2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Dinamika era globalisasi dan arus informasi digital memicu polarisasi serta penurunan pemahaman moderasi beragama di lingkungan sekolah. Kondisi terse-but berdampak pada timbulnya hambatan psikologis seperti isolasi peran (role isolation) pada siswa Hindu yang berstatus minoritas di sekolah negeri. Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan kejelasan serta implikasinya ter-hadap Pendidikan Agama Hindu di sekolah. Adapun rumusan masalah yang dipakai landasan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana peran guru Pendidi-kan Agama Hindu (PAH) dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? (2) Apa saja hambatan yang dihadapi guru PAH dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Pal-angka Raya? (3) Bagaimana strategi adaptif guru PAH dalam memperkuat mod-erasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui metode observasi partisipatif, wawancara mendalam (in-depth inter-view), dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui perpanjangan pengamatan dan member checking. Data selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan tiga pisau analisis konseptual, yaitu Teori Peran (Role Theory Bid-dle), Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky), dan Teori Pendidikan Mul-tikultural (James A. Banks). Berdasarkan substansi yang digunakan dalam penelitian ini, beberapa temuan yang diperoleh meliputi (1) Peran guru PAH secara konsisten berjalan sebagai value transmitter yang menginternalisasikan nilai Tat Twam Asi dan Tri Hita Ka-rana, conservator nilai keagamaan, serta role model dan inspirator karakter inklusif di lingkungan sekolah. (2) Hambatan yang dihadapi mencakup aspek in-ternal berupa isolasi peran (role isolation) dan kecenderungan eksklusif siswa minoritas, serta hambatan eksternal berupa ketimpangan komposisi kelas mul-tikultural, keterbatasan buku teks/bahan ajar nasional yang kurang mengako-modasi kearifan lokal (content gap), benturan ekspektasi domestik/orang tua, ser-ta ketiadaan ruang kelas khusus keagamaan Hindu. (3) Strategi adaptif yang dit-erapkan guru mencakup Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis role sharing, pembentukan Forum Diskusi Huma Betang, pengembangan konten digi-tal edukatif Hindu Kaharingan, serta pemanfaatan media seni rupa lokal (seperti Sapundu) untuk menjembatani keterbatasan ruang ibadah. Integrasi strategi ini berhasil mentransformasi interaksi siswa minoritas dari rasa terasing menjadi kolaboratif. Penelitian ini memberikan kontribusi da-lam merekonstruksi ekosistem belajar inklusif yang mengawinkan konsep Tri Mandala Hindu dengan filosofi egaliter Huma Betang Dayak, guna mewujudkan ruang kelas sebagai laboratorium sosial pembentuk ketahanan mental dan karak-ter moderat siswa. Kata Kunci: Guru Agama Hindu, Moderasi Beragama, Huma Betang, Era Glob-alisasi, Minoritas. ABSTRACT The dynamics of the globalization era and the flow of digital information trigger polarization and a decline in the understanding of religious moderation in school environments. These conditions lead to psychological barriers such as role isolation among minority Hindu students in public schools. This study is directed towards gaining clarity and its implications for Hindu Religious Education in schools. The research questions serving as the foundation of this study are (1) What is the role of Hindu Religious Education (PAH) teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? (2) What obstacles are faced by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools across Palangka Raya City? (3) What adaptive strategies are implemented by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? Through a qualitative approach with a case study design, data were col-lected using participatory observation methods, in-depth interviews, and docu-mentation studies. Data validity was maintained through extended observation and member checking. The data were then interpreted using three conceptual an-alytical frameworks: Biddle's Role Theory, Lev Vygotsky's Social Constructivism Theory, and James A. Banks' Multicultural Education Theory. Based on the substance used in this study, several findings were obtained, includ-ing: (1) The role of PAH teachers consistently functions as value transmitters in-ternalizing the teachings of Tat Twam Asi and Tri Hita Karana, conservators of religious values, as well as role models and inspirators for inclusive character building in schools. (2) The obstacles faced include internal aspects such as role isolation and exclusive tendencies among minority students, alongside external obstacles such as demographic imbalances in multicultural classrooms, a lack of national textbooks/learning materials incorporating local wisdom (content gap), domestic/parental expectations resistance, and the absence of dedicated class-rooms for Hindu religious activities. (3) The adaptive strategies implemented by teachers include Character Education Strengthening (PPK) based on role-sharing, establishing Huma Betang Discussion Forums, developing Hindu Kaharingan ed-ucational digital content, and utilizing local fine arts media (such as Sapundu) to overcome spatial limitations for religious worship. The integration of these strategies successfully transformed minority stu-dent interactions from feeling isolated to becoming collaborative. This research contributes to reconstructing an inclusive learning ecosystem by synthesizing the Balinese Hindu Tri Mandala spatial concept with the egalitarian Dayak Huma Betang philosophy, ultimately transforming classrooms into social laboratories that foster mental resilience and moderate character among students. Keywords: Hindu Teachers, Religious Moderation, Huma Betang, Globalization Era, Minority.