Pembentukan Karakter Remaja Perspektif Pendidikan Hindu di Kota Palangka Raya
Karakter akan terbentuk jika aktivitas dilakukan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan itu akan membentuk karakter remaja. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal yang baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan negara yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Namun, pada kenyataannya karakter remaja zaman dulu dan karakter remaja zaman sekarang sangatlah berbeda. Perbedaan tersebut terlihat mulai dari gaya hidup, percintaan, permainan, teknologi, bahasa, sosialisasi, dan lain-lain. Remaja cenderung ingin mengikuti kehendaknya sendiri tanpa memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sosial masyarakat. Adapun rumusan masalah dalam penelitian adalah (1) bagaimana proses pembentukan karakter remaja dalam perspektif pendidikan Hindu di Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, (2) apa saja faktor penghambat dalam pembentukan karakter remaja dalam perspektif pendidikan Hindu di Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, dan (3) bagaimana upaya yang dilakukan untuk mendorong terbentuknya karakter remaja dalam perspektif pendidikan Hindu di Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya? Teori yang digunakan adalah teori behavioristik, teori motivasi dan teori pembelajaran konstruktivistik. Data diperoleh dengan metode observasi, partisipasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Selanjutnya data tersebut diinterpretasi dengan memberi makna dan menjelaskan pola atau kategori serta mencari karakteristik antara berbagai konsep. Hasil penelitian dalam tesis ini menunjukkan bahwa proses pembentukan karakter remaja dalam perspektif pendidikan agama Hindu meliputi, pertama, dilakukan dengan cara pengenalan terhadap ajaran-ajaran agama Hindu melalui pendidikan informal, nonformal, dan pendidikan secara formal; kedua, memberikan pemahaman setelah dilakukan pengenalan tentang ajaran agama Hindu; ketiga, setelah dipahami alangkah baiknya dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari, keempat, setelah dilakukan pembudayaan atau pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari terwujudlah suatu internalisasi menjadi karakter. Ada dua faktor utama penghambat dalam pembentukan karakter remaja, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang penyebabnya dari dalam diri seseorang atau individu itu sendiri, seperti potensi spiritual, potensi emosional, potensi psikologis buruk, serta potensi intelektual yang tidak seimbang. Tantangan eksternal berupa tantangan yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pendidikan, dan lingungan masyarakat. Adapun upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan kebiasaan baik, pemahaman, pengajaran, serta keteladanan di lingkungan keluarga, pendidikan, serta dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.