2021 · Book · Open Access
MANDORI/NIM, 14 02 008 Tahun 2020. Penyelesaiaan Hakaouh Pada Sangketa
Tanah Oleh Kepala Adat Di Desa Kalang Kaluh Kecamatan Tanah Siang
Kabupaten Murung Raya , Skripsi Fakultas Dharma Sastra Istitut Agama Hindu
Negri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya Dosen Pembimbing I.
I Komang Darman,SH,MH Pembimbing II Dr. NI Nyoman Rahmawati,
S.Ag, M.Si
Penelitian ini membahas tentang Penyelesaiaan Hakaouh Pada Sangketa
Tanah Oleh Kepala Adat Di Desa Kalang Kaluh Kecamatan Tanah Siang
Kabupaten Murung Raya. Penyelsaian hakaouh pada sangketa tanah oleh kepala
adat di Desa Kalang Kaluh Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya
harus secepatnya diselesaikan hal ini supaya permasalahan sangketa tanah ini
cepat diselesaikan dengan baik secara adat supaya tidak berkepanjangan Dengan
didasari Rumusan masalah Penelitian yaitu penyelesaiaan hakaouh pada sangketa
tanah oleh kepala adat di Desa Kalang Kaluh Kecamatan Tanah Siang Kabupaten
Murung Raya,.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan, teknik pengumpulan data
observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Untuk membantu
peneliti sebagai instrumen pokok, maka peneliti membuat instrumen penunjang.
Dalam penyusunan instrumen penunjang tersebut, mengemukakan pemilihan
metode yang akan digunakan peneliti ditentukan oleh tujuan penelitian, sampel
penelitian, lokasi, pelaksana, biaya dan waktu, dan data yang ingin diperoleh. Dari
tujuan yang telah dikemukakan tersebut, dalam penelitian ini menggunakan
metode wawancara dan observasi. Setelah ditentukan metode yang digunakan,
maka peneliti menyusun instrumen pengumpul data yang diperlukan untuk
mengumpulkan data yang diperlukan
Hasil penelitian Cara Penyelesaiaan Hakouh Pada Sangketa Tanah Oleh
Kepala Adat Di Desa Kalang Kaluh Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung
Raya dengan cara menyerahkan uang senilai jipen satu atau dengan nilai
Rp.1000.000 senagai penjamin penyelesaian Hakaouh (Piring Penyerahan
Hakaouh) Tata cara pelaporan masalah tanah sengketa adalah pertama
melaporkan masalah pada tingkat RT kemudian berlanjut laporan pada tingkat
Desa yaitu Kepala Desa setempat kemudian kasus ini yang akan kepala desa
sampaikan kepada Kepala Adat setempat untuk di selesaikan masalahnya secara
adat, faktor Penghambat dan pendukung penyelesaiaan hakaouh pada sangketa
tanah oleh kepala adat faktor-faktor penghambat sengketa tanah di Desa Kalang
Kaluh Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya adalah,Tanah yang di
klem tidak mempunyai surat yang sah namun hanya pengakuan saja olehmasyarakat, Yang sering menjadi penghambat dalam sengketa yaitu ketika
tergugat tidak menghadiri sidang.
2021 · Book · Open Access
Guru agama Hindu harus mau berubah dan tanggap kepada perubahan, harus siap dan merancang perubahan pola pembelajaran, terutama menghadapi semester baru ini. Sudah siapkah guru agama Hindu menghadapi tantangan tersebut, tentunya ini menjadi permasalahan pendidikan agama Hindu yang harus dihadapi bersama oleh seluruh komponen pendidikan agama Hindu. Untuk itu peneliti tertarik untuk mengkaji tentang Studi Tentang Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Era New Normal di SMAN 1 Timpah Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas. Tujuan Penelitian untuk mengetahui tentang pelaksanaan dan kendala pembelajaran pendidikan agama Hindu era new normal di SMAN 1 Timpah
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan data melalui, observasi, wawancara dan dokumentasi, dengan metode penentuan informan adalah metode Purposive Sampling. Lokasi penelitian di SMAN 1 Timpah.
Hasil penelitian sebagai berikut: Proses penyusunan perencanaan pembelajaran pada masa new normal covid 19 sudah berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dimana RPP dan Silabus pendidikan agama Hindu sudah di modifikasi menjadi RPP satu lembar, mengacu kepada kurikulum K13. Proses pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan sistem gabungan antara daring dan luring yaitu blanded learning. Sistem Blanded Learning ini juga bukan murni Blanded Learning seperti dalam artian sesungguhnya yaitu pengabungan daring dan luring dengan melaksanakan pembelajaran di dalam kelas, melainkan siswa hadir di sekolah sesuai dengan jadwalnya hanya untuk mengantarkan atau mengumpulkan tugas yang berikan oleh guru mata pelajaran sesuai dengan jadwal pelajaran. beberapa kendala, dimana guru agama Hindu mengalami kesulitan untuk menyampaikan proses apersepsi, menjelaskan materi dan proses tanya jawab akibat dari penerapan belajar dari rumah. Sehingga pembelajaran dengan tatap muka tidak dapat dilaksanakan, dengan sistem daring pun tidak bisa dilaksanakan terkendala jaringan.
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK
RIA ANCOI, 2020 : Peran Mantir Adat dalam Penyelesaian Rujuk Akibat Perceraian pada Masayarakat Hindu Kaharingan Di Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kota Waringin Timur. Tesis Program Studi Magister Ilmu Hukum Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing (I) Dr. Derson, S.Ag., M.Ag. Pembimbing (II) Dr. Kuri, S.Ag., M.Ag.
Salah satu fenomena yang terjadi dilingkungan masyarakat, terutama didalam lingkungan berumah tangga, pasti memiliki sebuah permasalahan seperti pertengkaran yang dapat menyebabkan kerusakan ataupun terjadinya sebuah perceraian,dari ada perceraian tersebut setiap orang mempunyai hak untuk melakukan rujuk, karena masih merasa ingin melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan orang yang sama dengan adanya rasa cinta, sehingga memerlukan peran Mantir Adat untuk memabantu penyelesaian rujuk akibat perceraian pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menjelaskan peran Mantir Adat dalam penyelesaian rujuk akibat perceraian pada masayarakat Hindu Kaharingan, dan untuk mengetahui dan menjelaskan penyelesaian rujuk akibat perceraian pada masayarakat Hindu Kaharingan. Serta untuk mengetahui dan menjelaskan persepsi masyarakat terhadap peran Mantir Adat dalam penyelesaian rujuk akibat perceraian pada masayarakat Hindu Kaharingan di di desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kota Waringin Timur.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitan yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek peneliti secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini dialaksanakan di desa Pelantaran Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kota Waringin Timur. Adapun sumber data pada penelitian ini menggunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder, Teknik Penentuan Informan adalah Purposive Sampling dan yang menjadi subjek penelitian Mantir Adat, tokoh adat, Basir/Pisor, masyarakat adat dan para pelaku rujuk. Teknik pengumpulan data teknik observasi, teknik wawancara, studi kepustakaan dan teknik dokumentasi. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah tape recorder, camera dan pedoman wawancara, kemudian teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verfikasi.
