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
SELTA MARIA LOSA, 2022, Makna Upacara Ngalangkang Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Di Desa Payang Ara Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara (Perspektif Hukum Hindu) Skripsi. Fakultas Dharma Sastra, Prodi Hukum Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (I). Dra. Ni Made Ratini, M.Si. Pembimbing (II) Dr. Ni Nyoman Rahmawat S.Ag.,M.Si. Upacara Ngalangkang merupakan upacara ritual kematian yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan di Desa Payang Ara Kecamatang Gunung Timang Kabupaten Barito Utara. Masalah yang diteliti: (1). Bagaimana proses upacara Ngalangkang pada masyaraka Hindu Kaharingan di Desa Payang Ara Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara. (2). Apa makna filosofis sarana-sarana yang digunakan dalam pelaksanan Upacara Ngalangkang Di Desa Payang Ara Kecamatan Gunung Timang Kubupaten Barito Utara. (3). Apa saja pantangan dan larangan pada upacara Ngalangkang dan apa akibatnya bila dilanggar. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Religi, Teori Simbol dan Teori Sebab Akibat (Kausalitas). Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan Studi Kepustakaan. Teknik analisis data dalam penelitian ini mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan Penarikan Kesimpulan/Verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Proses pelaksanaan upacara Ngalangkang dilaksanakan Basarah untuk memohon perlindungan kepada Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa). Mempersiapkan ancak dalam upacara Ngalangkan sangat penting yaitu pertama kita menyiapkan ancak dan kemudian dialaskan dengan daun pisang sebagai lapik ancak dan menyiapkan sarana dan prasarana yang diletakan di dalam ancak. Dilanjutkan dengan pengantaran ancak kekuburan yang dilakukan oleh keluarga dan tukan balian, sesampai dikuburan ancak yang sudah dibawa akan diletakan diatas kuburan, lalu tukan balian memengang Odak mandru menggunakan tangan sebelah kiri dan memukul diatas kuburan sampai 7 kali untuk memanggil Liau, tukan balianin mengucapkan Papat Mamang untuk memberikan makan kepada Liau, selanjutnya tukan balian memukul lagi diatas kuburan sampai 7 kali untuk mengembalikan Liau tersebut. Apabila ancak sudah diantar kekuburan, sesampai dirumah dilaksanakan Pander jampa untuk “penempong pali artinya supaya kita yang masih hidup, apabila ingin melaksanakan acara baik tersebut misalnya seperti pernikahan atau bokas tidak dikenakan pali mara (2). Makna filosofi sarana dan prasarana yang digunakan adalah untuk persembahan kepada Liau atau korban suci yang ditujukan kepada roh-roh para leluhur karena merakalah yang membuat kita ada di dunia hingga kita dewasa. (3). pantangan dan larangan dilanggar akan ada saksi dan akibatnya dari semua pantangan dan larangan tersebut, karena apa bila dilanggar akan mendapatkan denda yang begitu besar yaitu 7 antang setara senilai uang Rp.700.000 itu yang akan dibayar apa bila semua itu terjadi pada saat perlaksanaan upacara Ngalangkang berlangsung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mentili, 2022, Filosofi Upacara Na’ah Uroy Hindu Kaharingan Di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya Skripsi Strata satu Program studi Filsafat Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I: Prof. Drs I Ketut Subagiasta, M.Si.,D.Phil dan Pembimbing II: Dr. Ervantia Restulita L, Sigai,SS.,M.Si. Upacara Na’ah Uroy merupakan rangkaian upacara tahunan yang dilaksanakan umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Upacara ini dilaksanakan sebagai ungkapan permohonan kepada Mohotara Labata Dilang Sangumang (Tuhan Yang Maha Esa) beserta manifestasinya pada saat masa bertani agar diberikan kesuburan pada benih padi. Berdasarkan latar belakang terdapat tiga rumusan masalah yang dikaji :(1) Bagaimanakah pelaksanaan upacara Na’ah Uroy ? (2) Bagaimana fungsi upakara pada upacara Na’ah Uroy ? dan (3) Bagaimana nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam upacara Na’ah Uroy ? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan, fungsi upakara dan nilai-nilai filosofis upacara Na’ah Uroy. Untuk membedah masalah penelitian menggunakan kajian pustaka, konsep dan beberapa teori : (1) Teori religi, (2) Teori fungsionalisme struktural dan (3) Teori interaksionisme simbolik. Metode yang digunakan metode kualitatif yang dilengkapi dengan data kuantitatif dan kualitatif. Lokasi penelitian Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik : (1) Observasi, (2) wawancara, (3) studi kepustakaan dan (4) studi dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah Tokoh agama, Wasy, Kepala Adat dan Tokoh masyarakat. Hasil dari penelitian: (1) Na’ah Uroy diawali pelaksanaan upacara, tempat dan waktu, aturan dan larangan, memimpin pelaksanaan, orang yang melaksanakan dan tujuan upacara Na’ah Uroy, (2) fungsi upakara fungsi religius, fungsi sosial, fungsi etika, dan fungsi estetika, (3) nilai religi, nilai sosial, nilai etika, nilai estetika, dan nilai filosofis. Dimana ketaatan dalam melaksanakan sembahyang maupun persembahan upacara yang ditunjukan kepada Mohotara Lobata Dilang Sangumang (Tuhan Yang Maha Esa) merupakan aplikasi dari perilaku yang taat dalam kehidupan