Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

1.949 item publik

Publikasi

Halaman 3 dari 98

INTERNALISASI NILAI-NILAI TRI HITA KARANA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA HINDU DI PRATAMA WIDYALAYA WIDYA BHAKTI KOTA PALANGKA RAYA

AAN MARHANSYAH
2026 · Book · Open Access

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan karakter peserta didik di tengah berbagai fenomena penurunan moral yang masih terjadi, seperti kurangnya kedisiplinan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Dalam konteks pendidikan Agama Hindu, nilai-nilai Tri Hita Karana yang meliputi Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan dipandang sebagai landasan filosofis yang mampu membentuk karakter peserta didik secara holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses internalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana, mengkaji implikasinya terhadap pembentukan karakter siswa Hindu, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam proses internalisasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, dan dokumentasi terhadap wakil kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Hindu dan siswa, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana dilaksanakan secara sistematis melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut dengan memanfaatkan strategi keteladanan, pembiasaan, pembelajaran berbasis pengalaman, bercerita, bermain, serta pemberian penguatan. Internalisasi tersebut memberikan implikasi positif terhadap terbentuknya karakter religius, disiplin, peduli, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Selain itu, tercipta budaya sekolah yang religius, harmonis, dan peduli lingkungan. Namun demikian, proses internalisasi masih menghadapi kendala internal berupa karakteristik perkembangan anak usia dini yang masih egosentris, kemampuan memahami konsep abstrak yang terbatas, serta belum stabilnya konsistensi perilaku siswa, dan kendala eksternal berupa kurang optimalnya kesinambungan pembiasaan di lingkungan keluarga, perbedaan pola pengasuhan orang tua, serta pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan teknologi. Dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana merupakan strategi yang efektif dalam membentuk karakter siswa Hindu apabila dilaksanakan secara berkelanjutan, didukung oleh keteladanan guru, pembiasaan yang konsisten, serta sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Pengaruh Manajemen Sarana Prasarana dan Persepsi Siswa Terkait Fasilitas Keagamaan Terhadap Kepuasan Belajar Siswa Hindu di SMAN 4 Palangka Raya

RONA DELPIA
2026 · Book · Open Access

ABSTRAK Kepuasan belajar siswa Hindu merupakan salah satu indikator penting dalam keberhasilan pengelolaan Pendidikan, yang turut dipengaruhi oleh ketersediaan serta persepsi terhadap fasilitas penunjang keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh Manajemen Sarana Prasarana (X1) dan Persepsi Siswa (X2) terhadap Kepuasan Belajar Siswa Hindu (Y) di SMAN 4 Palangka Raya, baik secara langsung melalui Fasilitas Keagamaan (Z) sebagai variabel antara (intervening). Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain ex post facto menggunakan metode survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa beragama Hindu di SMAN 4 Palangka Raya, dengan jumlah sampel 82 siswa yang ditentukan menggunakan Teknik propotional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran instrumen angket (kuesioner) yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis) untuk menguji efek langsung dan tidak langsung antarvariabel Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji sub structural I, Manajemen Sarana Prasarana (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Fasilitas Keagamaan (Z) (β = 0,802), sedangkan Persepsi Siswa (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap Fasilitas Keagamaan (Z). pada uji sub structural II, Persepsi Siswa (X2) berpengaruh positif dan signifikan secara langsung terhadap Kepuasan Belajar (Y) dengan kontribusi paling dominan (β = 0,942), begitu fula Fasilitas Keagamaan (Z) (β = 0,136). Sebaliknya, Manajemen Sarana Prasarana (X1) tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap Kepuasan Belajar (Y). Hasil uji sobel membuktikan bahwa Fasilitas Keagamaan (Z) berfungsi sebagai variabel mediasi penuh (full mediation) pada hubungan antara Manajemen Sarana Prasarana (X1) terhadap Kepuasan Belajar (Y) (thitung 3,223 > 1,96). Namun, Fasilitas Keagamaan (Z) tidak terbukti memediasi pengaruh Persepsi Siswa (X2) terhadap Kepuasan Belajar Siswa Hindu (Y) (thitung 1,167 1,96). Pihak sekolah diharapakan menjaga persepsi positif siswa dan mengoptimalkan manajemen sarana prasarana fisik khusus keagamaan guna mendongrak kepuasan belajar secara efektif.

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATERI IPAS KELAS V SDN 1 MENTENG PALANGKA RAYA

ALTY
2026 · Book · Open Access

Penelitian ini membahas rendahnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPAS yang ditunjukkan dengan kurangnya perhatian, minat, dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar adalah dengan menggunakan media gambar sebagai media pembelajaran yang bersifat visual, konkret, dan menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar terhadap motivasi belajar siswa pada materi IPAS kelas V SDN 1 Menteng Palangka Raya. Pendekatan penelitian yang digunakan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen menggunakan desain One Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 28 siswa kelas V yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Instrumen penelitian telah memenuhi uji validitas dengan nilai r hitung > r tabel (0,388) serta dinyatakan reliabel dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,884. Analisis data dilakukan melalui analisis deskriptif, uji normalitas, uji N-Gain, dan uji Paired Sample t-Test menggunakan bantuan program SPSS versi 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05, sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Dengan demikian, penggunaan media gambar memberikan pengaruh yang signifikan terhadap motivasi belajar siswa pada materi IPAS kelas V SDN 1 Menteng Palangka Raya. Penggunaan media gambar mampu meningkatkan perhatian, minat, serta keaktifan siswa selama proses pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan menarik

