ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Risa Widya, 2025 Nilai Pendidikan Hindu Dalam Pelaksananaan Yadnya Sesa Umat Hindu Bali di Desa Lunuk Ramba Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Pembimbing I Mitro S.Pd., M.Si Pembimbing II Nyoman Sumarni, S.Ag, M.Si Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan Hindu yang terkandung dalam pelaksanaan Yadnya Sesa oleh masyarakat Hindu etnis Bali di Desa Lunuk Ramba, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas. Yadnya Sesa merupakan salah satu bentuk dalam ajaran Hindu yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Praktik keagamaan ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan yang mencerminkan ajaran filsafat Hindu, seperti nilai religius, etika, tanggung jawab sosial, serta keselarasan dengan alam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan tokoh agama Hindu setempat, serta dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Yadnya Sesa tidak hanya sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sarana edukasi religius yang diwariskan antar generasi. Nilai-nilai pendidikan Hindu yang muncul mencakup nilai religius (ketulusan dan keikhlasan dalam berbakti kepada Tuhan), nilai etika (penghormatan kepada leluhur dan alam), serta nilai sosial budaya (melestarikan tradisi dan membentuk sikap gotong royong). Dengan demikian, Yadnya Sesa berperan penting dalam membentuk karakter dan spiritualitas umat Hindu, serta memperkuat identitas budaya umat hindu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelaksanaan Basarah merupakan bagian penting dari kewajiban spiritual umat Hindu Kaharingan sebagai bentuk penghayatan terhadap ajaran agama. Strategi komunikasi persuasif Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan yang efektif dalam memotivasi umat mengikuti basarah dapat meningkatkan partisipasi umat mengikuti kegiatan basarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran strategi komunikasi persuasif yang digunakan oleh Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan untuk memotivasi umat Hindu Kaharingan mengikuti Basarah dan efektivitas dari strategi tersebut. Penelitian ini terdapat dua rumusan masalah dalam skripsi ini adalah; (1) bagaimanakah strategi komunikasi persuasif Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam memotivasi umat Hindu Kaharingan mengikuti basarah, (2) bagaimanakah efektivitas strategi komunikasi persuasif Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam memotivasi umat Hindu Kaharingan mengikuti Basarah. Penelitian ini menggunakan teori Retorika dan teori perubahan sikap. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Selanjutnya teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama strategi komunikasi persuasif yang digunakan oleh Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam memotivasi umat Hindu Kaharingan adalah menggunakan strategi Basarah giliran yang memuat kegiatan arisan, Sekolah Hari Kamis, dan strategi pelatihan yang terdiri dari pelatihan dharma wacana dan diskusi yang dianalisis menggunakan teori retorika. Kedua efektivitas strategi Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan dalam memotivasi umat mengikuti Basarah di Desa Reong terbukti efektif, dilihat dari semakin meningkatnya pemahaman dan pengalaman ajaran agama, dan meningkatnya partisipasi umat dalam mengikuti Basarah yang dianalisis menggunkakan teori perubahan sikap.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selvi Pebriyanti. 2025. Eksplorasi Pemahaman Umat Hindu Kaharingan Terhadap Persembahyangan Basarah Di Desa Danau Sadar Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. Skripsi Program Studi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I Komang Suarta, S.Ag., M.Si Pembimbing II Hendri, S.Ag., M.Si Persembahyangan Basarah adalah cara kita mendekatkan diri dengan Tuhan serta menguatkan Sradha dan Bhakti terhadap Ranying Hatalla (Tuhan). Sehingga dalam upaya untuk menumbuhkan Sradha dan Bhakti umat Hindu Kaharingan itu sendiri, hal ini diperlukan pemahaman yang benar terhadap persembahyangan Basarah sehingga dapat memahami secara baik dan sesuai dengan ajaran yang ada, maka dapat diuraikan rumusan masalah yang ada dalam penulisan ini yaitu: 1. Bagaimana eksplorasi pemahaman umat Hindu Kaharingan terhadap persembahyangan Basarah di desa danau sadar kecamatan dusun selatan kabupaten barito selatan ? 2. Apa kendala yang dihadapi umat Hindu Kaharingan terhadap persembahyangan Basarah di Desa Danau Sadar Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan ?. Penelitian ini bertujuan: 1. Untuk mendeskripsikan eksplorasi pemahaman umat Hindu Kaharingan terhadap persembahyangan Basarah di Desa Danau Sadar Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. 2. Untuk mendeskripsikan kendala yang dihadapi umat Hindu Kaharingan terhadap persembahyangan Basarah di Desa Danau Sadar Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Religius. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dengan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan metode deskriptif analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) bagaimana eksplorasi pemahaman umat Hindu Kaharingan terhadap persembahyangan Basarah di Desa Danau Sadar Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan adalah pemahaman umat Hindu Kaharingan terhadap persembahyangan Basarah masih sedikit rendah. (2) Apa kendala yang dihadapi umat Hindu Kaharingan terhadap persembahyangan Basarah di Desa Danau Sadar Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan adalah: a. Tidak pernah ada pembinaan terkait persembahyangan Basarah, b. Transportasi dan c. Kurangnya kesadaran diri. Kata Kunci: Eksplorasi Pemahaman, Umat Hindu Kaharingan, dan Persembahyangan Basarah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Andritio, 2025. Ritual Bahajat Pada Pasah Patahu Lewu Di Kelurahan Tumbang Miri Kabupaten Gunung Mas (Perspektif Pendidikan Agama Hindu), Prodi Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang IAHN-TP) Palangka Raya, Pembimbing I : Dr. I Gede Dharman Gunawan, SH., M.Pd.H Pembimbing II : Roy Wentas, M.Pd.H Ritual Bahajat pada Pasah Patahu Lewu di Kelurahan Tumbang Miri adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Umat Hindu Kaharingan karena adanya suatu niat atau keinginan maupun keyakinan terhadap roh leluhur yang dapat membantu umat manusia yang disebut dengan