Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

8 hasil
Subjek: Balian
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

NGALINGU LIAU DALAM RITUAL BALIAN TANTULAK AMBUN RUTAS MATEI DI KECAMATAN SEPANG KABUPATEN GUNUNG MAS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

DIRGANTARA, 2026. Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Prodi Kepanditaan, Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Dosen Pembimbing I : Dr. Anak Agung Gede Wiranata, S.Ag.,M.Ag. dan Dosen Pembimbing II : Nurlensi,SAg.,M.Si. Hindu Kaharingan merupakan agama Hindu yang dianut oleh penganut yang berasal dari etnis Dayak di Kalimantan Tengah yang awalnya disebut dengan Agama Helu (Kaharingan), adanya integrasi kepercayaan Kaharingan dengan agama Hindu pada tahun 1980, maka disebut dengan Hindu Kaharingan sebagai identitas jati diri penganutnya, sedangkan secara administratif tetap tertulis agama Hindu dimana tidak menghilang tradisi lokal. Menurut ajaran agama Hindu Kaharingan, Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei sangatlah penting untuk dilaksanakan oleh anggota keluarga yang ditinggalkan, dimana ritual ini bertujuan untuk membersihkan sial (pali belum), suatu hal yang tidak baik bagi keluarga yang ditinggalkan. Salah bagian penting dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Runtas Matei yaitu Ngalingu Liau. Bagi keluarga yang ditinggal almarhum, Ngalingu Liau pada saat Ritual tersebut sangatlah penting, maka berdasarkan fenomena tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang Ngalingu Liau, terutama yang ingin diteliti yaitu proses Ngalingu Liau pada Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei, dan makna dalam Ngalingu Liau pada Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Dengan demikian penulis tertarik menulis Skripsi dengan judul : Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Tujuan sebenarnya dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Proses dan Makna Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei,dengan menggunakan beberapa teori yaitu: 1) Teori Religi, 2) Teori Interpretif Simbolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif yang dimana dengan menggunakan metode ini akan lebih mudah penulis untuk mengumpulkan data atau informasi yang dibutuhkan. Kemudian, teknik pengumpulan data yang digunakan pada peneltian, 1) Observasi, 2) Wawancara, 3) Dokumentasi, 4) Kepuastakaan. Subyek dalam penelitian ini adalah, 1) Basir Upu, 2) Basir, 3) Ketua Majelis Resot, 4) Mantir Basarah, 5) Ketua Majelis Kelompok yang ada di Kecamatan Sepang. Berdasarkan analisis dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Ngalingu Liau, merupakan bagian terpenting dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei, karena pada momen tersebut Liau Haring Kaharingan untuk terakhir kali bisa turun ke Pantai Danum Kalunen untuk menceritakan perjalanan hidup secara singkat dan memberikan pesan terakhir kepada keluarga yang ditinggalkannya, dan proses Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei memalui beberapa bagian terlebih dahulu antara lain, membersihkan Panganduang Ambun Rutas Matei atau pengaruh buruk yang terjadi akibat terjadinya kematian, dan dilanjutkan dengan pembersihan Liau Haring Kaharingan dibeberapa tempat sehingga sampai di Bukit Lanting Kalingu baru bisa dilaksanakannya proses Ngalingu Liau. Kemudian makna simbolik Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei merupakan hadirnya Liau Haring Kaharingan ke Pantai Danum Kalunen untuk yang terakhir kalinya dengan membawa Kayun Penyang Karuhei Tatau yang akan diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan dan untuk memberikan pesan untuk terakhir kalinya kepada keluarga yang ditinggalkan.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Filosofi Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Yuli, 2025 : Filosofi Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Desa Parit, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kota Waringin Timur. Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei tetap eksis dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur. Atas dasar anggapan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian pada dua aspek permasalahan, yaitu (1) Apa saja fungsi filosofi pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur?., Bagaimanakah makna Filosofis pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur ?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sedangkan landasan analisis, digunakan Teori Religi, Teori Fungsionalisme Struktural, dan Teori Interaksionisme Simbolik. Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Berdasarkan telaah dan metode analisis tersebut dapat diasumsikan sebagai berikut. Pertama, Filosofis Pelaksanaan Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei yaitu Tiga hari setelah proses penguburan jenazah, upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei adalah ritual kematian khas orang Hindu Kaharingan. Tujuan utama dari upacara ini adalah untuk mengirimkan arwah orang yang meninggal (Liau Haring Kaharingan) ke Bukit Nalian Lanting, tempat penantian sebelum upacara Tiwah, dan sekaligus membersihkan keluarga yang telah meninggal dari gangguan magis, penyakit, dan sial yang terkait dengan kematian. Prosesi dimulai dengan menyiapkan perlengkapan upacara secara keseluruhan. Perlengkapan ini mencakup simbol-simbol suci, alat musik tradisional, sesajen, dan berbagai perlengkapan ritual lainnya. Setelah Basir dijemput dan disucikan, ritual Balian dimulai. Dalam ritual ini, Sangiang (roh suci) dipanggil oleh Basir serta merasuki Basir, dan nanti akan bertanggung jawab untuk mengatur perjalanan dan proses pensucian arwah. Kedua, Makna Filosofis Upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei yaitu dalam kehidupan religius masyarakat Hindu Kaharingan, terutama di kalangan Dayak Ngaju, upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei adalah praktik spiritual yang penuh dengan makna filosofis. Upacara ini lebih dari sekadar ekspresi keagamaan; itu mencerminkan perspektif dunia (worldview) yang rumit dan mendalam tentang kehidupan, keseimbangan, kesedihan, dan hubungan antara manusia dan alam semesta.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama Kecamatan Dusun Utara Kabupaten Barito Selatan