Kreativitas Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik

MUSROFA TRIANA
2026 · Book · Open Access

Musrofa Triana 2026 : Kreativitas Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas IV di SDN 4 Menteng Palangka Raya. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Dharma Acarya, Institut Agama Hindu Negeri Tamping Penyang Palangka Raya. Pembimbing I: Hendri, S.Ag., M.Si., Pembimbing II : Heri Kusuma Tarupay, SS.,M.Hum. Skripsi ini membahas tentang kreativitas guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas IV di SDN 4 Menteng Palangka raya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kreativitas guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik melalui penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi media pembelajaran yang menarik, pemberian pujian dan penghargaan, serta penciptaan suasana belajar yang nyaman, aktif, komunikatif, dan menyenangkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Informan dalam penelitian ini terdiri atas guru kelas IV sebagai informan utama, kepala sekolah, dan peserta didik sebagai informan pendukung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas guru dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik dilakukan melalui penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, pemanfaatan media pembelajaran yang menarik, pemberian pujian dan penghargaan, serta penciptaan suasana belajar yang positif. Kepala sekolah memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi dalam memilih metode strategi, dan media pembelajaran selama tetap mengacu pada tujuan pembelajaran dan kurikulum yang berlaku. Sekolah juga memberikan motivasi dan supervisi akademik secara berkala untuk membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran. Kreativitas guru tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang terlihat dari keaktifan, antusiasme, keberanian bertanya dan menjawab pertanyaan, serta kesungguhan dalam menyelesaikan tugas.

RITUAL NGARIAU MENURUT TRADISI MASYARAKAT SUKU DAYAK NGAJU KECAMATAN KAPUAS TENGAH (PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU)

YUSTIVA LESTARI
2026 · Book · Open Access

Ritual Ngariau merupakan tradisi masyarakat Suku Dayak Ngaju di Kecamatan Kapuas Tengah yang dilaksanakan sebelum membuka lahan pertanian sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga alam serta permohonan keselamatan dan hasil panen. Perubahan struktur ekonomi masyarakat dari sektor pertanian ke pertambangan menyebabkan ritual ini semakin jarang dilaksanakan sehingga mengancam kelestarian nilai budaya dan keagamaan yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan Ritual Ngariau, menganalisis perspektif Pendidikan Agama Hindu terhadap ritual tersebut, serta mengkaji upaya pelestariannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif di Desa Pujon, Kecamatan Kapuas Tengah. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritual Ngariau merupakan warisan Hindu Kaharingan yang berlandaskan keyakinan kepada Ranying Hatalla, Kariau sebagai penjaga alam, dan Bhutakala. Ritual ini mengandung nilai Tattwa, Susila, dan Acara yang tercermin dalam penghormatan kepada Tuhan, keharmonisan manusia dengan alam, serta pelaksanaan Bhuta Yadnya. Pelestarian ritual dilakukan melalui pewarisan antargenerasi, pendidikan berbasis kearifan lokal, dokumentasi, serta dukungan masyarakat adat dan pemerintah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ritual Ngariau memiliki nilai religius, pendidikan, sosial, budaya, dan ekologis sehingga layak dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus sumber pembelajaran kontekstual dalam Pendidikan Agama Hindu.

Penanaman Sikap Religius Siswa Pada Kegiatan Persembahyangan Basarah di Smpn Satu Atap 2 Kurun Kabupaten Gunung Mas

OLDA MUSTIKA
2026 · Book · Open Access

Olda Mustika, 2026. Penanaman Sikap Religius Siswa Pada Kegiatan Persembahyangan Basarah di SMPN Satu Atap 2 Kurun Kabupaten Gunung Mas Pembimbing I Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag.,M.A Pembimbing II Megawati, S.Pi.,M.Pd.H Sikap Religius siswa adalah kondisi internal yang tercermin dalam perilaku, kebiasaan, dan cara siswa menjalani aktivitas yang di dasarkan pada nilai-nilai keagamaan. Sikap ini tidak hanya menyangkut pengetahuan tentang agama, tetapi juga bagaimana siswa menghayati, memahami, dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mendeskripsikan bagaimana penanaman sikap Religius siswa pada kegiatan persembahyangan Basarah di SMPN Satu Atap 2 Kurun Kabupaten Gunung Mas. (2) Untuk mengidentifikasi apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam penanaman sikap Religius siwa pada kegiatan persembahyangan Basarah di SMPN Satu Atap 2 Kurun Kabupaten Gunung Mas. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualititaif teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan menurut miles dan huberman berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) penanaman sikap Religius siswa pada kegiatan persembahyangan Basarah di SMPN Satu Atap 2 Kurun Kabupaten Gunung Mas menggunakan metode pembiasaan. (a) pembiasaan ibadah rutin, (b) pembiasaan sikap gotong royong, (c) pembiasaan sikap bertanggung jawab, (d) pembiasaan sikap etika dan moral. dan metode keteladanan keteladanan kepribasian (akhlak/moral). (2) Apa saja Kendala yang dihadapi dalam penanaman sikap Religius siswa pada kegiatan persembahyangan Basarah di SMPN Satu Atap 2 Kurun Kabupaten Gunung Mas. (a) kendala internal dan (b) kendala ekstenal.

Pengaruh Penerapan Metode Deep Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu Di SMPN 2 Palangka Raya

ETNI MARSELA
2026 · Book · Open Access

Etni Marsela 2026. Dr. I Nyoman Sidi Astawa, S.Ag.,M.A, Putu Cory Chandra Yhani, S.Pd.,M.Pd Skripsi. Pengaruh Penerapan Metode Deep Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Di SMPN 2 Palangka Raya Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya kajian empiris mengenai pengaruh penerapan metode deep learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMP Negeri 2 Palangka Raya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan metode deep learning terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan landasan teori belajar bermakna Ausubel serta teori konstruktivisme Piaget dan Bruner yang menekankan keterlibatan aktif siswa dalam membangun pemahaman secara mendalam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 24 siswa kelas VII, VIII, dan IX yang ditentukan melalui teknik total sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui angket dengan skala Likert dan dokumentasi hasil belajar siswa, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan program SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode deep learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa, yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,014 (0,05) dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,246. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode deep learning mampu menjelaskan 24,6% variasi hasil belajar siswa, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Selain itu, seluruh siswa memperoleh hasil belajar di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan nilai rata-rata sebesar 92,75. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode deep learning memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMP Negeri 2 Palangka Raya, sehingga dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang mendukung peningkatan kualitas proses dan hasil belajar.