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai bentuk pelaksanaan, hambatan yang dihadapi, serta implikasi dari pendidikan Hindu non-formal dalam memperkuat kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Pangkan, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan Te-ori Solidaritas Sosial Emile Durkheim, Teori Transformative Learning Jack Mezi-row, dan Teori Interaksi Simbolik Herbert Blumer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pem-ahaman yang mendalam mengenai pendidikan non-formal dan kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, bentuk pelaksanaan pendidikan Hindu non-formal di Desa Pangkan diintegrasikan secara nyata melalui aktivitas ritual keagamaan dan tradisi adat. Pendidikan keagamaan berpusat pada Persembahyangan Basarah (rutin Jumat malam dan keluarga ber-giliran Senin) serta upacara perkawinan adat Hindu Kaharingan. Pendidikan nilai melalui tradisi diinternalisasikan secara kokoh melalui semangat gotong royong Handep Hapakat. Proses ini didukung oleh peran vital tokoh adat dan tokoh agama sebagai teladan hidup dalam pola interaksi sosial yang dinamis, meniru, mendengarkan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam musyawarah adat. Kedua, hambatan pelaksanaan diklasifikasikan menjadi tiga aspek. Hambatan struktural berupa terbatasnya sarana pembelajaran, minimnya pendidik kompe-ten, dan banyaknya generasi tua yang telah wafat. Hambatan kultural dipicu oleh modernisasi, arus digitalisasi, dan migrasi pemuda. Hambatan partisipatif ditandai dengan menguatnya individualisme, minimnya dialog antargenerasi, ser-ta pernikahan campuran beda agama yang memicu konversi spiritual. Ketiga, implikasi dari pendidikan non-formal ini terbukti sangat positif. Implikasi ter-hadap kohesi sosial berupa terbentuknya solidaritas mekanik dan kesadaran kolektif umat. Implikasi terhadap pelestarian identitas kolektif menjaga keberadaan umat Hindu Kaharingan sebagai minoritas, sementara implikasi so-sial-kulturalnya mewujud pada terjaganya integrasi sosial dan keberlanjutan kearifan lokal di Desa Pangkan. Kata Kunci: Pendidikan Hindu Non-Formal, Kohesi Sosial, Hindu Kaharingan, Basarah, Handep Hapakat ABSTRACT This study aims to deeply analyze the form of implementation, the obstacles en-countered, and the implications of non-formal Hindu education in strengthening social cohesion among the Hindu Kaharingan community in Pangkan Village, Paku District, East Barito Regency. This study uses a descriptive qualitative ap-proach grounded in Emile Durkheim's Social Solidarity Theory, Jack Mezirow's Transformative Learning Theory, and Herbert Blumer's Symbolic Interactionism Theory. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and drawing conclusions to obtain a profound understanding of non-formal edu-cation and social cohesion in the Hindu Kaharingan community. The research yields three major findings. First, the implementation of non-formal Hindu education in Pangkan Village is tangibly integrated through religious ritu-als and customary traditions. Religious education centers on Basarah Worship (regular Friday nights and rotating family sessions on Mondays) as well as Hindu Kaharingan customary wedding ceremonies. Value education through tradition is firmly internalized through the spirit of mutual cooperation, Handep Hapakat. This process is supported by the vital role of customary and religious figures as living role models within dynamic social interaction patterns, mimicking, listen-ing, and active community participation in customary deliberations. Second, the implementation obstacles are classified into three aspects. Structural obstacles include limited learning facilities, a shortage of competent educators, and the critical situation of many elderly generation members passing away. Cultural ob-stacles are triggered by modernization, digitalization, and youth migration. Par-ticipatory obstacles are characterized by rising individualism, lack of intergener-ational dialogue, and interfaith marriages leading to spiritual conversion. Third, the implications of this non-formal education prove to be highly positive. The implications for social cohesion are marked by the preservation of mechanical solidarity and the collective conscience of the community. The implications for preserving collective identity sustain the existence of Hindu Kaharingan as a mi-nority spiritual community, while the socio-cultural implications manifest in maintaining social integration and the sustainability of local wisdom in Pangkan Village. Keywords: Hindu Non-Formal Education, Social Cohesion, Hindu Kaharingan, Basarah, Handep Hapakat
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Emilda, 2026. Peran Guru Agama Hindu Dalam Meningkatkan Minat
Basarah Pada Siswa (Pasraman) Di Desa Netampin
Kabupaten Barito Timur. Skripsi Fakultas Dharma Acarya
Prodi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu
Negeri Tampung Penyang Palangka Raya.
Pembimbing I: Mitro, S.Pd., M.Si Pembimbing II: Nyoman
Sumarni, S.Ag., M.Si
Dalam PMA (Peraturan Menteri Agama) No. 56 Tahun 2014, pemerintah
mengakomodasi pendidikan keagamaan Hindu. Dalam PMA ini, pendidikan
keagamaan Hindu disebut Pendidikan Pasraman. Pendidikan Pasraman dibagi
menjadi dua: Pasraman Formal dan Non Formal. Pasraman Formal meliputi:
Pratama Widya Pasraman, Adi Widya Pasraman, Madyama Widya Pasraman,
Utama Widya Pasraman; dan Maha Widya Pasraman. Sedangkan Pasraman Non
Formal adalah Pasraman yang menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk
Pesantian, Sad Dharma, Padepokan, Aguronguron, Parampara, Guru Kula, dan
bentuk lainnya yang sejenis. Pasraman Non Formal diselanggarakan dalam bentuk
satuan Pendidikan atau program. Penelitian ini berfokus mengungkap peranan guru
pasraman nonformal dalam meningkatkan minat siswa melakukan Bhakti berupa
peribadatan Basarah pada umat Hindu Kaharingan. Di dalam Pasraman Nunuk
Nyuli adapun yang melatar belakangi rumusan masalah terdapat 3 Masalah,
malasah yang ( 1 ) Bagaimanakah Peran Guru dalam Meningkatkan Minat Basarah
pada Pasraman Nunuk Nyuli? ( 2 ) Apa saja Kendala yang dihadapi Guru Pasraman
dalam meningkatkan Minat Basarah Siswa Pasraman Nunuk Nyuli? (3)Apa Upaya
yang dilakakukan oleh Guru Pasraman Penyang Hinje Simpei Untuk meningkatkan
Minat Basarah Siswa di Pasraman Nunuk Nyuli?.
Penulisan ini bertujuan : (1) untuk mengetahui dan mendiskripsikan
Bagaimana Peran Guru dalam Meningkatkan Minat Basarah Siswa di Desa
Netampin kecematan Dusun Tengah Kabupaten Barito Timur. (2) untuk
mengetahui dan mendiskripsikan apa kendala Guru dalam Meningkatkan Minat
Basarah Siswa di Desa Netampin kecematan Dusun Tengah Kabupaten Barito
Timur. (3) untuk mengetahui mendiskripsikan Upaya yang dilakukan Guru untuk
meningkatkan minat Basarah Siswa Teori yang di gunakan untuk penelitian ini
untuk menganalisis rumusan masalah adalah teori Behaviorisme menekankan
hanya pada hal-hal yang dapat diobservasi secara kasat mata, maka teori ini
memandang proses belajar yang alami oleh manusia oleh kondisi stimulus ( S ) dan
respon ( R ).
Penelitian ini dilakukan pada Pasraman Nunuk Nyuli di Desa Tarantang
Kecamatan Dusun Tengah Kabupaten Kapuas. Jenis penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan jumlah informan
terdiri dari 13 orang , yang menjadi instrumen penelitian adalah penelitian sendiri.
waktu yang di gunakan untuk penelitian ini kurang lebih 1 ( satu ) bulan di mulai
dari tanggal 10 mei 2025 untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan Teknik
pengumpulan data yang di gunakan yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : (1) Bagaimanakah Peran
Guru dalam meningkatkan Minat Basarah siswa Pada Pasraman Penyang Nunuk
Nyuli (a) memberikan siswa Motivasi (b) memberikan dorongan (c) menyediakan
fasilitas (d) mengajarkan siswa membuat sarana prasarana dan (e) latihan menari
(2) Apa saja Kendala yang dihadapi Guru Pasraman dalam meningkatkan Minat
Basarah Siswa Pasraman Nunuk Nyuli (a) kurangnya minat siswa dalam mengikuti
ibadah Basarah (b) kurangnya dorongan dari orang tua (c) malas (d) minimnya
pengetahuan tentang Agama (e) jarak dan kurang termotivasi. (3) Apa upaya yang
dilakukan Guru dalam meningkatkan minat Basarah siswa (a) memberikan motivasi
(b) memberikan pembelajaran yang menarik (c) memberikan nasehat (d)
memberikan kepercayaan kepada siswa (e) memberikan Bimbingan ke siswa.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Maria Gebi Pertama, 2026 :Penerapan Pendidikan Karakter Disiplin Dan
Tanggung Jawab Pada Peserta Didik Kelas IV Di
SDN 4 Palangka Kota Palangka Raya.
Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah
Dasar, Fakultas Dharma Acarya, Institut Agama
Hindu Negeri Tamping Penyang Palangka Raya.
Pembimbing I: Dr. I Gede Dharman Gunawan,
S.H.,M.Pd.H., Pembimbing II: Heri Kusuma
Tarupay, SS.,M.Hum
Pendidikan karakter merupakan bagian integral dari pembentukan
kepribadian peserta didik di sekolah dasar, namun masih banyak ditemukan
permasalahan seperti kurangnya disiplin waktu, ketidakteraturan dalam
mengerjakan tugas, dan rendahnya kesadaran tanggung jawab di kalangan siswa
kelas IV SDN 4 Palangka Kota Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji dan mendeskripsikan penerapan pendidikan karakter disiplin dan
tanggung jawab pada peserta didik kelas IV serta upaya guru dalam
mengimplementasikannya.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik
pengumpulan data melalui observasi non-partisipatif, wawancara semi-terstruktur
kepada kepala sekolah, guru kelas IV, dan siswa, serta analisis dokumentasi seperti
RPP dan tata tertib sekolah yang dilaksanakan selama Oktober–November 2025 di
SDN 4 Palangka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan karakter disiplin dilakukan
melalui pembiasaan kedatangan tepat waktu, keteladanan guru, dan integrasi dalam
kegiatan pembelajaran, sementara karakter tanggung jawab dibangun lewat tugas
piket kelas, penyelesaian PR tepat waktu, dan pendampingan teman; meskipun
perilaku siswa sebagian besar positif, masih terdapat kendala berupa
ketidakkonsistenan sebagian siswa yang dipengaruhi lingkungan keluarga. Guru
menerapkan strategi keteladanan, nasihat edukatif, dan kerja sama dengan orang
tua sebagai faktor pendukung utama. Disimpulkan bahwa pendidikan karakter
disiplin dan tanggung jawab telah berjalan efektif namun memerlukan penguatan
berkelanjutan; implikasinya adalah perlunya integrasi nilai karakter secara holistik
dalam kurikulum sekolah dasar untuk membentuk generasi yang mandiri dan
bertanggung jawab.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Muhamad, 2026. Komunikasi Tatap Muka di Tengah Fenomena Phubbing Pada Mahasiswa Asrama IAHN Tampung Penyang Palangka Raya Pembimbing I Dr. I Wayan Salendra, S.Ag.,M.Si Pembimbing II Desembeling, S.Ag.,M.Si Penelitian ini mengkaji fenomena phubbing (phone snubbing) yang memicu paradoks komunikasi: mendekatkan hubungan dengan pihak yang jauh melalui gawai, namun justru menjauhkan keakraban dengan orang yang berada di dekatnya di lingkungan komunal Asrama IAHN Tampung Penyang Palangka Raya. Lingkungan asrama yang idealnya menjadi ruang pembinaan karakter, persaudaraan, serta pengamalan nilai-nilai agama dan budaya, kini menghadapi tantangan nyata akibat pergeseran pola interaksi tersebut. Tujuan riset ini untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman subjektif mahasiswa dalam berkomunikasi tatap muka, menganalisis dampak perilaku phubbing terhadap dinamika dan iklim sosial asrama, serta mengidentifikasi hambatan, upaya yang telah dilakukan, dan solusi yang tepat guna. Jenis atau metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dalam pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, akurat mengenai sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Pendekatan tersebut dimulai dengan cara berpikir deduktif kemudian melakukan pengujian di lapangan serta pendekatan kualitatif lebih menekankan analisis pada proses penyimpulkan deduktif dan induktif serta analisis terhadap dinamika hubungan antara fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah, Penelitian ini dilaksanakan di asrama mahasiswa Kampus IAHN Tampung Penyang Palangka Raya dilaksanakan kurang lebih satu (1) bulan, Penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling dalam proses pelaksanaannya yang menentukan adalah Pembina asrama dan ketua asrama putra beserta putri, Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, Analisis data yang digunakan peneliti yaitu model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014:12- 14) yaitu kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena phubbing saat berinteraksi langsung secara signifikan menurunkan kualitas komunikasi tatap muka mahasiswa. mahasiswa yang menjadi sasaran perilaku ini cenderung merasa diabaikan, kurang dihargai, dan tidak mendapatkan perhatian penuh dari lawan bicara. Penggunaan gawai saat berkomunikasi menyebabkan perhatian terbagi, sehingga menghambat kontak mata serta menurunkan efektivitas penyampaian pesan. Lebih lanjut, fenomena ini juga terbukti mengurangi kualitas hubungan interpersonal, menurunkan rasa saling percaya, serta menghambat pembentukan kehadiran sosial dan kebersamaan di lingkungan asrama