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji tentang Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama dengan perspektif pendidikan agama Hindu. Pendidikan non formal yang diberikan oleh Balian dirancang untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, bahwa calon Balian dapat menerima dan memahami Balian di lihat dari permasalahan proses, eksistensi dan implikasi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama. Penelitian ini menunjukkan tanggung jawab terhadap calon Balian, sehingga pengetahuan dan keterampilan Balian diberikan kepada generasi muda. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:1) Bagaimanakah proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 2) Bagaimanakah eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? 3) Bagaimanakah implikasi Balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan? di analisis menggunakan teori fenomenalogi, eksistensialisme, dan behaviorisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan analisis didapatkan hasil yaitu: pertama, proses Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama:1) Mencari Guru, 2) Barahayak, 3) Batumbang; Kedua, eksistensi Balian Dayak Dusun di Desa Marawan Lama meliputi: 1) Perkembangan Balian Dayak Dusun, 2) Keberadaan Balian Dayak Dusun, 3) Peran sosial, 4) Pengaruh dan hubungan Balian, 5) Transformasi dan adaptasi Balian dayak dusun di era modern, Ketiga, Implikasi balian Dayak Dusun bagi masyarakat di Desa Marawan Lama yaitu: 1) Implikasi Spiritual, 2) Implikasi Kesehatan, 3) Implikasi budaya, 4) Implikasi sosial, 5) Implikasi Pendidikan, 6) Implikasi ekonomi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Irama Kangkanong dalam Pelaksanaan Ritual Balian Bawo Suku Dayak Lawangan di Kecamatan Dusun Tengah Kabupaten Barito Timur