Sahur Parapah atau Sahur Lewu dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta Ranying Hatalla Langit, serta menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama manusia. Ritual Bahajat pada Pasah Patahu Lewu di Kelurahan Tumbang Miri adalah salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh Umat Hindu Kaharingan karena adanya suatu niat atau keinginan maupun keyakinan terhadap roh leluhur yang dapat membantu umat manusia yang disebut dengan Sahur Parapah atau Sahur Lewu dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta Ranying Hatalla Langit, serta menjaga keharmonisan dengan alam dan sesama manusia. Rumusan masalah yang diangkat yaitu : 1.Bagaimana proses pelaksanaan Ritual Bahajat pada Pasah Patahu Lewu di Kelurahan Tumbang Miri Kabupaten Gunung Mas? 2.Apa saja nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terdapat dalam Ritual Bahajat pada Pasah Patahu Lewu di Kelurahan Tumbang Miri Kabupaten Gunung Mas?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan Ritual Bahajat pada Pasah Patahu Lewu dan nilai-nilai yang terkandung. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Teori Religi, Teori Semiotika, dan Teori Nilai. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan lokasi penelitian di Kelurahan Tumbang Miri, Jenis dan sumber data yang digunakan : sumber data primer dan sekunder, Teknik penentuan informan yaitu Teknik purposive sampling, Teknik pengumpulan yang digunakan : metode observasi, metode wawancara dan studi dokumentasi, Instrumen penelitian dan Teknik analisis data yaitu : pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Penelitian yang dilakukan tentang Ritual Bahajat pada Pasah Patahu Lewu di Kelurahan Tumbang Miri memiliki beberapa proses pelaksanaan yaitu : 1.Tahap awal, 2.Tahap Inti, dan 3.Tahap Akhir, dan memiliki nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang terkandung didalamnya yaitu : 1.Nilai Pendidikan Tattwa, 2.Nilai Pendidikan Etika, 3.Nilai Pendidikan Upacara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
FILIPI. 2025: Peran Majelis Kelompok Dalam Pembinaan Basarah Umat Hindu Kaharingan Di Desa Benao Hilir Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara. Skripsi: Program Studi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I : Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag.,M.A Pembimbing II : Nyoman Sumarni, S.Ag.,M.Si Agama merupakan suatu kepercayaan/keyakinan setiap umat yang meyakini akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Agama juga merupakan pandangan hidup manusia untuk membawa kehidupan kedalam kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan, agama bukan saja mengatur tentang akhirat akan tetapi agama juga berperan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengarah pada terciptanya tiga kondisi, yaitu: peningkatan iman, pandangan isi kitab suci dan memelihara kehidupan beragama. Dapat dipahami bahwa Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan (MK-AHK) memiliki tugas dan tanggung jawab yang signifikan, terutama dalam membina umat dan memberikan pelayanan keagamaan salah satunya kegiatan basarah, yang merupakan bagian penting dari praktik spiritual umat Hindu Kaharingan. Berdasarkan Fenomena dilapangan meskipun Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan (MK-AHK) memiliki peran besar dalam membina umat, namun kesadaran beribadah umat khususnya di Desa Benao Hilir Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara masih cenderung rendah. Berdasarkan uraian tersebut maka terdapat tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) Bagaimana peran Majelis Kelompok dalam pembinaan basarah umat Hindu Kaharingan di Desa Benao Hilir Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara? (2) Apa saja kendala Majelis Kelompok dalam pembinaan basarah Umat Hindu Kaharingan di Desa Benao Hilir Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara? (3) Bagaimana upaya Majelis Kelompok dalam mengatasi kendala pembinaan basarah Umat Hindu Kaharingan di Desa Benao Hilir Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara?. Penulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami dengan jelas tentang: Peran Majelis Kelompok dalam Pembinaan basarah umat Hindu Kaharingan Di Desa Benao Hilir Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara. Teori yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis rumusan masalah adalah teori peran, teori kendala (theory of constraint) dan teori Tindakan sosial. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode deskriftif kualitatif, Jenis sumber data penelitiann yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder, teknik penentuan informan yaitu teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini yaitu pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian dimulai tanggal 17 Januari sampai 17 Februari 2025, dengan hasil penelitian yang diperoleh yaitu sangat baik karena Majelis Kelompok mampu meningkatkan kualitas diri baik pengetahuan, wawasan, menanamkan jiwa sosial, serta merancang strategi dalam memajukan umat dengan memberikan edukasi, penyesuaian jadwal basarah dan menyediakan konsumsi pada saat basarah. serta mengundang seluruh pengurus Majelis maupun umat untuk hadir pada rapat triwulan secara rutin agar selalu transparan serta mampu menjadi penengah dalam mengatasi masalah baik sesama pengurus maupun umat serta mampu meningkatkan dan menyadarkan sesama pengurus maupun umat untuk sadar akan pentingnya pelaksanaan basarah dengan berbagai strategi yaitu membuat arisan seluruh umat, membuat event-event atau lomba-lomba keagamaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Konsep Eksistensi Umat Hindu Kaharingan Dalam Melaksanakan Acara Basarah di Wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan Prespektif Pendidikan Agama Hindu menunjukan bahwa adanya kecenderungan belum mampu untuk mengelola beberapa rangkaian proses secara menyeluruh, efektif dan oftimal. Atas anggapan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian pada tiga asfek permasalahan yaitu yang pertama (1) bagaimanakah Eksistensi Umat Hindu Kaharingan dalam melaksanakan Acara Basarah Perspektif Pendidikan Agama Hindu, (2) bagaimana peran pendidikan formal, nonformal dan informal Umat Hindu di wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan, (3) apakah solusi yang di lakukan lembaga Agama agar Umat Hindu tetap eksis