Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Penulis: MAYA SAFITRI
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

IMPLEMENTASI BUDAYA LITERASI PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DI SMP TARUNG RIWUT LUWUK KANAN KECAMATAN TASIK PAYAWAN KABUPATEN KATINGAN

2023•Koleksi Perpustakaan

MAYA SAFITRI, 2023. Implementasi Budaya Literasi pada Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan. Fakultas Dharma Acarya Program Studi Pendidikan Agma Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I, Lamri, S.Pd., M.Pd.H. Pembimbing II Ni Putu Sri Pinatih, S.Pd., M.Pd.H. Budaya literasi penting dalam memperkaya kosakata, memperluas wawasan dan pengetahuan, membantu berpikir kritis, di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan masih dalam tahap pembiasaan termasuk dalam mata pelajaran pendidikan agama Hindu. Ada tiga permasalahan yang akan dibahas dibahas: (1) Bagaimana implementasi budaya literasi pada pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan? (2) Apa kendala implementasi budaya literasi pada pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan? (3) Bagaiman upaya mengatasi kendala implementasi budaya literasi di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan?. Teori yang digunakan yaitu teori implementasi, kendala dan humanistik. Informan penelitian adalah guru agama Hindu (satu orang), kepala sekolah (satu orang) dan siswa agama Hindu (3 orang). Teknik pengumpulan data: 1) observasi, 2) wawancara, dan 3) dokumentasi. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Dan teknik analisis data: 1) kondensasi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan. Dari hasil penlitian dapat disimpulkan bahwa 1) guru mengimplementasikan budaya literasi dengan mengarahkan siswa untuk membaca buku Kandayu, kitab suci Panaturan dan buku mata pelajaran lain yang berhubungan dengan pendidikan moral selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. 2) kendala yang dihadapi berasal dari a) faktor manusiawi: guru agama Hindu belum mengikuti pelatihan secara khusus tentang budaya literasi, dan siswa agama Hindu belum mampu melafalkan bahasa sangiang dengan fasih; b) faktor intitusional: belum tersediannya ruangan khusus untuk belajar agama Hindu; dan c) faktor intruksional: kurangnya buku bacaan agama Hindu. Dan 3) upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah: membeli buku tambahan dan mengusulkan kepihak dinas terkait untuk mengirimkan buku serta mengikutkan para guru dalam kegiatan seminar atau pelatihan. Dan upaya yang dilakukan oleh guru agama Hindu: menyediakan buku Kandayu, kitab suci Panaturan dan memanfaatkan buku mata pelajaran lain.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Implementasi Budaya Literasi Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

MAYA SAFITRI, 2023. Implementasi Budaya Literasi pada Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan. Fakultas Dharma Acarya Program Studi Pendidikan Agma Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I, Lamri, S.Pd., M.Pd.H. Pembimbing II Ni Putu Sri Pinatih, S.Pd., M.Pd.H. Budaya literasi penting dalam memperkaya kosakata, memperluas wawasan dan pengetahuan, membantu berpikir kritis, di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan masih dalam tahap pembiasaan termasuk dalam mata pelajaran pendidikan agama Hindu. Ada tiga permasalahan yang akan dibahas dibahas: (1) Bagaimana implementasi budaya literasi pada pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan? (2) Apa kendala implementasi budaya literasi pada pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan? (3) Bagaiman upaya mengatasi kendala implementasi budaya literasi di SMP Tarung Riwut Luwuk Kanan?. Teori yang digunakan yaitu teori implementasi, kendala dan humanistik. Informan penelitian adalah guru agama Hindu (satu orang), kepala sekolah (satu orang) dan siswa agama Hindu (3 orang). Teknik pengumpulan data: 1) observasi, 2) wawancara, dan 3) dokumentasi. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Dan teknik analisis data: 1) kondensasi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan. Dari hasil penlitian dapat disimpulkan bahwa 1) guru mengimplementasikan budaya literasi dengan mengarahkan siswa untuk membaca buku Kandayu, kitab suci Panaturan dan buku mata pelajaran lain yang berhubungan dengan pendidikan moral selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. 2) kendala yang dihadapi berasal dari a) faktor manusiawi: guru agama Hindu belum mengikuti pelatihan secara khusus tentang budaya literasi, dan siswa agama Hindu belum mampu melafalkan bahasa sangiang dengan fasih; b) faktor intitusional: belum tersediannya ruangan khusus untuk belajar agama Hindu; dan c) faktor intruksional: kurangnya buku bacaan agama Hindu. Dan 3) upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah: membeli buku tambahan dan mengusulkan kepihak dinas terkait untuk mengirimkan buku serta mengikutkan para guru dalam kegiatan seminar atau pelatihan. Dan upaya yang dilakukan oleh guru agama Hindu: menyediakan buku Kandayu, kitab suci Panaturan dan memanfaatkan buku mata pelajaran lain.

0 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail