NGALINGU LIAU DALAM RITUAL BALIAN TANTULAK AMBUN RUTAS MATEI DI KECAMATAN SEPANG KABUPATEN GUNUNG MAS
DIRGANTARA, 2026. Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Prodi Kepanditaan, Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Dosen Pembimbing I : Dr. Anak Agung Gede Wiranata, S.Ag.,M.Ag. dan Dosen Pembimbing II : Nurlensi,SAg.,M.Si. Hindu Kaharingan merupakan agama Hindu yang dianut oleh penganut yang berasal dari etnis Dayak di Kalimantan Tengah yang awalnya disebut dengan Agama Helu (Kaharingan), adanya integrasi kepercayaan Kaharingan dengan agama Hindu pada tahun 1980, maka disebut dengan Hindu Kaharingan sebagai identitas jati diri penganutnya, sedangkan secara administratif tetap tertulis agama Hindu dimana tidak menghilang tradisi lokal. Menurut ajaran agama Hindu Kaharingan, Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei sangatlah penting untuk dilaksanakan oleh anggota keluarga yang ditinggalkan, dimana ritual ini bertujuan untuk membersihkan sial (pali belum), suatu hal yang tidak baik bagi keluarga yang ditinggalkan. Salah bagian penting dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Runtas Matei yaitu Ngalingu Liau. Bagi keluarga yang ditinggal almarhum, Ngalingu Liau pada saat Ritual tersebut sangatlah penting, maka berdasarkan fenomena tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang Ngalingu Liau, terutama yang ingin diteliti yaitu proses Ngalingu Liau pada Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei, dan makna dalam Ngalingu Liau pada Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Dengan demikian penulis tertarik menulis Skripsi dengan judul : Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di Kecamatan Sepang Kabupaten Gunung Mas. Tujuan sebenarnya dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Proses dan Makna Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei,dengan menggunakan beberapa teori yaitu: 1) Teori Religi, 2) Teori Interpretif Simbolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif yang dimana dengan menggunakan metode ini akan lebih mudah penulis untuk mengumpulkan data atau informasi yang dibutuhkan. Kemudian, teknik pengumpulan data yang digunakan pada peneltian, 1) Observasi, 2) Wawancara, 3) Dokumentasi, 4) Kepuastakaan. Subyek dalam penelitian ini adalah, 1) Basir Upu, 2) Basir, 3) Ketua Majelis Resot, 4) Mantir Basarah, 5) Ketua Majelis Kelompok yang ada di Kecamatan Sepang. Berdasarkan analisis dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Ngalingu Liau, merupakan bagian terpenting dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei, karena pada momen tersebut Liau Haring Kaharingan untuk terakhir kali bisa turun ke Pantai Danum Kalunen untuk menceritakan perjalanan hidup secara singkat dan memberikan pesan terakhir kepada keluarga yang ditinggalkannya, dan proses Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei memalui beberapa bagian terlebih dahulu antara lain, membersihkan Panganduang Ambun Rutas Matei atau pengaruh buruk yang terjadi akibat terjadinya kematian, dan dilanjutkan dengan pembersihan Liau Haring Kaharingan dibeberapa tempat sehingga sampai di Bukit Lanting Kalingu baru bisa dilaksanakannya proses Ngalingu Liau. Kemudian makna simbolik Ngalingu Liau dalam Ritual Balian Tantulak Ambun Rutas Matei merupakan hadirnya Liau Haring Kaharingan ke Pantai Danum Kalunen untuk yang terakhir kalinya dengan membawa Kayun Penyang Karuhei Tatau yang akan diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan dan untuk memberikan pesan untuk terakhir kalinya kepada keluarga yang ditinggalkan.