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Luh Maya Rani. Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Eksistensi Galeri Lewu sebagai Wisata Edukasi di Kota Palangka Raya. Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka. Pembimbing: I Handoko, S,Ag.,M.Si dan Pembimbing II: Dr. I Kadek Sukiada S.Ag., M.Si. 2026. Galeri Lewu merupakan galeri seni independen yang diresmikan pada November 2024 di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang berfungsi sebagai ruang pamer seni sekaligus wisata edukasi. Keberadaan galeri ini menjadi alternatif bagi seniman lokal yang selama ini kesulitan mendapatkan ruang pamer permanen. Namun, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat perkotaan, seperti perkembangan teknologi digital, pergeseran gaya hidup, dan rendahnya apresiasi terhadap seni budaya, diduga mempengaruhi eksistensi Galeri Lewu sebagai destinasi wisata edukasi. Penelitian ini penting dilakukan mengingat belum ada kajian ilmiah yang secara spesifik membahas pengaruh perubahan sosial terhadap eksistensi galeri seni di Palangka Raya. Dari pembahasan diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah bentuk Perubahan Sosial yang terjadi di Galeri Lewu di Kota Palangka Raya? (2) Bagaimana Eksistensi Galeri Lewu sebagai wisata edukasi di Kota Palangka Raya? (3) Bagaimana Pengaruh Perubahan Sosial terhadap Eksistensi Galeri Lewu sebagai wisata edukasi di Kota Palangka Raya? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pemilik galeri, dan pengunjung, serta dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilaksanakan pada Juni-Juli 2026 di Galeri Lewu, Jalan Punai No. 107, Palangka Raya. Hasil penelitian bentuk perubahan sosial yang terjadi di Galeri Lewu meliputi: perubahan fungsi dan diferensiasi struktural sebagai ruang seni independen, perubahan dari sederhana ke kompleks melalui diversifikasi program, perubahan pola hubungan sosial antar seniman dan masyarakat, regenerasi seniman melalui sanggar anak, dan perubahan ekonomi kreatif. Eksistensi Galeri Lewu sebagai wisata edukasi tetap terjaga melalui program edukatif seperti penyediaan kanvas bagi pengunjung, workshop melukis, crafting, pelatihan motif seni, dan kunjungan edukasi sekolah tanpa biaya. Pengaruh perubahan sosial bersifat ambivalen, dimana kendala utama meliputi keterbatasan dana operasional, kurangnya SDM pemasaran digital, dan keterbatasan fasilitas
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Dinamika era globalisasi dan arus informasi digital memicu polarisasi serta penurunan pemahaman moderasi beragama di lingkungan sekolah. Kondisi terse-but berdampak pada timbulnya hambatan psikologis seperti isolasi peran (role isolation) pada siswa Hindu yang berstatus minoritas di sekolah negeri. Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan kejelasan serta implikasinya ter-hadap Pendidikan Agama Hindu di sekolah. Adapun rumusan masalah yang dipakai landasan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana peran guru Pendidi-kan Agama Hindu (PAH) dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? (2) Apa saja hambatan yang dihadapi guru PAH dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Pal-angka Raya? (3) Bagaimana strategi adaptif guru PAH dalam memperkuat mod-erasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui metode observasi partisipatif, wawancara mendalam (in-depth inter-view), dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui perpanjangan pengamatan dan member checking. Data selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan tiga pisau analisis konseptual, yaitu Teori Peran (Role Theory Bid-dle), Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky), dan Teori Pendidikan Mul-tikultural (James A. Banks). Berdasarkan substansi yang digunakan dalam penelitian ini, beberapa temuan yang diperoleh meliputi (1) Peran guru PAH secara konsisten berjalan sebagai value transmitter yang menginternalisasikan nilai Tat Twam Asi dan Tri Hita Ka-rana, conservator nilai keagamaan, serta role model dan inspirator karakter inklusif di lingkungan sekolah. (2) Hambatan yang dihadapi mencakup aspek in-ternal berupa isolasi peran (role isolation) dan kecenderungan eksklusif siswa minoritas, serta hambatan eksternal berupa ketimpangan komposisi kelas mul-tikultural, keterbatasan buku teks/bahan ajar nasional yang kurang mengako-modasi kearifan lokal (content gap), benturan ekspektasi domestik/orang tua, ser-ta ketiadaan ruang kelas khusus keagamaan Hindu. (3) Strategi adaptif yang dit-erapkan guru mencakup Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis role sharing, pembentukan Forum Diskusi Huma Betang, pengembangan konten digi-tal edukatif Hindu Kaharingan, serta pemanfaatan media seni rupa lokal (seperti Sapundu) untuk menjembatani keterbatasan ruang ibadah. Integrasi strategi ini berhasil mentransformasi interaksi siswa minoritas dari rasa terasing menjadi kolaboratif. Penelitian ini memberikan kontribusi da-lam merekonstruksi ekosistem belajar inklusif yang mengawinkan konsep Tri Mandala Hindu dengan filosofi egaliter Huma Betang Dayak, guna mewujudkan ruang kelas sebagai laboratorium sosial pembentuk ketahanan mental dan karak-ter moderat siswa. Kata Kunci: Guru Agama Hindu, Moderasi Beragama, Huma Betang, Era Glob-alisasi, Minoritas. ABSTRACT The dynamics of the globalization era and the flow of digital information trigger polarization and a decline in the understanding of religious moderation in school environments. These conditions lead to psychological barriers such as role isolation among minority Hindu students in public schools. This study is directed towards gaining clarity and its implications for Hindu Religious Education in schools. The research questions serving as the foundation of this study are (1) What is the role of Hindu Religious Education (PAH) teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? (2) What obstacles are faced by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools across Palangka Raya City? (3) What adaptive strategies are implemented by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? Through a qualitative approach with a case study design, data were col-lected using participatory observation methods, in-depth interviews, and docu-mentation studies. Data validity was maintained through extended observation and member checking. The data were then interpreted using three conceptual an-alytical frameworks: Biddle's Role Theory, Lev Vygotsky's Social Constructivism Theory, and James A. Banks' Multicultural Education Theory. Based on the substance used in this study, several findings were obtained, includ-ing: (1) The role of PAH teachers consistently functions as value transmitters in-ternalizing the teachings of Tat Twam Asi and Tri Hita Karana, conservators of religious values, as well as role models and inspirators for inclusive character building in schools. (2) The obstacles faced include internal aspects such as role isolation and exclusive tendencies among minority students, alongside external obstacles such as demographic imbalances in multicultural classrooms, a lack of national textbooks/learning materials incorporating local wisdom (content gap), domestic/parental expectations resistance, and the absence of dedicated class-rooms for Hindu religious activities. (3) The adaptive strategies implemented by teachers include Character Education Strengthening (PPK) based on role-sharing, establishing Huma Betang Discussion Forums, developing Hindu Kaharingan ed-ucational digital content, and utilizing local fine arts media (such as Sapundu) to overcome spatial limitations for religious worship. The integration of these strategies successfully transformed minority stu-dent interactions from feeling isolated to becoming collaborative. This research contributes to reconstructing an inclusive learning ecosystem by synthesizing the Balinese Hindu Tri Mandala spatial concept with the egalitarian Dayak Huma Betang philosophy, ultimately transforming classrooms into social laboratories that foster mental resilience and moderate character among students. Keywords: Hindu Teachers, Religious Moderation, Huma Betang, Globalization Era, Minority.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Pillmanto.2026. Pembelajaran Teknik Titik Perspektif Dalam Meningkatkan
Kemampuan Menggambar Bentuk Pada Siswa Kelas VII di SMPN 2
Palangka Raya. Skripsi Prodi Pendidikan Seni dan Keagamaan Fakultas
Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka
Raya. Pembimbing I. Dr AA Gede Wiranata, S.Ag.,M.Ag. Pembimbing II
Niwayan Sukraini, S.Pd.,M.Pd
Pembelajaran Seni Budaya, khususnya pada materi menggambar bentuk,
memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan visual, kreativitas, dan
keterampilan artistik siswa. Namun, berdasarkan hasil observasi awal di kelas VII9 SMPN 2 Palangka Raya, kemampuan menggambar bentuk siswa masih tergolong
rendah. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep
perspektif, seperti menentukan garis horizon, titik hilang, dan garis proyeksi,
sehingga hasil gambar yang dibuat masih tampak datar, kurang proporsional, dan
belum menunjukkan kesan ruang serta kedalaman. Oleh karena itu, diperlukan
suatu pembelajaran yang mampu membantu siswa memahami konsep perspektif
secara lebih konkret melalui penerapan teknik titik perspektif.
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan
pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa
kelas VII-9 SMPN 2 Palangka Raya yang berjumlah 31 orang. Penelitian
dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan
refleksi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara,
dokumentasi, dan tes praktik menggambar bentuk. Data dianalisis menggunakan
teknik deskriptif komparatif untuk membandingkan hasil belajar siswa sebelum dan
sesudah penerapan pembelajaran teknik titik perspektif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran teknik titik
perspektif mampu meningkatkan kemampuan menggambar bentuk siswa. Pada
tahap pratindakan, sebagian besar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) dengan rata-rata nilai sebesar 60. Setelah tindakan pada Siklus I,
rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 95 dengan tingkat ketuntasan klasikal
mencapai 100% dari siswa yang mengikuti pembelajaran. Selain itu, aktivitas,
keterlibatan, motivasi, dan kepercayaan diri siswa selama proses pembelajaran juga
mengalami peningkatan. Dengan demikian, pembelajaran teknik titik perspektif
terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menggambar bentuk siswa kelas
VII di SMPN 2 Palangka Raya.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Rira Margareta.2026.Fenomena Perubahan Sikap Mahasiswa Dalam Proses
Perkuiahan Pada Prodi Pendidikan Agama Hindu IAHNTampung Penyang Palangka Raya,
Pembimbing I Dr I Gede Dharman Gunawan, SH.
M.Pd.H
Pembimbing II Megawati S.Pi.,M.Pd.H
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena perubahan sikap
mahasiswa dalam proses perkuliahan pada Program Studi Pendidikan Agama
Hindu IAHN-Tampung Penyang Palangkaraya, meliputi bentuk perubahan sikap
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam perspektif Etika Hindu.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada
mahasiswa dan dosen, observasi, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan
melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sikap mahasiswa dalam
proses perkuliahan bersifat dinamis, yaitu mengarah pada perubahan positif dan
negatif. Perubahan positif terlihat dari meningkatnya kepercayaan diri, keaktifan
dalam diskusi, dan kemandirian belajar. Sedangkan perubahan negatif ditunjukkan
dengan menurunnya kedisiplinan, tanggung jawab, sopan santun, serta partisipasi
mahasiswa dalam pembelajaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan
sikap mahasiswa terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi
penurunan motivasi belajar, kurangnya kesadaran diri, kondisi psikologis seperti
stres akibat beban tugas, serta rendahnya pengendalian diri. Faktor eksternal
meliputi pengaruh media sosial, lingkungan pertemanan, metode pembelajaran
dosen, lingkungan keluarga, dan beban akademik.
