Abstrak
Skripsi ini mengkaji tentang implementasi pendidikan prenatal melalui Manyaki Tihi pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Tangki Dahuyan Kecamatan Manuhing. Dalam pendidikan semasa masih dalam kandungan yang dilakukan oleh umat agama Hindu Kaharingan ini perlu diketahui filosofi upacara Manyaki Tihi, rangkaian upacara Manyaki Tihi dan implementasi pendidikan prenatal melalui upacara Manyaki Tihi pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Tangki Dahuyan Kecamatan Manuhing. Agar generasi hal ini dapat menjadi informasi bagi para generasi penerus, dan upacara Manyaki Tihi ini dapat terus dilalaksanakan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data-data maupun informasi dengan melakukan observasi, wawancara semi terstruktur serta dengan pengumpulan data berupa data primer dan sekunder ditempat penelitian serta dokumentasi berupa gambar situasi dan keadaan tempat dilakukannya tempat penelitian. Subjek penelitian ini adalah Basir, tokoh agama Hindu Kaharingan, dan warga yang melakukan upacara Manyaki Tihi. Teori yang digunakan dalam memecahkan masalah dengan menggunakan teori fenomenologi dan teori behafioristik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara Manyaki Tihi adalah sebuah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Kaharingan secara turun-temurun yang ditujukan untuk ibu hamil atau ibu yang sedang mengandung dilatar belakangi atas dasar peristiwa-peristiwa sulit yang dihadapi oleh seorang perempuan yang sedang mengandung sampai ia melahirkan. Upacara Manyaki Tihi memiliki tiga rangkaian kegiatan yaitu: 1) Persiapan, yaitu menentukan hari baik dan menyiapkan sarana seperti: beras, hewan korban berupa babi dan ayam untuk diambil darahnya, sirih pinang, minyak kelapa, air, tutup panci, jala, tikar (Amak), dupa atau kemenyan dan perkakas seperti kapak, parang, dan batu asah. 2) Kegiatan inti, yaitu memoleskan (manyaki) darah babi dan ayam pada ibu hamil dan menaburkan beras putih keberbagai penjuru. Dan, 3) Penutup, yaitu tampung tawar. Serta implementasi yaitu upacara ini hanya boleh dilakukan oleh wanita yang beragama Hindu Kaharingan yang sedang mengandung anak pertama pada usia kandungan memasuki usia 7 bulan. Karena upacara ini akan membuat sang calon ibu merasa lebih damai dan tenang, karena selama upacara sang Basir akan mengucapkan doa-doa yang ditujukan untuk para leluhur dan Ranying Hatlla Langit. Sehingga sang ibu merasa lebih tenang dan siap untuk menghadapi kelahiran bayi pertamanya. Dan sang bayi dalam kandunganpun akan menjadi lebih sehat, karena sang ibu tidak mengalami stres.