EKSISTENSI SENI KRIYA KATUPAT INDU SANGOMANG PADA UPACARA KEAGAMAAN HINDU KAHARINGAN DI DESA GUHUNG KECAMATAN MANUHING KABUPATEN GUNUNG MAS
Kehadiran Seni kriya Katupat Indu Sangomang pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan memiliki makna, fungsi dan tujuan tersendiri. Dalam praktiknya Penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi penurunan eksistensi seni kriya Katupat Indu Sangomang akibat minimnya minat serta pemahaman generasi muda Hindu Kaharingan di Desa Guhung terhadap bentuk, makna, dan keterampilan pembuatannya. Berikut rumusan masalah dalam penelitian: 1). Bagaimana Eksistensi Seni Kriya Katupat Indu Sangomang pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan di Desa Guhung Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas? 2). Bagaimana bentuk seni kriya Katupat Indu Sangomang yang digunakan pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan di Desa Guhung Kecamatan Manuhing Kabupaten Gunung Mas? Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis eksistensi dan bentuk seni kriya Katupat Indu Sangomang pada upacara keagamaan Hindu Kaharingan di Desa Guhung, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi partisipan, wawancara terstruktur bersama tokoh agama (Basir/Pisor), pengurus majelis, guru, dan masyarakat, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1).Eksistensi Katupat Indu Sangomang tetap dipertahankan bentuk aslinya tanpa mengalami perubahan/inovasi sebagai sarana sakral (upakara) pada upacara Pakanan Sahur dan Balaku Untung. Kriya ini mengandung simbol keharmonisan (Tri Hita Karana), nilai spiritual, serta solidaritas sosial melalui semangat gotong royong. 2). Seni kriya Katupat Indu Sangomang terus eksis sebagai identitas budaya dan sarana keagamaan, namun memerlukan penguatan edukasi formal maupun nonformal bagi generasi muda guna menjaga keberlangsungannya dari ancaman perkembangan zaman. Kata Kunci: Katupat Indu Sangomang, Eksistensi Seni Kriya, Hindu Kaharingan, Upacara Keagamaan, Desa Guhung.