Perspektif Etika Hindu, perubahan sikap mahasiswa berkaitan dengan
penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha, Sad Ripu, dan Tri Mala. Perubahan sikap
yang positif mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam mengendalikan pikiran,
perkataan, dan perbuatan, sedangkan perubahan negatif menunjukkan belum
optimalnya pengendalian diri. Oleh karena itu, diperlukan upaya pembinaan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas sikap mahasiswa agar sesuai dengan
nilai-nilai etika Hindu
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sunetae MR. Hanyi. 2026. Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Siaran Mimbar Agama Hindu Pro 1 di RRI Palangka Raya. Program Studi Magister Pendidikan Agama Hindu, Program Pascasarjana, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag., M.A., Pembimbing II Dr. Ervantia Restulita L. Sigai, S.S., M.Si. Program Mimbar Agama Hindu Pro 1 di RRI Palangka Raya merupakan salah satu media pendidikan agama Hindu nonformal yang berperan dalam menyampaikan ajaran dan nilai-nilai agama Hindu kepada masyarakat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kajian mengenai nilai-nilai pendidikan agama Hindu dalam isi siaran keagamaan, pola penyampaiannya, serta latar belakang penyelenggaraan program sebagai media pendidikan agama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang munculnya Program Mimbar Agama Hindu Pro 1 di RRI Palangka Raya, mengkaji pola penyampaian nilai-nilai pendidikan agama Hindu dalam siaran, serta mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam isi siaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan Kepala RRI Palangka Raya, pengelola Program Mimbar Agama Hindu Pro 1, serta narasumber program sebagai informan penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Program Mimbar Agama Hindu Pro 1 di RRI Palangka Raya diselenggarakan sebagai implementasi fungsi RRI sebagai lembaga penyiaran publik melalui kerja sama dengan Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu, lembaga keagamaan Hindu, dan narasumber untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan agama Hindu nonformal. Kedua, pola penyampaian nilai-nilai pendidikan agama Hindu dilakukan melalui materi yang sistematis, komunikatif, dan kontekstual, didukung oleh koordinasi antara pengelola program, Bimas Hindu, dan narasumber sehingga materi mudah dipahami dan dimaknai oleh masyarakat. Ketiga, isi siaran memuat nilai etika, nilai sosial, dan nilai spiritual yang tidak hanya memperkuat pengetahuan keagamaan, tetapi juga membentuk karakter, hubungan sosial yang harmonis, serta kehidupan spiritual masyarakat dalam mengamalkan ajaran Hindu sehari-hari.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan karakter peserta didik di tengah berbagai fenomena penurunan moral yang masih terjadi, seperti kurangnya kedisiplinan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Dalam konteks pendidikan Agama Hindu, nilai-nilai Tri Hita Karana yang meliputi Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan dipandang sebagai landasan filosofis yang mampu membentuk karakter peserta didik secara holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses internalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana, mengkaji implikasinya terhadap pembentukan karakter siswa Hindu, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam proses internalisasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, dan dokumentasi terhadap wakil kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Hindu dan siswa, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana dilaksanakan secara sistematis melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut dengan memanfaatkan strategi keteladanan, pembiasaan, pembelajaran berbasis pengalaman, bercerita, bermain, serta pemberian penguatan. Internalisasi tersebut memberikan implikasi positif terhadap terbentuknya karakter religius, disiplin, peduli, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Selain itu, tercipta budaya sekolah yang religius, harmonis, dan peduli lingkungan. Namun demikian, proses internalisasi masih menghadapi kendala internal berupa karakteristik perkembangan anak usia dini yang masih egosentris, kemampuan memahami konsep abstrak yang terbatas, serta belum stabilnya konsistensi perilaku siswa, dan kendala eksternal berupa kurang optimalnya kesinambungan pembiasaan di lingkungan keluarga, perbedaan pola pengasuhan orang tua, serta pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan teknologi. Dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana merupakan strategi yang efektif dalam membentuk karakter siswa Hindu apabila dilaksanakan secara berkelanjutan, didukung oleh keteladanan guru, pembiasaan yang konsisten, serta sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
I Nyoman Urip, 2026 :Hubungan Penerapan Pendekatan Kontekstual Dalam
Pembelajaran Matematika Dengan Hasil Belajar Siswa
Kelas IV SDN 4 Menteng Palangka Raya. Skripsi,
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas
Dharma Acarya, Institut Agama Hindu Negeri Tamping
Penyang Palangka Raya. Pembimbing I: Dr. Pranata,
S.Pd.,M.Si, Pembimbing II: Ni Putu Sri Pinatih,
S.Pd.,M.Pd
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya hasil belajar
matematika siswa kelas IV-A SDN 4 Menteng Palangka Raya serta perlunya bukti
empiris mengenai hubungan penerapan pendekatan kontekstual dengan hasil
belajar matematika siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara penerapan pendekatan kontekstual sebagai variabel bebas dengan hasil
belajar matematika sebagai variabel terikat pada siswa kelas IV-A SDN 4 Menteng
Palangka Raya.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.
Sampel penelitian berjumlah 23 siswa yang ditentukan menggunakan teknik
purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui angket penerapan
pendekatan kontekstual dan dokumentasi nilai hasil belajar matematika. Analisis
data menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, dan uji Korelasi
Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 27 for Windows.
Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien korelasi r = 0,083 dengan nilai
signifikansi 0,707 (p > 0,05), sehingga hipotesis nol (H₀) diterima yaitu tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan pendekatan kontekstual dalam
pembelajaran matematika dengan hasil belajar siswa kelas IV-A Sekolah Dasar
Negeri 4 Menteng Palangka Raya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan pendekatan kontekstual
dengan hasil belajar matematika siswa kelas IV-A SDN 4 Menteng Palangka Raya.
Nilai koefisien korelasi yang positif berada pada kategori sangat lemah, sehingga
hubungan antara kedua variabel tidak bermakna secara statistik.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Pebida Salamiara. 2026. Pembimbing I: Dr. I Gede Dharman Gunawan, S.H.,
M.Pd.H. Pembimbing II: Roy Wentas, S.Pd., M.Pd.H.
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Eksplorasi
Pengalaman Guru dalam Mengelola Perilaku Agresif Verbal
Siswa Kelas IV di SDN 4 Menteng Palangka Raya.