Upaya Guru dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Hindu Melalui Media Gambar di SD Negeri 2 Tampang Tumbang Anjir

KRISTIN AGUSTIN
2026 · Book · Open Access

Kristin Agustin. 2026 Pembimbing I: Pembimbing II:., M.Pd.H Program Studi Pendidikan Agama Hindu Fakultas Dharma Acarya IAHN Tampung Penyang Palangka Raya Upaya Guru dalam Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Hindu Melalui Media Gambar di SD Negeri 2 Tampang Tumbang Anjir Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keaktifan belajar siswa Hindu kelas IV SD Negeri 2 Tampang Tumbang Anjir dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu. Kondisi awal menunjukkan rata-rata keaktifan kelas sebesar 56,8% dengan ketuntasan klasikal 0%, akibat dominasi metode ceramah yang belum didukung media pembelajaran visual yang konkret. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya guru dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa Hindu melalui penggunaan media gambar berbasis karton yang diwujudkan dalam bentuk Kantong Karma Phala. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif menggunakan model Yasmeen yang terdiri dari tahap diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus pada tanggal 25 Juni hingga 17 Juli 2026, dengan subjek penelitian 10 siswa Hindu kelas IV. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan jurnal harian guru, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar Kantong Karma Phala secara konsisten meningkatkan keaktifan belajar siswa. Rata-rata keaktifan kelas meningkat dari 56,8% pada kondisi awal menjadi 71,8% pada Siklus I dan mencapai 81,0% pada Siklus II. Ketuntasan klasikal meningkat dari 0% menjadi 40% pada Siklus I dan mencapai 100% pada Siklus II, melampaui target minimal 75%. Disimpulkan bahwa media gambar Kantong Karma Phala efektif meningkatkan keaktifan belajar siswa Hindu dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SD Negeri 2 Tampang Tumbang Anjir.

Hubungan Minat Belajar dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas III SDN 2 Menteng Palangka Raya

JEFRI
2026 · Book · Open Access

JEFRI, 2026. Hubungan Minat Belajar Dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas III SDN 2 Menteng Palangka Raya. Pembimbing (I) Dr. I Wayan Dana, S.Pd.,M.Si Pembimbing (II) Dedy Arianto Bannus, S.Pd., M.Ed Hasil belajar matematika merupakan indikator keberhasilan pembelajaran yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya minat belajar. Minat belajar yang baik diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran sehingga mendukung hasil belajar matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan minat belajar, hasil belajar matematika, serta mengetahui hubungan antara minat belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN 2 Menteng Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional (ex post facto). Populasi penelitian berjumlah 55 siswa dengan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui angket minat belajar dan dokumentasi nilai ulangan harian matematika, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman Rank dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar berada pada kategori cukup baik dengan nilai rata-rata 44,29, sedangkan hasil belajar matematika memiliki rata-rata 60,64. Uji Spearman Rank memperoleh koefisien korelasi sebesar 0,218 dengan nilai signifikansi 0,111 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara minat belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN 2 Menteng Palangka Raya. Temuan ini menunjukkan bahwa minat belajar bukan merupakan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan hasil belajar matematika sehingga terdapat faktor lain di luar variabel yang diteliti.

Optimalisasi Penggunaan Alat Musik Tradisional Dayak Kalimantan Tengah dalam Proses Pembelajaran Seni Budaya di SMPN 8 Palangka Raya

HERLINA
2026 · Book · Open Access

Herlina 2026. Optimalisasi Penggunaan Alat Musik Tradisional Dayak Kalimantan Tengah dalam Proses Pembelajaran Seni Budaya di SMPN 8 Palangka Raya Skripsi Prodi Pendidikan Seni dan Keagamaan Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing 1. Wentin, S.Ag.,M.Pd.H. Pembimbing II. Yoppie, M.Pd.H. Optimalisasi penggunaan alat musik dalam Proses pembelajaran seni musik di SMPN 8 Palangka Raya adalah salah satu kegiatan pembelajaran dan pelatihan seni musik yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa terkait seni musik tradisional Dayak Kalimantan Tengah serta untuk melestarikan budaya lokal. Dalam proses pembelajaran seni musik tradisional dayak masih belum maksimal karena keterbatasan jumlah alat musik dan minimnya waktu latihan, yang menyebabkan beberapa siswa terlambat menguasai teknik bermain musik tradisional dayak Kalimantan tengah. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: 1). Bagaimana Optimalisasi Penggunaan Alat Musik Tradisional Dayak Kalimantan Tengah dalam Proses Pembelajaran Seni Budaya di SMPN 8 Palangka Raya, 2). Apa kendala dalam Optimalisasi Penggunaan Alat Musik Tradisional Dayak Kalimantan Tengah dalam Proses Pembelajaran Seni Budaya di SMPN 8 Palangka Raya. Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori Behavioristik dan teori kendala. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Teknik penentuan informan Purposive Sumpling. Teknik analisis data yang dugunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) Optimalisasi Penggunaan Alat Musik Tradisional Dayak Kalimantan tengah Dalam Proses Pembelajaran Seni Budaya Di SMPN 8 Palangka raya yaitu Manajemen sekolah fokus pada pengangaraan berkala dan pemeliharaan fasilitas. 2. Kegiatan Pembelajaran Seni Musik Tradisional Dayak terdiri dari Kegiatan pendahuluan yang diawali dengan berdoa bersama, memeriksa kehadiran dan penyampaian tujuan pembelajaran, Kegiatan inti Guru menjelaskan teori dan mencontohkan cara bermain alat musik. Kegiatan Penutup Guru meminta beberapa kelompok untuk mendemonstrasikan hasil latihan didepan kelas sebagai bahan evaluasi. 3) Kendala dalam proses pembelajaran seni musik Tradisional yaitu kurangnya ketersediaan alat musik tradisional dayak, Anggaran sekolah yang terbatas membuat pengadaan alat musik tidak sebanding dengan jumlah siswa. Keterbatasan waktu juga menjadi penghambat sehingga proses pembelajaran seni musik Tradisional Dayak Kalimantan Tengah di SMPN 8 Palangka Raya kurang optimal.