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan bahwa peran Mantir Adat yaitu Pertama Peran Mantir Adat sebagai Penegak Hukum, Kedua Peran Mantir Adat sebagai Hakim Perdamaian, Peran Mantir Adat sebagai Pemutus Perakara.Proses Penyelesaian Rujuk Akibat Perceraian Pada Masyarakat Hindu Kaharingan oleh Mantir Adat yaitu tahap pertama Pelaporan, tahap kedua sidang perdamaian, Tahap Ketiga Pengambilan Keputusan. Sedangkan Persepsi Masyarakat Terhadap Peran Mantir Adat Dalam Penyelesaian Rujuk Akibat Perceraian Pada Masyarakat Hindu Kaharingan yaitu Membantu meringankan proses rujuk, dalam menangani permasalaha cepat, sigap dan siaga, Peran mantir adat dapat memberikan rasa keadilan terhadap pihak yang berperkara, sangat di apresiasi dan dinilai baik dalam penyelesaian rujuk, keputusannya dapat diterima oleh semua pihak, penyelesaiannya cepat, dan tepat waktu. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat Terhadap Peran Mantir Adat faktor internal dan faktor eksternal. Faktor Internal yaitu adanya perhatian, pengalaman, dan kebutuhan searah, sedangkan faktor eksternal yaitu adanya stimulus, objek yang dipersepsi dan adanya lingkungan masyarakat.
Kata kunci : Peran Mantir Adat, penyelesaian rujuk, akibat perceraian.
2021 · Book · Open Access
Abstrak
Handi, 2020, Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Hindu dalam Upacara Manajah Antang Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Jangkang, Kecamatan Pasak Talawang, Kabupaten Kapuas. Tesis Program Pascasarjana Program Studi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, Pembimbing I. Dr. Pranata, S.Pd.,M.Si., Pembimbing II Dr. Ervantia Restulita. L.Sigai, SS.,M.Si.
Generasi muda Hindu cenderung mengabaikan dan hanya melihat dengan sekilas pelaksanaan ritual keagamaan Hindu.Rasa keingintahuan tentang cara pelaksanaan, persyaratan upacara, sampai kepada makna atau nilai yang terkandung dalam pelaksanaan ritual keagamaan sangat sedikit. Tujuan penelitian adalah mengetahui pelaksanaan upacara manajah antang,nilai-nilai pendidikan karakter, dan implikasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam upacara itu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, dan observasi.
Berdasarkan analisis,tahapan upacara meliputi menentukan hari baik, menentukan lokasi, upacara manenung,manarinjet sahur, mempersiapkan sarana upacara, pelaksanaan upacara basir/pisormanawur memanggil antang.Nilai-nilai pendidikan karakter dalam pelaksanaan upacara manajah antang dilihat dari nilai pendidikan karakter religius, nilai karakter etika atau susila, dan nilai pendidikan karakter sosial.Implikasi nilai pendidikan karakter religius ialah (1) bukti nilai pendidikan karakter religius tetap dijaga dan dilestarikan; (2) menumbuhkan keyakinan dan ketaatan pada ajaran-ajaran suci Ranying Hatalla; (3)memberikan petunjuk semakin menambah keimanan masyarakat; (4) menumbuhkan keyakinan dan pemahaman akan nilai-nilai suci ajaran Hindu Kaharingan; (5) menumbuhkan keimanan dan keyakinan dalam melaksanakan upacara ritual; dan (6) simbol dari sikap religius seseorang terhadap nilai ajaran agamanya dan kepada tuhannya. Implikasi nilai pendidikan karakter etika atau susila yaitu (1) menumbuhkan kesadaran saling bergotong-royong; (2) sikap sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial; (3) terwujud ketaatan untuk tidak melanggar pantangan-pantangan; (4) menaati apa yang sudah disampaikan oleh pelaksana upacara, yaitu basir/pisor; dan (5) pelaksanaan dengan penuh kedamaian. Implikasi nilai pendidikan karakter sosial, yaitu (1) kesadaran untuk saling membantu; (2) tolong-menolong; (3) pewujudan rasa persaudaraan; (4) wajib kita penuhi sesuai dengan kemampuan yang kita miliki; (5) tidak dapat hidup sendiri; dan (6) dilakukan dengan hati yang tulus ikhlas.
Kata kunci: nilai, pendidikan, karakter, manajah antang
2021 · Book · Open Access
Dalam agama Hindu mengenal tentang tiga kerangka dasar yaitu tattwa, etika dan upacara. Pelaksanaan upacara inilah yang membedakan agama Hindu
dengan agama lainnya, karena agama Hindu lebih dominan kedalam pelaksanaan upacara yaitu sebagai bentuk implementasi ajaran tattwa dan etika secara nyata. Sama halnya dengan hari raya Saraswati yang dilaksanakan oleh umat Hindu sebagai bentuk pemujaan kepada dewi Saraswati dan memperingati hari turunnya ilmu pengetahuan. Partisipasi umat Hindu sangat penting demi kelangsungan pelaksanaan hari raya Saraswati terutama pesembahyangan yang dilakukan pada saat pagi hari.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini ada tiga permasalahan yang akan dibahas antara lain : (1) Faktor-Faktor apa saja yang
mempengaruhi partisipasi umat Hindu dalam pelaksanaan hari raya Saraswati di desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas? (2) Bagaimana upaya pembinaan yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi umat Hindu dalam pelaksanaan hari raya Saraswati di desa Basarang Jaya kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi umat Hindu dalam pelaksanaan hari raya Saraswati di desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas, (2) untuk mengetahui upaya yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi umat Hindu dalam pelaksanaan hari raya Saraswati di desa Basarang Jaya kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Deskriptif Kualitatif. Lokasi penelitian ini dilakukan di desa Basarang Jaya Kecanmatan Basarang Kabupaten Kapuas. Sumber data penelitian ini adalah ketua PHDI, guru agama Hindu, Penyuluh agama, Pemangku, masyarakat Hindu dan dokumen desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Teori yang digunakan untuk menganalisis rumusan masalah adalah teori Fungsionalisme dan teori Religi. Metode yang digunakan untuk menumpulkan data adalah metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan langkah reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi umat Hindu dalam pelaksanaan hari raya Saraswati. Adapun faktor - faktor yang mempengaruhi partisipasi umat Hindu dalam pelaksanaan hari raya Saraswati yaitu waktu pelaksanaannya, kesibukan, kurangnya kesadaran, kurangnya pengetahuan, kurangnya rasa memiliki, anggapan bahwa hari raya Saraswati kurang penting dan lebih fokus terhadap persembahyangan di pura masing-masing. Sedangkan upaya pembinaan yang harus dilakukan adalah melakukan pembinaan, melakukan rembug sastra, memotivasi diri sendiri, melakukan komunisadi dengan pemuka agama, penyuluh agama dan guru agama Hindu