Perilaku agresif verbal merupakan salah satu permasalahan yang masih
sering terjadi pada siswa sekolah dasar. Perilaku tersebut ditunjukkan melalui
tindakan mengejek, berkata kasar, membentak, serta memanggil teman dengan
julukan yang tidak disukai sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran dan
hubungan sosial antarsiswa. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan
untuk mengeksplorasi pengalaman guru dalam mengelola perilaku agresif verbal
siswa kelas IV di SDN 4 Menteng Palangka Raya serta mengidentifikasi berbagai
kendala yang dihadapi guru dalam proses penanganannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
deskriptif. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru kelas IV, dan
siswa kelas IV. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan
dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan
Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan
kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengelola perilaku agresif
verbal melalui teguran, nasihat, pendekatan personal, pembiasaan penggunaan
bahasa yang santun, keteladanan, penguatan pendidikan karakter, serta kerja sama
dengan orang tua. Kendala yang dihadapi meliputi perbedaan karakter siswa,
rendahnya kesadaran siswa terhadap dampak ucapan, pengaruh lingkungan
keluarga, teman sebaya, media sosial, serta keterbatasan waktu dalam
memberikan pembinaan secara individual. Upaya tersebut diharapkan mampu
menciptakan lingkungan belajar yang aman, kondusif, dan mendukung
perkembangan karakter siswa.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Etni Marsela 2026. Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag.,M.A, Putu Cory Chandra Yhani, S.Pd.,M.Pd Skripsi. Pengaruh Penerapan Metode Deep Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Di SMPN 2 Palangka Raya Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya kajian empiris mengenai pengaruh penerapan metode deep learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMP Negeri 2 Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan metode deep learning terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan landasan teori belajar bermakna Ausubel serta teori konstruktivisme Piaget dan Bruner yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam membangun pemahaman secara mendalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 24 siswa kelas VII, VIII, dan IX yang ditentukan melalui teknik total sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui angket dengan skala Likert dan dokumentasi hasil belajar siswa, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan program SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode deep learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,014 (0,05) dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,246. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode deep learning mampu menjelaskan 24,6% variasi hasil belajar siswa, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Selain itu, seluruh siswa memperoleh hasil belajar di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan nilai rata-rata sebesar 92,75. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode deep learning memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMP Negeri 2 Palangka Raya, sehingga dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang mendukung peningkatan kualitas proses dan hasil belajar.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Public speaking merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu dalam mendukung kegiatan akademik maupun persiapan memasuki dunia kerja. Namun, kemampuan public speaking mahasiswa Ilmu Komunikasi Hindu IAHN Tampung Penyang Palangka Raya belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterampilan komunikasi terhadap public speaking mahasiswa Ilmu Komunikasi Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya serta mengukur besarnya pengaruh yang diberikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Analisis data dilakukan dengan uji validitas, uji reliabilitas, statistik deskriptif, uji asumsi klasik, regresi linear sederhana menggunakan IBM SPSS Statistics 27. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi berpengaruh signifikan terhadap kemampuan public speaking mahasiswa Ilmu Komunikasi Hindu, yang mengindikasikan bahwa semakin baik keterampilan komunikasi yang dimiliki mahasiswa maka semakin tinggi pula kemampuan public speaking-nya. Pengaruh tersebut dibuktikan melalui nilai signifikansi sebesar 0,001 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Adapun kontribusi keterampilan komunikasi terhadap public speaking sebesar 27,3% sedangkan 72,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini seperti kepercayaan diri, penguasaan materi, kemampuan storytelling dan pengalaman berbicara di depan umum. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan keterampilan komunikasi perlu menjadi perhatian dalam proses pembelajaran guna meningkatkan kualitas public speaking mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu IAHN Tampung Penyang Palangka Raya.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Komunikasi Dosen dan
Mahasiswa dalam Menyikapi
Penggunaan Kecerdasan Buatan
Ditinjau dari Etika Komunikasi
Hindu.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mejiwatie, 2026 : Komunikasi Dosen dan Mahasiswa Menyikapi Penggunaan Kecerdasan Buatan Ditinjau dari Etika Komunikasi Hindu. Pembimbing I Dr. Tardi Edung, S.Ag., M.Ag Pembimbing II Dr. Ni Putu Eka Merliana, S.T., M.T Komunikasi akademik sering kali berkendala terutama pada saat mahasiswa malu ataupun merasa ragu saat bertanya, atau dosen memiliki keterbatasan waktu dalam menjelaskan secara mendalam. Salah satu media yang dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut adalah teknologi kecerdasan buatan. Rumusan masalah dalam skripsi ini:1). Bagaimana pemahaman dosen dan mahasiswa tentang penggunaan kecerdasan buatan dalam kegiatan akademik di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. 2). Bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dalam menyikapi penggunaan kecerdasan buatan di Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. 3). Bagaimana etika komunikasi Hindu yang diterapkan dalam penggunaan kecerdasan buatan di lingkungan Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya. Teori yang digunakan untuk membedah rumusan masalah tersebut menggunakan teori difusi inovasi dan teori Sadharanikaran. Jenis penelitian yaitu kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan menggunakan metode pengumpulan data yaitu: observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan: reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan dosen dan mahasiswa memahami kecerdasan buatan sebagai alat bantu akademik yang dimanafaatkan untuk mencari referensi, mengembangkan ide, serta membantu memahami materi perkuliahan. Selain itu komunikasi antara dosen dan mahaiswa berperan dalam proses adopsi kecerdasan buatan di lingkungan akademik. Komunikasi yang dilakukan melalui arahan, edukasi pendampingan dan pengawasan memberntuk pemahaman serta sikap positif mahasiwa terhadap penggunaan kecerdasan buatan. selanjutnya, penerapan etika komunikasi Hindu melalui nilai-nilai Tri Kaya Parisudha, yaitu Manacika Parisduha yang diwujudkan dengan berpikir kritis dan memeriksa Kembali informasi yang diperoleh dari kecerdasan buatan, Wacika Parisudha yang diterapkan melalui penyampaian hasil secara jujur serta mengindari plagiarism, dan Kayika Parisudha yang diwujudkan melalui pengggunaan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab dan memuat sumber referensi dari hasil yang digunakan.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai bentuk pelaksanaan, hambatan yang dihadapi, serta implikasi dari pendidikan Hindu non-formal dalam memperkuat kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Pangkan, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan Teori Solidaritas Sosial Emile Durkheim, Teori Transformative Learning Jack Mezirow, dan Teori Interaksi Simbolik Herbert Blumer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai pendidikan non-formal dan kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan.
Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, bentuk pelaksanaan pendidikan Hindu non-formal di Desa Pangkan diintegrasikan secara nyata melalui aktivitas ritual keagamaan dan tradisi adat. Pendidikan keagamaan berpusat pada Persembahyangan Basarah (rutin Jumat malam dan Basarah rumah tangga bergiliran pada hari Senin) serta upacara perkawinan adat Hindu Kaharingan (Unta Kurus Naik Malam). Pendidikan nilai melalui tradisi diinternalisasikan secara kokoh melalui semangat gotong royong Pangandrau Welum. Proses ini didukung oleh peran vital tokoh adat dan tokoh agama sebagai teladan hidup dalam pola interaksi sosial yang dinamis, meniru, mendengarkan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam musyawarah adat. Kedua, hambatan pelaksanaan diklasifikasikan menjadi tiga aspek. Hambatan struktural berupa terbatasnya sarana pembelajaran, minimnya pendidik kompeten sebagai dampak dari tidak terjadinya transmisi nilai lintas generasi, dan banyaknya generasi tua yang telah wafat. Hambatan kultural dipicu oleh modernisasi, arus digitalisasi, dan migrasi pemuda. Hambatan partisipatif ditandai dengan menguatnya individualisme, minimnya dialog antargenerasi, serta pernikahan campuran beda agama yang memicu konversi spiritual. Ketiga, implikasi dari pendidikan non-formal ini terbukti sangat positif. Implikasi terhadap kohesi sosial berupa terbentuknya solidaritas mekanik dan kesadaran kolektif umat. Implikasi terhadap pelestarian identitas kolektif menjaga keberadaan umat Hindu Kaharingan sebagai minoritas, sementara implikasi sosial-kulturalnya mewujud pada terjaganya integrasi sosial dan keberlanjutan kearifan lokal di Desa Pangkan.