Upaya Guru Agama Hindu Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Di SDN-4 Menteng Palangka Raya

CERI
2026 · Book · Open Access

Ceri, 2026. Upaya Guru Agama Hindu Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Di SDN-4 Menteng Palangka Raya. Fakultas Dharma Acarya Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I, Dr. Pranata, S.Pd., M.Si, Pembimbing II, Megawati, S.PI., M.Pd.H. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa kelas III pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SDN-4 Menteng Palangka Raya. Siswa terlihat kurang semangat, kurang aktif, dan masih malu untuk menjawab pertanyaan maupun tampil di depan kelas. Kondisi ini disebabkan oleh penggunaan media pembelajaran yang belum optimal dan kurang bervariasi sehingga siswa cepat merasa bosan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya guru Agama Hindu dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas III di SDN-4 Menteng Palangka Raya melalui penerapan media gambar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat tahapan dalam setiap siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 4 siswa kelas III yang beragama Hindu di SDN-4 Menteng Palangka Raya. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif persentase dengan rumus P = (F/N) × 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar secara bertahap melalui dua siklus berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa. Pada kondisi awal sebelum tindakan, motivasi belajar siswa masih berada pada kategori Cukup dan Kurang. Setelah diterapkannya media gambar hitam putih pada Siklus I, rata-rata persentase motivasi belajar siswa mencapai 68,75% dengan 2 siswa (50%) berkategori Baik, namun indikator keberhasilan belum tercapai. Pada Siklus II, guru melakukan perbaikan dengan mengganti media gambar hitam putih dengan media gambar berwarna sehingga rata-rata persentase motivasi belajar siswa meningkat menjadi 88,75% dengan seluruh siswa (100%) mencapai kategori Baik berdasarkan 4 kriteria penilaian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Kurang, Cukup, dan Baik, Sangat Baik. Indikator keberhasilan penelitian yang ditetapkan, yaitu minimal 75% siswa dengan kategori Baik, telah tercapai pada Siklus II. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar, khususnya media gambar berwarna, merupakan upaya guru Agama Hindu yang efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas III pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SDN-4 Menteng Palangka Raya.

Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Pembelajaran Agama Hindu Di SDN Percobaan Palangka Raya

AGUNG SUDERAJAT
2026 · Book · Open Access

Agung Suderajat. 2026. Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Pembelajaran Agama Hindu Di Sdn Percobaan Palangka Raya Skripsi Srata Satu Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu Istitut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I Dr. I Gede Dharman Gunawan, SH.,M.Pd.H Pembimbing II Heri Kusuma Tarupay, S.S.,M.Hum Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi model pembelajaran Problem Based Learning pada pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SDN Percobaan Palangka Raya, mengidentifikasi bagaimana kendala guru Pendidikan Agama Hindu mengimplementasi model pembelajaran Problem Based Learning di SDN Percobaan Palangka Raya, serta mengetahui Bagaimana upaya untuk mengatasi kendala implementasi model pembelajaran Problem Based Learning pada pembelajaran Agama Hindu di SDN Percobaan Palangka Raya. Jenis metode yang digunakan dalam Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan lokasi penelitian di SDN Percobaan Palangka Raya. Informan penelitian terdiri atas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, guru Pendidikan Agama Hindu, dan empat siswa kelas V yang beragama Hindu. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model Problem Based Learning telah dilaksanakan melalui tahapan orientasi masalah, diskusi kelompok, penyelidikan, presentasi hasil, dan evaluasi, sehingga mampu meningkatkan keaktifan, kemampuan berpikir kritis, serta partisipasi siswa dalam pembelajaran. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu pembelajaran, rendahnya kreativitas guru dalam mengembangkan kegiatan Problem Based Learning, keterbatasan media pembelajaran, serta perbedaan kemampuan siswa dalam memahami materi. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut yaitu meningkatkan perencanaan pembelajaran, memanfaatkan media yang tersedia, memberikan bimbingan secara intensif kepada siswa, serta mengoptimalkan pengelolaan waktu dan kerja kelompok agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif, aktif, dan bermakna. Penerapan model pembelajaran ini diharapkan dapat menjadi alternatif yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di sekolah dasar.

Analisis Peran Guru dalam Membentuk Sikap Religius Siswa Melalui Pendidikan Agama Hindu di SDN 2 Menteng Palangka Raya

NI KOMANG NIASIN
2026 · Book · Open Access

Ni Komang Niasin,2026,Analisis Peran Guru Dalam Membentuk Sikap Religius Siswa Melalui Pendidikan Agama Hindu Di SDN 2 Menteng Palangka Raya. Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Fakultas Dharma Acarya Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Pembimbing I: Dr. Derson, S.Ag., M.Ag Pembimbing II: Komang Suarta, S.Ag., M.Si Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena belum optimalnya sikap religius siswa Hindu di SDN 2 Menteng Palangka Raya, yang tercermin dari belum konsistennya pelaksanaan doa Tri Sandya, kurang terjaganya kebiasaan salim kepada guru, serta beragamnya kemampuan siswa dalam menghafalkan doa harian. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kajian mendalam terhadap peran guru Pendidikan Agama Hindu dalam proses pembentukan sikap religius siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru Pendidikan Agama Hindu dalam membentuk sikap religius siswa serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi guru dalam proses tersebut di SDN 2 Menteng Palangka Raya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap enam informan yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Hindu, dan empat siswa Hindu dari kelas III hingga kelas VI. Teknik analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña (2014) yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Hindu di SDN 2 Menteng Palangka Raya telah menjalankan lima peran secara terintegrasi dan berkesinambungan, yaitu sebagai educator, mentor, guide, motivator, dan evaluator dalam membentuk sikap religius siswa yang mencakup dimensi sradha, bhakti, dan sila. Faktor pendukung meliputi dukungan kepala sekolah, kerja sama dengan orang tua, antusiasme siswa, kondisi jumlah siswa Hindu yang terbatas sehingga memungkinkan pendekatan personal yang lebih intensif, serta adanya kegiatan pembiasaan religius di sekolah. Faktor penghambat meliputi perbedaan karakter siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, belum tersedianya ruang ibadah khusus, pengaruh lingkungan luar sekolah, serta keterbatasan pembinaan keagamaan di lingkungan keluarga. Berbagai hambatan tersebut diatasi melalui pembinaan bertahap, peningkatan koordinasi dengan orang tua, dan penciptaan suasana pembelajaran yang kondusif.

