2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Rusmiatie, 2026, Pergulatan Ideologi Keberagamaan pada Pelaksanaan Ritual
Ngapatung oleh Masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku Kecamatan
Marikit Kabupaten Katingan. Skripsi. Program Studi Hukum Agama Hindu,
Fakultas Dharma Sastra, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang
(IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (I) Dra. Ni Made Ratini, M.Si. Pembimbing (II) Gelar Sumbogo Peni, S.Ag., M.Si.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dipertahankannya ritual
Ngapatung sebagai ritual keagamaan Hindu Kaharingan yang diwariskan secara
turun-temurun oleh masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku, Kecamatan Marikit, Kabupaten Katingan. Dalam perkembangannya, perpindahan keyakinan sebagian
masyarakat menimbulkan dinamika dalam pelaksanaan ritual Ngupatung. Sebagian
masyarakat yang telah mengalami perpindahan keyakinan tetap melaksanakan
ritual Ngapatung sebagai praktik yang diwarisi dari tradisi keagamaan sebelumnya.
Kondisi tersebut menimbulkan pergulatan ideologi keberagamaan berupa
ketegangan antara ajaran keagamaan yang dianut setelah perpindahan keyakinan
dengan praktik ritual yang masih dipertahankan. Di satu sisi, ritual Ngapatung tetap
dipandang sebagai warisan tradisi dan pengalaman keberagamaan sebelumnya,
sedangkan di sisi lain, berdasarkan pemahaman terhadap ajaran keagamaan yang
kini dianut, praktik tersebut dipandang tidak sejalan dengan keyakinan keagamaan
yang dianut saat ini.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah bentuk
pelaksanaan ritual Ngapatung oleh masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku,
Kecamatan Marikit, Kabupaten Katingan? (2) Bagaimanakah bentuk pergulatan
ideologi keberagamaan pada pelaksanaan ritual Ngapatung? dan (3) Faktor apa saja
yang memengaruhi pergulatan ideologi keberagamaan pada pelaksanaan ritual
Ngapatung? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelaksanaan
ritual Ngapatung, menganalisis bentuk pergulatan ideologi keberagamaan yang
terjadi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.
Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam
penelitian ini terdiri atas tokoh agama, pelaku ritual, dan masyarakat Desa Tumbang
Paku yang mengetahui dan terlibat dalam pelaksanaan ritual Ngapatung. Analisis
data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Ngapatung merupakan ritual tolak
bala dan penyembuhan tradisional yang dilaksanakan untuk membuang sial,
menetralisir pengaruh buruk, memulihkan hambaruan, serta melakukan
pembersihan jasmani dan rohani setelah pulang dari tempat pemakaman orang yang
meninggal. Pergulatan ideologi keberagamaan tampak pada sebagian masyarakat
yang telah mengalami perpindahan keyakinan tetapi masih mempertahankan dan
melaksanakan ritual Ngapatung yang berasal dari tradisi keagamaan sebelumnya.
Pergulatan tersebut tercermin dalam ketegangan antara ajaran keagamaan yang kini
dianut dengan praktik ritual yang tetap dijalankan sebagai bagian dari warisan
tradisi dan pengalaman keberagamaan sebelumnya.
Kata Kunci: Pergulatan Ideologi, Keberagamaan, Ritual Ngapatung, Hindu
Kaharingan, Masyarakat Dayak.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Buku ini disusun sebagai panduan komprehensif bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan praktisi hukum dalam memahami serta menerapkan metodologi penelitian hukum secara sistematis. Buku ini membahas seluruh tahapan penelitian, mulai dari menemukan masalah penelitian, merumuskan kebaruan (novelty), menyusun kerangka teori dan desain penelitian, hingga menulis dan mempublikasikan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik. Pembahasan didalamnya mengintegrasikan dua tradisi utama penelitian hukum, yaitu penelitian hukum doktrinal (normatif) dan penelitian sosiolegal. Pada sisi doktrinal, pembaca diperkenalkan pada teknik penelusuran bahan hukum, pendekatan peraturan perundang-undangan, analisis putusan, metode penafsiran hukum, konstruksi hukum, dan teknik argumentasi akademik. Sementara itu, pendekatan sosiolegal dan empiris dibahas melalui metode kualitatif, kuantitatif, serta metode campuran untuk memahami hubungan antara hukum sebagai norma dan hukum dalam praktik sosial. Selain aspek metodologi, juga memberikan perhatian khusus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan argumentatif, etika penelitian, integritas akademik, pencegahan plagiarisme, manajemen referensi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara etis dalam penelitian dan penulisan hukum. Berbagai contoh, template, checklist, dan latihan praktis disajikan untuk membantu pembaca menerapkan konsep-konsep yang dibahas. Dengan pendekatan yang teoritis sekaligus aplikatif, diharapkan menjadi referensi dan panduan praktis dalam menghasilkan penelitian hukum yang berkualitas, argumentatif, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu hukum dan praktik hukum di Indonesia.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rusmiatie, 2026, Pergulatan Ideologi Keberagamaan pada Pelaksanaan Ritual Ngapatung oleh Masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku Kecamatan Marikit Kabupaten Katingan. Skripsi. Program Studi Hukum Agama Hindu, Fakultas Dharma Sastra, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (I) Dra. Ni Made Ratini, M.Si. Pembimbing (II) Gelar Sumbogo Peni, S.Ag., M.Si. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih dipertahankannya ritual Ngapatung sebagai ritual keagamaan Hindu Kaharingan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku, Kecamatan Marikit, Kabupaten Katingan. Dalam perkembangannya, perpindahan keyakinan sebagian masyarakat menimbulkan dinamika dalam pelaksanaan ritual Ngupatung. Sebagian masyarakat yang telah mengalami perpindahan keyakinan tetap melaksanakan ritual Ngapatung sebagai praktik yang diwarisi dari tradisi keagamaan sebelumnya. Kondisi tersebut menimbulkan pergulatan ideologi keberagamaan berupa ketegangan antara ajaran keagamaan yang dianut setelah perpindahan keyakinan dengan praktik ritual yang masih dipertahankan. Di satu sisi, ritual Ngapatung tetap dipandang sebagai warisan tradisi dan pengalaman keberagamaan sebelumnya, sedangkan di sisi lain, berdasarkan pemahaman terhadap ajaran keagamaan yang kini dianut, praktik tersebut dipandang tidak sejalan dengan keyakinan keagamaan yang dianut saat ini. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah bentuk pelaksanaan ritual Ngapatung oleh masyarakat Dayak di Desa Tumbang Paku, Kecamatan Marikit, Kabupaten Katingan? (2) Bagaimanakah bentuk pergulatan ideologi keberagamaan pada pelaksanaan ritual Ngapatung? dan (3) Faktor apa saja yang memengaruhi pergulatan ideologi keberagamaan pada pelaksanaan ritual Ngapatung? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelaksanaan ritual Ngapatung, menganalisis bentuk pergulatan ideologi keberagamaan yang terjadi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri atas tokoh agama, pelaku ritual, dan masyarakat Desa Tumbang Paku yang mengetahui dan terlibat dalam pelaksanaan ritual Ngapatung. Analisis data dilakukan melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Ngapatung merupakan ritual tolak bala dan penyembuhan tradisional yang dilaksanakan untuk membuang sial, menetralisir pengaruh buruk, memulihkan hambaruan, serta melakukan pembersihan jasmani dan rohani setelah pulang dari tempat pemakaman orang yang meninggal. Pergulatan ideologi keberagamaan tampak pada sebagian masyarakat yang telah mengalami perpindahan keyakinan tetapi masih mempertahankan dan melaksanakan ritual Ngapatung yang berasal dari tradisi keagamaan sebelumnya. Pergulatan tersebut tercermin dalam ketegangan antara ajaran keagamaan yang kini dianut dengan praktik ritual yang tetap dijalankan sebagai bagian dari warisan tradisi dan pengalaman keberagamaan sebelumnya. Kata Kunci: Pergulatan Ideologi, Keberagamaan, Ritual Ngapatung, Hindu Kaharingan, Masyarakat Dayak.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
EKA SUSILAWATI, 2026. Filosofi Batu Patahu Pada Umat Hindu Kaharingan Di Desa Masaha Kecamatan Mandau Talawang Kabupaten Kapuas. Skripsi Sastra Satu Program Studi Filsafat Agama Hindu, Fakultas Dharma Duta Dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I : Prof Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil dan Pembimbing II: I Gede Arya Juni Arta, S.Fil.H., M.Ag.
Batu patahu merupakan simbol sakral yang dipercaya memiliki hubungan dengan roh leluhur sehingga memiliki makna penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat. Penelitian ini membahas: (1) mitologi batu patahu di Desa Masaha Kecamatan Mandau Talawang Kabupaten Kapuas, (2) fungsi batu patahu pada umat Hindu Kaharingan, dan (3) makna filosofi yang terkandung dalam batu patahu.
Penelitian ini bertujuan mengetahui mitologi, fungsi, dan makna filosofi batu patahu pada umat Hindu Kaharingan di Desa Masaha. Penelitian menggunakan teori fenomenologi, fungsionalisme, dan simbol dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan informan tokoh agama Hindu Kaharingan, basir, dan masyarakat Desa Masaha.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) mitologi batu patahu berawal dari ditemukannya tiga batu yang diyakini memiliki kekuatan spiritual dan berkaitan dengan roh leluhur, serta disakralkan melalui pembangunan pasah patahu; (2) batu patahu berfungsi sebagai sarana ritual, penghormatan kepada leluhur, pemersatu masyarakat, pedoman etika, warisan budaya, serta mendukung moderasi beragama; dan (3) filosofi batu patahu mengandung nilai pendidikan, susila, tattwa, etika, penghormatan kepada leluhur, keseimbangan hubungan manusia dengan alam, serta keyakinan kepada Ranying Hatalla Langit sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, batu patahu tidak hanya dipahami sebagai benda fisik, tetapi juga sebagai simbol budaya dan spiritual yang mewariskan nilai-nilai kehidupan secara turun-temurun.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
TRISNAWATIE, 2026, Perlindungan Hukum terhadap Anak Korban Pelecehan Seksual di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya. Skripsi Fakultas Dharma Sastra Prodi Hukum Adat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya.Pembimbing I Dr. I Made Kastama, SH, MH. Pembimbing II Budiarto Santoso,M.H
Pelecehan seksual terhadap anak merupakan tindak pidana yang berdampak serius terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial korban sehingga memerlukan perlindungan hukum yang komprehensif. Atas asumsi tersebut maka penelitian ini mengangkat rumusan masalah yaitu: (1) Bagaimana pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya, (2) Apa hambatan dalam memberikan perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, analisis hukum, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa DP3APPKB Kota Palangka Raya telah melaksanakan perlindungan hukum melalui penerimaan pengaduan, asesmen, pendampingan hukum, pendampingan psikologis, penyediaan safe house, serta koordinasi dengan kepolisian, kejaksaan, pengadilan, rumah sakit, dan instansi terkait. Selain itu, upaya preventif dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi hambatan berupa rendahnya kesadaran hukum masyarakat, tekanan sosial yang menyebabkan korban enggan melapor, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan sarana dan prasarana, serta trauma psikologis yang dialami korban. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan koordinasi antarinstansi, penguatan sumber daya, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat agar perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual dapat terlaksana secara optimal.
Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Anak Korban Pelecehan Seksual, DP3APPKB Kota Palangka Raya.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Dinamika era globalisasi dan arus informasi digital memicu polarisasi serta penurunan pemahaman moderasi beragama di lingkungan sekolah. Kondisi terse-but berdampak pada timbulnya hambatan psikologis seperti isolasi peran (role isolation) pada siswa Hindu yang berstatus minoritas di sekolah negeri. Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan kejelasan serta implikasinya ter-hadap Pendidikan Agama Hindu di sekolah. Adapun rumusan masalah yang dipakai landasan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana peran guru Pendidi-kan Agama Hindu (PAH) dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? (2) Apa saja hambatan yang dihadapi guru PAH dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Pal-angka Raya? (3) Bagaimana strategi adaptif guru PAH dalam memperkuat mod-erasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui metode observasi partisipatif, wawancara mendalam (in-depth inter-view), dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui perpanjangan pengamatan dan member checking. Data selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan tiga pisau analisis konseptual, yaitu Teori Peran (Role Theory Bid-dle), Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky), dan Teori Pendidikan Mul-tikultural (James A. Banks). Berdasarkan substansi yang digunakan dalam penelitian ini, beberapa temuan yang diperoleh meliputi (1) Peran guru PAH secara konsisten berjalan sebagai value transmitter yang menginternalisasikan nilai Tat Twam Asi dan Tri Hita Ka-rana, conservator nilai keagamaan, serta role model dan inspirator karakter inklusif di lingkungan sekolah. (2) Hambatan yang dihadapi mencakup aspek in-ternal berupa isolasi peran (role isolation) dan kecenderungan eksklusif siswa minoritas, serta hambatan eksternal berupa ketimpangan komposisi kelas mul-tikultural, keterbatasan buku teks/bahan ajar nasional yang kurang mengako-modasi kearifan lokal (content gap), benturan ekspektasi domestik/orang tua, ser-ta ketiadaan ruang kelas khusus keagamaan Hindu. (3) Strategi adaptif yang dit-erapkan guru mencakup Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis role sharing, pembentukan Forum Diskusi Huma Betang, pengembangan konten digi-tal edukatif Hindu Kaharingan, serta pemanfaatan media seni rupa lokal (seperti Sapundu) untuk menjembatani keterbatasan ruang ibadah. Integrasi strategi ini berhasil mentransformasi interaksi siswa minoritas dari rasa terasing menjadi kolaboratif. Penelitian ini memberikan kontribusi da-lam merekonstruksi ekosistem belajar inklusif yang mengawinkan konsep Tri Mandala Hindu dengan filosofi egaliter Huma Betang Dayak, guna mewujudkan ruang kelas sebagai laboratorium sosial pembentuk ketahanan mental dan karak-ter moderat siswa. Kata Kunci: Guru Agama Hindu, Moderasi Beragama, Huma Betang, Era Glob-alisasi, Minoritas. ABSTRACT The dynamics of the globalization era and the flow of digital information trigger polarization and a decline in the understanding of religious moderation in school environments. These conditions lead to psychological barriers such as role isolation among minority Hindu students in public schools. This study is directed towards gaining clarity and its implications for Hindu Religious Education in schools. The research questions serving as the foundation of this study are (1) What is the role of Hindu Religious Education (PAH) teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? (2) What obstacles are faced by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools across Palangka Raya City? (3) What adaptive strategies are implemented by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? Through a qualitative approach with a case study design, data were col-lected using participatory observation methods, in-depth interviews, and docu-mentation studies. Data validity was maintained through extended observation and member checking. The data were then interpreted using three conceptual an-alytical frameworks: Biddle's Role Theory, Lev Vygotsky's Social Constructivism Theory, and James A. Banks' Multicultural Education Theory. Based on the substance used in this study, several findings were obtained, includ-ing: (1) The role of PAH teachers consistently functions as value transmitters in-ternalizing the teachings of Tat Twam Asi and Tri Hita Karana, conservators of religious values, as well as role models and inspirators for inclusive character building in schools. (2) The obstacles faced include internal aspects such as role isolation and exclusive tendencies among minority students, alongside external obstacles such as demographic imbalances in multicultural classrooms, a lack of national textbooks/learning materials incorporating local wisdom (content gap), domestic/parental expectations resistance, and the absence of dedicated class-rooms for Hindu religious activities. (3) The adaptive strategies implemented by teachers include Character Education Strengthening (PPK) based on role-sharing, establishing Huma Betang Discussion Forums, developing Hindu Kaharingan ed-ucational digital content, and utilizing local fine arts media (such as Sapundu) to overcome spatial limitations for religious worship. The integration of these strategies successfully transformed minority stu-dent interactions from feeling isolated to becoming collaborative. This research contributes to reconstructing an inclusive learning ecosystem by synthesizing the Balinese Hindu Tri Mandala spatial concept with the egalitarian Dayak Huma Betang philosophy, ultimately transforming classrooms into social laboratories that foster mental resilience and moderate character among students. Keywords: Hindu Teachers, Religious Moderation, Huma Betang, Globalization Era, Minority.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dinamika era globalisasi dan arus informasi digital memicu polarisasi serta penurunan pemahaman moderasi beragama di lingkungan sekolah. Kondisi terse-but berdampak pada timbulnya hambatan psikologis seperti isolasi peran (role isolation) pada siswa Hindu yang berstatus minoritas di sekolah negeri. Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan kejelasan serta implikasinya ter-hadap Pendidikan Agama Hindu di sekolah. Adapun rumusan masalah yang dipakai landasan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana peran guru Pendidi-kan Agama Hindu (PAH) dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? (2) Apa saja hambatan yang dihadapi guru PAH dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Pal-angka Raya? (3) Bagaimana strategi adaptif guru PAH dalam memperkuat mod-erasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui metode observasi partisipatif, wawancara mendalam (in-depth inter-view), dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui perpanjangan pengamatan dan member checking. Data selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan tiga pisau analisis konseptual, yaitu Teori Peran (Role Theory Bid-dle), Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky), dan Teori Pendidikan Mul-tikultural (James A. Banks). Berdasarkan substansi yang digunakan dalam penelitian ini, beberapa temuan yang diperoleh meliputi (1) Peran guru PAH secara konsisten berjalan sebagai value transmitter yang menginternalisasikan nilai Tat Twam Asi dan Tri Hita Ka-rana, conservator nilai keagamaan, serta role model dan inspirator karakter inklusif di lingkungan sekolah. (2) Hambatan yang dihadapi mencakup aspek in-ternal berupa isolasi peran (role isolation) dan kecenderungan eksklusif siswa minoritas, serta hambatan eksternal berupa ketimpangan komposisi kelas mul-tikultural, keterbatasan buku teks/bahan ajar nasional yang kurang mengako-modasi kearifan lokal (content gap), benturan ekspektasi domestik/orang tua, ser-ta ketiadaan ruang kelas khusus keagamaan Hindu. (3) Strategi adaptif yang dit-erapkan guru mencakup Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis role sharing, pembentukan Forum Diskusi Huma Betang, pengembangan konten digi-tal edukatif Hindu Kaharingan, serta pemanfaatan media seni rupa lokal (seperti Sapundu) untuk menjembatani keterbatasan ruang ibadah. Integrasi strategi ini berhasil mentransformasi interaksi siswa minoritas dari rasa terasing menjadi kolaboratif. Penelitian ini memberikan kontribusi da-lam merekonstruksi ekosistem belajar inklusif yang mengawinkan konsep Tri Mandala Hindu dengan filosofi egaliter Huma Betang Dayak, guna mewujudkan ruang kelas sebagai laboratorium sosial pembentuk ketahanan mental dan karak-ter moderat siswa. Kata Kunci: Guru Agama Hindu, Moderasi Beragama, Huma Betang, Era Glob-alisasi, Minoritas. ABSTRACT The dynamics of the globalization era and the flow of digital information trigger polarization and a decline in the understanding of religious moderation in school environments. These conditions lead to psychological barriers such as role isolation among minority Hindu students in public schools. This study is directed towards gaining clarity and its implications for Hindu Religious Education in schools. The research questions serving as the foundation of this study are (1) What is the role of Hindu Religious Education (PAH) teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? (2) What obstacles are faced by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools across Palangka Raya City? (3) What adaptive strategies are implemented by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? Through a qualitative approach with a case study design, data were col-lected using participatory observation methods, in-depth interviews, and docu-mentation studies. Data validity was maintained through extended observation and member checking. The data were then interpreted using three conceptual an-alytical frameworks: Biddle's Role Theory, Lev Vygotsky's Social Constructivism Theory, and James A. Banks' Multicultural Education Theory. Based on the substance used in this study, several findings were obtained, includ-ing: (1) The role of PAH teachers consistently functions as value transmitters in-ternalizing the teachings of Tat Twam Asi and Tri Hita Karana, conservators of religious values, as well as role models and inspirators for inclusive character building in schools. (2) The obstacles faced include internal aspects such as role isolation and exclusive tendencies among minority students, alongside external obstacles such as demographic imbalances in multicultural classrooms, a lack of national textbooks/learning materials incorporating local wisdom (content gap), domestic/parental expectations resistance, and the absence of dedicated class-rooms for Hindu religious activities. (3) The adaptive strategies implemented by teachers include Character Education Strengthening (PPK) based on role-sharing, establishing Huma Betang Discussion Forums, developing Hindu Kaharingan ed-ucational digital content, and utilizing local fine arts media (such as Sapundu) to overcome spatial limitations for religious worship. The integration of these strategies successfully transformed minority stu-dent interactions from feeling isolated to becoming collaborative. This research contributes to reconstructing an inclusive learning ecosystem by synthesizing the Balinese Hindu Tri Mandala spatial concept with the egalitarian Dayak Huma Betang philosophy, ultimately transforming classrooms into social laboratories that foster mental resilience and moderate character among students. Keywords: Hindu Teachers, Religious Moderation, Huma Betang, Globalization Era, Minority.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
ativa, Andin, Gita, 2026. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Dalam
Pembiasaan Karakter Gemar Membaca Pada Siswa Kelas V SD Negeri 4
Menteng Palangka Raya. Skripsi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Institut
Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Dosen
Pembimbing I: Dr. I Wayan Dana, S.Pd.,M.Si dan Dosen Pembimbing II: Putu
Cory Candra Yhani, S.Pd.,M.Pd.
Rendahnya karakter gemar membaca pada siswa sekolah dasar masih menjadi
salah satu permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan. Kondisi tersebut juga
ditemukan pada siswa kelas V SD Negeri 4 Menteng Palangka Raya yang ditunjukkan
oleh belum optimalnya kebiasaan membaca, rendahnya pemanfaatan perpustakaan
dan pojok baca, serta masih terbatasnya variasi bahan bacaan yang tersedia. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS),
mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta
mendeskripsikan dampak implementasi Gerakan Literasi Sekolah terhadap
pembiasaan karakter gemar membaca pada siswa kelas V SD Negeri 4 Menteng
Palangka Raya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif.
Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan
penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan
sembilan informan, terdiri atas kepala sekolah, wali kelas V, kepala perpustakaan, dan
enam siswa kelas V. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman,
dan Saldaña yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Gerakan Literasi Sekolah di
SD Negeri 4 Menteng Palangka Raya telah dilaksanakan dengan baik melalui
pembiasaan membaca selama 15-30 menit sebelum pembelajaran dimulai,
pemanfaatan pojok baca, perpustakaan sekolah, serta berbagai kegiatan literasi yang
dilakukan secara rutin. Faktor pendukung implementasi Gerakan Literasi Sekolah
meliputi komitmen kepala sekolah, keterlibatan guru, pembiasaan membaca yang
dilakukan secara konsisten, serta tersedianya perpustakaan dan pojok baca. Faktor
penghambat yang ditemukan meliputi keterbatasan variasi koleksi buku bacaan,
belum optimalnya sarana pendukung literasi, dan masih adanya sebagian siswa yang
memiliki minat membaca relatif rendah. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah
memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat, frekuensi, dan kebiasaan
membaca siswa, meningkatkan kemampuan memahami bacaan, memperkaya
kosakata, meningkatkan kepercayaan diri dalam menyampaikan kembali isi bacaan,
serta membentuk karakter gemar membaca pada siswa kelas V SD Negeri 4 Menteng
Palangka Raya.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Komunikasi Dosen dan
Mahasiswa dalam Menyikapi
Penggunaan Kecerdasan Buatan
Ditinjau dari Etika Komunikasi
Hindu.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mejiwatie, 2026 : Komunikasi Dosen dan Mahasiswa Menyikapi Penggunaan Kecerdasan Buatan Ditinjau dari Etika Komunikasi Hindu. Pembimbing I Dr. Tardi Edung, S.Ag., M.Ag Pembimbing II Dr. Ni Putu Eka Merliana, S.T., M.T Komunikasi akademik sering kali berkendala terutama pada saat mahasiswa malu ataupun merasa ragu saat bertanya, atau dosen memiliki keterbatasan waktu dalam menjelaskan secara mendalam. Salah satu media yang dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut adalah teknologi kecerdasan buatan. Rumusan masalah dalam skripsi ini:1). Bagaimana pemahaman dosen dan mahasiswa tentang penggunaan kecerdasan buatan dalam kegiatan akademik di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. 2). Bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dalam menyikapi penggunaan kecerdasan buatan di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. 3). Bagaimana etika komunikasi Hindu yang diterapkan dalam penggunaan kecerdasan buatan di lingkungan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. Teori yang digunakan untuk membedah rumusan masalah tersebut menggunakan teori difusi inovasi dan teori Sadharanikaran. Jenis penelitian yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan menggunakan metode pengumpulan data yaitu: observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan: reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan dosen dan mahasiswa memahami kecerdasan buatan sebagai alat bantu akademik yang dimanafaatkan untuk mencari referensi, mengembangkan ide, serta membantu memahami materi perkuliahan. Selain itu komunikasi antara dosen dan mahaiswa berperan dalam proses adopsi kecerdasan buatan di lingkungan akademik. Komunikasi yang dilakukan melalui arahan, edukasi pendampingan dan pengawasan memberntuk pemahaman serta sikap positif mahasiwa terhadap penggunaan kecerdasan buatan. selanjutnya, penerapan etika komunikasi Hindu melalui nilai-nilai Tri Kaya Parisudha, yaitu Manacika Parisduha yang diwujudkan dengan berpikir kritis dan memeriksa Kembali informasi yang diperoleh dari kecerdasan buatan, Wacika Parisudha yang diterapkan melalui penyampaian hasil secara jujur serta mengindari plagiarism, dan Kayika Parisudha yang diwujudkan melalui pengggunaan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab dan memuat sumber referensi dari hasil yang digunakan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EKA SUSILAWATI, 2026. Filosofi Batu Patahu Pada Umat Hindu Kaharingan Di Desa Masaha Kecamatan Mandau Talawang Kabupaten Kapuas. Skripsi Sastra Satu Program Studi Filsafat Agama Hindu, Fakultas Dharma Duta Dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I : Prof Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si., D.Phil dan Pembimbing II: I Gede Arya Juni Arta, S.Fil.H., M.Ag. Batu patahu merupakan simbol sakral yang dipercaya memiliki hubungan dengan roh leluhur sehingga memiliki makna penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat. Penelitian ini membahas: (1) mitologi batu patahu di Desa Masaha Kecamatan Mandau Talawang Kabupaten Kapuas, (2) fungsi batu patahu pada umat Hindu Kaharingan, dan (3) makna filosofi yang terkandung dalam batu patahu. Penelitian ini bertujuan mengetahui mitologi, fungsi, dan makna filosofi batu patahu pada umat Hindu Kaharingan di Desa Masaha. Penelitian menggunakan teori fenomenologi, fungsionalisme, dan simbol dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan informan tokoh agama Hindu Kaharingan, basir, dan masyarakat Desa Masaha.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) mitologi batu patahu berawal dari ditemukannya tiga batu yang diyakini memiliki kekuatan spiritual dan berkaitan dengan roh leluhur, serta disakralkan melalui pembangunan pasah patahu; (2) batu patahu berfungsi sebagai sarana ritual, penghormatan kepada leluhur, pemersatu masyarakat, pedoman etika, warisan budaya, serta mendukung moderasi beragama; dan (3) filosofi batu patahu mengandung nilai pendidikan, susila, tattwa, etika, penghormatan kepada leluhur, keseimbangan hubungan manusia dengan alam, serta keyakinan kepada Ranying Hatalla Langit sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, batu patahu tidak hanya dipahami sebagai benda fisik, tetapi juga sebagai simbol budaya dan spiritual yang mewariskan nilai-nilai kehidupan secara turun-temurun.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Tuti Yuniati. 2026. Pembimbing I Dr. I Wayan dana, S.Pd., M.Si, Pembimbing II
Ayu Fitriana, M.Pd. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Penggunaan
Buku Garis Tiga Terhadap Keterampilan Menulis Tegak
Bersambung Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas III SDN
11 Langkai.
Pendidikan pada tingkat dasar siswa tidak hanya mengarah pada
penguasaan materi pembelajaran, tetapi juga pada perkembangan keterampilan
berbahasa, salah satunya keterampilan menulis. Pada fase B sekolah dasar, siswa
diharapkan mampu menulis tegak bersambung dengan memperhatikan ketepatan
bentuk huruf, kerapian, keteraturan, dan proporsi tulisan. Namun, hasil observasi
awal di kelas III SDN 11 Langkai menunjukkan bahwa sebagian siswa masih
mengalami kesulitan menulis tegak bersambung secara rapi dan sesuai kaidah.