terhadap ajaran Agama di wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan? Teori yang di gunakan untuk mengkaji dan mendeskripsikan rumusan masalah penelitian tersebut ialah teori belajar humanistik, teori belajar sibernetik dan teori konstrukvisme. Adapun metode penelitian yang di gunakan ialah metode penelitian kualitatif. Data di peroleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumen. Selanjutnya data yang di peroleh di reduksi, di sajikan, dan di ambil suatu kesimpualannya. Penelitian ini juga, di lakukan dengan metode penelitian kualitatif. Dari hasil penelitian ini, (1) eksistensi Umat Hindu Kaharingan dalam melaksanakan acara Basarah sangat antusias dan aktif dalam melaksanakan persembahyangan basarah di wilayah Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katigan. (2) peran pendidikan formal, nonformal dan informal dalam hal pendidikan, anak-anak seperti SD, SMP dan SMA sangat paham tentang peran sebagai Umat Hindu yang terpelajar dan terpendidik baik dari segi pendidikan ataupun attitude di luar lingkungan sekolah. (3) solusi yang di lakukan oleh lembaga Agama Hindu adalah untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat Hindu itu sendiri, meningkatkan kualitas SDM, memberikan arahan terhadap Umat Hindu agar melakukan ibadah secara rutin walaupun pengurus agama berhalangan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRACT Septi. 2024. “Ritual Nahunan Pada Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Manangei Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan (Perspektif Pendidikan Agama Hindu). Prodi Pendidikan Agama Hindu. Fakultas Dharma Acarya. Pembimbing I Mitro, S.Pd.,M.Si dan Pembimbing II Nyoman Sumarni, S.Ag.M.,Si Skripsi ini mengkaji Ritual Nahunan pada umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Manangei Kecamatan Katingan Hulu Kabupaten Katingan (Persepektif Pendidikan Agama Hindu). Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan. Berdasarkan latar belakang tersebut, Skripsi mengkaji tentang (1) ritual nahunan umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Manangei. Teori yang digunakan tiga teori: 1) Teori religi, 2) Teori fungsionalisme structural dan 3) Teori interaksionisme. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif. Dengan teknik pengumpulan data, observasi, wawancara dan studi dokumen dan teknik analisis data yang digunakan. Pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang dikaji dengan teori yang digunakan ini menyatakan bahwa (1) Upacara ritual umat Hindu Kaharingan sangat unik, karena pada setiap daerah pelaksanaannya selalu berbeda-beda sesuai konsep desa, kala, patra. Dalam kepercayaan Hindu Kaharingan terdapat banyak sekali upacara-upacara ritual, salah satunya adalah ritual Nahunan yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan. Ritual Nahunan sudah dikenal turun-temurun oleh umat Hindu Kaharingan. Nahunan merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan yang tertuang dalam kitab suci Panaturan pasal 53. Nahunan berasal dari kata “nuhun” yang berarti turun. Dengan demikian upacara Nahunan adalah ritual pemberian Nama bagi bayi berusia satu bulan atau balita yang dibawa turun keluar rumah. Upacara Nahunan juga merupakan perwujudan dari Panca Yadnya, yaitu kurban suci yang ditujukan kepada para Dewa, Pitra dan Munusa atau proses balas jasa atau ucapan terimakasih kepada bidan dan ucapan syukur kepada Tuhan, para leluhur selama merawat dan melindungi bayi dan ibunya, sehingga mulai dari proses mengandung hingga melahirkan tidak mengalami gangguan dari berbagai penyakit dan pengaruh buruk. Nilai pendidikan yang terkandung dalam upacara nahunan salah satunya yaitu nilai budaya, nilai spiritual, nilai etika, dan nilai gotong royong.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
WARDIROY, 2024 : Ritual Ngayau Danum Menurut Tradisi Suku Dayak Di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Perspektif Hukum Hindu). Fakultas Dharma Sastra, Program Studi Hukum Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (1).Dra Ni Made Ratini, M.S.i. Pembimbing (II). Dr. Riwun, S.Ag., M.Si. Ritual Ngayau Danum adalah salah satu bentuk upacara Bhuta Yajna yang dilaksanakan oleh Umat Hindu Kaharingan jika ada yang meninggal dunia (mati) karena tenggelam di air (matei buseng). Ritual ini bertujuan untuk membalas dan mengakhiri musibah kematian yang disebabkan oleh kekuatan roh gaib yang sifatnya jahat yang ada di dalam air (Ganan Danum). Masalah yang diteliti (1) Bagaimana Proses Pelaksanaan Ritual Ngayau Danum Pada Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Perspektif Hukum Hindu)? (2) Apa Akibat Apabila Tidak Dilakukan Ritual Ngayau Danum Pada Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan? Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori religi dari E. Durkheim dan Koentjaraninggrat dan teori simbol dari Coulson dan Titib serta teori sebab akibat (kausalitas) dari Aristoteles dan Immanuel Kant. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ritual Ngayau Danum dilaksanakan selama dua hari satu malam, upacara MaNgayau Danum dilaksanakan pada tengah malam dimana ketujuh laki laki yang terpilih atau yang sudah ditenung yang melaksanakan atau MaNgayau Danum dengan cara menombak Kelapa sebagai simbol dari roh jahat di air yang menyebakan seseorang hingga meninggal yang dipandu oleh Pisor Leket Suman yang ada disana. Dasar Hukum pelaksanaan Ritual Ngayau Danum Pada Upacara Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Marak Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan (Perspektif Hukum Hindu) adalah Kitab Suci Panaturan pasal 32 tentang "Ranying Hatalla Janjaruman Akan Panakan Raja Bunu Auh Jalan Ewen Buli Haluli Manalih Iye". Adapun akibat dari tidak melaksanakan ritual Ngayau Danum ini yaitu keluarga duka atau masyarakat akan selalu dihantui dengan rasa takut atau was-was saat akan bepergian ke hutan, air, dan sebagainya. Karena jika ritual Ngayau Danum tidak dilaksanakan takutnya roh jahat (ganan danum) akan mengulangi perbuatannya lagi dengan membunuh keluarga atau keturunan yang meninggal ataupun masyarakat yang ada di Desa Tumbang Marak maka dari itu ritual Ngayau Danum harus dilaksanakan supaya memutuskan sial pada masyarakat dan keluarga atau keturunan yang meninggal. Dampak yang terjadi tidak hanya kepada keluarga yang meninggal saja tetapi juga kepada masyarakat yang berada di Desa tempat kejadian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dewi Puspita Sari, Ni Wayan. 