Strategi Guru Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Siswa Kelas V Agama Hindu di SDN Danau Kecamatan Awang Kabupaten Barito Timur

SRI BETA HANDAYANI
2026 · Book · Open Access

Sri Beta Handayani. 2026 Strategi Guru Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Belajar Siswa Kelas V Agama Hindu Di SDN Danau Kecamatan Awang Kabupaten Barito Timur. Skripsi, Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Fakultas Dharma Acarya, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya , pembimbing : (1) Mitro, S.Pd.,M.Si (2) Hendri ,S.Ag.,M,Si Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kedisiplinan belajar dalam membentuk karakter siswa serta masih ditemukannya berbagai permasalahan kedisiplinan pada siswa kelas V Agama Hindu di SDN Danau, Kecamatan Awang, Kabupaten Barito Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi guru dalam meningkatkan kedisiplinan belajar siswa, kendala yang dihadapi guru, serta solusi yang dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Hindu, dan siswa kelas V Agama Hindu di SDN Danau. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan analisis hasil penelitian menggunakan Teori Behavioristik melalui konsep pengkondisian klasik dan pengkondisian operan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan strategi pendekatan persuasif spiritual melalui kegiatan berdoa sebelum pembelajaran, kontrak belajar, pemberian penguatan positif berupa pujian dan poin, serta internalisasi nilai Dharma melalui metode cerita Itihasa. Kendala yang dihadapi meliputi faktor internal berupa rendahnya motivasi belajar, kejenuhan, dan penggunaan telepon genggam, serta faktor eksternal berupa kurangnya pengawasan orang tua, rasa kantuk saat pembelajaran, dan pengaruh teman sebaya. Strategi yang diterapkan terbukti mendukung peningkatan kedisiplinan belajar siswa. Untuk mengatasi kendala tersebut, guru melakukan pendekatan individual, mengatur posisi tempat duduk siswa, serta memperkuat kerja sama dengan orang tua agar pembinaan kedisiplinan dapat berlangsung secara berkelanjutan

PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA SISWA SMA NEGERI KOTA PALANGKA RAYA PADA ERA GLOBALISASI

MILUWATI
2026 · Book · Open Access

ABSTRAK Dinamika era globalisasi dan arus informasi digital memicu polarisasi serta penurunan pemahaman moderasi beragama di lingkungan sekolah. Kondisi terse-but berdampak pada timbulnya hambatan psikologis seperti isolasi peran (role isolation) pada siswa Hindu yang berstatus minoritas di sekolah negeri. Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan kejelasan serta implikasinya ter-hadap Pendidikan Agama Hindu di sekolah. Adapun rumusan masalah yang dipakai landasan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana peran guru Pendidi-kan Agama Hindu (PAH) dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? (2) Apa saja hambatan yang dihadapi guru PAH dalam memperkuat moderasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Pal-angka Raya? (3) Bagaimana strategi adaptif guru PAH dalam memperkuat mod-erasi beragama siswa pada SMA Negeri Kota Palangka Raya? Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui metode observasi partisipatif, wawancara mendalam (in-depth inter-view), dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui perpanjangan pengamatan dan member checking. Data selanjutnya diinterpretasi dengan menggunakan tiga pisau analisis konseptual, yaitu Teori Peran (Role Theory Bid-dle), Teori Konstruktivisme Sosial (Lev Vygotsky), dan Teori Pendidikan Mul-tikultural (James A. Banks). Berdasarkan substansi yang digunakan dalam penelitian ini, beberapa temuan yang diperoleh meliputi (1) Peran guru PAH secara konsisten berjalan sebagai value transmitter yang menginternalisasikan nilai Tat Twam Asi dan Tri Hita Ka-rana, conservator nilai keagamaan, serta role model dan inspirator karakter inklusif di lingkungan sekolah. (2) Hambatan yang dihadapi mencakup aspek in-ternal berupa isolasi peran (role isolation) dan kecenderungan eksklusif siswa minoritas, serta hambatan eksternal berupa ketimpangan komposisi kelas mul-tikultural, keterbatasan buku teks/bahan ajar nasional yang kurang mengako-modasi kearifan lokal (content gap), benturan ekspektasi domestik/orang tua, ser-ta ketiadaan ruang kelas khusus keagamaan Hindu. (3) Strategi adaptif yang dit-erapkan guru mencakup Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis role sharing, pembentukan Forum Diskusi Huma Betang, pengembangan konten digi-tal edukatif Hindu Kaharingan, serta pemanfaatan media seni rupa lokal (seperti Sapundu) untuk menjembatani keterbatasan ruang ibadah. Integrasi strategi ini berhasil mentransformasi interaksi siswa minoritas dari rasa terasing menjadi kolaboratif. Penelitian ini memberikan kontribusi da-lam merekonstruksi ekosistem belajar inklusif yang mengawinkan konsep Tri Mandala Hindu dengan filosofi egaliter Huma Betang Dayak, guna mewujudkan ruang kelas sebagai laboratorium sosial pembentuk ketahanan mental dan karak-ter moderat siswa. Kata Kunci: Guru Agama Hindu, Moderasi Beragama, Huma Betang, Era Glob-alisasi, Minoritas. ABSTRACT The dynamics of the globalization era and the flow of digital information trigger polarization and a decline in the understanding of religious moderation in school environments. These conditions lead to psychological barriers such as role isolation among minority Hindu students in public schools. This study is directed towards gaining clarity and its implications for Hindu Religious Education in schools. The research questions serving as the foundation of this study are (1) What is the role of Hindu Religious Education (PAH) teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? (2) What obstacles are faced by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools across Palangka Raya City? (3) What adaptive strategies are implemented by PAH teachers in strengthening students' religious moderation in State Senior High Schools in Palangka Raya City? Through a qualitative approach with a case study design, data were col-lected using participatory observation methods, in-depth interviews, and docu-mentation studies. Data validity was maintained through extended observation and member checking. The data were then interpreted using three conceptual an-alytical frameworks: Biddle's Role Theory, Lev Vygotsky's Social Constructivism Theory, and James A. Banks' Multicultural Education Theory. Based on the substance used in this study, several findings were obtained, includ-ing: (1) The role of PAH teachers consistently functions as value transmitters in-ternalizing the teachings of Tat Twam Asi and Tri Hita Karana, conservators of religious values, as well as role models and inspirators for inclusive character building in schools. (2) The obstacles faced include internal aspects such as role isolation and exclusive tendencies among minority students, alongside external obstacles such as demographic imbalances in multicultural classrooms, a lack of national textbooks/learning materials incorporating local wisdom (content gap), domestic/parental expectations resistance, and the absence of dedicated class-rooms for Hindu religious activities. (3) The adaptive strategies implemented by teachers include Character Education Strengthening (PPK) based on role-sharing, establishing Huma Betang Discussion Forums, developing Hindu Kaharingan ed-ucational digital content, and utilizing local fine arts media (such as Sapundu) to overcome spatial limitations for religious worship. The integration of these strategies successfully transformed minority stu-dent interactions from feeling isolated to becoming collaborative. This research contributes to reconstructing an inclusive learning ecosystem by synthesizing the Balinese Hindu Tri Mandala spatial concept with the egalitarian Dayak Huma Betang philosophy, ultimately transforming classrooms into social laboratories that foster mental resilience and moderate character among students. Keywords: Hindu Teachers, Religious Moderation, Huma Betang, Globalization Era, Minority.