ABSTRACT
This study aims to provide an in-depth analysis of the implementation, challenges, and implications of non-formal Hindu education in strengthening social cohesion among the Hindu Kaharingan community in Pangkan Village, Paku District, East Barito Regency. This study used a descriptive qualitative approach based on Émile Durkheim’s Social Solidarity Theory, Jack Mezirow’s Transformative Learning Theory, and Herbert Blumer’s Symbolic Interactionism Theory. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing to obtain an in-depth understanding of non-formal education and social cohesion among the Hindu Kaharingan community.
The results showed three main findings. First, the implementation of non-formal Hindu education in Pangkan Village was integrated into religious rituals and customary traditions. Religious education was primarily carried out through Basarah worship, conducted regularly on Friday evenings, rotating household Basarah worship on Mondays, and the Hindu Kaharingan traditional marriage ceremony known as Unta Kurus Naik Malam. Values education through tradition was firmly internalized by means of mutual cooperation known as Pangandrau Welum. This process was supported by the vital roles of customary and religious leaders as living role models within dynamic patterns of social interaction, including imitation, listening, and active community participation in customary deliberations. Second, the challenges in implementing non-formal Hindu education were classified into three aspects. Structural challenges included limited learning facilities, a shortage of competent educators due to disrupted intergenerational transmission of values, and the passing of many elderly community members. Cultural challenges were driven by modernization, digitalization, and youth migration. Participatory challenges were characterized by increasing individualism, limited intergenerational dialogue, and interfaith mixed marriages that may lead to religious conversion. Third, the implications of non-formal education were highly positive. Its implications for social cohesion were reflected in the development of mechanical solidarity and collective consciousness among the community members. Its implications for the preservation of collective identity helped maintain the existence of the Hindu Kaharingan community as a religious minority, while its sociocultural implications were reflected in the preservation of social integration and the sustainability of local wisdom in Pangkan Village.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Sultema, 2026. Dr. I Putu Widyanto, M.Pd.H, Putu Wisnu Saputra, M.Pd.
Skripsi. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Pengaruh
Penggunaan Media Papan Bilangan Terhadap Hasil Belajar
Siswa Kelas V.A Pada Mata Pelajaran Matematika Di SDN 2
Menteng
Penelitian ini membahas pengaruh penggunaan media papan bilangan
terhadap hasil belajar siswa kelas V.A pada mata pelajaran Matematika materi KPK
dan FPB di SDN 2 Menteng. Hasil belajar siswa masih belum optimal sehingga
penggunaan media papan bilangan diharapkan dapat membantu meningkatkan hasil
belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media
papan bilangan terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V.A di SDN 2
Menteng.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif
dengan desain Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design. Penelitian ini
melibatkan 23 siswa kelas V.A SDN 2 Menteng. Instrumen penelitian berupa tes
hasil belajar melalui pretest dan posttest. Data dianalisis menggunakan statistik
deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, uji hipotesis Wilcoxon Signed-Rank, dan
analisis N-Gain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pretest sebesar 69,35,
sedangkan rata-rata nilai posttest sebesar 83,70, sehingga terjadi peningkatan hasil
belajar setelah penggunaan media papan bilangan. Hasil uji normalitas
menunjukkan nilai signifikan kurang dari 0,05 sehingga data tidak berdistribusi
normal. Oleh karena itu, analisis dilanjutkan menggunakan uji Wilcoxon SignedRank yang memperoleh Z = -4,284 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Hasil
analisis N-Gain sebesar 0,5386 menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar
berada pada kategori sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan
media papan bilangan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pillmanto.2026. Pembelajaran Teknik Titik Perspektif Dalam Meningkatkan Kemampuan Menggambar Bentuk Pada Siswa Kelas VII di SMPN 2 Palangka Raya. Skripsi Prodi Pendidikan Seni dan Keagamaan Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I. Dr AA Gede Wiranata, S.Ag.,M.Ag. Pembimbing II Niwayan Sukraini, S.Pd.,M.Pd Pembelajaran Seni Budaya, khususnya pada materi menggambar bentuk, memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan visual, kreativitas, dan keterampilan artistik siswa. Namun, berdasarkan hasil observasi awal di kelas VII9 SMPN 2 Palangka Raya, kemampuan menggambar bentuk siswa masih tergolong rendah. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep perspektif, seperti menentukan garis horizon, titik hilang, dan garis proyeksi, sehingga hasil gambar yang dibuat masih tampak datar, kurang proporsional, dan belum menunjukkan kesan ruang serta kedalaman. Oleh karena itu, diperlukan suatu pembelajaran yang mampu membantu siswa memahami konsep perspektif secara lebih konkret melalui penerapan teknik titik perspektif. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-9 SMPN 2 Palangka Raya yang berjumlah 31 orang. Penelitian dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes praktik menggambar bentuk. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif komparatif untuk membandingkan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah penerapan pembelajaran teknik titik perspektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran teknik titik perspektif mampu meningkatkan kemampuan menggambar bentuk siswa. Pada tahap pratindakan, sebagian besar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan rata-rata nilai sebesar 60. Setelah tindakan pada Siklus I, rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 95 dengan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 100% dari siswa yang mengikuti pembelajaran. Selain itu, aktivitas, keterlibatan, motivasi, dan kepercayaan diri siswa selama proses pembelajaran juga mengalami peningkatan. Dengan demikian, pembelajaran teknik titik perspektif terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menggambar bentuk siswa kelas VII di SMPN 2 Palangka Raya.