2021 · Book · Open Access
enelitian ini dilakukan dalam rangka untuk mendeskripsikan penyisipan pendidikan karakter dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 7 di SMP N 2 Singaraja. Subyekpenelitian ini adalah 2 orang guru bahasa Inggris dan siswa kelas 7 di SMP N 2 Singaraja. Peneliti mengidentifikasi cara guru menyisipkan nilai karakter ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, implementasi nilai karakter dalam proses pembelajaran, dan respon siswa terhadap implementasi nilai karakter dalam pembelajaran. Nilai-nilai karakter yang diamati dalam penelitian ini adalah Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai setiap prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung jawab. Instrumen dari penelitian ini terdiri dari Peneliti sebagai kunci utama instrument, panduan wawancara, perekam, analisis checklist rencana pelaksanaan pembelajaran, observasi checklist dan kuisioner untuk mengetahui respon siswa. Penemuan dalam penelitian menunjukkan bahwa guru bahasa Inggris menyisipkan nilai karakter secara implisit melalui kegiatan yang telah disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil dari pengimplementasian nilai karakter menunjukkan bahwa guru Bahasa Inggris di SMP N 2 Singraja sudah mengimplementasikan 8 dari 18 dalam dua rencana pelaksanaan pembelajaran yaitu nilai karakter Religius, Disiplin, Rasa Ingin Tahu, Toleransi, Bersahabat/Komunikatif, Tanggung Jawab, Menghargai Setiap Prestasi, dan Kerja Keras ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Temuan ini juga di dukung oleh respon siswa yang didapatkan melalui kuisioner. Dari 18 pernyataan yang dihitung menggunakan skala Likert, nilai rata-rata dari nilai total diperoleh 81.25% yang berarti siswa mengaku selalu mengimplementasikan 18 nilai karakter di dalam aktivitas sekolah.
2021 · Book · Open Access
Hulpanus, 2020. “Kontroversi Usik Liau dalam Upacara Waradi Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara”. Tesis. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya.Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Agama Hindu. Pembimbing I Dr. Derson, S.Ag., M.Ag. Pembimbing II Dr. Drs. I Made Suyasa, M.A.P.,M.Si.
Kata Kunci:Kontroversi Usik Liau, Wara, Hindu Kaharingan
Umat Hindu Kaharingan di Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah,Kabupaten Barito Utara, meyakini keberadaan Usik Liau dalam upacara Wara adalah murni upacara agama, bukan adat.Usik Liau adalah bentuk permainan liau.Permainan ini dimainkan sebagai rasa suka cita anggota keluarga yang menunggu kehadiran liau dari Gunung Lumut untuk diberi makan, disucikan, dan dikembalikan oleh kandong balian Wara ke Gunung Lumut menemui Kakah Pasilin Liau dan Itak Pasilin Liau untuk diangkat ke Jaa tenung Lanamun dan jaa tenung kanangkai (langit ketujuh). Seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, permainan Usik Liau mengalami pergeseran dan pengaburan dari makna dan nilai religius menjadi ajang perjudian menggunakan taruhan berupa uang dan dibuka secara besar-besaran serta menyimpang dari ajaran agama Hindu Kaharingan dan hukum positif.
Berdasarkan realita tersebut tentunya menjadi dilema dan kesulitan tersendiri untuk menghapuskan kebiasaan yang telah membudaya sehingga melahirkan kontroversipada permainan Usik Liau dalam upacara Wara. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu(1)apakah yang menjadi dasar pelaksanaan Usik Liau dalam upcara Wara di Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara;(2)apakah faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kontroversi pada permainan Usik Liau dalam upacara Wara; dan(3) apa upaya yang dilakukan dalam menyelesaikan kontroversi pada permainan Usik Liau dalam upacara Wara. Untuk menganalisis masalah-masalah tersebut digunakan Teori Resepsi, Teori Konflik, dan Teori Interaksi Simbolik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptifkualitatif.Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi,dan teknik kepustakaan.
Hasil penelitian ditemukan beberapa kesenjangan yang terjadi dalam permainan Usik Liau dalam upacara Wara yang memiliki makna dan nilai religius dan sakral bergeser menjadi permainan judiyang bertentangan dengan ajaran agama dan UUD pasal 1 Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.Hal ini muncul karena berbagai pandangan yang berbeda dalam masyarakat yang berlawanan dan adanya kepentingan tertentuyang mengatakan bahwa Usik Liau adalah adat yang mentradisisehingga menimbulkan kontroversi.
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK
SUELDI, 2020. Pelakasanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Di SMA Negeri 1 Antang Kalang Kabupaten Kotawaringin Timur (Pendekatan Kurikulum 2013) Skripsi, Prodi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharma Acarya. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya.
Pembimbing I : Dr. Drs. I Wayan Karya, M,Pd.,M.Si
Pembimbing II : Mitro, SP.d.,M.Si
Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Hiindu dalam kontek Kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Antang Kalang. Kajian penelitian ini dilatarbelakangi oleh berubahnya pemberlakuan penerapan kurikulum 2006 (KTSP) menjadi kurikulum 2013. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Hindu Kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Antang Kalang? (2) Kendala apa yang dihadapi dalam pelakanaan pembelajaran pendidikan agama Hindu dalam pendekatan kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Antang Kalang?..
Penelitian ini merupakan penelitian Dekriftif Kualitatif. Lokasi penelitian yaitu di SMA Negeri 1 Antang Kalang Kabupaten Kotawaringin Timur. Dengan Subjek penelitian ini adalah Kepala sekolah, Guru Agama Hindu dan Siswa-siswi yang beragama Hindu di SMA Negeri 1 Antang Kalang Untuk memperoleh data , penulis menggunakan teknik perolehan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan sumber data dianalisis menggunakan teknis analisis data model Miles dan Huberman.