PENDIDIKAN HINDU NON-FORMAL DALAM PENGUATAN KOHESI SOSIAL PADA MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI DESA PANGKAN KECAMATAN PAKU KABUPATEN BARITO TIMUR

WITA MARGARETA
2026 · Book · Open Access

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai bentuk pelaksanaan, hambatan yang dihadapi, serta implikasi dari pendidikan Hindu non-formal dalam memperkuat kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Pangkan, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan landasan Te-ori Solidaritas Sosial Emile Durkheim, Teori Transformative Learning Jack Mezi-row, dan Teori Interaksi Simbolik Herbert Blumer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pem-ahaman yang mendalam mengenai pendidikan non-formal dan kohesi sosial pada masyarakat Hindu Kaharingan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, bentuk pelaksanaan pendidikan Hindu non-formal di Desa Pangkan diintegrasikan secara nyata melalui aktivitas ritual keagamaan dan tradisi adat. Pendidikan keagamaan berpusat pada Persembahyangan Basarah (rutin Jumat malam dan keluarga ber-giliran Senin) serta upacara perkawinan adat Hindu Kaharingan. Pendidikan nilai melalui tradisi diinternalisasikan secara kokoh melalui semangat gotong royong Handep Hapakat. Proses ini didukung oleh peran vital tokoh adat dan tokoh agama sebagai teladan hidup dalam pola interaksi sosial yang dinamis, meniru, mendengarkan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam musyawarah adat. Kedua, hambatan pelaksanaan diklasifikasikan menjadi tiga aspek. Hambatan struktural berupa terbatasnya sarana pembelajaran, minimnya pendidik kompe-ten, dan banyaknya generasi tua yang telah wafat. Hambatan kultural dipicu oleh modernisasi, arus digitalisasi, dan migrasi pemuda. Hambatan partisipatif ditandai dengan menguatnya individualisme, minimnya dialog antargenerasi, ser-ta pernikahan campuran beda agama yang memicu konversi spiritual. Ketiga, implikasi dari pendidikan non-formal ini terbukti sangat positif. Implikasi ter-hadap kohesi sosial berupa terbentuknya solidaritas mekanik dan kesadaran kolektif umat. Implikasi terhadap pelestarian identitas kolektif menjaga keberadaan umat Hindu Kaharingan sebagai minoritas, sementara implikasi so-sial-kulturalnya mewujud pada terjaganya integrasi sosial dan keberlanjutan kearifan lokal di Desa Pangkan. Kata Kunci: Pendidikan Hindu Non-Formal, Kohesi Sosial, Hindu Kaharingan, Basarah, Handep Hapakat ABSTRACT This study aims to deeply analyze the form of implementation, the obstacles en-countered, and the implications of non-formal Hindu education in strengthening social cohesion among the Hindu Kaharingan community in Pangkan Village, Paku District, East Barito Regency. This study uses a descriptive qualitative ap-proach grounded in Emile Durkheim's Social Solidarity Theory, Jack Mezirow's Transformative Learning Theory, and Herbert Blumer's Symbolic Interactionism Theory. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and drawing conclusions to obtain a profound understanding of non-formal edu-cation and social cohesion in the Hindu Kaharingan community. The research yields three major findings. First, the implementation of non-formal Hindu education in Pangkan Village is tangibly integrated through religious ritu-als and customary traditions. Religious education centers on Basarah Worship (regular Friday nights and rotating family sessions on Mondays) as well as Hindu Kaharingan customary wedding ceremonies. Value education through tradition is firmly internalized through the spirit of mutual cooperation, Handep Hapakat. This process is supported by the vital role of customary and religious figures as living role models within dynamic social interaction patterns, mimicking, listen-ing, and active community participation in customary deliberations. Second, the implementation obstacles are classified into three aspects. Structural obstacles include limited learning facilities, a shortage of competent educators, and the critical situation of many elderly generation members passing away. Cultural ob-stacles are triggered by modernization, digitalization, and youth migration. Par-ticipatory obstacles are characterized by rising individualism, lack of intergener-ational dialogue, and interfaith marriages leading to spiritual conversion. Third, the implications of this non-formal education prove to be highly positive. The implications for social cohesion are marked by the preservation of mechanical solidarity and the collective conscience of the community. The implications for preserving collective identity sustain the existence of Hindu Kaharingan as a mi-nority spiritual community, while the socio-cultural implications manifest in maintaining social integration and the sustainability of local wisdom in Pangkan Village. Keywords: Hindu Non-Formal Education, Social Cohesion, Hindu Kaharingan, Basarah, Handep Hapakat

