Hukum dagang
On business law in Indonesia.
Profil penulis
1.033 karya publik ditemukan.
On business law in Indonesia.
Disiplin merupakan masalah atau permasalahan yang cukup banyak mendapat perhatian, karena setiap kegiatan manusia memerlukan disiplin yang baik, dan disiplin itu tidak hanya datang dari luar, tetapi datang dari dalam diri kita sendiri setiap pribadi manusia. Sikap patuh dan taat ini terlihat pada sikap tertib dan teratur dalam setiap kegiatannya sebab ketertiban dan keteraturan yang baik dalam mencapai situasi dan kondisi yang baik. Karena pendidikan hakikatnya merupakan usaha membantu dan mengarahkan pribadi manusia agar berkembang pada titik maksimal sesuai dengan tujuan yang di cita-citakan dan faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin belajar siswa terbagi menjadi 2 bagian, yaitu (1) faktor eksternal dan (2) faktor internal. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana tujuan : 1 pelaksanaan disiplin belajar pada mata pelajaran agama Hindu di SMPN-1 Katingan Hulu Kelurahan Tumbang Sanamang Kabupaten Katingan ? 2 apakah yang menjadi kendala bagi siswa Agama Hindu saat mengikuti proses belajar mengajar di SMPN-1 Katingan Hulu Kelurahan Tumbang Sanamang Kabupaten Katingan ? 3 apa penyebab rendahnya pelaksanaan disiplin belajar pada mata pelajaran Agama Hindu di SMPN-1 Katingan Hulu Kelurahan Tumbang Sanamang Kabupaten Katingan ? khususnya dalam upaya memberikan ilmu pengetahuan tentang ajaran Hindu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengunakan metode kualitatif, yakni metode yang didasarkan atas kenyataan yang berlangsung sekarang dimana data-data yang mula-mula dikumpul dan disusun, kemudian dijelaskan serta dianalisis, di dalam penelitian meliputi 13 peserta didik, kepala sekolah 1 orang guru agama Hindu SMPN-1 Katingan Hulu Kelurahan Tumbang Sanamang tahun pelajaran 2017/2018. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan disiplin pada mata pelajaran agama Hindu di SMPN-1 Katingan Hulu Kelurahan Tumbang sanamang sudah baik karena sudah terdapat tata tertib dalam semua kegiatan di sekolah mulai dari senam pagi sampai pulang sekolah tata tertib tidak hanya berlaku kepada peserta didik saja tetapi juga dilaksanakan oleh warga sekolah, dari hasil penelitian dinyatakan bahwa warga sekolah mematuhi tata tertib yang berlaku dengan dibuktikan dari minimnya pelanggaran terhadap tata tertib sekolah SMPN-1 Katingan Hulu Kelurahan Tumbang Sanamang. Dukungan terhadap pelaksanaan disiplin belajar di SMPN-1 Katingan Hulu Kelurahan Tumbang Sanamang adalah orang tua dan keluarga, kepala sekolah, dewan guru dan penjaga sekolah dan lingkungan masyarakat, pengelolaan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran agama Hindu di SMP Negeri 1 Katingan Hulu bahwa kegiatan pembelajaran di ruang kelas dari kelas VII dan kelas VIII berjalan dengan optimal sesuai apa yang di programkan di sekolah, proses pelaksanaan disiplin belajar pada mata pelajaran agama Hindu di SMP Negeri 1 Katingan Hulu dapat terlihat pada peserta didik yang memiliki disiplin belajar sehingga dalam proses pembelajaran bisa teratur dan menghasilkan prestasi yang baik. Pengaruh pendidikan dapat dilihat, dirasakan secara langsung dalam perkembangan serta kehidupan masyarakat, kehidupan kelompok dan kehidupan setiap individu.
tt
Eksistensi Patugur merupakan salah satu bagian dari upacara Wara yang mana Patugur dalam upacara Wara tentunya memiliki eksistensi, bentuk dan makna tersendiri. Namun, fenomena yang terjadi pada umat Hindu kaharingan adalah bahwa tidak semua umat Hindu kaharingan memahami dan mengerti secara mendalam terkait dengan eksistensi Patugur tersebut. Berdasarkan uraian di atas tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana eksistensi Patugur dalam upacara Wara menurut umat Hindu kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara, ? (2) Bagaimana bentuk Patugur dalam upacara Wara menurut umat Hindu kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara, ? (3) Makna apa yang terkandung dalam upacara Wara menurut umat Hindu Kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito utara? Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori fungsional struktural, teori intraksioalisme simbolik dan teori religi jenis penelitian ini adalah kualitatif, dengan mengambil penelitian di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini yaitu kandong Wara, pengukir Patugur, majelis kelompok dan tokoh umat Hindu kaharingan yang berada di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito utara. Eksistensi Patugur dalam upacara Wara menurut umat Hindu kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara memiliki bentuk dan makna yang harus diperhatikan orang yang bisa membuat atau mengukir Patugur. Adapun makna dari eksistensi Patugur dalam upacara Wara dapat dilihat berdasarkan makna religius, dan makna etika. Makna religius sebagai simbol persembahan kehadapan Ranying Hatalla langit, Ju’ustuhaalahtalla. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Eksistensi Patugur dalam upacara Wara merupakan sebuah rasa syukur dan bhakti kehadapan Ranying Hatala langit, Ju’ustuhaalahtalla bagi umat Hindu Kaharingan khususnya di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito utara, (2) Bentuk Patugur dalam upacara Wara yaitu menyerupai wujud manusia yang berbentuk laki-laki dan perempuan, jika orang yang di-Wara-kan atau almarhumnya laki-laki maka Patugurnya diukir menyerupai perempuan, begitu juga sebaliknya jika arwah yang akan di-Wara-kan perempuan maka Patugurnya berwujud manusia laki-laki, (3) Makna Patugur dalam upacara Wara yaitu sebagai tempat mengikat hewan kerbau yang akan dikorbankan pada saat terakhir/ puncaknya pelaksanaan Wara tersebut.
Palangka Raya
Palangka Raya
Eksistensi Patugur merupakan salah satu bagian dari upacara Wara yang mana Patugur dalam upacara Wara tentunya memiliki eksistensi, bentuk dan makna tersendiri. Namun, fenomena yang terjadi pada umat Hindu kaharingan adalah bahwa tidak semua umat Hindu kaharingan memahami dan mengerti secara mendalam terkait dengan eksistensi Patugur tersebut. Berdasarkan uraian di atas tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana eksistensi Patugur dalam upacara Wara menurut umat Hindu kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara, ? (2) Bagaimana bentuk Patugur dalam upacara Wara menurut umat Hindu kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara, ? (3) Makna apa yang terkandung dalam upacara Wara menurut umat Hindu Kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito utara? Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori fungsional struktural, teori intraksioalisme simbolik dan teori religi jenis penelitian ini adalah kualitatif, dengan mengambil penelitian di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini yaitu kandong Wara, pengukir Patugur, majelis kelompok dan tokoh umat Hindu kaharingan yang berada di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito utara. Eksistensi Patugur dalam upacara Wara menurut umat Hindu kaharingan di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito Utara memiliki bentuk dan makna yang harus diperhatikan orang yang bisa membuat atau mengukir Patugur. Adapun makna dari eksistensi Patugur dalam upacara Wara dapat dilihat berdasarkan makna religius, dan makna etika. Makna religius sebagai simbol persembahan kehadapan Ranying Hatalla langit, Ju’ustuhaalahtalla. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Eksistensi Patugur dalam upacara Wara merupakan sebuah rasa syukur dan bhakti kehadapan Ranying Hatala langit, Ju’ustuhaalahtalla bagi umat Hindu Kaharingan khususnya di Desa Kareho Kecamatan Lahei Kabupaten Barito utara, (2) Bentuk Patugur dalam upacara Wara yaitu menyerupai wujud manusia yang berbentuk laki-laki dan perempuan, jika orang yang di-Wara-kan atau almarhumnya laki-laki maka Patugurnya diukir menyerupai perempuan, begitu juga sebaliknya jika arwah yang akan di-Wara-kan perempuan maka Patugurnya berwujud manusia laki-laki, (3) Makna Patugur dalam upacara Wara yaitu sebagai tempat mengikat hewan kerbau yang akan dikorbankan pada saat terakhir/ puncaknya pelaksanaan Wara tersebut.
Dictionary of Hindu terminology.
Grammar of Sundanese language.
Morphology of nouns and adjectives in the Mori language.
Grammar of the Indonesian language.
Worship of Balinese Hinduism.