2024. Etika Berbusana dalam Persembahyangan Umat Hindu di Pura Puseh Desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang (Perspektif Pendidikan Hindu). Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tamping Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Dr. Mujiyono, S.Ag.,M.Ag Pembimbing II Dr. Ni Wayan Gateri, S.Ag.,M.Ag Skripsi ini mengkaji tentang etika berbusana dalam persembahyangan umat Hindu di Pura Puseh Desa Basarang Jaya. Fenomena yang terjadi pada masyarakat Hindu pada saat persembahyangan di Pura Puseh banyak umat yang berpakaian kurang pantas terutama pada wanita yang cenderung menggunakan busana yang tipis/transparan, memperlihatkan bagian dada dan kamben yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan masalah etika yang kurang baik. Berdasarkan masalah tersebut peneliti mengkaji rumusan yakni: (1)Bagaimanakah mode berbusana dalam persembahyangan umat Hindu di Pura Puseh Desa Basarang Jaya? (2)Bagaimanakah perspektif pendidikan Hindu terhadap etika berbusana dalam persembahyangan umat Hindu di Pura Puseh Desa Basarang Jaya?. Penelitian ini mengkaji ilmu pengtahuan tentang etika dan pendidikan. Rumusan masalah dikaji menggunakan teori modernisasi, teori etika dan teori pendidikan Hindu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitafif yang menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Metode penentuan informan menggunakan proposive dengan metode pengumpulan data penelitian yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Terknik analisis data yang digunakan yaitu kondensasi data, penyajian data dan penarik kesimpulan. Berdasarkan pembahasan dan analisis dengan menggunakan teori menunjukan bahwa ada dua mode berbusana yang sering digunakan oleh umat Hindu di Desa Basarang Jaya dalam melakukan persembahyangan di Pura yaitu mode berbusana modern yang tampak modis tetapi kurang beretika (kurang santun) dan mode berbusana klasik. Analisis kedua mengkaji tentang persfektif pendidikan Hindu terhadap etika berbusana dalam persembahyangan dapat dilihat dari berbagai macam perspektif dan nilai-nilai pendidikan Hindu yang dikaji berdasarkan teori yang digunakan maka terdapat beberapa perspektif yaitu perspektif tattwa, perspektif etika, perspektif estetika dan perspektif sosial. Dalam mengetahui etika berbusana dalam persembahyangan di Pura harus mengetahui lebih dahulu tattwa yaitu ilmu yang mempelajari tentang hal tersebut, kemudian diterapkan dalam etika dengan tetap memperhatikan keindahan dari busana tersebut sehingga kegunaanya mampu memberikan dampak yang positif bagi orang sekitar. Sedangkan nilai pendidikan Hindu yaitu mengacu pada nilai material dan nilai spiritual/kerohanian yang meliputi nilai tattwa (kebenaran), nilai etika, nilai estetika (keindahan), nilai sosial dan nilai ekonomi. Kata Kunci : Etika Berbusana, Umat Hindu
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Santi Prestia, 2024. Ekistensi Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya, Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Pembimbing I Dr. Derson, S. Ag., M.Si. Dan Pembimbing II Megawati, S.Pi.,M.Pd.H. Ekistensi Umat Hindu Kaharingan yang ada di Desa Tumbang Naan semakin berkurang karena berbagai macam faktor. Berdasarkan hal tersebut maka dirumuskanlah rumusan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimana Eksistensi Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya.? 2) Apa Faktor Penyebab Kurangnya Eksistensi Umat Agama Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Rian Kabupaten Murung Raya? 3) Bagaimana Solusi Yang Dilakukan Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan Dalam Mempertahankan Eksistensi Di Desa Tumbang Naan Kecematan Murung Raya Kabupaten Murung Raya.? Teori dan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Fenomenologi, Teori Belajar Humanistik, Teori Belajar Sibernetik, dan ada beberapa metode penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian serta jenis lokasi dan waktu penelitian. Jenis dan sumber data yaitu data primer dan data sekunder teknik penentuan informan yaitu menggunakan. Teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara, dokumentasi dan instrumen penelitian teknik analisis data, seperti redukasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang Eksistensi Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya. Keberadaan Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Naan sangat menurun untuk beberapa tahun kedepan jika tidak adanya perhatian untuk memperbaiki sebuah tempat ibadah (Balai Basarah). Kerja sama antara umat dan pengurus Agama Hindu Kaharingan maka baik itu dari majelis kelompok, majelis daerah dan Majelis besar Agama Hindu Kaharingan, ada persatuan antara umat dan pengurus agama. Ada beberapa faktor penyebab kurangnya pengurusan agama karena adanya kendala transportasi dan kendala dari kesibukan, dengan demikian kurangnya pembinaan dari ketua majelis kelompok yang menyebabkan kurangnya kesadaran dalam mempertahankan keyakinan Agama Hindu. Adapun solusi yang dapat dilakukan untuk mengatsi permasalahan yaitu penambahan guru Agama Hindu dan membangun Pasraman lewat ketua majelis kelompok buat pemuda dan anak-anak dini supaya bisa mengenal lebih dekat ajaran Agama Hindu Kaharingan agar kedepannya supaya umat dan pemuda Kaharingan tidak semakin berkurang. Kata Kunci : Eksistensi Umat Hindu Kaharingan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelaksanaan Upacara Nahunan Mandui Pagar Manyang Pada Umat Hindu Kaharingan Di Desa Tumbang Oroi Kecamatan Manuhing Raya Kabupaten Gunung Mas