Salah satu upaya untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut adalah
penggunaan buku garis tiga sebagai panduan visual dalam menulis tegak
bersambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan
menulis tegak bersambung siswa setelah penggunaan buku garis tiga
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas III SDN 11 Langkai. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis quasi-experimental pretestposttest control group design. Sampel penelitian berjumlah 56 siswa, terdiri atas
29 siswa kelas III B sebagai eksperimen dan 27 siswa kelas III C sebagai kelas
kontrol Dengan sampel yang terdiri dari siswa kelas III B sebagai kelas
eksperimen dan kelas III C sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data
menggunakan tes praktik menulis tegak bersambung. Analisis data dilakukan
menggunakan analisis deskriptif dan N – Gain Score. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai rata-rata (mean) pretest kelas eksperimen sebesar 24,00
(min 12; max 33; std dev 5,948), meningkat menjadi 27,68 (min 15; max 38; std
dev 6.890) pada posttest, sedangkan nilai rata-rata (mean) pretest kelas kontrol
sebesar 22,61 (min 15; max 32; std dev 5.349) menurun menjadi 22,24 (min 14;
max 30; std dev 5.281). Hasil analisis N – Gain Score menunjukkan bahwa kelas
eksperimen memperoleh nilai rata-rata sebesar 0,26 dengan kategori rendah,
sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata sebesar -0,04 dengan kategori
terjadi penurunan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan
menulis tegak bersambung pada kelas yang menggunakan buku garis tiga lebih
baik dibandingkan kelas yang menggunakan buku tulis standar. Dengan demikian,
buku garis tiga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran
untuk membantu meningkatkan keterampilan menulis tegak bersambung siswa
sekolah dasar.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ativa, Andin, Gita, 2026. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Dalam
Pembiasaan Karakter Gemar Membaca Pada Siswa Kelas V SD Negeri 4
Menteng Palangka Raya. Skripsi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Institut
Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Dosen
Pembimbing I: Dr. I Wayan Dana, S.Pd.,M.Si dan Dosen Pembimbing II: Putu
Cory Candra Yhani, S.Pd.,M.Pd.
Rendahnya karakter gemar membaca pada siswa sekolah dasar masih menjadi
salah satu permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan. Kondisi tersebut juga
ditemukan pada siswa kelas V SD Negeri 4 Menteng Palangka Raya yang ditunjukkan
oleh belum optimalnya kebiasaan membaca, rendahnya pemanfaatan perpustakaan
dan pojok baca, serta masih terbatasnya variasi bahan bacaan yang tersedia. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS),
mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta
mendeskripsikan dampak implementasi Gerakan Literasi Sekolah terhadap
pembiasaan karakter gemar membaca pada siswa kelas V SD Negeri 4 Menteng
Palangka Raya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif.
Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan
penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan
sembilan informan, terdiri atas kepala sekolah, wali kelas V, kepala perpustakaan, dan
enam siswa kelas V. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman,
dan Saldaña yang meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Gerakan Literasi Sekolah di
SD Negeri 4 Menteng Palangka Raya telah dilaksanakan dengan baik melalui
pembiasaan membaca selama 15-30 menit sebelum pembelajaran dimulai,
pemanfaatan pojok baca, perpustakaan sekolah, serta berbagai kegiatan literasi yang
dilakukan secara rutin. Faktor pendukung implementasi Gerakan Literasi Sekolah
meliputi komitmen kepala sekolah, keterlibatan guru, pembiasaan membaca yang
dilakukan secara konsisten, serta tersedianya perpustakaan dan pojok baca. Faktor
penghambat yang ditemukan meliputi keterbatasan variasi koleksi buku bacaan,
belum optimalnya sarana pendukung literasi, dan masih adanya sebagian siswa yang
memiliki minat membaca relatif rendah. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah
memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat, frekuensi, dan kebiasaan
membaca siswa, meningkatkan kemampuan memahami bacaan, memperkaya
kosakata, meningkatkan kepercayaan diri dalam menyampaikan kembali isi bacaan,
serta membentuk karakter gemar membaca pada siswa kelas V SD Negeri 4 Menteng
Palangka Raya.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hartati, 2025. Peranan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Agama Hindu Di Sma Negeri 1 Manuhing Kabupaten Gunung Mas. Pembimbing I: Mitro, S.Pd.,M.Si. Pembimbing II: Nyoman Sumarni, S.Ag.,M.Si
Kepala sekolah memiliki peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan, terutama dalam pembinaan dan pengembangan kompetensi guru. Keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kepala sekolah mampu menjalankan fungsi supervisi, motivasi, dan fasilitasi terhadap guru. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala baik dari dalam maupun luar sekolah yang dapat memengaruhi efektivitas peran tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan peranan kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru Agama Hindu di SMA Negeri 1 Manuhing Kabupaten Gunung Mas serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru Agama Hindu, serta siswa yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah telah melaksanakan perannya dengan baik dalam meningkatkan kompetensi guru Agama Hindu melalui tiga fungsi utama, yaitu sebagai supervisor, motivator, dan fasilitator. Sebagai supervisor, kepala sekolah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap proses pembelajaran secara terencana dan berkelanjutan. Sebagai motivator, kepala sekolah memberikan dorongan moral, apresiasi, serta kesempatan bagi guru untuk mengikuti kegiatan pengembangan profesional. Sedangkan sebagai fasilitator, kepala sekolah berperan dalam penyediaan sarana, prasarana, serta dukungan administratif guna menunjang efektivitas pembelajaran. Adapun kendala yang dihadapi terdiri atas kendala internal, seperti keterbatasan dana, fasilitas, dan waktu, serta kendala eksternal yang meliputi faktor geografis, kebijakan pendidikan, dan akses terhadap pelatihan guru. Meskipun demikian, kepala sekolah tetap berupaya mencari solusi melalui efisiensi anggaran, kerja sama dengan pihak luar, serta pemberian dukungan moral kepada guru agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan efektif dan bermakna.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tuti Yuniati. 2026. Pembimbing I Dr. I Wayan dana, S.Pd., M.Si, Pembimbing II
Ayu Fitriana, M.Pd. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Penggunaan