yang bernuansa religius yang menghantarkan pada suasana kehidupan yang tentram lahir batin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Erna, 2022, Makna Filosofis Kahing Pali Pada Upacara Perkawinan Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Bondang Kecamatan Laung Tuhup Kabupaten Murung Raya. Skripsi Strata Satu Program Studi Filsafat, Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I: Dr. I Wayan Salendra, S. Ag., M. Si dan Pembimbing II: Dr. Tardi Edung, S. Ag., M. Ag. Kahing Pali merupakan sebuah tahapan yang dilakukan sebelum upacara perkawinan, diyakini memiliki makna pada setiap sarana dan proses pelaksanaannya. Latar belakang terjadinya pembagian Kahing Pali yaitu adanya niat ingin hidup berumah tangga secara tulus dan ikhlas (saling mencintai satu sama lain), adanya kasus penggrebekan atau penangkapan pasangan (laki-laki dan perempuan secara diam-diam) di suatu tempat tanpa sepengetahuan kedua keluarga tersangka, dan adanya kasus hamil di luar nikah (hamil duluan). Permasalahan dalam penelitian yaitu: bagaimanakah pelaksanaan Kahing Pali pada upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Bondang, apakah makna filosofis dari Kahing Pali pada upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Bondang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pelaksanaan dan makna filosofis Kahing Pali yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan. Subjek penelitian yaitu Basi (rohaniawan Hindu Kaharingan), tokoh adat, tokoh agama Hindu (guru) dan masyarakat Hindu Kaharingan. Sedangkan objek penelitian di sesuaikan dengan rumusan masalah yang diteliti. Metode pengumpulan data penelitian yaitu: metode observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Data yang terkumpul dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: (1) Tahapan yang dilakukan sebelum membagikan Kahing Pali pada upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan yaitu : Kumpur Hopakat, pembagian Kahing Pali, dan Nyuru Kisok. (2) Makna filosofis Kahing Pali pada upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan memiliki memiliki sebuah makna yaitu filosofis dan religius. Makna filosofis dan religius dalam Kahing Pali pada upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Bondang adalah bentuk nyata yang ditampilkan sebagai suatu sarana-prasarana pada saat proses pelaksanannya. Kata Kunci : Kahing Pali, Perkawinan, Makna Filosofis, Umat Hindu Kaharingan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Crisno. 2021. Habukung Dalam Upacara Kematian Pada Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Kajian Sosio-Filosofis). Pembimbing I, Nyoman Sarma, S.Ag.,M.Fil.H dan Pembimbing II, I Gusti Agung Dharmawan, S.Pd.H.,M.Pd Habukung merupakan bentuk tarian Sakral, Habukung dilaksanakan dengan bebagai macam jenis dan bentuk, Habukung memiliki tujuan khusus yaitu roh (Ganan Bukung), akan dijadikan pembantu (Jipen) bagi roh orang yang meninggal (Liau) pada saat perjalanan menuju surga (Lewu Tatau). Habukung yang memiliki nilai leluhur, yang harus dijaga dan dilestarikan sehingga para generasi penerus khusunya bagi umat Hindu Kaharingan selanjutnya tetap berpegang teguh mempertahankan keyakinan dan kepercayaan mereka terhadap tradisi-tradiri leluhur. Berdasarkan latar belakang, maka pada penelitian ini terdapat tiga perumusan masalah dalam skripsi ini yaitu: (1) Bagaimanakah mitologi Habukung dalam upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan; (2) Bagaimanakah bentuk pelaksanaan Habukung dalam upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan; (3) Bagaiman makna sosio-filosofis Habukung dalam upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah; observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Teori-teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini adalah; (1) Teori Mitologi; (2). Teori Religi; (3). Teori Intraksionalisme Simbolik. Penelitian tentang Habukung dalam upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan, penulis menggunakan metode pengumpulan data yaitu: Observasi, Kepustakaan, Dokumentasi, Wawancara. Subjek penelitian ini adalah tokoh keagamaan Hindu Kaharingan dan rohaniawan. Hasil penelitian ini adalah: (1). Mitologi Habukung dalam upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan dan tujuan pelaksanaan; (2). Bentuk pelaksanaan Habukung yang masuk dalam beberapa bagian yaitu: proses pelaksanaan Habukung, sarana dan prasarana yang digunakan, jenis dan bentuk dari topeng Bukung, dan pantangan yang terdapat pada pelaksanaan Habukung; (3). Makna sosio-filosofis Habukung yang termasuk dalam beberapa bagian yaitu: makna etika, makna religius, makna sosial dan makna filsafatnya. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Habukung dalam upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kalemei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Kajian Sosio-Filosofis) merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh nenek moyang pada zaman dulu, bertentuk tarian Sakral dan memiliki roh (Ganan Bukung), tujuannya, roh (Ganan Bukung) akan dijadikan pembantu (Jipen) bagi roh orang yang meninggal dunia (Liau), pada saat perjalanan menuju surga (Lewu Tatau).