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK HardiYanto 2024: FilosofiTorasPada UpacaraKematianUmat Hindu Kaharingan Di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya, Pembimbing I Dr. Anak Agung Gede Wiranata, S. Ag., M.Ag dan Pembimbing II,I WayanSindiaGriya Danika, S.Kom., M.T Masyarakat Hindu Kaharingan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya dalamkesehariannyatidakterlepasdariupacarakeagamaan. DalampembahasaninipenelitimelakukanpenelitiantentangToraspadaupacarakematian yang merupakanupakarayang tidakdapatdihilangkandarikegiatankeagamaanumat Hindu Kaharingan di DesaKalasin. FungsiTorasadalahberbentukpatung yang sakral dan dipercayaisebagaisimbololeh umatHindu KaharingankarenaTorasmerupakanmewakilisosok orang yang sudahmeninggal dan mengantarkanjiwa orang matike-surga/Lewu Liau. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuimakna dan fungsiTorasdalamupacara, berdasarkanfenomenadapatmenjadipembelajaran dan pengetahuanbagikaummudadalammelestarikantradisisecaraturuntemurundidaerahmasing-masingsehinggatidakdihilangkan. Penelitianinimenggunakanteorireligi, teorifungsionalismestruktural dan teoriinteraksionalismesimbolik. Penelitianinimenggunakanmetodekualitatif. Penelitianinidilaksanakan di DesaKalasinKecamatanUutMurungKabupatenMurung Raya. Sumberdatanyayaitu primer dan sekunder, sedangkanteknikpengumpulandatanyameliputiobservasi, wawancara, dokumen dan studipustaka. Adapunhasilpenelitianinimenunjukanbahwa 1) proses pembuatanTorassebagaisaranaupacarakematianmelaluitahappersiapan dan bentukToras. 2). FungsiToraspada upacarakematianmelulaifungsisosialadalah proses interaksidenganlingkungansosial yang dimulaisejaklahir dan berakhirsetelahmeninggal. Fungsi religi adalahsistemkeprcayaan/keyakinankepadaTuhan, halmagis, 3). MaknafilosofiToraspada upacarakematianmelaluibeberapayaitu, maknaToraskepercayaanumatHindu KaharinganbahwaTorasmerupakan salah satubentukpenghormatanterakhir dan cintakasihkepada orang yang sudahmeninggal, sebagaibentuk bhakti kepadaleluhurataukepada orang yang sudahmeninggal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
SEPRI HARYONO, 2024, Kinyah Anak Liau Dalam Ritual Kematian Umat Hindu Kaharingan di Desa Telok Kabupaten Katingan, Pembimbing I Komang Suarta,S.Ag.,M.Si Pembimbing II Roy Wentas,M.Pd.H Era Globalisasi banyak membawa dampak perubahan mulai dari tatanan sampai pola kehidupan masyarakat, sehingga menyebabkan banyak tantangan yang harus dihadapi terutama bagi umat Hindu Kaharingan dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan ajaran yang terkandung di dalam ajaran agama. Salah satunya dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok melaksanakan kinyah anak liau yang sekarang tidak pernah dilaksanakan lagi. Rumusan masalah: 1. Bagaimana bentuk kinyah anak liau dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok Kabupaten Katingan. 2. Apa fungsi dari kinyah anak liau dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok Kabupaten Katingan. 3. Apa nilai pendidikan yang terkandung pada kinyah anak liau dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok Kabupaten Katingan. Bertujuan untuk mengetahui: bentuk dari kinyah anak liau dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok Kabupaten Katingan, untuk mengetahui fungsi dari kinyah anak liau dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok Kabupaten Katingan dan untuk mengetahui nilai pendidikan yang terkandung pada kinyah anak liau dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok Kabupaten Katingan. Teori digunakan teori semiotika, teori nilai dan teori pendidikan klasik. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dan kualitatif, tempat penelitian di Desa Telok Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan, Teknik penentuan informan snowball sampling, teknik pengumpulan data: observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian menunjukkan: Bentuk pelaksanaan kinyah anak liau terjadi karena kesepakatan yang dilakukan oleh para nenek moyang atau leluhur zaman dulu, dan pelaksanaannya dasar pelaksanaannya berdasarkan wahyu tuhan yang tertuang dalam kitab suci Panaturan dan dalam pelaksanaan kinyah anak liau dijadikan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun pada ritual kematian oleh anak cucunya berdasarkan garis keturunannya, dan dalam pelaksanaan Kinyah anak liau dalam ritual kematian umat Hindu Kaharingan di Desa Telok terdapat dua fungsi yaitu fungsi estetika dan religius, yang jika dilihat fungsi religius terdapat pada sudut pandang bentuk anak liau dan dalam pelaksanaan kinyah anak liau, kinyah anak liau mempunyai nilai-nilai yang terkandung di dalam pelaksanaannya mulai dari perilaku moral, ekspresi estetika dan sosial politik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Prengki, 2024. Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat di Desa Karetau Sarian Kecamatan Damang Batu Kabupaten Gunung Mas Pembimbing I Suwito, S.Ag.,M.Si Pembimbing II Megawati,M.Pd.H Upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat ini merupakan upacara dalam bentuk pemujaan dengan menghanturkan mantra-mantra suci yang dilaksanakan oleh tukang tawui atau orang yang paham tentang upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat dan ditujukan kepada Sahur Parapah, leluhur serta Ranying Hatalla Langit untuk mendapatkan kesuksesan, keselamatan, rejeki kesehatan serta kemakmuran. Rumusan masalah yang diangkat yaitu : 1. Apa yang Melatarbelakangi Pelaksanaan Upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat Di Desa Karetau Sarian Kecamatan Damang Batu Kabupaten Gunung Mas? 2. Bagaimana Proses Pelaksanaan upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat Di Desa Karetau Sarian Kecamatan Damang Batu Kabupaten Gunung Mas? 3. Apa nila-nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat Di Desa Karetau Sarian Kecamatan Damang Batu Kabupaten Gunung Mas?. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami apa yang melatarbelakangi upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat, proses pelaksanaan dan nilai-nilai yang tekandung. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Teori Religi, Teori Fenomenologi, dan Teori Nilai. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan lokasi penelitian di Desa Karetau Sarian, Jenis dan sumber data yang digunakan : sumber data primer dan sekunder, teknik penentuan informan yaitu teknik purposive, teknik pengumpulan data yang digunakan : observasi, wawancara, dan dokumentasi, instrument penelitian kualitatif teknik analisis data yaitu : pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Penelitian yang dilakukan tentang upacara Pakanan Sahur Nyarukui Tanolom Nganyah Hajat di Desa Karetau Sarian memiliki latar belakang yaitu : sebagai tanda ucapan syukur kepada leluhur karena telah memberikan perlindungan anugerah semasa hidupnya, memiliki beberapa proses pelaksanaan : 1. Tahapan Persiapan, 2. Tahapan Pelakasanaan, dan Tahapan akhir, yang memiliki nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang terkandung didalamnya yaitu nilai : 1. Nilai Pendidikan Tattwa, 2. Nilai Pendidikan Susila, dan 3. Nilai pendidikan Upacara