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

IDO JAYA SAPUTRA. 2024. Irama Kangkanong Dalam Pelaksanaan Ritual Balian Bawo Suku Dayak Lawangan di Kecamatan Dusun Tengah Kabupaten Barito Timur. Skripsi, Prodi Pendidikan Seni dan Keagamaan, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Dosen Pembimbing I: Dr. Mujiyono, S.Ag.,M.Ag dan Dosen Pembimbing II: Suwito, S. Ag.,M.Si. Skripsi ini mengkaji tentang irama kangkanong dalam pelaksanaan ritual balian bawo suku Dayak Lawangan di Kecamatan Dusun Tengah. Fenomena yang terjadi di lapangan pada masyarakat suku Dayak Lawangan dalam bermain kangkanong khusunya pada generasi muda kurang mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang irama kangkanong dalam ritual balian bawo. Berdasarkan alasan tersebut tema ini sangat penting untuk diteliti. Masalah ini perlu dikaji lebih lanjut dengan rumusan masalah yaitu bagaimana irama kangkanong dalam pelaksanaan ritual balian bawo suku Dayak Lawangan dan apa fungsi irama kangkanong dalam pelaksanaan ritual balian bawo suku Dayak Lawangan. Tujuan dari penelitian ini yakni mengkaji ilmu pengetahuan seni musik tradisional dan mempunyai manfaat menambah wawasan dan pengetahuan tentang alat musik kangkanong. Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah adalah teori Struktural Fungsional, teori Weighted Scale dan teori Etnomusikologi. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Sumber data dari data primer dan data sekunder. Teknik penentuan informan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, studi dokumen dan analisis data yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Selanjutnya disajikan dalam laporan penelitian berupa skripsi. Berdasarkan analisis data dalam penelitian ini, ditemukan bahwa (1). Irama kangkanong dalam pelaksanaan ritual balian bawo suku Dayak Lawangan memiliki irama yang beragam jenis yaitu irama tung luai, tung golek, serewan gense, bref, gompeng dan gompeng doto. (2). Irama kangkanong akan tetap berfungsi karena irama kangkanong dalam ritual balian bawo merupakan sarana mediator utama yang menjadi salah satu alat perantara untuk menghubungkan antara balian dengan roh leluhur, sahabat dan roh nenek moyang untuk membantu dalam pelaksanaan ritual balian bawo. Fungsi irama kangkanong dalam pelaksanaan ritual balian bawo dapat dilihat dari tiga hal yaitu fungsi laten, fungsi manifes dan disfungsi. Dari ketiga fungsi dapat dilihat bahwa keberadaan fungsi yang ada pada irama kangkanong yang digunakan merupakan bagian penting pada pelaksanaan ritual balian bawo suku Dayak Lawangan di Kecamatan Dusun Tengah Kabupaten Barito Timur.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Balian Nyapu Ipar pada Suku Dayak Lawangan di Bantai Karau Kelurahan Ampah Kota Kecamatan Dusun Tengah (Persfektif Pendidikan Agama Hindu)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Dianti Bayun. 2024. Balian Nyapu Ipar Pada Suku Dayak Lawangan Di Bantai Karau Kelurahan Ampah Kota Kecamatan Dusun Tengah (Persfektif Pendidikan Agama Hindu). Skripsi Program Studi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I Dr. Derson, S. Ag., M. Ag Pembimbing II Nyoman Sumarni, S. Ag., M. Si Balian Nyapu Ipar ini merupakan upacara penyucian terhadap sial pantangan akibat ke-matian dan merupakan upacara Pembersihan roh yang sudah meninggal dunia dari keterikatan dengan keluarga yang di tinggalkan, sehingga roh tersebut dapat menyatu dengan Juus Tuha Allah Talla (Ranying Hatalla Langit). Namun kenyataannya sekarang ini ditemukan dalam balian nyapu ipar ialah dimana ternyata belum semua masyarakat umat Hindu memahami mengenai nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam pelaksanaan dalam Balian Nyapu Ipar. Berdasarkan latar belakang, maka dalam penelitian ini mengkaji: (1) Bagaimana proses Balian Nyapu Ipar pada Suku Dayak Lawangan di Bantai Karau Kelurahan Ampah Kota Kecamatan Dusun Tengah? (2) Apa Nilai-nilai Pendidikan agama Hindu yang terdapat dalam Balian Nyapu Ipar pada Suku Dayak Lawangan di Bantai Karau Kelurahan Ampah Kota Kecamatan Dusun Tengah? Teori yang digunakan untuk menganaisis terhadap rumusan masalah, yaitu menggunakan 2 (Dua) teori. (1) Teori Religi, dan (2) Teori Nilai. Sedangkan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data, yakni observasi, wawancara, dokumentasi, kemudian data dianalisis dengan menggu nakan metode deskriptif kualitatif berupa wawancara dengan para informan yang benar-benar mengetahui tentang permasalahan yang diteliti. Adapun hasil dari penelitian ini tentang tahapan proses balian nyapu ipar akan dijelaskan sebagai berikut: (1) Melaksanakan musyawarah/mufakat, (2) menyiapkan sarana prasarana, (3) melaksanakan persembayangan basarah, (4) pelaksananan Balian Nyapu Ipar, (5) Saki Pilah, (6) Jakat Paner Penutup. (2) Nilai Pendidikan dalam Balian Nyapu Ipar yang pertama nilai pendidikan tatwa yaitu Ketuhanan atau kebenaran, yang kedua nilai pendidikan etika yaitu kesusilaa atau aturan-aturan dan yang ketiga nilai upacara yaitu mempelajari tentang bagaimana tatacara pembuatan sarana dan prasarana upacara.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Upacara Balian Natau Liau di kelurahan Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Eby, 2022. Upacara Balian Natau Liau di Kelurahan Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya. Skripsi. Stara Satu, Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya Program Studi Kepanditaan, IAHN-TP Palangka Raya. Pembimbing I. Dr. Wayan Gepu, S.Ag.,M.Fil. H dan Pembimbing II. Rabiadi, S.Sos.H.,M.Pd.H Balian Natau Liau, adalah ucapan , pemintaan maaf keturanannya kepada roh/ Liau atas kesalahan yang pernah dibuat semasa hindupnya. Adapun Rumusan Masalah, yang diangkat atau yang di teliti adalah : Bagaimanakan Pelaksanaan Upacara Balian Natau Liau, Apakah Fungsi yang terkandung dalam upacara Balian Natau Liau dan apakah makna yang terkandung dalam upacara Balian Natau Liau di Kelurahan Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka raya. Tujuan Penelitian, ini adalah untuk mengetahui secara jelas, tentang Pelaksanaan , Fungsi dan makna yang terkandung dalam upacara Balian Natau Liau. adapun teori yang di gunakan untuk menganalisis rumusan masalah adalah Sebagai berikutr :teori Religi, digunakan untuk membedah tentang pelaksanaan, teori interaksionalisme simbolik yang guniaka untuk membedah rumasan yang kedua dan teori fungsionalisme struktural yang di gunakan untuk membedah rumusan yang ketika. Adapun hasil penelitian ini meliputi: Bagaimana pelaksanaan upucara Balian Natau Liau, apakah fungsi yang terkandung dalam upacara Balian Natau Liau, apakakah makna yang terkandung dalam upacara Balian Natau Liau. Hasil analisis dapat di simpulkan: Pelaksanaan Upacara Balian Natau Liau adalah Upacara pemintaan maaf keturunan kepada roh/liau karena kesalah merekan semasa hidupnya. Fungsi yang terkandung dalam upacara Balian Natau Liau yaitu: fungsi riligius, fungsi estetika, fungsi sosial dan fungsi etika. Makna yang terkandung dalam upacara Balian Natau Liau yaitu makna ekonomi, makna estetikia, makna sosial, makna etika dan makna pengorbanan suci ( yadya). Kata Kunci : Upacara Balian Natau Liau