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Upacara Mandung merupakan rangkaian upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan, sebagai wujud bakti dan cinta kasih kepada anggota keluarga yang sudah meninggal, upacara Mandung hanya boleh dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan. Adapun permasalahan dalam penilitian ini yaitu bagaimana pelaksanaan tata cara upacara Mandung, apa fungsi pelaksanaan tata cara upacara Mandung dan apa makna filosofis pelaksanaan tata cara upacara Mandung pada umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan tata cara upacara Mandung, fungsi pelaksanaan tata cara upacara Mandung dan makna filosofis upacara Mandung pada umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Teori yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu teori religi, teori fungsional struktural dan teori interaksionalisme simbolik Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini lokasi di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Jenis data dalam penelitian ini, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Sumber data yaitu Sumber data primer sumber. Sedangkan instrument peneliti sendiri. Tehnik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi sedangkan teknik analisa data menggunakan deskriptif kualitatif. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Pelaksanaan tata cara upacara Mandung pada umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya yaitu ada beberapa tahapan yaitu: Tahap persiapan pelaksanaan tata cara upacara Mandung, tahap Pelaksanaan tata cara upacara Mandung dan tahap akhir pelaksanaan tata cara upacara Mandung. 2) Fungsi pelaksanaan tata cara upacara Mandung yaitu fungsi sosial yaitu manusia sebagai mahluk sosial, dimanapun keberadaaannya tidak terlepas dari kehidupan orang lain. Manusia di ciptakan tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya interaksi dengan dengan yang lainnya dan fungsi religius pelaksanaan tata cara upacara Mandung yaitu untuk membersihkan dan mensyucikan Liau Haring dari segala perbuatan yang dibuatnya semasa hidup di dunia sehingga Liau Haring tersebut dapat menuju Lewu Telun Sengumang dan Liau Haring tidak lagi menggangu anak cucu yang di tinggalkan, sehingga anak cucu yang di tinggalnya dapat hidup dengan tenang dan mendapat rejeki di kemudian hari. 3) Makna filosofis tata cara upacara Mandung yaitu untuk mengantar Liau Haring menuju Lewu Telun Sengumang dengan melaksanakan upacara Mandung untuk membersihkan, membuang sial dan membebaskan ikatan dari yang meninggal tersebut karena kalau belum dilaksanakan upacara Mandung tentunya yang hidup masih terikat dengan yang meninggal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2017•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang merupakan salah satu upacara sebagai media atau jalan bagi umat Hindu Kaharingan untuk memohon perlindungan, kesehatan, keselamatan, kebahagian, kesuksesan dan ungkapan syukur serta ucapan terima kasih dan cinta kasih kepada Ranying Hatalla beserta manifestasi-Nya. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1. Bagaimana pelaksanaan upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang di Desa Takaras Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas? 2. Apa fungsi upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang di Desa Takaras Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas? 3. Bagaimana filosofi upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang di Desa Takaras Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas? Tujuan penelitian yaitu untuk mendapat data yang akurat tentang pelaksanaan upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang.
Konsep yang diajukan adalah Filosofi, Upacara, Pakanan Sahur, Mampendeng Sangkai Kambang. Teori yang digunakan teori religi, teori fungsional structural dan teori interaksionalisme simbolik. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif yakni penelitian di lapangan. Teknik penentuan informan dalam penelitian dilakukan secara snow ball sampling “bola salju” yaitu secara bertahap. Sumber data yaitu data primer dan data skunder dengan subjek penelitian Basir, Tukang Sangiang dan tokoh agama Hindu Kaharingan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu melalui proses reduksi data, penyajian data,
penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Berdasarkan hasil analisi data penelitian yang dilandasi teori dan konsep dapat disimpulkan bahwa. Pelaksanaan upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang melalui beberapa tahap yaitu persiapan (baramu) dan membuat Sangkai Kambang, Narinjet beras paturun Sangiang, mempersiapkan sarana dan prasarana, Puncak (tabuh) upacara, Pabuli Sangiang dan tiga hari kemudian dilaksanakan upacara ngarak meja. Fungsi melaksanakan upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang merupakan suatu alat yang membantu umat Hindu Kaharingan untuk melaksanakan konsentrasi pikiran atau pemusatan pikiran dalam mengadakan hubungan dengan Ranying Hatalla dan sesama manusia. Filosofi upacara Pakanan Sahur Mampendeng Sangkai Kambang berawal dari nenek moyang zaman dahulu yaitu Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun yang melaksanakan upacara tersebut karena mereka berdua sudah mendapatkan seperti apa yang mereka kehendaki.