Buku Garis Tiga Terhadap Keterampilan Menulis Tegak
Bersambung Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas III SDN
11 Langkai.
Pendidikan pada tingkat dasar siswa tidak hanya mengarah pada
penguasaan materi pembelajaran, tetapi juga pada perkembangan keterampilan
berbahasa, salah satunya keterampilan menulis. Pada fase B sekolah dasar, siswa
diharapkan mampu menulis tegak bersambung dengan memperhatikan ketepatan
bentuk huruf, kerapian, keteraturan, dan proporsi tulisan. Namun, hasil observasi
awal di kelas III SDN 11 Langkai menunjukkan bahwa sebagian siswa masih
mengalami kesulitan menulis tegak bersambung secara rapi dan sesuai kaidah.
Salah satu upaya untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut adalah
penggunaan buku garis tiga sebagai panduan visual dalam menulis tegak
bersambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan
menulis tegak bersambung siswa setelah penggunaan buku garis tiga
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas III SDN 11 Langkai. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis quasi-experimental pretestposttest control group design. Sampel penelitian berjumlah 56 siswa, terdiri atas
29 siswa kelas III B sebagai eksperimen dan 27 siswa kelas III C sebagai kelas
kontrol Dengan sampel yang terdiri dari siswa kelas III B sebagai kelas
eksperimen dan kelas III C sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data
menggunakan tes praktik menulis tegak bersambung. Analisis data dilakukan
menggunakan analisis deskriptif dan N – Gain Score. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai rata-rata (mean) pretest kelas eksperimen sebesar 24,00
(min 12; max 33; std dev 5,948), meningkat menjadi 27,68 (min 15; max 38; std
dev 6.890) pada posttest, sedangkan nilai rata-rata (mean) pretest kelas kontrol
sebesar 22,61 (min 15; max 32; std dev 5.349) menurun menjadi 22,24 (min 14;
max 30; std dev 5.281). Hasil analisis N – Gain Score menunjukkan bahwa kelas
eksperimen memperoleh nilai rata-rata sebesar 0,26 dengan kategori rendah,
sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata sebesar -0,04 dengan kategori
terjadi penurunan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan
menulis tegak bersambung pada kelas yang menggunakan buku garis tiga lebih
baik dibandingkan kelas yang menggunakan buku tulis standar. Dengan demikian,
buku garis tiga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran
untuk membantu meningkatkan keterampilan menulis tegak bersambung siswa
sekolah dasar.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
TRISNAWATIE, 2026, Perlindungan Hukum terhadap Anak Korban Pelecehan Seksual di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya. Skripsi Fakultas Dharma Sastra Prodi Hukum Adat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya.Pembimbing I Dr. I Made Kastama, SH, MH. Pembimbing II Budiarto Santoso,M.H Pelecehan seksual terhadap anak merupakan tindak pidana yang berdampak serius terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial korban sehingga memerlukan perlindungan hukum yang komprehensif. Atas asumsi tersebut maka penelitian ini mengangkat rumusan masalah yaitu: (1) Bagaimana pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya, (2) Apa hambatan dalam memberikan perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Palangka Raya serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, analisis hukum, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DP3APPKB Kota Palangka Raya telah melaksanakan perlindungan hukum melalui penerimaan pengaduan, asesmen, pendampingan hukum, pendampingan psikologis, penyediaan safe house, serta koordinasi dengan kepolisian, kejaksaan, pengadilan, rumah sakit, dan instansi terkait. Selain itu, upaya preventif dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi hambatan berupa rendahnya kesadaran hukum masyarakat, tekanan sosial yang menyebabkan korban enggan melapor, keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan sarana dan prasarana, serta trauma psikologis yang dialami korban. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan koordinasi antarinstansi, penguatan sumber daya, serta peningkatan edukasi kepada masyarakat agar perlindungan hukum terhadap anak korban pelecehan seksual dapat terlaksana secara optimal. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Anak Korban Pelecehan Seksual, DP3APPKB Kota Palangka Raya.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Buku "Metodologi Penelitian Bidang Hukum: Suatu Pendekatan Teori dan Praktik" adalah panduan esensial bagi peneliti, mahasiswa, dan praktisi hukum yang tengah memperdalam pemahaman mereka tentang ilmu penelitian hukum. Buku ini membuka pintu ke dunia penelitian hukum dengan membahas konsep mendasar seperti pencarian kebenaran dan etika, serta karakteristik khusus yang perlu diperhatikan dalam penelitian hukum. Selain itu, buku ini menyoroti dinamika hukum yang berkembang saat ini, membantu pembaca memahami perubahan dan isu-isu terkini dalam bidang hukum. Buku ini juga memberikan panduan langkah demi langkah dalam merumuskan masalah, merancang hipotesis, memilih sumber data, dan mengaplikasikan berbagai metode penelitian, mulai dari kualitatif hingga kuantitatif. Selain itu, buku ini juga membahas mengenai pengembangan metode penelitian hukum untuk masa depan. Dengan pendekatan studi kasus dan sejarah, buku ini membantu pembaca mengintegrasikan teori dengan praktik penelitian hukum yang relevan, menjadikannya sumber daya berharga dalam menguasai seni penelitian hukum. Buku ini bukan hanya panduan teoritis, tetapi juga praktis, yang memandu pembaca melalui proses penelitian dari awal hingga akhir. Dengan penekanan pada teori, pendekatan, dan praktik. Buku ini adalah alat yang sangat berguna bagi mereka yang ingin menjembatani kesenjangan antara teori dan aplikasi dalam disiplin ilmu hukum yang dinamis.