Peran Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Mengikuti Kegiatan Basarah Di SDN 1 Tumbang Labehu Kabupaten Katingan

JERIKO PATRIOT
2026 · Book · Open Access

Jeriko Patriot. 2026. Peran Guru Pendidkan Agama Hindu dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Mengikuti Basarah di SDN 1 Tumbang Labehu Kabupaten Katingan. Fakultas Dharma Acarya Program Studi Pendidikan Agama Hindu. Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya pembimbing I : Nyoman Sumarni S. Ag.,M.Si pembimbing II : Putu Cory Candra Yhani, S.Pd., M.Pd Keaktifan Siswa dalam kegiatan keagamaan merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidikan agama Hindu di sekolah dasar . Kegiatan Basarah memiliki peran penting dalam pembinaan spiritual, pembentukan karakter relegius serta penanaman nilai-nilai dharma pada Siswa Hindu. Namun berdasarkan pengamatan awal di SDN 1 Tumbang Labehu, masih di temukan sebagian siswa yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan Basarah.Kondisi ini menunjukan perlunya Peran Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa melalui Strategi dan pendekatan pembelajaran yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Peran Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Mengikuti kegiatan Basarah, Serta mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat yang di hadapi guru dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskritif. Subjek penelitian terdiri atas satu orang Guru Pendidikan Agama Hindu, Kepala Sekolah, dan Siswa Hindu di SDN 1 Tumbang Labehu. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interatif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Guru Pendidikan Agama Hindu berperan sebagai motivator, pembimbing, fasilitator, teladan, dan evaluator dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa Mengikuti Kegiatan Basarah.2)Faktor Pendukung meliputi dukungan kepala sekolah, suasana sekolah yang religius, serta kerja sama sengan orang tua. Adapun faktor penghambat antara lain rendahnya motivasi sebagian siswa, keterbatasan sarana prasarana dan keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan. Upaya yang dilakukan guru terbukti meningkatkan keaktifan, kedisplinan, serta partisipasi siswa dalam kegiatan Basarah Kata Kunci: Eksplorasi, Pengembangan, Minat Siswa, Seni Rupa.

PEWARISAN TRADISI WADIAN DADAS DALAM MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI KECAMATAN AWANG KABUPATEN BARITO TIMUR PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA HINDU

EKA FRANSISKA
2026 · Book · Open Access

ABSTRAK Wadian Dadas merupakan tradisi ritual pengobatan dan spiritualitas suku Dayak Ma’anyan yang memiliki nilai sakral sesuai dengan ajaran Hindu Kaharingan. Namun, seiring dengan arus modernisasi, tradisi ini menghadapi tantangan besar berupa krisis generasi penerus dan pergeseran makna dari ritual sakral menjadi sekadar seni pertunjukan komersial. Proses pewarisan ini harus dikelola melalui pola pendidikan yang tepat, sehingga menemukan cara agar nilai-nilai luhur di dalamnya tidak akan punah. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah yaitu: (1) Apakah nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu dalam pewarisan tradisi Wadian Dadas di Kecamatan Awang Kabupaten Barito Timur, (2) Bagaimanakah pola Pendidikan Agama Hindu dalam pewarisan tradisi Wadian Dadas di Kecamatan Awang Kabupaten Barito Timur, (3) Bagaimanakah implikasi pola Pendidikan Agama Hindu terhadap pewarisan tradisi Wadian Dadas di Kecamatan Awang Kabupaten Barito Timur. Adapun teori yang digunakan untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini yaitu: (1) Teori Pendidikan, (2) Teori Pewarisan dan (3) Teori Fungsional-Struktural. Metode penelitian menggunakan jenis metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari praktisi Wadian Dadas, Tokoh Adat, Guru Agama Hindu, serta masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Awang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam tradisi Wadian Dadas meliputi aspek Tattwa (keyakinan pada Ranying Hatalla), Susila (etika pengendalian diri), dan Acara (pelaksanaan ritual) yang membentuk moralitas calon Wadian, (2) Pola pendidikan yang digunakan adalah pola informal dan non-formal melalui jalur Herediter (garis keturunan) dan Vocation (Panggilan Hati), dimana proses belajar terjadi secara alami melalui pengalaman langsung dan bimbingan guru, (3) Implikasi dari pola pendidikan ini adalah terjaganya eksistensi tradisi Wadian Dadas sebagai identitas religius, terciptanya mekanisme pertahanan budaya, serta terjaganya keseimbangan sosial dan spiritual masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Awang. ABSTRACT Wadian Dadas is a ritual tradition of healing and spirituality among the Dayak Ma’anyan people that holds sacred significance in accordance with the teachings of Kaharingan Hinduism. However, amid the tide of modernization, this tradition faces major challenges in the form of a crisis in the succession of practitioners and a shift in meaning from a sacred ritual to merely a commercial performance art. This process of transmission must be managed through appropriate educational approaches to ensure that the noble values embedded within the tradition do not become extinct. Based on the background described above, the researcher formulates the following research questions: (1) What are the Hindu educational values in the transmission of the Wadian Dadas tradition in Awang Subdistrict, East Barito Regency? (2) What is the pattern of Hindu education in the transmission of the Wadian Dadas tradition in Awang Subdistrict, East Barito Regency? (3) What are the implications of the Hindu educational model for the transmission of the Wadian Dadas tradition in Awang Subdistrict, East Barito Regency? The theories used to examine the issues in this study are: (1) Educational Theory, (2) Theory of Transmission, and (3) Functional-Structural Theory. The research method employed a qualitative approach using ethnography. The data collection techniques used were participant observation, in-depth interviews, and documentation. The research subjects consisted of Wadian Dadas practitioners, traditional leaders, Hindu religious teachers, and the Kaharingan Hindu community in Awang Subdistrict. The research findings indicate that: (1) The values of Hindu education within the Wadian Dadas tradition encompass the aspects of Tattwa (belief in Alahtalla Ngaburiat Hyang Piumung Jaya Pakuluwi), Susila (ethics of self-control), and Acara (ritual practice), which shape the morality of prospective Wadian practitioners; (2) The educational model employed is an informal and non-formal one transmitted through the lines of descent (lineage) and Vocation (calling of the heart), where the learning process occurs naturally through direct experience and the guidance of teachers; (3) The implications of this educational model include the preservation of the Wadian Dadas tradition as a religious identity, the creation of mechanisms for cultural preservation, and the maintenance of social and spiritual balance within the Kaharingan Hindu community in Awang Subdistrict.