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Upacara Aruh Buntang Mamali Mate merupakan suatu upacara kematian tingkat akhir yang dilaksanakan oleh umat hindu kaharingan di Desa Kaong Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong. upacara ini ditujukan untuk menghantarkan roh leluhur ke alam berikutnya atau menyatu dengan tuhan.Adapun rumusan masalah yang dapat diangkat oleh peneliti yaitu: 1. Bagaimana Bentuk Pelaksanaan Upacara Aruh Buntang Mamali Mate Di Desa Kaong Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong? 2. Apa Fungsi Dari Upacara Aruh Buntang Mamali Mate di Desa Kaong Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong? 3. Apa Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu yang Terkandung Dalam Upacara Aruh Buntang Mamali Mate?. Peneilitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami bentuk pelaksanaan dari upcara Aruh Buntang Mamali Mate, fungsi dan nilai-nilai yang terkandung. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori Fenomenologi, Fungsionalisme, Interfretatif simbolik, dan teori Taksonomi Bloom. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan lokasi penelitian di Desa Kaong, jenis dan sumber data yang digunakan: suber data primer dan data skunder, teknik penentuan informan yaitu Teknik purposive, teknik pengumpulan data yang digunakan: obsrvasi, wawancara, dan dokumentasi, instrument penelitian kualitatif teknik analis data yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Dari penelitian yang dilakukan tentang upacara Aruh Butang Mamali Mate di Desa Kaong yaitu dalam pelaksanaannya memiliki beberapa tahap: 1. Persiapan, 2. Pelaksanaan, dan 3. Tahap akhir yang memiliki fungsi: 1. Menjaga hubungan harmonis dengan leluhur dan tuhan, 2. Menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia, 3. Menjaga hubungan harmonis dengan alam. Selain mempunyai fungsi upacara kematian Aruh Buntang Mamali Mate juga dalam nilai-nilai Pendidikan agama Hindu yaitu: 1. Tattwa adanya kepercayaan terhadap Tuhan/Brahman sebagai sumber dari Atman serta menghantarkan roh ke alam berikutnya atau menyatu dengan Tuhan , 2. Susila adanya persembahan sebagai bentuk bakti untuk membayar hutang bkepada leluhur, dan 3. Upacara adanya keterampilan atau kreatifitas yang terlihat unik serta indah dalam tarian-tarian serta sarana dan prasarananya .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK RUSITA, 2023, Pendidikan Prenatal Pada Upacara Nyaki Dilit Umat Hindu Kaharingan Dayak Ot Danum Di Desa Tumbang Naan Kabupaten Murung Raya Skripsi. Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP). Palangka Raya Pembimbing (I). Suwito, S.Ag.,M.Si. Pembimbing (II). Komang Suarta, S.Ag.,M.Si. Pendidikan Prenatal Pada Upacara Nyaki Dilit Umat Hindu Kaharingan Dayak Ot Danum memilki peran yang sangat penting yaitu: Umat Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah pada umumnya mempunyai berbagai macam pelaksanaan upacar agama sesuai dengan daerah aliran saungai masing-masing atau sesuai dengan daerah aliran sungai (DAS). Ritual Agama Hindu Kaharingan Khususnya di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya tidak terlepas dari masyarakat yang beragama Hindu Kaharingan dalam melaksanakan ritual keagamaan Hindu Kaharingan itu sendiri. Umat Hindu Kaharingan selalu kental dengan ritual-ritual yang kaya akan budaya dan yang patut untuk di lestarikan. Salah satunya adalah upacara Nyaki Dilit pada umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya. Penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori religi, teori makna, dan teori pendidikan klasik. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian skripsi ini mencakup 3 (tiga) hal yaitu : (1) Bagaimana proses pelaksanaan upacara Nyaki Dilit menurut Hindu Kaharingan Dayak Ot Danum di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya?. (2). Apakah makna yang terkandung pada upacara Nyaki Dilit umat Hindu Kaharingan Dayak Ot Danum di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya?. (3). Bagaimana pendidikan prenatal pada upacara Nyaki Dilit menurut Hindu Kaharingan Dayak Ot Danum di Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam Kabupaten Murung Raya?. Penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori religi menurut koentjraraningrat dengan tiga pendekatan yaitu (1) teori religi yang dalam pendekatan berorientasi kepada keyakinan, (2) teori religi yang dalam pendekatan berorientasi kepada sikap manusisa terhadap dalam alam gaib atau hal-hal yang bersifat gaib, dan (3) teori religi yang dalam pendekatan berorientasi kepda uapacara religi yang mana teori religi ini didukung oleh teori makna yang dikembangkan oleh piliang dan teori pendidikan klasik menurut jonh locke. Berdasarkan hasil penelitian upacara Nyaki Dilit yaitu terdapat bebrapa tahapan yaitu: (1) rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam melaksanakan upacara nyaki dilit, persiapan pelaksanaan upacara Nyaki Dilit dan mencari serana dan prasarana, (2) makna yang terkandung pada upacara Nyaki Dilit umat Hindu Kaharingan dayak ot danum di desa tumbang naan (1) arti setiap kalimat, (2) maksud pembicaraan atau tulisan (Wendi, 2005 : 45). Kata makna sangat berkaitan dengan kata bentuk dan fungsi dari suatu. “kata bentuk berarti system, susunan kalimat mantra Nyaki Dilit, fungsi berarti kegunaan Nyaki Dilit. proses upacara Nyaki Dilit di awali dengan penyiapan sarana dan prasarana yang digunakan pada upacara Nyaki Dilit dilanjutkan dengan mantra yang digunakan pada pelaksanaan upacara Nyaki Dilit, pendidikan prenatal pada upacara Nyaki Dilit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Reza Ajintia, 2023 Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Penggunaan Sarana Bea Rensek Upacara Kematian Umat Hindu Di Desa Tanjung Jawa Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan Pembimbing I Dr. Derson, S.Ag.,M.Ag Pembimbing II Hendri, S.Ag.,M.Si Agama Hindu Kaharingan masih sangat kental akan tradisi dan upacara keagamaannya, dimana tradisi dan upacara keagamaan itu mengandung nilai-nilai religius. Salah satunya upacara kematian menurut ajaran Agama Hindu Kaharingan merupakan suatu takdir yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa/Ranying Hatalla dan menjadi jalan terakhir seseorang untuk membebaskan diri dari jeratan dan tekanan kehidupan. Kondisi yang terjadi di lapangan bertolak belakang atau terjadi celah (ketidak sesuaian) antara kondisi ideal yang diharapkan. Sehingga berdasarkan fenomena di atas dalam penelitian ini ada tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain: (1) Bagaimana proses pelaksanaan sarana Bea Rensek Upacara Kematian Umat Hindu Di Desa Tanjung Jawa Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan, (2) Apakah fungsi sarana Bea Rensek Upacara Kematian Umat Hindu Di Desa Tanjung Jawa Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan, (3) Apakah Nilai-Nilai Pendidikan yang terkandung dalam penggunaan sarana Bea Rensek Upacara Kematian Umat Hindu Di Desa Tanjung Jawa Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. Metode penelitian ini adalah metode Deskriptif Kualitatif, dengan jenis data kualitatif. Teknik penentuan informan yaitu teknik purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik: Observasi, wawancara (Interview), dan studi dokumentasi. Teknik Analisis Data Kualitatif ada tiga tahap yaitu: tahap Reduksi, tahap Penyajian Data, dan tahap Menarik Kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu: Upacara Kematian dipandang menjadi akhir dari penderitaan yang bersifat duniawi sudah putus. Proses pelaksanaan sarana Bea Rensek terdapat tiga tahap, yaitu tahap awal adalah tahap mempersiapkan sarana-sarana, tahap pokok atau pokok kegiatan adalah tahap pelaksanaan Bea Rensek dan tahap akhir adalah akhir dari segala kegiatan. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Penggunaan Sarana Bea Rensek Upacara Kematian Umat Hindu Di Desa Tanjung Jawa Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan menekankan pada kebenaran dalam ranah kognitif (pengetahuan) terdiri dari: Nilai Pendidikan Tattwa, Nilai Pendidikan Etika dan Nilai Pendidikan Upacara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Agama Hindu adalah agama yang sarat dengan upacara ritual. Pembuatan Sandung bagi umat Hindu Kaharingan sebagai wujud bhakti dan bentuk implementasi dari ajaran Tri Rna, yaitu Pitra Rna, membalas semua kebaikan yang telah diberikan orang tua kepada keturunannya atau suatu kewajiban dan tanggung jawab umat terhadap keluarganya yang telah meninggal dunia, apabila ada salah satu dari umat Hindu Kaharingan meninggal dunia harus menjalani proses upacara ritual Tiwah, pada saat Tiwah orang tua atau keluarga yang telah meninggal dunia tersebut dibuatkan atau dibangun sandung sebagai tempat menyimpan tulang belulang yang sudah dibersihkan dan disucikan. Berdasarkan fenomena pada latar belakang di atas, maka dapat diformulasikan rumusan masalah sebagai berikut: (1). Bagaimanakah Proses pembuatan Sandung Menurut Umat Hindu Kaharingan di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas? (2). Mengapakah ada perbedaan bentuk bangunan Sandung di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas? (3). Apakah Makna Sandung dalam Perspektif Hukum Hindu di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas? Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengeksplor proses pembuatan sandung serta menggali sumber-sumber pengetahuan yang terkait dengan tata cara pendirian atau pembangunan Sandung bagi umat Hindu Kaharingan di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas. Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan penelitian adalah (1) Teori Religiusitas, (2) Teori Bentuk Arsitektur (3) Teori Simbol. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, Teknik pengumpulan data menggunakan (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Dokumentasi. Hasil penelitian. Menentukan lokasi, memilih bahan yang akan digunakan dan menentukan waktu yang baik adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat Sandung. Lokasi tempat didirikannya Sandung juga perlu dibersihkan secara skala dan niskala. Pembuatan Sandung memerlukan sarana prasarana atau syarat khusus. Pada saat membuat Sandung ada beberapa pantangan/larangan (Pali) yang harus ditaati oleh pihak keluarga / ahli waris agar tidak terjadi rutas (kesialan), tulah sahu (kualat), kicas (seret rezeki) maupun akibat yang tidak baik lainnya yang berpengaruh pada kehidupan keluarga. Perbedaan bentuk konstruksi bangunan Sandung di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas dipengaruhi oleh 2 (Dua) faktor yaitu (1) Riwayat kehidupan Liau Haring Kaharingan. (2) Penyebab kematian Liau Haring Kaharingan apakah meninggal secara wajar misalnya meninggal karena penyakit, lanjut usia atau penyebab kematian yang biasa dialami oleh manusia pada umumnya. Meninggal secara tidak wajar misalnya meninggal akibat berkelahi, berperang, kecelakaan, dimangsa binatang buas, tenggelam, tertimpa tanah longsor dan penyebab kematian yang sifatnya rampasan nyawa lainnya. Perbedaan bentuk konstruksi bangunan Sandung yaitu : (1) Sandung Bajihi ije (Sandung bertiang Tunggal), (2) Sandung bajihi Due (Sandung bertiang Dua), (3) Sandung bajihi Epat (Sandung bertiang Empat), (4) Sandung Bajihi Lime (Sandung bertiang Lima), (5) Sandung Bajihi Jahawen (Sandung bertiang Enam). (6) Sandung Munduk (Sandung duduk/tidak bertiang). Apabila terjadi kesalahan dalam memilih jenis konstruksi Sandung maka bisa terjadi rutas (kesialan), tulah sahu (kualat), kicas (seret rezeki) maupun akibat yang tidak baik lainnya yang berpengaruh pada kehidupan para ahli waris. Makna Sandung dalam perspektif Hukum Hindu. Makna simbol-simbol yang terdapat pada (1) Tiang Sandung. (2) Gelagar penyangga bagian bawah lantai Sandung. (4) Lantai Sandung. (4) Garasi Sandung. (5) Dinding Sandung. (6) Penopang atap Sandung / Tulang Gayung. (7) Sapau Sandung / atap Sandung adalah gambaran perjalanan kehidupan dan kematian Liau Haring Kaharingan yang pada akhirnya semua kembali keasalnya yaitu Lewu Tatau, jia Rumpang Tulang Rundung Raja Isen Kamalesu Uhat artinya kembali ke alam keabadian Tuhan. Setiap orang wajib menjaga sakralitas Sandung. Sandung adalah bangunan yang dianggap suci, ada beberapa pantangan/larangan (Pali) yang harus ditaati oleh keluarga dan masyarakat agar tidak terjadi rutas (kesialan), tulah sahu (kualat), kicas (seret rezeki) maupun akibat yang tidak baik lainnya yang berpengaruh pada kehidupan orang yang berada diwilayah Sandung itu. Orang yang dengan sengaja melakukan penghinaan dengan mengeluarkan ucapan atau kata-kata kotor terhadap Sandung dapat dituntut secara adat yang berlaku berupa hukuman singer sala basa sebesar 15-30 kati ramu. Nilai satu kati ramu setara dengan nilai uang seratus ribu rupiah dan wajib untuk melaksanakan ritual / perdamaian sebagai permohonan maaf terhadap waris maupun arwah yang ada di dalam Sandung. Tidak jarang juga ada kejadian akibat perlakuan yang tidak baik terhadap bangunan Sandung misalnya pencurian, perusakan, pembakaran yang sifatnya dilakukan dengan sengaja maka yang bersangkutan dapat dituntut sesuai dengan hukum adat Dayak Kalimantan Tengah yaitu dengan: “Pasal 49 Singer Kehun Karusak Kubur, Sandung Pantar (denda kerusakan/kebakaran kubur, Sandung pantar).Tindakan kejahatan terhadap Sandung apabila tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan maupun secara adat dan sudah tergolong pelanggaran berat yang bersifat penodaan agama maka pihak ahli waris bisa menyelesaikannya sesuai aturan hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Umat Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah khususnya di Desa Buntut Bali Kabupaten Katingan memiliki upacara kematian yang di bagi menjadi dua fase yaitu upacara penguburan dan Tiwah. Upacara kematian ini memiliki keunikan dan perbedaan salah satu diantaranya adalah upacara Napesan. Upacara kematian ini belum ada yang mengangkat bagaimana nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu d sehingga sangat menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji (1) bagaimana proses pelaksanaan upacara Napesan pada umat Hindu Kaharingan di Desa Buntut Bali Kabupaten Katingan, (2) apakah makna yang terkandung dalam upacara Napesan pada umat Hindu Kaharingan di Desa Buntut Bali Kabupaten Katingan, dan (3) bagaimana nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu dalam upacara Napesan pada umat Hindu Kaharingan di Desa Buntut Bali Kabupaten Katingan. Untuk mencapai tujuan dimaksud metode deskriptif-kualitatif digunakan dan permasalahan dianalisis mengunakan teori fenomenologi dan teori nilai. Metode observasi, wawancara dan studi dokumen digunakan untuk mengumpulkan data. kemudian untuk menganalisis data maka dilakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian upacara Napesan terdapat beberapa tahapan yaitu: (1) Tahap persiapan dalam tahapan persiapan, (2) Tahap pelaksanaan upacara Napesan dari awal sampai selesai, (3)Tahap akhir terdapat melaksanakan pali/pantangan, selain pelaksanaan upacara Napesan terdapat makna yang terkandung dalam upacara Napesan pada umat Hindu Kaharingan di Desa Buntut Bali Kabupaten Katingan yaitu upacara Napesan ini mengandung makna makna filosofis dan sakral, kemudian di dalam sarana dan prasarana yang digunakan memiliki makna dan fungsi tersendiri. Selain pelaksanaan dan nmakna yang terkandung dalam upacara Napesan terdapat nilai-nilai pendidikan Agama Hindu dalam upacara Napesan pada umat Hindu Kaharingan di Desa Buntut Bali Kabupaten Katingan yaitu: 1) Nilai Pendidikan Tattwa (kebenaran), dilihat dari adanya kepercayaan umat Hindu Kaharingan terhadap Ranying Hatalla sebagai segala sumber yang ada di dunia ini, (2) Nilai Pendidikan Susila (moral), dilihat dari hasil aturan dalam pelaksanaan upacara Napesan dan pantangan yang harus dilakukan saat selesai pelaksanaan upacara Napesan 3)Nilai Pendidikan Upacara dilihat dari penerapan ajaran keagamaan yang untuk menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur dan sesamanya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
SECI LESTARINA, 2023. Upacara kematian turu olo pada umat Hindu Kaharingan di Desa Payang Ara Kabupaten Barito Utara (Perspektif Pendidikan Agama Hindu) Pembimbing I Dr. Derson, S.Ag.,M.Ag Pembimbing II Dr. Nali Eka, S.Ag.,M.Si Upacara Turu Olo juga merupakan suatu upacara yang ditujukan kepada leluhur (pitra yadnya). Upacara ini dilaksankan sebagai ungkapan syukur kepada Dewa Kelelungan Aning Kekelio sebagai manisfestasi Ranying Hatalla Langit Juus Tuha Alah Tala yang telah diyakini membantu dan mewujudkan harapan apa yang dikehendaki atau diinginkan. Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah yang dapat diangkat oleh peneliti yaitu: 1. Bagaimana Pelaksanaan Upacara Kematian Turu Olo Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Payang Ara Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara? 2. Apakah Fungsi Upacara Kematian Turu Olo Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Payang Ara Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara? 3. Bagaimana Perspektif Pendidikan Agama Hindu dalam Upacara Kematian Turu Olo Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Payang Ara Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara?. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami proses pelaksanaan upacara Kematian Turu Olo pada umat Hindu Kaharingan, fungsi dan nilai-nilai yang terkandung. Teori yang digunakan dalam penelitian ini mengunakan teori Religi, teori Fungsional Struktural, dan teori Nilai. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan lokasi penelitian di Desa Payang Ara, jenis dan sumber data yang digunakan: sumber data primer dan data sekunder, teknik penentuan informan yaitu teknik purposive, teknik pengumpulan data yang digunakan: observasi, wawancara, dan dokumentasi, instrument penelitian kualitatif, teknik analisis data yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Dari penelitian yang dilakukan tentang upacara Kematian Turu Olo pada umat Hindu yaitu dalam pelaksanaannya memiliki beberapa tahap:1. Persiapan, 2. Pelaksanaan, 3. Tahap akhir yang memiliki fungsi sebagai: 1. Menjaga hubungan harmonis dengan tuhan dan leluhur, 2. Menjaga hubungan harmoni dengan sosial sesama manusia. Selain mempunyai fungsi upacara Kematian Turu Olo juga perspektif pendidikan agama Hindu terhadap upacara yakni: 1. Perspektif pendidikan Tattwa agama Hindu, 2. Perspektif pendidikan Etika agama Hindu, 3. Perspektif pendidikan upacara agama Hindu. Upacara Kematian Turu Olo ini biasanya dilakukan setelah penguburan atau setelah orang meninggal, dimana penduduk setempat bergotong-royong untuk membuat perlengkapan sarana dan prasarana untuk memberikan sesaji kepada roh bagi umat Hindu kaharingan yang berada di Desa Payang Ara Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara. bahwa Turu Olo memiliki nilai magis yang sangat tinggi, karena di samping bisa memberikan tuah rezeki kepada keluarga dan anak cucunya juga diyakini sebagai pelindung terhadap segala gangguan malapetaka.