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hartati, 2025. Peranan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Agama Hindu Di Sma Negeri 1 Manuhing Kabupaten Gunung Mas. Pembimbing I: Mitro, S.Pd.,M.Si. Pembimbing II: Nyoman Sumarni, S.Ag.,M.Si Kepala sekolah memiliki peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan, terutama dalam pembinaan dan pengembangan kompetensi guru. Keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kepala sekolah mampu menjalankan fungsi supervisi, motivasi, dan fasilitasi terhadap guru. Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala baik dari dalam maupun luar sekolah yang dapat memengaruhi efektivitas peran tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan peranan kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru Agama Hindu di SMA Negeri 1 Manuhing Kabupaten Gunung Mas serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru Agama Hindu, serta siswa yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah telah melaksanakan perannya dengan baik dalam meningkatkan kompetensi guru Agama Hindu melalui tiga fungsi utama, yaitu sebagai supervisor, motivator, dan fasilitator. Sebagai supervisor, kepala sekolah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap proses pembelajaran secara terencana dan berkelanjutan. Sebagai motivator, kepala sekolah memberikan dorongan moral, apresiasi, serta kesempatan bagi guru untuk mengikuti kegiatan pengembangan profesional. Sedangkan sebagai fasilitator, kepala sekolah berperan dalam penyediaan sarana, prasarana, serta dukungan administratif guna menunjang efektivitas pembelajaran. Adapun kendala yang dihadapi terdiri atas kendala internal, seperti keterbatasan dana, fasilitas, dan waktu, serta kendala eksternal yang meliputi faktor geografis, kebijakan pendidikan, dan akses terhadap pelatihan guru. Meskipun demikian, kepala sekolah tetap berupaya mencari solusi melalui efisiensi anggaran, kerja sama dengan pihak luar, serta pemberian dukungan moral kepada guru agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan efektif dan bermakna.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Penelitian ini mengkaji tentang Penerapan kurikulum merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya. Proses implementasi Kurikulum Merdeka dalam pendidikan agama Hindu membawa perubahan pada metode, strategi serta penggunaan media pembelajaran. Guru di tuntut lebih kreatif dalam menyusun kegiatan belajar yang kontekstual, sedangkan siswa diajak untuk lebih aktif, kritis, dan reflektif dalam memahamahi materi agama. Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:1) Bagaimana penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya? 2) Apa kendala dalam penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya? 3) Bagaimana startegi menghadapi kendala Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya? Dianalisis menggunakan teori Behaviorisme dan Kongnitivisme. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. teknik analisis data yang digunakan ialah kondensasi data, penyajian data dan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis yaitu: pertama, penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu:1) perencanaan pembelajaran, 2) metode dan model pembelajaran, 3) pelaksanaan projek penguatan P5, 4) penggunaan media dan teknologi, 5) penilaian dan refleksi pembelajaran; Kedua, kendala dalam penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu meliputi: 1) kompetensi guru yang belum merata, 2) keterbatasan waktu pembelajaran, 3) kendala sosial dan lingkungan sekolah; Ketiga, startegi menghadapi kendala Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu yaitu: 1) strategi pedadogis, 2) strategi struktural dan kelembagaan, 3) strategi kultur dan sosial.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Meliwatie.2025. “Kewenangan Mantir Adat dalam Penyelesaian Kasus Perzinahan di Desa Buntut Bali Kecamatan Pulau Malan Kabupaten Katingan.”Skripsi Srata Satu, Prodi Hukum Adat Fakultas Dharma Sastra Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Dr. I Made Kastama, S.H., M.H. dan Pembimbing II Budiarto Santoso, M.H. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya peran lembaga adat dalam menyelesaikan pelanggaran adat, khususnya kasus perzinahan, di masyarakat Dayak Desa Buntut Bali. Dalam sistem nilai masyarakat Dayak, perzinahan atau jinah tidak hanya dianggap sebagai perbuatan asusila, melainkan juga merupakan pelanggaran berat terhadap tatanan adat, nilai kesucian keluarga, dan kehormatan komunitas. Permasalahan yang dikaji meliputi: (1) bagaimana kewenangan Mantir Adat dalam menyelesaikan kasus perzinahan di Desa Buntut Bali, dan (2) bagaimana mekanisme penyelesaian pelanggaran adat (perzinahan) yang diterapkan oleh Mantir Adat di Desa Buntut Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kualitatif untuk menggambarkan secara menyeluruh praktik kewenangan adat yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan Mantir Adat berlandaskan pada Hadat Dayak Tumbang Anoi 1894 serta Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 1 Tahun 2010 tentang Kelembagaan Adat Dayak. Kewenangan tersebut mencakup penerimaan laporan, pemeriksaan perkara, pemanggilan para pihak, penjatuhan sanksi adat, serta pengawasan pelaksanaan putusan. Mekanisme penyelesaian kasus perzinahan dilakukan melalui tahapan: pengaduan, pemanggilan, pemeriksaan, musyawarah, penjatuhan putusan, dan pelaksanaan sanksi berupa singer (denda adat dalam satuan kati ramu), serta ritual mamapas lewu sebagai bentuk pemulihan sosial dan spiritual. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kewenangan Mantir Adat bersifat yuridis, sosial, dan moral, serta memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan, wibawa adat, dan keseimbangan sosial di masyarakat Dayak. Dengan demikian, kewenangan Mantir Adat tetap relevan sebagai instrumen penyelesaian sengketa adat di masa kini. Kata Kunci: Kewenangan, Mantir Adat, Perzinahan, Hukum Adat Dayak.