Kajian ini menunjukkan bahwa: Persiapan sekolah sebelum menerapkan kurikulum 2013 yaitu telah dilaksanakan pelatihan dan pendampingan kurikulum 2013 kepada kepala sekolah dan guru, melengkapi sarana dan prasarana sekolah. Sedangkan dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan agama hindu, guru telah melakukan kegiatan yang mendidik melalui kegiatan awal atau pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Dalam pembelajaran, guru telah menerapkan pendekatan saintifik dalam kegiatan inti meliputi mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan serta pelaksanaannya juga telah berlangsung sesuai kurikulum yang diterapkan meskipun belum sepenuhnya dikarenakan terdapat kendala-kendala yang dihadapi seperti sarana prasarana yang belum memadai, literature pembelajaran pendidikana agama Hindu berupa buku-buku berbasis kurikulum 2013 belum ada dan sebagainya. Temuan tersebut memberikan acuan bagi guru dan sekolah dalam memperbaiki peranannya dalam manajemen pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013
Kata Kunci : Pelaksanaan, Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu, Kurikulum 2013
2021 · Book · Open Access
BETA RIA MONIKA, 2020. Pengelolaan Objek Wisata Dam Trinsing Dalam Upaya Peniingkatan Sektor Pariwisata Di Desa Trinsing Kecamatan Teweh Selatan Kabupaten Barito Utara. Pembimbing I : Tiwi Etika, S.Ag., M.Ag., Ph.D dan Pembimbing II : I Made Puspe, S.Ag.,M.Pd.H
Sektor pariwisata merupakan salah satu potensi yang sampai saat ini masih terus dikembangkan sebagai sumber pendapatan daerah. Di Kabupaten Barito Utara sendiri memiliki sektor pariwisata unggulan yang menjadi magnet penarik pembangunan ekonomi yang sangat besar untuk mengikat aset pendapatan daerah. Objek wisata unggulan tersebut dikenal dengan objek wisata Dam Trinsing. Dam Trinsing merupakan objek wisata alam yang dikelola langsung oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Barito Utara. Dengan adanya objek wisata Dam Trinsing tersebut diharapkan dapat memberi peluang besar dalam kesempatan menciptakan lapangan kerja dan mengurangi serta mampu menanggulangi angka kemiskinan. Seiring berkembang dan majunya suatu objek wisata maka semakin untung yang dirasakan oleh masyarakat. Pengelolaan objek wisata Dam Trinsing juga banyak dihadapkan dengan berbagai kendala yang berpotensi menghambat berjalannya rencana pengembangan dan pembangunan objek wisata daerah. Maka dari itu dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahrga Kabupaten Barito Utara saat ini sangat gencar- gencarnya melakukan berbagai upaya yang dapat menanggulangi kendala yang sering dihadapi. Dilihat dari pembahasan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana manajemen pengelolaan objek wisata Dam Trinsing? 2) Apa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan objek wisata Dam Trinsing? 3) Bagaimana upaya peningkatan sektor pariwisata Dam Trinsing? Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Teori Pariwisata dan 2) Teori Gravitasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hal ini dikarenakan penulis ingin mendeskripsikan data lapangan mengenai permasalahan penelitian, teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik porposive sampling dengan pertimbangan tertentu. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarik kesimpulan. Hasil penelitian manajemen pengelolaan objek wisata Dam Trinsing belum terlaksana secara optimal. Manajemen pengelolaan yang dilakukan yaitu perencanaan pembangunan dan strategi dan arah kebijakan. Kendala dalam pengelolaan objek wisata Dam Trinsing yaitu terbatasnya anggaran dana, terbatasnya sumber daya manusia, belum optimalnya pengembangan destinasi dan promosi wisata, serta dampak Pandemi Covid-19 yang menghambat segala kinerja dalam pengelolaan objek wisata Dam Trinsing sehingga terjadinya penurunan jumlah wisatawan. Upaya yang dilakukan menambah fasilitas, meningkatkan sosialisasi sadar wisata, melakukan promosi dan kerjasama dengan pihak terkait dalam pengelolaan objek wisata Dam Trinsing.
LENA CANDRA KIRANA
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK LENA CANDRA KIRANA, 2020: Upacara Noka Daja Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya (Kajian Filosofi). Skripsi Strata Satu Program Studi Filsafat Agama Hindu, Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya, Pembimbing I : Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, M.Si.,D.Phil dan Pembimbing II : Drs. I Ketut Soter,M.Pd.H. Salah satu bentuk ketaatan umat Hindu Kaharingan yang ada di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya adalah melakukan tata cara upacara Noka Daja. Dalam pelaksanaannya upacara ini berkaitan erat dengan kepercayaan agama Hindu Kaharingan, dengan terpenuhnya segala hal yang bersangkutan dengan tata cara upacara Noka Daja maka diharapkan anak itu nantinya akan hidup bahagia, panjang umur dan memperoleh rejeki. Latar belakang masalah upacara Noka Daja ini yaitu mengingat masih belum pernah ada yang melakukan penelitian sama sekali tentang upacara Noka Daja, maka oleh sebab itu peneliti tertarik melakukan penelitian tetang upacara tersebut, adapun yang ingin di teliti yaitu mengenai Kajian Filosofisnya, namun Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya, masih belum mengetahui apa itu kajian filosofisnya upacara Noka Daja. Dengan demikian penulis tertarik untuk menulis Sikripsi dengan judul: Upacara Noka Daja Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya (Kajian Filosofi). Sedangkan yang menjadi permasalahan dalam penulisan Skripsi ini adalah : (1). Bagaimana pelaksanaan Upacara Noka Daja Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya?, (2). Fungsi apa yang terkandung dalam Upacara Noka Daja Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya? Dan (3) makna apa yang terkandung dalam Upacara Noka Daja Pada Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya? Untuk membedah masalah dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan beberapa teori: (1). Teori Religi, (2). Teori Simbol dan yang ketiga (3). Teori Fungsional Sruktural. Penelitian tentang upacara Noka Daja ini, Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan menggunakan lokasi penelitian di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan teknik: (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Kepustakaan dan (4) Dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini adalah Basir/Pisor, tokoh umat Hindu Kaharingan dan Masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Pelaksanaan Upacara Noka Daja dilakukan beberapa tahap yaitu : Sarana dan prasarana upacara Noka Daja, waktu, tempat dan pelaksanaan upacara Noka Daja, tahap persiapan upacara Noka Daja, tahap pelaksanaan upacara Noka Daja. (2) Fungsi yang ingin di capai yaitu: Fungsi religius upacara Noka Daja, fungsi sosial upacara Noka Daja, fungsi estetika upacara Noka Daja, fungsi etika upacara Noka Daja, fungsi pendidikan upacara Noka Daja dan (3) Makna apa yang terkandung dalam upacara Noka Daja yaitu : Makna filosofis, makna religius, makna sosial, makna pendidikan, makna kesehatan. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, disimpulkan bahwa kajian filosofis upacara Noka Daja pada umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya pada intinya merupakan suatu upacara pemberian nama bayi pada umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Kolon Kecamatan Sungai Babuat Kabupaten Murung Raya. Kata Kunci :"Upacara Noka Daja, Hindu Kaharingan”.