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

REGENERASI BALIAN BAWO PADA MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DAYAK MALANG DI DESA NIHAN HILIR, KECAMATAN LAHEI BARAT, KABUPATEN BARITO UTARA (PERSPEKTIF PENDIDIKAN HINDU)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tesis ini mengkaji regenerasi balian bawo pada masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang di Desa Nihan Hilir dengan perspektif pendidikan Hindu. Selain karena keunikan, masalah tersebut dikaji karena regenerasi balian bawo tidak lancar dan tidak berjalan dengan baik. Rumusan masalah penelitian ini ialah (1) proses regenerasi balian bawo pada masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang; (2) implikasi proses regenerasi balian bawo pada masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang; (3) nilai–nilai pendidikan dalam proses regenerasi balian bawo bagi masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang di Desa Nihan Hilir dalam perspektif pendidikan Hindu. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori fenomenologi dan teori konstruktivisme. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan berlokasi di Desa Nihan Hilir. Sumber datanya terdiri atas data primer dan data sekunder dengan peneliti sebagai instrumen utama penelitian. Penentuan informan menggunakan teknik purposive. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahap penelitian terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) menjadi balian bawo merupakan keinginan diri sendiri, langkahnya dimulai dari mencari balian tuha sebagai guru, ngawit ngapar, yaitu menerima transfer ilmu balian, batumang/ngayak ngajun, yaitu proses peneguhan dan penguatan menjadi balian bawo dan suntutus atau mencatat atau minta penjelasan kembali terkait dengan materi ilmu balian; (2) implikasi proses regenerasi balian bawo ialah (1) implikasi positif yang terdiri atas tersedianya regenerasi balian bawo, pelestarian balian bawo, terjaganya pengobatan tradisional, terjaganya upacara balian bawo, dan adanya pimpinan ritual agama; (b) konsekuensi balian bawo, yaitu adanya keterikatan dan pantangan serta banyak menyita waktu dan biaya; (3) nilai-nilai pendidikan regenerasi dalam proses regenerasi balian bawo terdiri atas nilai religius berupa nilai keimanan dan keyakinan; nilai etika terkait dengan pantas dan tidak pantas untuk dilakukan; nilai estetika berupa nilai keindahan dan seni dalam pelaksanaan ritual balian bawo; nilai spiritual berupa nilai kejiwaan dan rohani yang harus dimiliki oleh seorang balian bawo; nilai sosial, yaitu nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong dan kedisiplinan berupa nilai ketaatan terhadap profesi yang dijalankan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

NILAI-NILAI PENDIDIKAN HINDU DALAM PELAKSANAAN RITUAL BALIAN BALAKU UNTUNG PADA MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI DESA TUMBANG MALAHOI KECAMATAN RUNGAN KABUPATEN GUNUNG MAS