Peran Guru dalam Memotivasi Belajar Siswa Hindu terhadap Ajaran Catur Guru di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas

LANTRI DIANA
2026 · Book · Open Access

Lantri Diana , 2026: Peran Guru Dalam Memotivasi Belajar Siwa Hidu Terhadap Ajaran Catur Guru di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas. Fakultas Dharma Acarya Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya. Pembimbing I, Dr. Derson, S.Ag., M.Ag dan pembimbing II, Dr.Lilik.,S.Ag.,M.Ag Skripsi ini mengkaji peran guru dalam memotivasi belajar siswa Hidu Terhadap ajaran Catur Guru di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas. Masalah fenomena yang terjadi di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas rendahnya motivasi belajar siswa dan kurangnya pemahaman mengenai ajaran catur guru dalam pembelajaran. Berdasarkan masalah tersebut rumusan masalah yang ingin dikaji yakni Bagaimana peran guru dalam Memotipasi belajar siswa Hindu Terhadap ajaran catur guru di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas ? Apa kendala yang dihadapi guru dalam Memotvasi belajar siswa Hindu terhadap ajaran catur guru di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas ? Bagaimana upaya guru dalam mengatasi kendala yang dihadapi dalam memberikan memotivasi belajar siswa Hindun terhadap ajaran catur guru di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas ? Untuk mengkaji lebih dalam masalah tersebut, penelitian ini dikaji dengan menggunakan teori peran (role theory) dan teori humanistik.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi dengan analisis kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil analisis dengan menggunakan teori peran (role theory) ditemukan bahwa peran guru dalam memotivasi belajar siswa Hindu terhadap ajaran catur guru di SMAN 1 Pasak Talawang Kabupaten Kapuas terdapat beberapa peran yang dijalankan yakni peran guru sebagai pendidik, guru sebagai pembimbing, guru sebagai motivator, dan guru sebagai pengawas. Didalam proses peran guru dalam memotivasi belajar ditinjau dengan teori humanistik guru mengalami kendala yang dihadapi yakni karakter siswa yang berbeda-beda, kurangnya motivasi berlajar, kurangnya konsentrasi belajar, serta keterbatasan sarana dan prasana dalam proses pembelajaran. Selanjutnya untuk mengkaji tentang upaya guru dalam mengatasi kendala yang dihadapi dalam memotivasi belajar dengan teori humanistik guru telah melakukan berbagai hal dengan guru menggunakan metode yang bervariasi, guru memberikan reward/hadiah dan pujian,guru berkalorasi sesama guru, dan sekolah menyediakan sarana prasana belajar. Berdasarkan hasil analisis tersebut ditemukan bahwa peran guru sangat penting dalam memotivasi belajar kepada siswa tentang ajaran catur guru.

Peranan Guru Dalam Implementasi Pendidikan Agama Hindu Pada Siswa Di SDN-1 Tumbang Empas Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas

WIDIA JULIANTI
2026 · Book · Open Access

Widia Julianti, 2026 : Peranan Guru dalam Implementasi Pendidikan Agama Hindu pada Siswa di SDN 1 Tumbang Empas Kecamatan Mihing Rasa Kabupaten Gunung Mas. Skripsi Fakultas Dharma Acarya Prodi Pendidikan Agama Hindu IAHN-TP Pembimbing I Hendri,S.Ag.M.Si Pembimbing II Nyoman Sumarni,S.Ag.,M.Si Pendidikan Agama Hindu memiliki peran krusial dalam membentuk karakter, moral, dan spiritual siswa sejak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peranan guru dalam implementasi Pendidikan Agama Hindu pada siswa di SDN 1 Tumbang Empas, Kecamatan Mihing Rasa, Kabupaten Gunung Mas. Sebagai fasilitator utama di sekolah dasar, guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan (jnana), tetapi juga menjadi teladan moral (susila) bagi siswa di lingkungan sekolah yang heterogen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru Agama Hindu, serta perwakilan siswa, dan diperkuat dengan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Agama Hindu di SDN 1 Tumbang Empas Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas menjalankan beberapa peran mendasar, yaitu: (1) sebagai pendidik dan pengajar yang menyusun strategi pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal; (2) sebagai pembimbing yang mengarahkan pelaksanaan ibadah praktis seperti Tri Sandhya dan berdoa sebelum belajar; serta (3) sebagai motivator dan teladan dalam menerapkan nilai-nilai Tat Twam Asi dan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari. Faktor pendukung implementasi ini adalah dukungan dari pihak sekolah dan sarana ibadah yang memadai, sedangkan faktor penghambatnya meliputi keterbatasan alokasi waktu dan keberagaman latar belakang pemahaman keagamaan siswa di rumah. Secara keseluruhan, peranan aktif guru mampu meningkatkan kedisiplinan spiritual dan toleransi sosial siswa di sekolah.