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK
Roni. 2020. “Budaya Bajenta-Bajorah dalam Pelayanan Publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya (Perspektif Manajemen Pendidikan Hindu).
Pembimbing I : Dr. Kadek Sukiada, S.Ag., M.Si.
Pembimbing II : Dr. I Ketut Sudiarta, S.Sos., M.A.P.
Konsep bajenta-bajorah menunjukkan betapa pentingnya budaya dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi atau adat istiadat sebagai pondasi dalam pembangunan karakter masyarakat. Atas dasar pemikiran tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan fokus kajian yang terdapat pada tiga aspek permasalahan, yaitu (1) Bagaimanakah makna budaya bajenta-bajorah dalam pelayanan publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya; (2) Bagaimanakah fungsi budaya bajenta-bajorah dalam pelayanan publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya; dan (3) Apa implikasi budaya bajenta-bajorah dalam pelayanan publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun, landasan analisis yang digunakan adalah Teori Manajemen Aliran Perilaku dan Teori Struktural-Fungsional. Data penelitian ini dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Berdasarkan telaah dan metode analisis tersebut, dapat diasumsikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, makna budaya bajenta-bajorah dalam pelayanan publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya, berdasarkan pada tiga elemen dasar, yakni makna pelestarian budaya, makna manajerial (perspektif manajemen pendidikan Hindu), dan makna pelayanan. Ketiga elemen tersebut saling terkait menjadi satu keutuhan yang terartikulasikan pada budaya bajenta-bajorah dalam pelayanan publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya (perspektif manajemen pendidikan Hindu). Kedua, fungsi budaya bajenta-bajorah dalam pelayanan publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya, terfokus pada dua perilaku manajerial, yaitu fungsi tindakan sosial dan fungsi pengendalian diri (perspektif manajemen pendidikan Hindu). Budaya bajenta-bajorah ini merupakan pola hidup sosial masyarakat suku Dayak dalam organisasi (organizing) yang tampak jelas dalam struktur organisasi pada Kelurahan Palangka, sebagai fungsi koordinasi dan wewenang. Pelaksanaan (actuating) sebagai bentuk pengarah, proses merumuskan kembali aturan kinerja pada Kantor Kelurahan Palangka. Ketiga, implikasi budaya bajenta-bajorah dalam pelayanan publik di Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya, mengerucut pada dua tindakan, yaitu implikasi transparansi dan implikasi integritas dalam pelayanan publik. Implikasi transparansi mengacu pada proses pelayanan publik yang merupakan output, bagaimana fungsi pemerintah dijalankan. Sementara itu, implikasi integritas terfokus pada pelaksanaan pelayanan dengan mengoptimalkan penyelenggaraan egovernment dalam pelayanan publik secara menyeluruh.
SURIADI P
2021 · Book · Open Access
Suriadi P, 2020. Pelestarian Ekowisata Sepan Apui di Sungai Bemban Kecamatan Marikit Kabupeten Katingan. Skripsi. Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya Prodi Pramuwisata Budaya dan Keagamaan Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHNTP) Palangka Raya. Pembibing (I) Dr. Sihung S.Ag., M.Si, Pembibing (II) Buhol, S.Ag., M.Fil.H Pelestarian Ekowisata Sepan Apui merupakan hal yang sangat penting khususnya dalam menjaga dan merawat lingkungan serta kearipan lokal agar tidak terjadi pengalihan fungsi. Penting khususnya untuk generasi muda sebagai penerus bangsa, tetap menjaga dan melindungi aset wilayah. Mengingat pada dewasa ini wisata sebagai bukti yang nyata dapat memberikan kontribusi serta peluang usaha peningkatan ekonomi untuk masyarakat. Penelitian ini membahas tentang Pelestarian Ekowisata Sepan Apui. maka hal ini yang ingin dijelaskan dan diunkapkan dikaji melalui penelitian ini adalah : (1) Bagaimana Rekontruksi Pelestarian ekowisata dan kendalanya, serta (2) bagaimana pelestarian Sepan Apui dan (3) apa implikasinya. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Marikit Kabupaten Katingan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif Kualitatif, dari sifat penelitian itu mejelaskan teori teori, rekontruksi dan pemberdayaan masyarakat. Instrument utama dalam penelitian adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dokumentasi. yang mumpu memberikan informasi yang dibutuhkan dan menjelaskan Sepan Apui yaitu Kepala Desa, Majelis Resort Agama Hindu Kaharingan dan Tokoh Pemuda. Hasil penelitian menujukan bahwa pelestarian Sepan Apui dan kendala yang dihadapi oleh masyarakat wilayah Kecamatan Marikit.(1) Pelestarian Ekowisata Sepan Apui di Sungai Bemban Kecamatan Marikit Kabupaten Katingan dalam ini upaya pelestarian dan mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan,(2) kendala-kendala yang dihadapi oleh masyarakat untuk pengembangan pelestarian ekowisata tentang kendala-kendala sarana dan parasrana penunjang wisata. Kata Kunci : Pelestarian, Sepan Apui.
2021 · Book · Open Access
Tesis ini dijuduli “Misionaris Kristen dalam Konversi Agama Masyarakat Hindu Kaharingan di Kabupaten Katingan (Perspektif Pendidikan Hindu)”. Masyarakat di Kabupaten Katingan, khususnya di Kecamatan Pulau Malan dan Tewang Sangalang Garing, telah terjadi konversi agama yang dilakukan oleh misionaris Kristen. Untuk mengkaji lebih mendalam masalah tersebut, penulis merumuskan masalah berikut. (1) Bagaimana hegemoni yang dilakukan oleh misionaris Kristen. (2) Apakah penyebab terjadinya konversi agama pada masyarakat Hindu Kaharingan di Kabupaten Katingan. (3) Bagaimanakah upaya pendidikan yang dilakukan untuk memperkuat sradha dan bhakti masyarakat Hindu Kaharingan agar tidak terkonversi oleh misionaris Kristen. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengkaji hegemoni misionaris Kristen dalam konversi agama masyarakat Hindu Kaharingan di Kabupaten Katingan dalam Perspektif Pendidikan Hindu.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk memahami dan menganalisis masalah yang diteliti terkait dengan misionaris Kristen dalam konversi agama masyarakat Hindu Kaharingan di Kabupaten Katingan (Perspektif Pendidikan Agama Hindu). Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Permasalahan dianalisis dengan beberapa teori yang relevan, yaitu (1) Teori Hegemoni Gramsci, (2) Teori Konversi Agama Thomas F. O’Dea, dan (3) Teori Konstruktivisme Piaget.
Hasil penelitian yang dilakukan setelah dikaji dengan teori yang digunakan yaitu sebagai berikut. Pertama, misionaris Kristen menghegemoni masyarakat Hindu Kaharingan di Kabupaten Katingan. Hegemoni yang dilakukan misionaris Kristen tersebut dalam bentuk hegemoni ideologi, moral, prinsip-prinsip religius, dan hegemoni pendidikan. Kedua, terjadinya konversi agama pada masyarakat Hindu Kaharingan di Kabupaten Katingan disebabkan oleh faktor ekonomi, pengaruh janji keselamatan, perubahan status (perkawinan), propaganda melalui kegiatan misionaris yang aktif, faktor ajakan/sugesti, dan lemahnya pengetahuan masyarakat Hindu Kaharingan terhadap ajaran kepercayaan yang dianut. Ketiga, upaya pendidikan yang dilakukan masyarakat Hindu Kaharingan untuk memperkuat sradha dan bhakti dengan menerapkan ajaran sad dharma di dalam kehidupan mereka sehari-hari belum maksimal. Terjadi hegemoni dan konversi agama itu disebabkan oleh lemahnya pengetahuan keyakinan dan bhakti masyarakat Hindu Kaharingan terhadap ajaran agamanya.
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK
Diana, I Made. 2020. Kinerja Guru Pendidikan Agama Hindu Tingkat Sekolah Dasar di Kecematan Kahayan Hilir. Tesis Program Studi Magister Pendidikan Hindu Program Pascasarjana Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing (I) Dr.Drs. I Wayan Karya, M.Pd., M.Si.dan Pembimbing (II) Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag., M.A.
Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sangat penting untuk menumbuhkan daya dan minat belajar bagi peserta didik, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan peserta didik sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar lebih baik. Kinerja guru sangat menentukan kualitas pembelajaran yang baik bagi peserta didik di sekolah, yaitu kualitas peserta didik yang memiliki kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan dan akhlak mulia yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Hindu. Guru pendidikan agama Hindu tingkat sekolah dasar di Kecamatan Kahayan Hilir saat ini masih memerlukan peningkatan kompetensi sebagai guru melalui pelatihan yang dilakukan oleh pengawas dan kepala sekolah. Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui bagaimana kinerja gurupendidikan agama Hindu tingkat sekolah dasar di Kecamatan Kahayan Hilir dengan tujuan untuk melihat dan mengetahui realitas kinerja guru pendidikan agama Hindu tersebut.
Penelitian ini terdiri atas enam sampel, yaituguru pendidikan agama Hindu SDN Mintin 1, guru pendidikan agama Hindu SDN Trisari 1, guru pendidikan agama Hindu SDN Mantaren 2, guru pendidikan agama Hindu SDN UPT Anjir Pulang Pisau, guru pendidikan agama Hindu SDN Kalawa 1, dan guru pendidikan agama Hindu SDN Buntoi 2. Jenis metode yang digunakan adalah metode campuran (Mixed Methods). Data diperoleh dari hasil observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dibagi menjadi dua, yaitu(1) pengolahan data dari informan: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data, (2) pengolahan data dariangket: editing dan scoring.
Hasil analisis dari wawancara guru pendidikan agama Hindu dan kepala sekolah serta angket setelah dianalisis dengan metode campuran (Mixed Methods), yaitu penyematan data kualitatif dalam desain penelitian kuantitatif (nestingqualitative data in quantitative designs), kemudian dikonsultasikan dengan Penilaian Acuan Patokan (PAP) kinerja guru pendidikan agama Hindu. Hasilnya, yaitu (1) guru pendidikan agama Hindu SDN Mintin 1 masuk dalam kategori baik, dengan persentase ketercapaian 79,61%;(2) guru pendidikan agama Hindu SDN Trisari 1 hasilnya masuk dalam kategori baik dengan persentase ketercapaian 87,07%; (3) guru pendidikan agama Hindu SDN Mantaren 2 hasilnya masuk dalam kategori baikdengan persentase ketercapaian 87,07%(3) guru pendidikan agama Hindu SDN UPT Anjir Pulang Pisau hasilnya masuk dalam kategori baik dengan persentase ketercapaian 73,21%;(4) guru pendidikan agama Hindu SDN Kalawa 1 hasilnya masuk dalam kategori baik dengan persentase ketercapaian 80,65%;(5) guru pendidikan agama Hindu SDN Buntoi 2 hasilnya masuk dalam kategori baik dengan persentase ketercapaian 82,44%.
2021 · Book · Open Access
LIRA HARTAMI, 2020. Peran Komunikasi Dalam Menjaga Keharmonisan Umat Beragama di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. Pembimbing I, Dr. Tardi Edung, S.Ag.,M.Ag. Pembimbing II, Hadianto Ego Gantiano, M.Pd.H.
Masyarakat yang berada di desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan adalah masyarakat heterogen dilihat dari suku atau etnik seperti Jawa, Bali dan Dayak, maupun agama yang di anut seperti Islam, Kristen, Hindu dan Katolik serta budaya, kemudian hal ini dipengaruhi oleh teknologi komunikasi yang membuat masyarakat desa Kalahien cenderung apatis terhadap lingkungan sosial. Serta kurang terlibatnya generasi muda Hindu Kaharingan (pemuda) dalam pelaksanaan persembahyangan basarah. Hal seperti ini yang dapat menimbulkan mudahnya terjadi konflik di dalam masyarakat terutama antar umat beragama. Masalah dalam penelitian ini adalah, 1) Apa fungsi komunikasi yang digunakan dalam menjaga keharmonisan umat beragama di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. 2) Bagaimana peran komunikasi dalam menjaga keharmonisan umat beragama di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Fungsionalisme Struktural dan Teori Peran.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Peneliti ingin mendeskripsikan data lapangan mengenai permasalahan penelitian, pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumen sedangkan teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling dengan pertimbangan tertentu. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data menurut Miles dan Huberman yaitu mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dibahas peneliti dapat disimpulkan, 1). Fungsi komunikasi yang digunakan untuk menjaga keharmonisan umat beragama adalah memiliki fungsi yang cukup strategis sebagai suatu sarana yang digunakan untuk memberikan pembelajaran atau pengetahuan agama kepada umat, mengingat para pemuka agama adalah seorang yang dianggap paling mampu dan paham mengenai ajaran agama, pembelajaran dan penjelasan keagamaan berfungsi menjadi acuan umat agar dapat hidup rukun dan harmonis dalam lingkungan yang beragam. 2). Peran komunikasi untuk menjaga keharmonisan umat beragama adalah bahwa setiap manusia berdiri diatas perannya masing-masing, dalam hal ini yang berperan penting yaitu pemuka agama, tokoh masyarakat dan pemuda, sebagai seseorang yang dijadikan suri taudalan dalam tatanan masyarakat seyogyanya juga harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Memberikan stimulus-stimulus dan penghargaan kepada masyarakat dalam hal menyampaikan ajaran agama juga penting agar masyarakat yang berbeda mampu saling menghargai dan menghormati orang lain untuk dapat mewujudkan kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis.
2021 · Book · Open Access
Karakter akan terbentuk jika aktivitas dilakukan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan itu akan membentuk karakter remaja. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal yang baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, bangsa, dan negara yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Namun, pada kenyataannya karakter remaja zaman dulu dan karakter remaja zaman sekarang sangatlah berbeda. Perbedaan tersebut terlihat mulai dari gaya hidup, percintaan, permainan, teknologi, bahasa, sosialisasi, dan lain-lain. Remaja cenderung ingin mengikuti kehendaknya sendiri tanpa memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sosial masyarakat. Adapun rumusan masalah dalam penelitian adalah (1) bagaimana proses pembentukan karakter remaja dalam perspektif pendidikan Hindu di Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, (2) apa saja faktor penghambat dalam pembentukan karakter remaja dalam perspektif pendidikan Hindu di Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, dan (3) bagaimana upaya yang dilakukan untuk mendorong terbentuknya karakter remaja dalam perspektif pendidikan Hindu di Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya?
Teori yang digunakan adalah teori behavioristik, teori motivasi dan teori pembelajaran konstruktivistik. Data diperoleh dengan metode observasi, partisipasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Selanjutnya data tersebut diinterpretasi dengan memberi makna dan menjelaskan pola atau kategori serta mencari karakteristik antara berbagai konsep.
Hasil penelitian dalam tesis ini menunjukkan bahwa proses pembentukan karakter remaja dalam perspektif pendidikan agama Hindu meliputi, pertama, dilakukan dengan cara pengenalan terhadap ajaran-ajaran agama Hindu melalui pendidikan informal, nonformal, dan pendidikan secara formal; kedua, memberikan pemahaman setelah dilakukan pengenalan tentang ajaran agama Hindu; ketiga, setelah dipahami alangkah baiknya dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari, keempat, setelah dilakukan pembudayaan atau pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari terwujudlah suatu internalisasi menjadi karakter. Ada dua faktor utama penghambat dalam pembentukan karakter remaja, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang penyebabnya dari dalam diri seseorang atau individu itu sendiri, seperti potensi spiritual, potensi emosional, potensi psikologis buruk, serta potensi intelektual yang tidak seimbang. Tantangan eksternal berupa tantangan yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, pendidikan, dan lingungan masyarakat. Adapun upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan kebiasaan baik, pemahaman, pengajaran, serta keteladanan di lingkungan keluarga, pendidikan, serta dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
2021 · Book · Open Access
Tesis ini mengkaji legalitas hukum dalam sistem perkawinan pada masyarakat Hindu Kaharingan. Fenomena yang terjadi, kurangnya kesadaran hukum masyarakat Hindu Kaharingan, dalam mentaati aturan untuk mendapatkan keabsahan dari perkawinan yang dilaksanakan. Berdasarkan uraian tersebut masalah yang dikaji :1. Bagaimanakah standar operasional prosedur mendapatkan legalitas hukum sistem perkawinan Hindu Kaharingan pada masyarakat Hindu Kaharingan?,2. Bagaimanakah sistem pelaksanaan perkawinan Hindu Kaharingan pada masyarakat Hindu Kaharingan?, 3. Apakah implikasi legalitas hukum dalam sistem perkawinan Hindu Kaharingan pada masyarakat Hindu Kaharingan?. Tujuan penelitian, untuk mengetahui, menjelaskan, dan mendiskripsikan legalitas hukum sistem perkawinan Hindu Kaharingan pada masyarakat Hindu Kaharingan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Jenis data terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif. Sumber data terdiri dari data primer, dan data skunder. Teknik penentuan informan secara Purposive, dan sebagai instrument kunci yakni peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi dokumen dan kepustakaan. Analisis data, melalui pengumpulan informasi, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian dikaji dengan teori validitas hukum, teori sistem hukum dan teori kausalitas, maka memperoleh hasil bahwa setiap perkawinan harus mendapatkan legalitas keabsahan hukum yang diatur didalam perundang-undangan yang berlaku, sistem perkawinan masyarakat Hindu Kaharingan memiliki prosedur satu kesatuan tersusun secara sistematis, dan pada setiap perkawinan memiliki implikasi positif yang bersifat baik bagi perkawinan tersebut, dan didalam perkawinan tentu ada berbanding implikasi negatif, yang menjadikan perkawinan tersebut tidak sesuai dengan adat, lembaga agama Hindu Kaharingan, bahkan tidak memiliki keabsahan pada Dinas Kependudukan dan Pencacatan Sipil di Kabupaten Katingan. Berdasarkan penelitian di atas maka peneliti menemukan temuan baru bahwa pada sistem perkawinan yang dilaksanakan masyarakat Hindu Kaharingan, sah dan memiliki legalitas hukum, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2021 · Book · Open Access
ABSTRAK
YU ASRI HARING, 2020 : Eksistensi Sandung bagi Masyarakat Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya. Tesis Program Studi Pendidikan Agama Hindu Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing (I) Dr. Ervantia Restulita L. Sigai, S.S.,M.Si. Pembimbing (II) Dr. Pranata, S.Pd., M.Si.
Penelitian ini mengkaji eksistensi sandung bagi masyarakat Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya. Penelitian ini mengangkat fenomena masyarakat dalam memahami eksistensi sandung. Masyarakat hanya memahami bahwa sandung merupakan bangunan yang berbentuk rumah kecil tempat menyimpan tulang leluhur semata, padahal sandung sesungguhnya mampu dijadikan sebagai media identitas. Jika generasi ingin berpindah identitas agama tentunya sebagai suatu pertimbangan adanya sandung leluhur di dekat rumah menggambarkan bahwa pemilik rumah tersebut beragama Hindu Kaharingan. Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah meliputi: (1) Bagaimanakah eksistensi sandung pada masyarakat Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya? (2) Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan dalam sandung pada masyarakat Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya?
Teori yang digunakan adalah teori interaksionisme simbolik, teori fungsional struktural, teori nilai dan teori pendidikan Hindu. Jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, studi kepustakaan dan studi dokumentasi. Kemudian teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa eksistensi sandung bagi masyarakat Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya terlihat dari adanya berbagai bentuk motif yang terdapat pada sandung yaitu burung piak liau, patung bawi-hatue, balanga, batang haring, batang enyuh, matahari, bulan dan bintang. Selain bentuk motif dapat dilihat dari letak sandung yang lebih fleksible tidak hanya di depan rumah saja tapi sekarang juga bisa diletakan di komplek. Pemilihan bahan pada sandung juga mampu menyesuaikan kondisi lingkungan tidak harus menggunakan kayu ulin, tetapi juga dapat menggunakan beton. Nilai-nilai pendidikan pada sandung yaitu nilai pendidikan parawidya kebenaran, nilai pendidikan parawidya keagamaan, nilai pendidikan aparawidya material, nilai pendidikan aparawidya sosial, nilai pendidikan aparawidya keindahan dan nilai pendidikan aparawidya moral.
SARI ANI BERTI
2021 · Book · Open Access
Upacara Mandung merupakan rangkaian upacara kematian pada umat Hindu Kaharingan, sebagai wujud bakti dan cinta kasih kepada anggota keluarga yang sudah meninggal, upacara Mandung hanya boleh dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan. Adapun permasalahan dalam penilitian ini yaitu bagaimana pelaksanaan tata cara upacara Mandung, apa fungsi pelaksanaan tata cara upacara Mandung dan apa makna filosofis pelaksanaan tata cara upacara Mandung pada umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan tata cara upacara Mandung, fungsi pelaksanaan tata cara upacara Mandung dan makna filosofis upacara Mandung pada umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Teori yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu teori religi, teori fungsional struktural dan teori interaksionalisme simbolik Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini lokasi di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya. Jenis data dalam penelitian ini, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Sumber data yaitu Sumber data primer sumber. Sedangkan instrument peneliti sendiri. Tehnik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi sedangkan teknik analisa data menggunakan deskriptif kualitatif. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Pelaksanaan tata cara upacara Mandung pada umat Hindu Kaharingan di Desa Kalasin Kecamatan Uut Murung Kabupaten Murung Raya yaitu ada beberapa tahapan yaitu: Tahap persiapan pelaksanaan tata cara upacara Mandung, tahap Pelaksanaan tata cara upacara Mandung dan tahap akhir pelaksanaan tata cara upacara Mandung. 2) Fungsi pelaksanaan tata cara upacara Mandung yaitu fungsi sosial yaitu manusia sebagai mahluk sosial, dimanapun keberadaaannya tidak terlepas dari kehidupan orang lain. Manusia di ciptakan tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya interaksi dengan dengan yang lainnya dan fungsi religius pelaksanaan tata cara upacara Mandung yaitu untuk membersihkan dan mensyucikan Liau Haring dari segala perbuatan yang dibuatnya semasa hidup di dunia sehingga Liau Haring tersebut dapat menuju Lewu Telun Sengumang dan Liau Haring tidak lagi menggangu anak cucu yang di tinggalkan, sehingga anak cucu yang di tinggalnya dapat hidup dengan tenang dan mendapat rejeki di kemudian hari. 3) Makna filosofis tata cara upacara Mandung yaitu untuk mengantar Liau Haring menuju Lewu Telun Sengumang dengan melaksanakan upacara Mandung untuk membersihkan, membuang sial dan membebaskan ikatan dari yang meninggal tersebut karena kalau belum dilaksanakan upacara Mandung tentunya yang hidup masih terikat dengan yang meninggal.
2021 · Book · Open Access
ERMILA, 2020, Kewenangan Mantir Adat Dalam Penyelesaian Kasus Perkelahian Pada Masyarakat Di Desa Tumbang Panggo Kecamtan Tasik Payawan Kabupaten Katingan Skripsi. Fakultas Dharma Sastra, Prodi Hukum Adat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya (IAHN-TP Palangka Raya). Pembimbing (I) Dr. Riwun, S.Ag.,M.Si. pembimbing (II) Gelar Sumbogo Peni. S.Ag.,M.Si.
Kewenangan adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu. Demikian halnya dengan kewenangan seorang Mantir Adat di Desa Tumbang Panggo yaitu mempunyai kekuasaan yang kewenangannya dalam masalah bidang adat istiadat dan juga permasalah yang timbul pada masyarakat. Perkelahian adalah pertengkaran dengan adu kata disertai dengan adu fisik yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Masalah yang diteliti : (1) Apa Dasar Hukum Dan Kewenangan Mantir Adat Dalam Penyelesaian Kasus Perkelahian Pada Masyarakat Di Desa Tumbang Panggo Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan?(2) Bagaimana Proses Penyelesaian Kasus Perkelahian Pada Masyarakat Di Desa Tumbang Panggo Kecamatan Tasik Payawan kabupaten Katingan?(3) Apa Sanksi Dan Faktor Penyebab Hukum Adat Terhadap Kasus Perkelahian Pada Masyarakat Di Desa Tumbang Panggo Kecamatan Tasik Payawan Kabupaten Katingan.
Teori yang digunakan untuk menganalisi Rumusan Masalah tersebut adalah teori Kewenangan, teori Penegakan Hukum dan teori Kausalitas (sebab akibat). Subjek penelitian ini adalah Mantir Adat Desa Tumbang Panggo, Tokoh Masyarakat Adat Desa Tumbang Panggo, dan masyarakat Desa Tumbang Panggo. Metode yang digunakan untuk mengumpukan data adalah metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan metode kualitatif dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan dan verifikasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1). Dasar hukum dan kewenangan mantir adat dalam penyelesaian kasus perkelahian adalah UUD 1945 pada pasal 18B ayat (2), UU Darurat Nomor 1 Tahun 1951, dan PERDA Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah. (2) proses penyelesaian kasus perkelahian yaitu pemanggilan pihak-pihak yang bersengketa, penetapan tanggal sidang dan pemberitahuan kepada para saksi dan penyelenggaran sidang oleh mantir adat. (3) Faktor penyebab dan sanksi adat perkelahian adalah faktor penyebab terdapat beberapa factor yaitu amarah, kurangnya hiburan, kesenjangan generasi, lingkungan, peran belajar mosel kekerasan/pengaruh media massa, frustasi/sters, proses pendisiplinan yang keliru, ekonomi dan usia. sanksi yaitu pada pasal 86 Singer Kalahi Kadama Metuh Gawi (denda adat jika berkelahi pada waktu pesta/perayaan, denda yang diberikan oleh Mantir Adat kepada para pelaku pelanggarang adat yaitu dikenakan denda sebesar 1-15 kati ramu, menurut besar kecilnya pelanggran dan pertimbangan Ketua Adat/Mantir Adat setempat. Akan tetapin di Desa Tumbang Panggo Mantir Adat telah menetapkan bahwa 1 kati ramu diuangkan senilai Rp. 250.000,- sesuai dengan kesepakatan kerapatan adat dengan aparat desa dan tokoh masyarakat. Pada saat kasus perkelahian yang terjadi di Desa Tumbang Panggo telah ditetapkan membayar singer/denda sebagai sanksi adat 12 kati ramu senilai Rp 3.000.000,-.