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

DERIANI, 2021. Nilai-Nilai Pendidikan Hindu dalam Ritual Balian Balaku Untung Pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. Skripsi Fakultas Dharma Acarya. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing (I) Dr.Derson.S.Ag.,M.Ag Pembimbing (II) Suwito, S.Ag.,M.Si Keyakinan beragama menjadi sebuah alasan untuk kita agar selalu menjaga dan melaksanakan segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran agama tersebut yaitu pelaksanaan ritual keagamaan yang menjadi bagian dari keyakinan. Pelaksanaan ritual yang dimaksud adalah ritual yang diyakini oleh masyarakat Hindu Kaharingan, salah satunya pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung. Pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh para leluhur zaman dahulu sehingga sampai sekarang masih tetap dilestarikan dan dilaksanakan serta ritual ini bertujuan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat yang melaksanakannya. Akan tetapi seiring berjalanya waktu pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung sudah jarang dilaksanakan karena masyarakat Hindu Kaharingan beranggapan meskipun dilaksanakan ritual tersebut juga tidak menjamin kehidupan mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dalam pelaksanaan ritual tersebut juga dilaksanakan dengan membelakangi nilai-nilai pendidikan Hindu seperti sarana prasarana yang digunakan sehingga dalam fenomena tersebut peneliti tertarik untuk mengangkat sebuah judul penelitian tentang Nilai-Nilai Pendidikan Hindu dalam Ritual Balian Balaku Untung Pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. Permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini yaitu tentang (1) Pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas (2) Nilai pendidikan Hindu apa yang terkandung dalam pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas. Akan tetapi walaupun tujuan pelaksanaan dari ritual Balian Balaku Untung diartikan sebagai proses ritual yang berkaitan dengan kehidupan, namun banyak masyarakat sekarang yang beranggapan bahwa terlaksananya ritual tersebut juga tidak akan menjamin kehidupan mereka menjadi lebih baik dengan adanya anggapan tersebut membuat proses ritual Balian Balaku Untung sekarang ini menjadi jarang lagi dilaksanakan. Pelaksanaan ritual ini memang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia, disamping itu ritual ini juga memiliki nilai-nilai pendidikan yang harus dijaga dan dipahami arti dari nilai tersebut supaya dalam pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung ini hakekatnya semakin dirasakan bagi kehidupan. Dalam pelaksanaan ritual apabila adanya suatu tujuan tentu juga ada manfaat, manfaat pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung juga tidak terlepas dari kehidupan karena pada hakekatnya bahwa ritual yang dilaksanakan dengan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, namun semuanya juga kembali kepada diri masing-masing apakah kita yakin akan hal yang kita laksanakan tersebut atau tidak. Apabila kita yakin maka hakekat dari ritual Balian Balaku Untung bisa dirasakan namun apabila sebaliknya maka jangan berharap bahwa kehidupan yang kita harapkan bisa didapatkan karena pada dasarnya semua keinginan yang terjadi berdasarkan keyakinan yang ada pada diri kita sendiri. Untuk memecahkan masalah yang dihadapi guna memperoleh hasil atau arah yang diharapkan peneliti dalam penelitian ini maka ada dua teori yang digunakan (1) Teori fungsional dan struktural digunakan oleh peneliti untuk membahas permasalahan pada bagian pertama (2) Teori nilai, digunakan oleh peneliti untuk membahas permasalahan pada bagian kedua. Selain itu dalam penelitian ini peneliti menggunakan salah satu metode yaitu metode deskritif. Metode deskritif ini digunakan peneliti sebagai salah satu cara untuk mendapatkan masalah yang ada dilapangan selain itu juga digunakan metode purposive sampling yang bertujuan untuk mendapatkan berbagai informasi dari informan yang diwawancara. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan dalam analisis penelitian yaitu dengan melakukan observasi (turun langsung kelokasi penelitian) dan wawancara guna memperoleh data-data yang akurat, adanya berbagai pembahasan tersebut maka peneliti dapat memperoleh hasil penelitian yang diharapkan diantaranya sistem pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung dan nilai-nilai pendidikan Hindu yang terkandung didalamnya yaitu nilai pendidikan Tattwa, Susila, Religi, dan Sosial. petunjuk apabila dikemudian hari dibutuhkan untuk mendapatkan berbagai informasi tentang pelaksanaan ritual Balian Balaku Untung. Semoga apa saja yang telah dibahas didalam skripsi ini mampu memberikan pemahaman dan motivasi bagi para pembaca.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail